
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Carmila, ketika menyadari kemunculan putrinya di ruang keluarga.
Aretha terlihat sudah rapi dengan dress berwarna biru langit yang ia kenakan malam itu. Sementara, rambut lurus sebahunya ia biarkan tergerai indah, ala khasnya. Penampilan gadis itu cukup sederhana. Namun, tetap terkesan elegan.
Pun dengan Carmila dan Anton yang nampaknya sudah rapi dan siap berangkat ke acara dinner bersama rekan bisnis Anton. Bahkan, mereka telah menunggu putrinya cukup lama di ruangan tersebut.
"Sudah, Mi," jawab Aretha dengan nada sedikit malas. Ia tampak memberengut.
Jika bukan karena kedua orangtuanya yang memaksa, ia tidak akan ikut dalam acara itu. Mengingat acara tersebut adalah ada hubungannya dengan bisnis sehingga ia berpikir bahwa akan merasa jenuh di sana.
"Lho, kok kayak yang malas begitu, Nak?" protes Anton. "Jangan begitulah ... tidak enak dilihatnya!" pintanya kemudian.
Gadis itu menghela napas, lalu mengembuskannya perlahan. "Iya, Pi," jawabnya seraya menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum.
"Nah ... begitu dong!" seru Anton seraya tersenyum senang.
"Kamu tidak perlu khawatir, di sana 'kan ada mami, jadi kamu tidak akan jenuh, Sayang," timpal Carmila seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran putrinya.
"Iya, Mi," jawab Aretha singkat.
Mereka segera berangkat menuju sebuah restoran mewah ala eropa, sebagai tempat yang telah disepakati oleh kedua belah pihak untuk acara dinner tersebut.
Perjalanan mereka sedikit terhambat karena adanya kemacetan. Namun, tak berlangsung lama. Akhirnya, mereka sampai di tempat tujuan, meski terlambat lima menit.
Anton tampak menggiring istri dan putrinya menuju salah satu meja yang sebelumnya telah diinformasikan oleh rekan bisnisnya itu.
Tampak sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang tengah duduk bersebelahan. Pasangan itu duduk dengan posisi memunggungi mereka. Anton terus menghampiri meja itu hingga jarak mereka semakin mendekat.
"Selamat malam, Pak Kris," sapa Anton, setelah ia berdiri tepat di belakang laki-laki yang dimaksud.
Keduanya tampak menoleh ke belakang, sontak membuat Aretha sedikit terlonjak saat menyadari siapa orang itu. Ya, Kristianto Wijaya. Ayah kandung dari David Wijaya yang tak lain adalah atasannya gadis itu.
Kris terlihat hadir dengan seorang perempuan yang usianya terpaut sekitar tiga tahun. Sepertinya perempuan itu adalah istrinya. Ia tampak tersenyum kepada keluarga Grissham, kemudian saling menyapa dan bertanya kabar dengan Carmila terlebih dahulu.
Kris tersenyum senang. "Selamat malam, Pak Anton," sapanya seraya mengangkat tubuhnya dari kursi itu, lalu mereka berjabat tangan. Setelah itu, Kris menyapa Carmila yang kala itu tengah berbincang dengan perempuan di sampingnya.
"Nak Aretha?" ucap Kris seraya menatap Aretha.
Gadis itu tersenyum ramah layaknya kepada seorang atasan. "Selamat malam, Pak," sapanya lirih. "Bagaimana kabar Bapak? Sudah lama sekali tidak berjumpa," imbuhnya.
"Kabar baik, Nak," jawab Kris singkat.
Aretha mengalihkan perhatiannya kepada perempuan paruh baya yang tengah berdiri di samping Kris. Ia menatapnya sejenak, kemudian menyapa perempuan itu.
"Selamat malam, Bu," sapanya ragu.
Perempuan itu tersenyum. "Panggil tante saja!" titahnya.
"Baik, Tante," jawab Aretha.
"Jadi ini putri Jeng Mila?" tanya istri Kris seraya menoleh ke arah Aretha. "Waah ... cantik sekali," pujinya, sontak membuat Aretha seketika menundukkan kepala.
"Terima kasih, Tante," lirih gadis itu.
