
"Pak David sedang apa di sini?" tanya Aretha penasaran.
"Ketemu klien," jawab David singkat. Aretha hanya ber-oh ria, lalu mengalihkan pandangan kepada Alivia.
"Mbak Alivia apa kabar?" tanya Aretha berbasa-basi.
"Kabar baik," jawab Alivia tanpa ekspresi. Bahkan, ia tidak bertanya balik tentang kabar Aretha, entah kenapa. Aretha pun hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
"Kalian baru datang atau sudah mau pulang?" tanya Richard tampak melempar pandangan pada David.
Namun, nampaknya David telah memfokuskan kembali pandangannya ke arah meja, tepatnya mengamati sebuah buku yang Richard berikan untuk Aretha.
Aretha yang menyadari hal itu segera meraih buku tersebut, lalu memasukkan kembali ke dalam paper bag, sebelum David berhasil membaca judul dan nama penulisnya, sontak membuat pria itu sedikit curiga dengan tingkah Aretha yang seolah ingin menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kebetulan kami sudah selesai," ujar David seraya menoleh.
"Duduk, Dave, kita ngobrol dulu!" ajak Richard, tetapi David hanya terdiam seolah tengah berpikir.
"Kalian sudah selesai, kan?" tanya David yang menyadari piring bekas makan yang masih terletak di atas meja.
"Iya, kita memang sudah selesai makan," jawab Richard yang langsung membuat David menoleh ke arah Aretha.
"Ayo, aku antar pulang!" David tampak mengajak Aretha tanpa berbicara dulu kepada Richard.
Seketika Aretha menatap Richard seolah meminta pendapat pria itu. Dengan terpaksa pria itu memberikan bahasa isyarat, sedikit menganggukkan kepala sebagai tanda memberi izin kepada gadis itu.
"Baiklah," lirih Aretha. "Kak Richard, aku pulang duluan ya, bareng pak David," imbuhnya seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Oke, Re. Take care ya," jawab Richard tampak melempar senyuman. Sebagaimana Aretha, pria itu pun tampak berdiri dari tempat duduknya.
Aretha langsung menerbitkan senyum simpulnya. "Makasih untuk hari ini," ucap Aretha yang seketika membuat David menatapnya tidak suka.
"Bro, lo gak lagi sibuk, kan?" tanya David, sebelum ia berlalu dari tempat itu.
Richard sedikit terkesiap. "Enggak, Dave. Kenapa?" Ia tampak mengernyitkan dahi.
"Bisa tolong antar pulang Alivia dulu gak?"
Richard berpikir sejenak, lalu menoleh kepada Alivia yang tengah berdiri tepat di samping David.
"Ini ...." Richard menunjuk Alivia, tetapi tatapannya ia fokuskan kepada David seolah bertanya tentang siapa perempuan itu.
"Sekretaris baru gue," jawab David yang langsung memahami maksud dari sahabatnya.
"Loh, bukannyaโ"
"Aku sudah selesai magang di kantor pak David," sela Aretha memotong pembicaraan. Richard tampak mengangguk menanggapinya.
Syukurlah, itu artinya mereka tidak akan sering ketemu.
"Oke." Richard tersenyum menyetujuinya. Namun, tidak dengan Alivia yang tampak merasa kesal karena ia harus pulang bersama Richard. Pria yang sama sekali belum ia kenal, sementara David yang seharusnya pulang dengannya, malah memilih mengantar Aretha.
Seketika Alivia melempar tatapan sinisnya kepada Aretha seolah tidak suka dengan gadis itu, sontak membuat Aretha sedikit merasa tidak enak hati. Entah kenapa sejak awal Alivia selalu menatapnya seperti itu seolah ada yang salah pada dirinya.
"Baiklah, kalau begitu kita duluan ya," pamit David yang langsung diiyakan oleh Richard.
***
"Sudah berapa kali kamu melanggar perjanjian kita?" tanya David kepada Aretha, setelah beberapa saat mereka berada di dalam mobil. Pandangannya ia fokuskan ke depan, mengarah ke jalanan yang tampak cukup ramai.
Aretha seketika menoleh ke samping, menatap pria itu. "Pelanggaran yang mana?" tanyanya seraya mengernyitkan dahi merasa heran.
"Poin tiga?" lirihnya seraya berpikir.
