Possessive Love

Possessive Love
Laki-laki Mesum



Bug!!


David membawa paksa wanita itu ke atas tempat tidur, hingga Aretha berada di bawah kungkungannya. Ia menatapnya beberapa saat. Namun, di bawah sana Aretha malah sibuk memberontak ingin melepaskan diri. Dan disaat itu pula, David semakin memperkuat pertahanannya.


"Ayolah, Sayang ... seharian di rumah membuatku tak berdaya. Kamu begitu menggoda buatku," celetuk David yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika.


"Ya, Tuhan ... tolong selamatkan hambamu ini dari ulah laki-laki mesum sepertinya," ucap Aretha yang sontak membuat David terkekeh karena ulah menggemaskannya.


"Tuhan, Kau boleh mengabulkan apapun permintaannya, tetapi tolong tidak untuk permintaannya kali ini," balas David tidak mau kalah.


"Maaas!!!" teriak Aretha kesal.


"Diam! Nanti terdengar sampai luar!" David tampak membekap mulut wanita itu dengan tangan kanannya.


"Ya sudah, lepaskan aku! Aku tidak mau lho kalau bi Ratih mendengar suara yang aneh-aneh dari kamar kita," pinta Aretha, setelah David menyingkirkan tangannya dari mulut wanita itu.


Tentu saja pria itu memahami maksud dari perkataan Aretha.


"Oh ... jadi itu alasannya? Baiklah nanti aku akan pasang alat kedap suara," balas David.


"Tidak, Mas! Lepaskan aku, please!" Aretha tampak memohon. Namun, belum sempat David menanggapinya, tiba-tiba bel rumah berbunyi. David sudah dapat memastikan siapa yang datang sore itu.


"Mas, ada tamu!" Aretha terlihat sangat antusias. Lebih tepatnya merasa senang, paling tidak ia bisa selamat dari terkaman macan yang seakan kelaparan.


David tampak melengos sembari berdecak kesal. Dengan terpaksa ia harus mengakhiri aksinya, daripada kejadian tempo hari terulang kembali.


"Baiklah, kali ini kamu selamat, lihat saja nanti malam, aku tidak akan melepaskanmu!" ancam David seraya bangkit dari sana.


Aretha tampak menarik napas panjang lalu mengusap dadanya merasa lega, karena David tidak sampai melanjutkan aksinya.


"Apa aku sebegitu menakutkannya?" tanya David yang sedari tadi masih memperhatikan sang istri, sontak membuat Aretha tersentak kembali.


"Kamu membuatku jantungan, Mas!"


Aretha segera bangkit dari tempat tidur, lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah sang suami.


"Aku ini suami kamu," ucap David sedikit kesal.


"Aku tahu," jawab Aretha tidak ingin berdebat.


"Lantas, kenapa harus takut?" tukas David.


"Sudahlah ... aku akan menemui tamu kita hari ini." Aretha tampak tidak peduli.


"Biar aku saja! Mungkin itu Denis," sela David.


"Kamu mengundangnya kemari?" tanya Aretha.


"Hmm ...."


"Lalu aku tidak boleh menemuinya?" polos Aretha.


"Boleh, tapi ganti dulu pakaianmu!" titah David yang langsung membuat Aretha menundukkan kepalanya, memperhatikan penampilannya sendiri.


Wanita itu langsung paham dengan yang dimaksud oleh sang suami. Ya, kala itu Aretha memang hanya memakai gaun rumahan yang panjangnya hanya sebatas paha, dan tentu itu dapat mengekspos kaki jenjangnya. Ia tahu bahwa David tidak menyukai jika tubuhnya terlalu terekspos di hadapan laki-laki lain.


"Baiklah," lirih Aretha menyetujui, sementara David langsung bergegas keluar kamarnya.


Benar saja, Denis yang datang. Ternyata Ratih telah membuka pintu itu dan meminta tamunya untuk masuk. Dengan sigap Denis berdiri dari tempat duduknya, ketika mendapati kemunculan David di ruang tamu.


"Selamat sore, Pak," sapa Denis ramah.


"Silakan duduk, Den!" titah David seraya mendaratkan tubuhnya di salah satu sofa kosong. Denis pun melakukan hal yang sama.


"Maaf, jika Bapak menunggu lama," ucap Denis merasa tidak enak hati, karena ia terjebak macet, sehingga membuatnya sedikit terlambat.


"Tidak apa-apa, saya juga tidak sedang terburu-buru," jawab David.


Tak lama Aretha menyusul dengan pakaian yang sudah berbeda dari sebelumnya. Ia tampak memakai long pants berwarna abu yang dipadupadankan dengan kaos panjang berwarna hitam.


Wanita itu tampak menyapa Denis. Pria itu pun membalasnya, meski sedikit terkejut dengan keberadaan Aretha di sana.


"Istri saya," ucap David memberi tahu sontak membuat Denis semakin terlonjak tidak percaya, karena yang ia tahu David belum menikah, kenapa tiba-tiba ia mengenalkan seorang istri?


Mereka pun akhirnya berkenalan. Meski Aretha belum pernah bertemu dengan Denis sebelumnya, tetapi David sempat bercerita tentang pria itu kepadanya.


