
BRAK!
Seketika mobil ambulance itu terhenti, ketika menyadari bahwa telah terjadi kecelakaan antara satu buah motor dan mobil yang bertabrakan, tepat beberapa meter di depan mobil ambulance itu.
Dengan reflect, Richard menekan pedal rem dalam satu kali tekanan, sehingga mobil yang dikendarainya terhenti dalam waktu sekejap dan mengeluarkan bunyi, akibat gesekan antara ban mobil dan aspal.
Pada waktu bersamaan bunyi klakson dari beberapa kendaraan tampak memecah di udara, saling bersahutan satu sama lain. Entah bagaimana kronologis kejadiannya, sehingga tiba-tiba terjadi begitu saja dan akhirnya perjalanan mereka sedikit terhambat.
Beruntung kecelakaan itu tidak menghalangi seluruh jalah, sehingga mereka bisa melanjutkan kembali perjalanan mereka mengikuti mobil ambulance di depannya.
Kendaraan itu tampak melesat dengan cepat, berharap akan segera tiba di rumah sakit yang dituju. Sesekali Richard menekan tombol klakson, ketika ada kendaraan lain yang sedikit menghalangi jalannya. Alhasil, puluhan kendaraan dapat ia salip dengan begitu mudah.
Setelah hampir dua jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit yang sama dengan Aretha melakukan operasi.
Mobil ambulance itu berhenti tepat di depan IGD. Beberapa perawat di rumah sakit itu tampak menghampiri pasien dan membawanya ke dalam ruangan itu untuk melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh pasien sesuai dengan prosedur.
Richard dan Kris tampak menunggu di depan ruangan, berharap dokter tidak akan lama memeriksa David dan Rangga. Meski Rangga tidak terlalu parah, tetap saja pria itu masih butuh perawatan dan pemeriksaan ulang untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.
Kris tampak merogoh saku celananya, lalu mengambil sebuah ponsel miliknya. Laki-laki paruh baya itu menempelkan benda pipih itu di telinganya, rupanya ia menghubungi sang istri yang kala itu masih berada di rumah sakit yang sama.
Tak berlangsung lama, Maria datang di tengah-tengah mereka bersama Anton, sedangakan Carmila masih di tempat sebelumnya, menunggu Aretha keluar dari ruang pemulihan.
"Pa, bagaimana dengan Dave?" tanya Maria dengan rasa khawatir. Terlihat sekali ia yang sangat bergemetar. Sudah dapat dipastikan bahwa perempuan paruh baya itu tidak ingin mendengar hal buruk mengenai putra semata wayang yang selama sangat ia sayang dan banggakan.
Tak hanya Maria, Anton pun menanyakan hal yang sama dengan ekspresi yang sama pul, khawatir dan panik. Ia tampak menunggu jawaban dari laki-laki sebayanya yang selama ini menjadi rekan bisnis dan juga besannya itu.
Kris terdiam beberapa saat, sebelum menanggapi pertanyaan sang istri. Entah bagaimana ia harus memulai untuk menjelaskan kenyataan yang memang akan terasa menyakitkan bagi seorang ibu seperti istrinya itu. Tentu ia harus mencari kalimat yang paling tepat agar sang istri bisa memahami dan menerima kenyataan buruk tersebut.
"Ma, Mama yang sabar ya ... percayalah bahwa Dave akan baik-baik saja. Hanya saja, dia perlu perawatan khusus untuk sementara waktu," jelas Kris dengan sedikit ragu.
"Maksud Papa? Ada apa sebenaranya dengan Dave, Pa?" tanya Maria seraya menjatuhkan air matanya.
Kris menunduk sejenak, lalu mendongakkan wajahnya kembali, menatap sendu wajah sang istri. "Dave masih belum sadarkan diri, Ma. Dia mengalami pendarahan di kepalanya, sehingga harus mendapat perawatan khusus," jelasnya lirih.
