Possessive Love

Possessive Love
Sensitif 2



"Alhamdulillah tidak ada yang serius, sepertinya pak Anton hanya kelelahan. Untuk sementara waktu, sebaiknya pak Anton harus bedrest dulu, jangan terlalu banyak kegiatan," jelas seorang dokter bertubuh tinggi, setelah memeriksa kondisi Anton.


"Syukurlah ... terima kasih, Dok," ucap David tersenyum senang, pun dengan Aretha dan maminya yang merasa lega mendengar pernyataan dokter yang tidak terlalu mengkhawatirkan.


Setelah dokter menjelaskan beberapa hasil pemeriksaan medis yang dilakukannya, ia segera pergi dari rumah itu.


Setelah beberapa menit, Aretha tampak membawakan semangkuk bubur untuk sang papi. "Papi makan dulu, ya," ucapnya seraya mengambil mangkuk bubur itu dari atas nampan yang terletaj di atas nakas, samping tempat tidur.


"Papi belum lapar, Nak," jawab Anton menolak. Sebenarnya bukan karena lapar, melainkan karena merasa tidak enak makan. Rasanya apapun yang masuk ke dalam mulutnya terasa pahit dan hambar. Sudah menjadi hal yang biasa bagi orang-orang yang tengah sakit.


"Pokoknya Papi harus makan. Aku sudah susah payah lho, Pi, buatkan bubur ini khusus untuk Papi," balas Aretha tidak mau tahu.


"Barusan kamu bilang apa?" tanya Anton seolah ada sesuatu yang sulit untuk dipercaya.


"Maksud Papi?" Aretha terlihat bingung dibuatnya.


"Tadi buburnya siapa yang buat?" Anton tampak memastikan.


Aretha menatap wajah sang papi, lalu tersenyum lebar. "Aku yang buat, Papi harus cobain masakanku," jawabnya.


"Putri papi sudah pandai memasak sekarang?" Anton terlihat menyunggingkan senyumnya.


"Tentu!" Aretha begitu yakin dengan ucapannya. Ia harap sang papi menyukai bubur yang ia masak khusus untuknya.


Aretha langsung menyuapi papinya dengan bubur itu.


"Hmmm ... enak sekali, Sayang, bubur buatan kamu," puji Anton, setelah satu sendok bubur itu lolos ke dalam perutnya. Entah itu benar atau memang karena hanya ingin membuat putrinya senang, tetapi sang papi benar-benar terlihat menikmati bubur itu, seolah benar-benar enak rasanya.


Aretha tersenyum senang. "Papi harus makan yang banyak, biar cepat sembuh," ucapnya.


Aretha terus melakukan itu berulang-ulang hingga buburnya habis. Sementara David entah pergi kemana. Semenjak perginya dokter itu tiba-tiba ia menghilang dari ruangan itu, entah kemana perginya.


Setelah Aretha selesai menyuapi papinya, ia berniat untuk segera keluar dari kamar itu.


"Aku tinggal sebentar ya, Pi. Papi istirahat dulu saja," ujar Aretha seraya berpamitan.


"Iya, Sayang. Terima kasih, Nak," ucap Anton.


Aretha segera keluar dari kamar itu dengan membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kosong. Ia membawa benda itu ke dapur. Tampak sang mami dan asisten rumah tangganya yang sedang sibuk dengan kegiatan memasak. Seketika tercium aroma masakan yang menyebar di ruangan itu.


"Hmmm ... wangi sekali masakannya! Mami sama bibi masak apa?" Aretha tampak memuji bau masakan yang menerobos lubang hidungnya.


Carmila dan juga asisten rumah tangganya tampak menyunggingkan senyum nya, sebagai tanggapan.


"Mi, lihat mas David kemama?" tanya Aretha, setelah baru saja ia meletakkan mangkuk itu di tempat cuci piring.


"Sepertinya, tadi ada di depan," jawab Carmila


"Aku mau menemui mas David dulu ya, Mi," ucap Aretha. Ia segera menghampiri ruang depan, berharap David memang masih berada di sana.


Benar saja, David tampak tengah duduk di sofa sembari memainkan gawainya.


Aretha segera menghampirinya, lalu duduk di samping pria itu.


"Mas," panggil Aretha pelan.


David tampak mengalihkan fokusnya ke arah sang istri. "Sayang, sudah selesai?" tanyanya seraya memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.


"Sudah, Mas. Kamu lagi apa?" Aretha merangkulkan tangannya di lengan sang suami dengan manja.


"Nunggu kamu," jawab David tersenyum menggoda, sontak membuat Aretha mencebikkan bibirnya, lalu melepaskan tangannya dari lengan David.


David hanya mengulum senyumnya dan tidak terlalu mempedulikan itu.


"Bagaimana dengan papi, beliau mau makan?" tanyanya.


"Alhamdulillah papi mau makan, waktu tahu kalau buburnya aku yang buatkan," jawab Aretha seraya menyeringai senang. "Kata papi, buburnya enak, terus papi makan sampai habis," imbuhnya bercerita.


David tampak senang melihatnya. "Tetap jaga kesehatan, mulai sekarang kamu jangan terlalu banyak bekerja," ucapnya seraya sedikit mengacak rambut sang istri.


"Masak tidak melelahkan kok, Mas," balas Aretha.


"Aku tetap tidak suka kalau berlebihan," bantah David tidak setuju.


Meski Aretha mulai menyukai pekerjaan itu, tetapi untuk waktu dekat ia tidak ingin jika sang istri melakukannya dengan berlebihan, karena jelas itu akan membuatnya kelelahan dan bisa mengganggu kesehatannya. Nampaknya, ia sangat ingin menjaga janin di dalam perut sang istri dengan ekstra hati-hati.


"Aku bisa jaga diri baik-baik, Mas. Kamu tidak perlu terlalu khawatir seperti itu." Aretha berusaha memberi pengertian kepada sang suami.


"Kalau tidak sedang khilaf, entah kalau sedang khilaf," balas David seolah tidak percaya.


"Ck! Ini anak aku lho, Mas. Mana mungkin aku berbuat ceroboh yang bisa membahayakannya," kesal Aretha.


"Mas, aku mau tanya sesuatu boleh?" Aretha tampak meminta izin.


David mengangkat sebelah alisnya. "Tanya apa?" tanyanya.


Aretha terdiam beberapa detik, seolah berpikir terlebih dahulu, apa yang akan ditanyakannya.


"Mmm ... kamu sudah lama berteman dengan dokter Dara?" tanya Aretha ragu. Ia tampak menoleh dan mendongakkan wajahnya seraya menatap sang suami penuh tanya.


Ya, perihal hubungan David dan Dara, ia belum begitu banyak mengetahuinya, karena memang ia belum pernah menanyakan langsung perihal itu. Entah kenapa, setiap kali akan menanyakannya ia selalu saja lupa.


Setelah hari itu mereka bertemu dengan cara tidak sengaja, tiba-tiba hati Aretha mulai tergugah untuk mengetahui sosok tersebut lebih dalam, sesuai yang suaminya ketahui.


David melepaskan rengkuhannya, lalu memfokuskan pandangan ke depan. Ia menghela napas sejenak. "Dia teman sekolahku waktu SMA," jawabnya yang tentu sudah Aretha ketahui jika perihal itu.


"Dia cantik ya, Mas," ucapnya yang entah memuji sungguhan atau hanya ingin mengetes respon sang suami.


Namun, tentang apa yang ia ucapkan, itu memang benar adanya. Rasanya semua orang juga tahu bahwa Dara adalah dokter muda yang sangat cantik.


David tersenyum, lalu menoleh ke samping. "Tetap kamu yang lebih cantik menurutku," jawabnya.


Aretha memasang ekspresi datar, tidak menunjukkan suka ataupun tidak dengan jawaban David.


"Kalian dulu berteman dekat, ya?" tanya Aretha lagi.


"Hh?" David terkesiap, lalu tertawa kecil.


"Lho, kenapa?" Aretha tampak heran.


David segera menghentikan tawanya. "Jadi, dulu itu aku dan Dara rival di sekolah, kami yang selalu memperebutkan juara 1 di kelas, tetapi aku yang selalu menang. Hanya pernah satu kali aku kalah darinya," jelas David.


"Itu artinya?" Aretha menatap penuh tanya. Sungguh ia tidak bisa mencerna jawaban yang pasti dari penjelasan David.


"Maksud kamu?" David tampak bingung. Ia sedikit mengerutkan dahinya dengan kepala yang sedikit dicondongkan.


"Masih pertanyaan yang sama," jawab Aretha memberi kode.


David tersenyum datar. "Ya ampun, Sayang ... aku tidak dekat sama sekali dengannya. Kamu tahu? Dulu itu, penampilan dia sangat culun, rambut dikuncir dua, terus ditambah kacamata bulat dan juga besar, kebayang tidak wajahnya seperti apa? Pokoknya beda sekali dengan sekarang. Sekarang dia jauh lebih baik dari pada dulu. Aku sampai tidak mengenalinya lho, waktu pertama bertemu dengannya," jelas David panjang lebar.


"Jadi, sekarang dia itu lebih cantik?" Aretha mulai menatap tidak suka.


"Ya, seperti yang kamu bilang," jawab David seolah tanpa beban.


"Maka dari itu kamu mulai dekat?" celetuk Aretha yang sontak membuat David membeliak tak percaya jika sang istri akan beranggapan seperti itu.


"Maksud kamu?" tanya David bingung.


"Menyebalkan kamu, Mas! Aku Kesal!" Aretha segera beranjak dari tempat duduknya. Sementara David tampak gugup di tengah kebingungannya.


"Lho, Sayang, bukan itu maksudku," teriak David. Namun, Aretha tak peduli sedikit pun.


"Yah, sepertinya aku salah ngomong," gumam David.


***


Aretha tampak pergi ke kamarnya, lalu duduk di sofa yang berada di ruangan itu dengan ekspresi wajah yang cemberut. Sungguh David telah membuatnya kesal. Bagaiamana bisa ia mengatakan bahwa wanita itu cantik di depan istrinya sendiri? Benar-benar menyebalkan, pikirnya.


"Tadi bilangnya aku yang lebih cantik, tapi tahunya dia juga mengakui kalau dokter Dara juga cantik. Tidak konsisten! Kesal aku sama kamu, Mas. Tidak bisa menjaga perasaan istri. Harusnya kalau kamu mau jaga perasaanku, jangan bilang seperti itu. Ya ... paling tidak, kamu bilang tidak jauh lebih cantik dariku, atau apa gitu," gerutu Aretha sembari memainkan gawainya.


"Ternyata semua ucapannya itu bohong, dia cuma sengaja gombalin aku! Iiih ... KESAL!!!" geramnya kemudian.


Tanpa ia sadari bahwa David sudah memperhatikannya dari celah pintu kamar itu. Ia tampak menyunggingkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan sang istri tentang sisi negatif dari dirinya.


Sungguh ia tidak bermaksud seperti itu. Entah kenapa Aretha terlihat sangat sensitif sekali hari itu. Padahal, ia sendiri bingung dimana letak kesalahan dalam ucapannya.


Memang benar, ia mengindahkan perkataan Aretha yang menyatakan bahwa Dara itu cantik, tetapi bukan berarti wanita itu jauh lebih cantik darinya. Dan hanya karena satu kalimat itu, Aretha menyalahkannya? Sungguh itu sangat lucu buatnya.


Di tengah kegiatan melamunnya, tiba-tiba seseorang memegang punggung David, sehingga membuat pria itu terkesiap, lalu menoleh.


"Sabar, wanita hamil memang kebanyakan seperti itu, berhati-hatilah kalau berbicara, terpeleset sedikit, akibatnya bisa fatal," jelas sang mami mertua yang tiba-tiba berada di belakangnya, entah sejak kapan ia di sana.


Carmila tampak menyunggingkan senyumnya, lalu mengusap punggung sang menantu, sebelum akhirnya ia pergi dari sana.


"Terima kasih, Mi," lirih David seraya menatap punggung sang mami mertua.


Dari mana mami tahu kalau Aretha sedang marah?


Tanpa mau ambil pusing, David membuka lebar pintu kamar itu, lalu segera menghampiri sang istri yang tengah duduk membelakanginya, dengan tatapan yang fokus ke layar handphone di genggamannya.


"Sayang," panggil David, ketika baru saja ia berdiri si samping sofa, dimana sang istri berada.