Possessive Love

Possessive Love
Bersikap Dingin



"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya David heran. Ada kiltan tidak suka dari tatapannya.


Aretha sedikit terksiap. Seketika gadis itu menciut, ketika mendapati tatapan David. "Tidak apa-apa. Itu yang–"


"Maaf, aku sudah lancang," ucap David seraya memberikan telepon genggam itu kepada Aretha.


"It's okay," lirih Aretha seraya meraih handphone itu dengan perasaan sedikit ragu. Aretha tampak membuang mukanya ke sembarang arah, karena merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Mereka terdiam beberapa detik.


"Sejak kapan dia mengejarmu seperti itu?" tanya David yang sontak membuat Aretha kembali menoleh ke arahnya.


Aretha berpikir sejenak. "Mm ... sejak pertama kali bertemu," jawabnya seraya terdiam sejenak. "Tapi ... aku selalu menolak kok, Mas. Swear!" imbuhnya, sebelum David berhasil menanggapi. Ia tampak mengacungkan dua jarinya membentuk huruf 'V'.


"Dia sering meneleponmu?" celetuk David tampak penasaran.


Aretha terdiam sejenak seraya menatap ke atas, seolah sedang berpikir. "Iya," ucapnya ragu, lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau ada yang ingin ia tanyakan," imbuhnya.


David menekuk lehernya sejenak, menatap ke bawah. Setelah beberapa detik ia mendongak kembali. "Baiklah. Sudah sore, sepertinya aku harus pulang," ucapnya dingin.


Aretha sedikit tertegun dibuatnya. "Kamu marah?" tanyanya khawatir karena melihat sikap David yang tiba-tiba berubah.


David tampak memaksakan senyumnya. "Tidak," jawabnya singkat.


"Kamu bohong!" sergah Aretha.


Namun, David tidak menghiraukan perkataan gadis itu. Ia bangkit dari tempat duduknya. "Sudah waktunya kamu istirahat. Mau kuantar ke kamar?" tanyanya seraya menatap dingin wajah Aretha. Namun, Aretha hanya menundukkan kepala tidak merespon apapun.


Sekeras apapun David berusaha menyembunyikannya, tetap saja Aretha dapat merasakan perubahan sikap pria itu.


Kalau bersikap dingin kayak gini, itu artinya dia sedang marah.


"Baiklah, aku akan antar kamu ke kamar." David meraih gagang kursi roda itu, lalu memutarnya, sementara Aretha hanya terdiam.


Pria itu mendorong kursi roda itu pelan, kemudian tiba-tiba menghentikannya, setelah beberapa langkah. Ia berhenti tepat satu meter dari tangga yang menuju lantai dua rumah itu.


"Kamar kamu dimana?" tanya David. Aretha menengadahkan wajahnya seraya melihat ke atas, seolah menunjukkan dimana letak kamarnya.


"Di atas?" tanya David yang juga ikut menengadah. Ia terdiam sejenak seolah berpikir.


David berjalan maju tiga langkah hingga berhadapan dengan Aretha. "Kamu diam ya!" titahnya seraya ingin mengangkat tubuh Aretha.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Aretha kaget.


"Sudah, diam saja! Aku akan mengantarmu ke kamar," jawab David masih berusaha untuk mengangkat tubuh Aretha dari kursi roda itu.


"Enggak perlu kayak gini juga, Mas!" protes Aretha yang langsung membuat David menghentikan aksinya.


"Lalu maunya kamu gimana?" tanya David memasang ekspresi datar.


"Jalan saja, tidak perlu digendong segala," lirih Aretha.


"Memangnya bisa? Kaki kamu tidak sakit?" tanya David sedikit kesal.


"Ya ... kita coba, Mas. Barangkali kakiku sudah sembuh," rengek Aretha.


David mendengus kasar. Tanpa berkomentar apapun lagi, pria itu membantu Aretha untuk bangkit dari kursi roda itu dan merangkulkan sebelah tangan gadis itu di pundaknya, sementara sebelah tangannya memegang pinggang Aretha dengan erat.


"Awas hati-hati!" ucap David mengingatkan.


Dengan perlahan Aretha mulai melangkahkan kakinya, dibantu oleh David. "Aaauuuuw!!" rintih gadis itu, ketika baru satu langkah ia menggerakkan kakinya. "Sakit, Mas ...," pekiknya.


