
Mulut Aretha terperangah saat mendapati beberapa lembar foto di tangannya. Ia tampak menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya akan apa yang ia lihat saat itu. Namun, apa mau dikata, nyatanya itulah yang tengah terpampang jelas di matanya.
Ya, salah satu foto itu adalah foto seorang wanita yang tengah memegang tangan suaminya, sementara sisanya adalah foto sang suami yang tengah tidur dengan seorang wanita. Terlihat jelas foto sepasang insan tengah bertelanjang dada yang hanya dibalut oleh selimut berwarna putih. Dan lebih mengejutkan lagi, ketika ia mengenal sosok wanita yang ada di dalam foto itu.
Freya. Wanita yang tempo hari tidak sengaja menabraknya di sebuah department store. Ternyata, benar dugaannya bahwa wanita bernama Freya itu adalah mantan kekasih dari suaminya. Dan itulah yang ia tangkap dari foto yang tengah berada di depan matanya.
Tanpa disadari, butiran bening yang sedari tadi memenuhi sudut matanya tampak luruh juga. Dadanya sesak, hatinya sakit mbak terhantam godam. Ia benar-benar sudah tidak lagi bisa menahannya. Itu sangat menyakitkan baginya. Sungguh, sungguh menyakitkan.
Ia tidak ingin mempercayai itu. Namun, bagaimana caranya? Sementara foto itu terlihat begitu jelas. Bahkan, ia sudah berapa kali memperjelas penglihatannya, berharap apa yang ia lihat salah, tetapi nyatanya itu memang benar, bahwa yang ada dalam foto itu adalah suaminya. Sekeras apapun ia menepisnya, tetap saja kenyataanlah yang menjawab setiap pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
Seketika mulutnya kelu. Ia hanya bisa meneteskan air mata, terpaksa menerima setiap rasa sakit yang tengah menghujani jantungnya.
Apa ini alasan dia pergi ke Bandung, sebenarnya? Tega kamu, Mas! Kamu benar-benar tega!
Perasaan sakit dan kecewa nampak bercampur aduk. Lantas, apa maksud dari kata-kata dan sikap manis David yang selalu ditunjukkan kepadanya selama ini? Ia tidak menyangka, jika ternyata itu hanyalah bualan belaka. Bahkan, ia tidak menyangka, jika suaminya bisa sehebat itu berperan dalam sebuah cinta, sekaligus dusta.
Apa yang David bilang tentang ia yang tak pernah melakukan hal sejauh itu dengan mantan kekasihnya, ternyata itu semua bohong. Dan Aretha pikir, David telah berhasil membodohinya. Membodohi wanita polos sepertinya.
Mendengar keheningan di kamar mandi, Aretha segera menyeka air matanya, karena itu pertanda David telah selesai dengan kegiatannya di dalam sana.
Secepat mungkin ia memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop berwarna cokelat, lalu ia sembunyikan di balik tubuhnya. Aretha kembali memainkan gawainya sembari bersandar di sandaran tempat tidur.
Dalam hitungan detik, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Aretha tetap memfokuskan pandangan ke layar ponselnya, tanpa ingin menoleh sedikit pun kepada David yang baru saja keluar dari sana. Baginya itu sangatlah menjijikan.
"Sayang, bisa tolong buatkan aku kopi?" ucap David, sembari memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Aretha sebelumnya.
Aretha tak menjawab. Entah ia pura-pura tidak mendengar atau sengaja ingin menunjukkan kemurkaannya dengan cara diam, sehingga membuat David menatapnya heran.
"Sayang, kamu sedang sibuk?" tanyanya memastikan.
Lagi-lagi Aretha tak merespon. David semakin dibuat penasaran. Ia tampak mengangkat sebelah alisnya heran.
Kenapa dia? Apa dia tidak mendengar ucapanku?
David segera menyelesaikan kegiatannya. Setelah selesai memakai pakaian, ia segera menaiki tempat tidur seraya mendekati sang istri. Dengan penuh keheranan, ia duduk di samping Aretha tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
"Sayang, apa kamu tidak mendengarku?" tanyanya lirih.
David semakin mendekati Aretha. Namun, dengan sigap Aretha malah menjauh darinya, sontak membuat David semakin bingung, apa yang sebenarnya sudah terjadi, sehingga istrinya bersikap acuh seperti itu?
"Sayang, kamu menangis?" tanyanya, setelah menyadari sisa air mata yang kian mengering di pipi Aretha. "Apa ada yang salah?" imbuhnya.