"Iya, Jeng ... kenalin, ini Aretha putri semata wayang saya," jelas Carmila. "Sayang, kenalin Tante Maria, istri dari Pak Kris," imbuhnya seraya menoleh ke arah gadis itu.
Setelah mereka selesai bertegur sapa, Kris tampak mempersilakan keluarga Grissham untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Terdapat empat kursi yang masih kosong di sana. Aretha duduk di samping Carmila dengan menghadapi salah satu kursi kosong yang berada di samping Maria.
Gadis itu mencoba bersikap sebiasa mungkin, meski sebenarnya merasa canggung. Untung saja hanya Kris dan istrinya yang hadir, tidak dengan David. Kalau saja David berada di sana, mungkin gadis itu akan merasa lebih canggung lagi.
Sejujurnya ia masih merasa malu jika harus bertemu dengan David. Mengingat kejadian hari sebelumnya yang membuat pamor gadis itu seketika menurun karena kecerobohannya sendiri.
"Bagaimana kuliah praktek kamu, Nak?" Pertantaan Krin tampaj membuyarkan lamunan Aretha.
Aretha terkesiap. "Mm ... it-itu, berjalan dengan lancar kok, Pak," jawabnya gugup.
Namun, sayang ... anak bapak sangat menyebalkan. Aretha melanjutkan ucapannya dalam hati.
"Syukurlah,"ujar Kris singkat. "David tidak berbuat macam-macam, kan?" tanyanya kemudian.
"Ti-tidak kok, Pak!" jawab Aretha dengan nada yang sedikit dipaksakan.
"Kalau David berbuat macam-macam, semisal mengganggumu, nanti bilang saja sama om dan tante ya, Nak! Biar nanti om dan tante marahi dia," timpal Maria.
"Hh? Eng-enggak kok, Tante," jawab Aretha tidak yakin.
Tentu saja karena gadis itu merasa bahwa selama ini David sering berbuat seenaknya. Bahkan, barulang kali pria itu menyita waktu istirahat makan siang gadis itu dan itu sama sekali tidak adil bagi Aretha sebagai karyawan yang butuh waktu istirahat.
"Ehem!" Terdengar seseorang berdehem di tengah-tengah perbincangan mereka, sontak membuat mereka tampak menoleh ke sumber suara.
Aretha tampak membelalakkan mata saat menyadari David yang berada di sana, dengan jarak yangsedikit jauh. Sepertinya ia baru saja muncul di tempat itu.
"Nak? Dari mana saja, kok baru datang?" tanya Maria.
David menghampiri meja itu, sebelum menjawab pertanyaan ibunya. Sementara, Aretha tampak memberengut karena kehadiran David di sana. Ia menatapnya hingga pria itu berdiri tepat di hadapannya, dimana terdapat kursi kosong di sana. Namun, terhalang oleh meja.
Pria itu memfokuskan pandangan kepada Anton dan Carmila, lalu tersenyum simpul kepada kedua pasangan tersebut.
"Malam Om, Tante," sapa David kepada Anton dan Carmila.
"Malam, Nak," Anton dan Carmila kembali menyapanya dengan kompak.
David menghadapkan tubuhnya kepada Aretha. Namun, secepat kilat gadis itu menundukkan kepala, merasa tidak ingin melihat wajah David.
David tersenyum. "Malam, Nona Aretha," sapanya, sontak membuat gadis itu mendongak dan terpaksa menyapanya kembali.
"Malam, Pak," lirihnya, lalu menunduk kembali.
"Ayo, Nak, duduk!" titah Maria seraya menarik kursi kosong yang berada di sampingnya.
Pria itu segera mendaratkan tubuhnya di kursi itu, lalu memfokuskan pandangannya kepada Aretha yang kala itu masih diam sembari menundukkan kepala.
"Kamu dari mana saja, Nak?" tanya Kris heran. Mungkin karena David datang terlambat sehingga membuat laki-laki paruh baya itu bertanya-tanya.
"Ada urusan dulu, Pa," jawab David seraya menoleh ke samping kiri, ke arah ayahnya. Kris hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala.
"Jadi, sejak kapan Papa dan Mama lebih membela orang lain daripada putranya sendiri?"
____________________________
TO BE CONTINUED ....
HAPPY READING!