Detik itu juga, Maria semakin menangis menjadi-jadi. Sungguh itu kenyataan terberat yang harus ia hadapi. Entah bagaimana ia menjalani hari-harinya dengan melihat sang putra yang terbaring tak berdaya. Hatinya sangat sakit. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya David dalam kondisi seperti itu. Ia ikut merasakan apa yang tengah dirasakan apa yang dirasakan David saat itu.
"Ma, sudah Ma! Mama yang sabar, semua pasti akan baik-baik saja." Kris tampak menenangkan istrinya yang saat itu semakin terisak menangisi putra kesayangannya.
"Dave, Pa ... Dave ...," ucapnya di tengah isak tangisnya.
"Iya, papa tahu. Tetapi, kita juga tidak bisa berbuat banyak. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah berdoa, semoga Dave bisa segera pulih. Kita harus yakin bahwa Dave akan pulih kembali," jelas Kris memberikan pemahaman, meski sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama dengan istrinya.
Ya, sebagaimana yang diketahui bahwa wanita selalu lebih mengutamakan perasaan daripada logikanya. Dan memang, untuk perihal ini, logika sangat sulit untuk dijalankan. Itulah yang mungkin tengah terjadi kepada Maria sebagai seorang ibu.
"Pak Kris, apakah dokter memberi tahu berapa lama Dave akan mengalami koma seperti sekarang ini?" tanya Anton.
"Entahlah, Pak. Hanya saja, memang ada beberapa kemungkinan buruk ya bisa saja terjadi, tetapi semoga itu tidak terjadi kepada Dave," jawab Kris.
Kris pun tampak menjelaskan apa yang disampaikan oleh dokter mengenai kondisi David dengan sangat detail kepada Anton dan Maria. Itu ia lakukan supaya siapapun di antara mereka tidak akan ada yang terkejut dengan kemungkinan buruk yang terjadi nanti, meski ia tentu berharap bahwa itu tidak akan terjadi kepada putranya.
Maria semakin terlihat lemas, ketika mendengar penjelasan sang suami. Sungguh ia tak kuasa menerima semua itu. Namun, apa yang bisa ia perbuat, selain hanya pasrah kepada-Nya? Ikhlas. Ya, mungkin itu jawaban yang paling tepat dari segala keresahan yang tengah ia rasakan, meski itu sama saja, terasa sulit. Namun, ia berusaha untuk hal itu.
"Oh iya, bagaimana dengan kondisi nak Rere, Pak Anton?" tanya Kris seraya memfokuskan pandangan ke arah Anton.
"Rere alhamdulillah sudah selesai operasi. Hanya saja, sekarang masih di ruang pemulihan, belum bisa kita temui," jelas Anton.
"Bagaimana dengan bayinya?" Kris tampak memasang wajah serius.
Ya, bagaimana tidak? Ketika ia harus membayangkan saat sang putri selesai proses pemulihan, tiba-tiba menanyakan suaminya, jawaban apa yang harus ia berikan? Sebab, tidak mungkin ada seorang istri yang baik-baik saja, jika melihat ataupun mendengar suami yang dicintainya dalam keadaan tidak baik. Dan itu yang ia takutkan.
Anton takut Aretha yang akan terpukul dengan mengetahui keadaan suaminya. Dan itu sudah dapat dipastikan. Lebih mengkhawatirkan lagi, karena kondisi Aretha yang juga belum pulih. Sungguh itu membuat dilema, haruskah Aretha diberi tahu atau lebih baik disembunyikan sementara waktu? Pikirnya.
"Ya, Tuhan ...," lirih Anton memasang ekspresi sendu.
Bukan karena ia tidak bahagia mendengar kabar baik itu, tetapi ia merasakan hal yang sama seperti yang Anton rasakan. Bagaimana jika kemungkinan buruk itu terjadi kepada David? Sungguh ia tidak akan tega melihat anak menantunya yang harus merawat kedua bayi kembar mereka sendirian. Itu akan menjadi hal yang sangat menyedihkan baginya.
Richard yang sedari tadi hanya memperhatikan perbincangan mereka, ia hanya bisa merenung, entah harus sedih atau bahagia mendengar itu semua, yang jelas ia sangat peduli dengan kebahagiaan Aretha dan juga David, sahabatnya. Namun, setelah seperti ini bagaimana ia harus ikut berbahagia di saat ia menyaksikan sendiri David yang terbaring lemah tidak berdaya?
***
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya dokter dapat memastikan bahwa David memang benar harus mendapatkan perawatan khusus, akibat dari kecelakaan itu.
Kris pun segera menyetujuinya dan segera mengurus administrasi di rumah sakit itu untuk proses perawatan sang putra. Setelah semuanya selesai, David segera dilarikan ke ruangan ICU untuk mendapat perawatan khusus di sana.
Hal itu bertepatan dengan Aretha yang baru saja selesai proses pemulihan dan keluar dari ruangan tersebut.
Carmila dan Anton tampak mendaratkan beberapa kecupan bahagia di wajah Aretha, sehingga membuat Aretha semakin merasakan bahagia yang begitu mendalam, setelah kebahagiaan yang baru beberapa jam lalu ia dapatkan.
Sebagaimana David masuk ruang ICU, Aretha pun masuk ruang rawat inap dengan senyum merekah di wajahnya, karena telah berhasil menjadi seorang wanita yang sempurna, meski saat itu ia belum melihat sosok suami di sampingnya. Namun, ia akan sangat bahagia, ketika David hadir di sisinya, lalu mendengar kabar bahagia itu. Sungguh itu akan menjadi kejutan terindah untuk sang suami, pikirnya.
"Sayang, selamat ya ... mami senang sekali punya cucu kembar," ucap Carmila, setelah Aretha berada di ruang rawat inap.
"Terima kasih, Mi. Aku juga senang, terima kasih untuk support Mami selama ini," jawab Aretha dengan wajah yang terlihat sedikit pucat pasi.
Tak lupa, sebagai seorang ibu, Carmila juga menanyakan beberapa hal yang mungkin Aretha keluhkan, setelah menjalani proses operasi. Namun, bersyukur ternyata sejauh ini Aretha merasa baik-baik saja, tidak ada yang perlu terlalu dicemaskan. Berharap wanita itu akan tetap dalam keadaan baik-baik saja, tanpa keluhan apapun. Sebab, kondisi setelah operasi seperti itu, besar kemungkinan sangat rentan.
"Mami tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, kok. Kalaupun ada yang kurasa tidak baik, aku pasti cerita, Mami tenang saja," ujr Aretha memberi tahu.
"Baiklah kalau begitu."
Tak henti-hetinya Aretha mendapat ucapan selamat dari mereka, termasuk Richard.
"Sayang, selamat ya ... terima kasih sudah memberi kami cucu yang cantik dan tampan," ucap Maria sembari menangis tersedu sedan, sehingga membuat Aretha sedikit heran.
Sungguh Maria sudah tak bisa lagi membendung air matanya itu. Itu benar-benar menyakitkan baginya.
"Mama ... Mama kenapa menangis? Bukankah seharusnya bahagia?" tanya Aretha sedikit polos.
Maria terdiam sejenak, lalu memaksakan senyumnya. Seketika ia menyeka air matanya, lalu berkata, "Tidak apa-apa kok, Sayang. Mama hanya terharu dengan anugrah yang Tuhan berikan untuk keluarga kita. Mama senang sekali, Sayang."
Maria tampak memeluk tubuh Aretha yang kala itu masih terbaring di atas ranjang. Setelah beberapa saat, ia mengangkat tubuhnya kembali, merenggangkan pelukannya terhadap Aretha.
"Terima kasih, Sayang," ucap Maria sekali lagi.
Aretha tampak tersenyum menanggapinya.
"Mas David pasti akan senang juga kalau tahu aku melahirkan sepasang bayi kembar," ucap Aretha yang semakin membuat orang yang berada di sana semakin terlihat memasang wajah memelas.
"Iya, tentu. David pasti akan sangat bahagia mendengarnya," jawab Maria terpaksa.
Lagi-lagi Aretha tersenyum. "Oh iya, seharusnya kan mas David pulang hari ini, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Aretha heran. "Apa memang mas David belum datang?" imbuhnya.