Namun, Aretha tetap tak bergeming, hingga David memutuskan untuk mengecup puncak kepala wanita di sampingnya. Karena ia pikir, mungkin Aretha tengah lelah saja, maka dari itu ia berusaha menenangkan.
Sayang sekali, Aretha telah lebih dulu memundurkan kepalanya, sebelum David berhasil melakukan niatnya. Aretha mendongak, menatap tidak suka kepada pria di hadapannya.
"Menjijikkan!" umpatnya dengan sinis, sontak membuat David terbelalak hebat.
Aretha segera beranjak dari sana. Namun, secepat kilat David menahannya.
"Kamu sedang membodohiku?" tanya David, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
David menduga bahwa itu adalah sebagian drama yang belum Aretha selesaikan, karena belum merasa puas mengerjainya di hari ulang tahunnya itu.
Aretha menepis tangannya kasar, dengan tidak merubah apapun dari tatapan sinisnya. Namun, David begitu kuat menahan cengkeramannya.
David tertegun. Bagaimana bisa tatapan Aretha terlihat begitu membencinya. Sejak kapan ia pandai berakting? pikirnya.
"Ada apa?" tanya David datar.
"LEPASKAN!"
"Ayolah ... jangan membodohiku seperti itu!" ucap David memohon, karena jujur ia begitu takut melihat tatapan kebencian yang Aretha lemparkan kepadanya.
"Lepaskan aku! Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu itu! Itu terlalu menjijikkan buatku!" gertak Aretha.
David semakin murka dibuatnya. Ia sudah tak tahan lagi dengan permainan Aretha, jika memang benar itu hanyalah sebuah pertunjukan drama darinya. Namun, bagaimana jika memang itu benar, bukan hanya sebuah permainan belaka? David sungguh frustrasi dibuatnya.
"Tapi kenapa?" geram David.
Aretha mencebikkan bibirnya. "Hh! Kamu masih tanya kenapa? Apa kamu sudah lupa dengan siapa kamu bertemu di sana? Lalu, apa saja yang kamu lakukan di sana?" tanyanya penuh selidik.
"Siapa? Freya?" tanya David memastikan.
Ia langsung mengingat pertemuan tidak sengaja dengan Freya.
Tanpa ada masalah apapun, ia memang sudah berniat untuk menceritakan pertemuan itu kepada sang istri.
"Oh, ternyata benar, kamu bertemu dengan mantan kekasihmu itu!" Aretha semakin menatap tajam pria di hadapannya.
"Ya, aku memang bertemu dengan dia, dan itu tidak sengaja. Kita hanya sekadar bertemu, tidak melakukan apapun, selain berbincang sebentar. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini dari kamu, aku sudah berniat ingin menceritakannya sama kamu, Sayang!" jelas David.
"Oh, ya?" Aretha menatap tidak percaya. "Lalu, apa maksud dari semua ini? APA?" Aretha tampak mengangkat amplop berwarna cokelat itu ke udara.
David menatap nanar amplop itu. Ia masih tidak paham apa yang dimaksud Aretha. Tanpa menanggapi perkataan Aretha, ia segera membuka amplop itu, dan betapa sangat terkejutnya ia, ketika melihat foto-fotonya dengan Freya. Bahkan, foto ketika Freya berusaha mengejarnya tadi malam, dan itu pas sekali, ketia wanita itu tengah memegang tangannya.
Ah, sial! Pantas saja dia semarah itu! Siapa yang berani berurusan denganku! Aku janji tidak akan membiarkannya hidup, siapapun itu!
"Dari mana kamu mendapatkan ini semua?" tanya David seraya mendongak dan menatap penuh tanya.
"Kamu tidak perlu tahu aku dapat itu dari mana, yang jelas itu cukup membuktikan bahwa semua yang kamu ucapkan itu BOHONG! Aku benci kamu, Mas! AKU BENCI!" Aretha sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia semakin memberontak, lalu beranjak dari tempat itu. Namun, lagi-lagi David menarik tangannya hingga ia terpaksa mengurungkan niatnya kembali.
"Kamu percaya dengan foto-foto ini?" tanya David.
Ia berharap Aretha tidak akan percaya begitu saja dengan hal-hal yang belum terbukti kebenarannya. Namun, apalah daya, wanita itu telah dibutakan oleh amarahnya, sehingga David tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana tidak? Semua istri juga pasti akan melakukan hal yang sama, seperti yang Aretha lakukan.
"Kasih aku alasan agar aku tidak mempercayainya!" teriak Aretha semakin geram.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masak iya, Freya ingkar janji? 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Mau ku update lagi, atau mau menata hati dulu, sampai keadaan membaik? ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING!
TBC