Dengan sigap David segera menahan tubuh Aretha yang hampir saja terjengkang karena menahan rasa sakit dikakinya. "Kamu tuh, ngeyel ya dibilanginnya!" gerutu David sedikit kesal.


Pandangan David fokus ke depan, tidak sedikitpun ia mengalihkan perhatiannya kepada gadis yang saat itu berada di pangkuannya, sementara Aretha sedari tadi memperhatikan wajah David dengan ekpresi dinginnya. Bahkan, mengedipkan matanya pun sepertinya enggan untuk ia lakukan.


"Kamar kamu yang mana?" tanya David seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, setelah ia berada di lantai dua. Nampak ada beberapa kamar di sana hingga membuatnya sedikit bingung.


Aretha terlonjak kaget. Namun, secepat kilat ia menetralkan kembali perasaannya. "I-itu, Mas!" ucapnya seraya menunjuk ke arah kamarnya sendiri.


David melangkahkan kakinya kembali menuju kamar yang dimaksud Aretha. Sesampainya di kamar itu, ia menurunkan Aretha di tempat tidurnya hingga gadis itu terduduk di sana.


"Ya sudah, kamu istirahat ya. Aku pulang dulu," ucap David seraya membalikkan badannya. Namun, seketika ia mengurungkan niatnya, tatkala Aretha menarik tangannya. Tentu saja sikapnya kala itu membuat Aretha merasa tidak enak hati.


"Mas, kamu marah?" tanya Aretha sedikit memelas.


David menghela napas pendek, lalu menatap ragu wajah Aretha. "Kenapa aku harus marah?" tanyanya sedikit termangu.


Aku tidak marah, hanya saja aku sedikit cemburu jika kamu dekat dengan pria lain. Hal yang sangat wajar. Dan itu membuatku khawatir. Ya, khawatir kehilangan kamu.


"Kamu berubah dingin loh, Mas ... setelah menerima telepon dari Samuel," keluh Aretha.


"Untuk apa aku marah karena dia?" David mengernyitkan dahinya. "Ada hal lain yang justru akan membuatku jauh lebih marah daripada itu," imbuhnya.


"Apa?" Aretha penasaran.


David menerbitkan senyumnya, sebelum akhirnya ia menanggapi perkataan Aretha. "Ketika kamu sakit dan tidak bisa menjaga diri kamu baik-baik," ucapnya. "So, jagalah kesehatan, jangan banyak pikiran, kecuali memikirkanku, silakan kamu lakukan sepuasnya!" lanjutnya yang sontak membuat Aretha seketika melebarkan senyumnya.


Dalam posisi masih berdiri, David memandang gadis di hadapannya, sebagaimana yang dilakukan Aretha kepadanya. Mereka tampak beradu pandang beberapa saat. Saling menatap dan saling bertukar perasaan melalui sorot mata masing-masing. Ada kilatan cinta dari kedua tatapan itu.


"Dan satu lagi!" Suara David seketika membuat Aretha tersadar dadi lamunnya.


"Apa?" Aretha sedikit tertegun.


David terdiam sejenak. "Ketika kamu mengkhianatiku," jawabnya sedikit ragu tanpa mengalihkan pandangannya.


Aretha mendengus kasar. "Mana mungkin aku melakukan itu, Mas," gumam Aretha.


"Aku percaya!" ucap David tersenyum, lalu meraih kepala Aretha dan mendaratkan kecupan di puncak kepala gadis itu.


"Sudah, kamu istirahat ya ... jangan lupa makan, minum obat, dan memikirkanku," ucap David mengingatkan seraya menyeringai.


"Cih, kamu saja belum tentu mikirin aku," sindir Aretha.


"Mana mungkin. Bahkan aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain, selain kamu," goda David.


"Sudah pandai menggombal ya kamu, Mas," ledek Aretha yang sontak membuat David terkekeh. Seketika pria itu mengacak rambut Aretha.


"Kamu yang membuatku jadi seperti ini," akunya. "Ya sudah, aku pamit ya, Sayang! Kamu istirahat!" imbuhnya seraya membaringkan tubuh Aretha di atas tempat tidur, lalu menyelimuti sebagian tubuh gadis itu.


"Terima kasih ya, Mas," lirih Aretha.


David segera beranjak dari tempat itu, lalu menutup pintu kamar Aretha dengan rapat.


_____________________________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT YA PARA BUCINERS SETIANYA BANG DAVE🤣


DITUNGGU UNDANGANNYA SEGERA MENYUSUL😂


HAPPY READING!