Aretha berusaha mengingat perjanjian itu. Seketika ia membelalakkan mata, tatkala mengingat apa yang tengah ia pikirkan saat itu.
"Maksud Bapakโ"
"Ya, aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain, termasuk Richard!" tegas David.
"Kak Richard itu teman Bapak, loh?" protes Aretha. Ia sedikit tidak menyangka jika David akan marah akan hal itu.
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku seperti itu!" bentak David yang sontak membuat Aretha seketika terlonjak kaget. Gadis itu tampak dibuatnya menciut.
"Ma-maaf," lirih Aretha gugup, sedikit merasa takut.
"Aku tidak menerima alasan apapun. Tidak ada pengecualian, sekali pun pria itu temanku, aku tetap tidak suka!" tegas David.
"Tunggu!" pekik Aretha. "Apa Bapak benar-benar ingin menyetujui perjodohan itu?" tanyanya penasaran.
Aretha melempar tatapan penuh tanya terhadap pria di sampingnya, meski pria itu tidak membalas. Sudah sangat lama gadis itu ingin menanyakan hal tersebut kepada David. Namun, ia tidak memiliki keberanian dan ia rasa kala itu menjadi momen yang tepat untuk menanyakan itu.
Alih-alih akan menjawab pertanyaan, David malah mendelik kesal kepada gadis itu. Lagi-lagi Aretha memanggilnya "Bapak". Panggilan yang sudah berulang kali ia larang keras.
"Ehem!" Aretha tampak berdehem melihat tatapan menusuk pria itu. "Maksud saya, apa kamu benar-benar ingin menyetujui perjodohan itu?" Aretha tampak mengulangi pertanyaannya, setelah ia memahami arti dari tatapan menusuk yang dilontarkan oleh David
"Ya!" singkat David dengan yakin.
"Alasannya?" Aretha tampak masih penasaran.
David mendengus kesal, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan gadis itu. "Apa kamu masih gak paham juga?" tanyanya kesal.
"Enggak!" jawab Aretha polos yang sontak membuat pria itu seketika naik pitam.
Dengan perasaan sangat emosi, David menginjak pedal rem pada mobilnya dengan sekali tekan hingga mengeluarkan bunyi gesekkan antara aspal dan ban mobil mewahnya yang sontak membuat tubuh gadis itu seolah memantul dari sandaran jok mobil.
Beruntung Aretha memakai seatbelt sebagai pengaman. Kalau saja ia tidak menggunakan alat itu, mungkin kepalanya sudah terbentur dashboard mobil yang berada di depannya.
Aretha tampak mengusap dadanya pelan, mencoba menetralkan kemabali perasaanya dari rasa kaget. Pandangannya masih fokus ke depan. David menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan yang sudah terlihat sepi dari sebelumnya.
Aretha menoleh ke samping. Tampak David yang masih memegang setir mobil dengan leher yang sedikit ditekut. Dadanya tampak naik turun seolah tengah menahan emosinya.
"Are you okay?" lirih Aretha sedikit ragu. Gadis itu tampak memiringkan kepalanya, menatap pria itu. Bahkan, setelah David marah seperti itu pun ia masih saja bertingkah polos layaknya anak kecil.
David masih tak bergeming. Napasnya masih naik turun seolah ia tengah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun di benak pria itu bahwa gadis yang cerdas seperti Aretha ternyata memiliki pemikiran sepolos itu hingga ia tidak mengerti dengan maksud dari setiap perlakuannya.
"Saya minta maaf kalau saya salah," ucap Aretha, setelah ia menyadari bahwa David benar-benar telah dibuat geram olehnya.
David menoleh ke arah gadis itu. Ia tampak menangkap wajah Aretha yang sedang memberengut. Cukup menggemaskan baginya. Namun, tidak serta merta membuat pria itu ingin mengakhiri apa yang membuatnya emosi seketika.
"Jadi alasannya karena apa?" Seketika Aretha tak lagi peduli dengan wajah menyeramkan pria di sampingnya, yang terpenting adalah ia mengetahui alasan David kenapa bisa menyetujui perjodohan itu.
"Itu ... Ah, sudahlah, percuma juga ngomong sama kamu!" ketus pria itu memberi jawaban.
___________
HAPPY READING!
๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