Pun sebaliknya, Denis juga mengetahui Aretha yang disebut sebagai calon istri sang bos, sewaktu ia menangani kasus kecelakaan wanita itu, meski tidak pernah bertemu langsung dengannya.


David terkekeh sejenak. "Belum," jawabnya. "Resepsinya masih belum dilaksanakan," imbuhnya yang langsung mendapat anggukkan dari Denis.


"Pantas saja Bapak masih jadi pria idaman di kantor, ternyata mereka belum tahu juga kalau Bapak sudah menikah? Kalau sampai mereka tahu, sepertinya bakal ada patah hati berjamaah nih, Pak!" ucap Denis menggoda. Lebih tepatnya sih ingin mengetes seberapa cemburunya istri sang bos.


"Haha ... bisa saja kamu!" David tampak tertawa lepas, sementara Aretha hanya diam tak berkomentar. Ia sedikit kesal dengan candaan tamunya itu.


Seketika hatinya merasa panas. Terlebih ia tahu bahwa di kantor David memang menjadi pria idaman para karyawan wanita, semenjak sang suami pertama kali datang dan mengelola perusahaan di sana, dan ia tahu betul itu. Namun, ia cukup elegan dengan tidak menunjukkan sikap cemburunya itu di depan Denis.


Tak lama, Ratih membawakan tiga gelas minuman beserta camilannya, lalu disuguhkan kepada tamu dan sang majikan. Setelah itu, Ratih kembali ke dapur.


"Silakan diminum, Mas!" titah Aretha kepada Denis.


"Iya, Bu, terima kasih," jawab Denis terlihat sedikit canggung karena harus memanggil ibu kepada wanita yang usianya jauh lebih muda darinya, sementara usia dirinya sama dengan David.


"Jangan panggil saya seperti itu, berasa tua saya," ucap Aretha, sementara David tampak menatapnya seolah tidak suka.


Apa-apaan ini? Apa dia sengaja ingin menggoda tamuku?


"Baiklah," jawab Denis seraya menerbitkan senyumnya.


"Jangan macam-macam kamu sama istri saya!" tegas David, tetapi tidak serius yang sontak membuat Denis menoleh.


"Waduh! Saya langsung mendapat peringatan ini, bagaimana, Mbak?" ucap Denis menanggapi dengan candaan.


"Baru satu kali, kan? Tunggu sampai tiga kali, baru kamu patuh!" balas Aretha tidak mau kalah yang langsung membuat gelak tawa memecah.


Mereka tampak mengobrol banyak, meski itu tidak penting, tetapi cukup seru buat Aretha. Ternyata Denis tidaklah begitu sangar seperti yang ia bayangkan, pria itu cukup humoris. Bahkan, dengan David saja yang notabene bosnya, ia terlihat berani.


Setelah dirasa cukup bercanda dengan sang suami dan tamunya itu, Aretha lalu pamit pergi dari hadapan mereka, berniat untuk membantu Ratih di dapur, masak untuk periapan makan malam. Terlebih lagi, karena ia takut mengganggu kepentingan sang suami dengan pria itu.


Namun, baru saja ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba bel rumah kembali berbunyi, sehingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


"Kamu ada janji dengan orang lain juga, Mas?" tanya Aretha heran.


"Tidak," jawab David singkat.


"Lalu, siapa lagi yang bertamu?"


"Coba kamu buka!" titah David.


"Baiklah," ucap Aretha menurut, lalu segera membuka pintu rumahnya.


Wanita itu sedikit terlonjak, ketika mendapati sosok dua pria yang tengah berdiri di depan rumahnya seraya menerbitkan senyuman.


"Siapa, Sayang?" tanya David penasaran.


Aretha pun menoleh ke belakang, sebelum ia menyapa kedua tamunya itu.


"Ini mas, kak Richard sama kak Rendy," jawab Aretha.


"Suruh mereka masuk!" titah David, tidak ada tanggapan dari Aretha. Wanita itu segera menoleh kembali ke depan.


Ya, tamu itu tak lain adalah Richard dan Rendy. Mereka tampak menyapa dan tersenyum kepada Aretha. Bahkan, Richard terlihat memandang wanita itu beberapa saat, sehingga membuat Aretha yang menyadarinya sedikit kikuk dipandangi pria yang tak lain adalah sang mantan kekasih.


"Hai, Kak! Kenapa tidak mengabari kalau mau ke sini?" ucap Aretha.


"Kami tidak ada rencana sebelumnya, entah kenapa tiba-tiba saja ingin berkunjung ke rumah baru kalian," jawab Rendy.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya wanita itu.


Setelah pernikahannya dengan David, Aretha memang belum pernah lagi bertemu keduanya. Namun, ia sering mendengar kabar mereka dari suaminya, terlebih kabar Richard pasca operasi itu. Nampaknya, Richard sudah terlihat jauh lebih membaik, setelah operasi itu.


"Kita baik-baik saja," jawab Richard.


"Syukurlah," balas Aretha. "Ayo, silakan masuk, Kak!" titah Aretha.


Mereka pun masuk ke dalam. Seketika langkah mereka terhenti, ketika mendapati Denis di sana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC