Possessive Love

Possessive Love
Bertamu



Sore itu, Aretha baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu. Tampak Carmila dan Anton yang tengah sibuk berbincang di ruangan itu. Aretha duduk tepat di samping Carmila, lalu menyandarkan tubuhnya di atas dada perempuan paruh baya itu.


Carmila mengelus lembut rambut putrinya. "Sayang, mama dan papa baru saja mendapat kabar bahwa David akan menunda pertunangan kalian," lirih Carmila memberi tahu dengan nada yang sangat hati-hati, sontak membuat Aretha kembali mengangkat tubuhnya, lalu menoleh ke arah sang mami.


"Beneran, Mi?" tanya Aretha seraya membulatkan matanya. Carmila hanya mengangguk menanggapi seraya memasang ekspresi memelas.


"Hanya menunda, kan, bukan membatalkan?" tanya Aretha memastikan yang langsung mendapat respon dari sang papi.


"Iya," singkat Anton. "Segeralah selesaikan masalah kalian!" titahnya seraya menoleh ke arah putri semata wayangnya itu.


Tentu saja kedua orangtua Aretha mengetahui masalah yang tengah dihadapi oleh putrinya, karena Aretha telah lebih dulu menceritakan hal itu.


"Iya, Pi. Aku akan segera menyelesaikannya," jawab Aretha. "Kalau boleh tahu, dia menunda sampai kapan?"tanyanya penasaran.


"Entahlah, belum ada waktu yang pasti," jawab Carmila.


Aretha tampak memberengut. Ia kecewa dengan keputusan David yang secara sepihak. Namun, ia cukup memahami akan hal itu.


Kejadian semalam memang membuat Aretha cukup frustasi. Namun, ia tidak perlu berlarut dalam kesedihan. Yang perlu ia lakukan adalah bagaimana caranya membujuk David agar bisa kembali seperti sebelumnya, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Richard.


Tok ... tok ... tok ....


suara ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian ketiganya. Carmila segera beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk membuka pintu itu.


"Jeng Maria?" ucap Carmila terkejut, ketika mendapati Maria yang bertamu ke rumahnya sore itu. Kedua perempuan paruh baya itu tampak cipika-cipiki.


"Kenapa tidak memberi tahu kalau mau ke sini?" tanya Carmila.


"Iya, Jeng ... soalnya dadakan, sekalian lewat mau ke rumah sodara," jelas Maria.


"Silakan masuk, Jeng!"


Maria masuk ke dalam rumah itu. Tampak Aretha dan Anton berdiri dari tempat duduknya, menyambut kedatangan Maria. Aretha sedikit terkejut akan kedatangan Maria yang secara tiba-tiba dan tidak biasa.


"Bu Maria, apa kabar?" ucap Anton berbasa-basi seraya bersalaman dengan perempuan paruh baya yang tidak lain ibu kandung David.


"Baik, Pak Anton," jawab Maria singkat.


Sebagaimana kedua orangtuanya, Aretha pun melakukan hal yang sama dengan mencium tangan Maria, lalu menanyakan kabarnya.


Maria mendudukkan tubuhnya, setelah sang tuan rumah mempersilakan. Maria duduk di sofa tunggal yang berada tepat di samping Aretha.


"Nak, kamu ada masalah dengan David?" tanya Maria seraya menoleh ke arah Aretha.


Aretha tertegun sejenak, lalu mendongak. "Iya, Tante. Ini memang salahku, aku minta maaf," lirih Aretha. "Tapi ... Tante tenang saja, aku akan segera menyelesaikannya, kok," imbuhnya yakin yang langsung mendapatkan senyuman dari Maria.


"Tante percaya sama kamu, Nak. Semoga David bisa mengerti," balas Maria seraya mengelus rambut Aretha. "Tapi ... untuk acara pertunangannya, David meminta untuk di tunda, tidak apa-apa kan, Sayang?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, Tante. Lagian aku pikir ini memang terlalu cepat," jawab Aretha tak masalah.


***


Sepulang kuliah, Aretha telah berada di depan sebuah Apartemen. Ia diantar oleh Iman. Namun, setelah tiba di tempat itu, Aretha meminta Iman untuk pulang kembali ke rumah.


Aretha berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit itu, memasuki sebuah lift yang nampak mengantarkannya ke salah satu kamar apartemen yang tidak asing baginya. Ya, tempat dimana David tinggal selama ini.


Pintu lift itu terbuka lebar. Aretha segera berjalan menuju tempat yang dituju hingga ia tiba di depan pintu apartemen David. Berharap David sudah pulang dari kantor.


Aretha segera menekan bel yang terletak di samping pintu itu. Setelah beberapa saat, handle pintu itu bergerak, menandakan ada makhluk di dalamnya yang sontak membuat Aretha tersenyum semringah.


Aretha melebarkan senyumnya, tatkala pintu itu terbuka dan tentu saja membuat seseorang di balik pintu itu tampak terkejut. "Kamu?" kaget David.


"Hai ...," sapa Aretha seraya menyeringai menunjukkan sederet gigi putihnya. "Boleh aku masuk?" tanyanya.


"Aku sibuk, tidak bisa diganggu!" ketus David seraya ingin menutup kembali pintunya.


"Aku akan menunggu di sini sampai pekerjaanmu selesai," ucap Aretha yang sontak membuat David mengurungkan niatnya kembali untuk menutup pintu.


David mendengus kesal. "Aku lelah, mau istirahat!" tukasnya seraya akan menutup pintu itu kembali.


"Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu selesai istirahat!" tegas Aretha tidak mau kalah. Lagi-lagi David mengurungkan niatnya.


Nampaknya gadis itu tidak mau menyerah hingga David benar-benar mengijinkannya masuk.


"Mau kamu apa, ha?" tanya David sedikit ketus seraya menatap Aretha sinis.


"Sama tamu kok galak gitu, tidak baik lho, Mas," ucap Aretha tampak memberengut. "Tamu adalah raja. So, perlakukanlah dia dengan baik," imbuhnya menyindir.


Masih saja David terlihat marah, meski sudah dua hari tidak bertemu atau bahkan bertegur sapa dengannya, meski hanya melalui udara ataupun aksara.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu bertamu ke sini?" geram David.


"Atas dasar kemauan sendiri dan tanpa paksaan siapapun!" tegas Aretha seraya menyeringai. Namun, David hanya mencebikkan bibirnya.


"Pulang sana!" usir David seraya menutup pintu itu tanpa mempedulikan Aretha.


Aretha menghela napas. Nyatanya tidak mudah meluluhkan pria berkepala batu itu, pikirnya.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan supaya kamu mengijinkanku untuk masuk!" ucap Aretha menyeringai senang.


Gadis itu pun mulai melancarkan ide gilanya dengan menekan bel apartemen David berulang kali, hingga membuat David kembali membuka pintu itu.


"Apa kamu sudah gila, ha?" geram David seraya menunjukkan ekspresi marahnya.


"Aku gila karena kamu!" jawab Aretha yang sontak membuat David berdecak kesal.


"Aku tahu, kamu tidak makan selama dua hari karena terlalu sibuk memikirkan aku, makanya aku beli banyak makanan dan Aku ke sini cuma mau memastikan kalau kamu mau makan!" ucap Aretha sekenanya sembari menunjukan tiga kantong makanan yang ia bawa.


Mana mungkin aku bisa bekerja dengan baik, jika tidak makan selama dua hari?


Tanpa menunggu David mengijinkannya, Aretha telah menerobos masuk ke dalam, seraya membuat David terpaksa menggeser tubuhnya.


David nampak kesal karena merasa telah kalah dari gadis itu. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak.


David menutup pintu itu kembali, sementara Aretha tampak bergegas menuju dapur dengan membawa kantong makanan itu, berniat untuk menyiapkan makanan tersebut. Seketika ia menoleh ke belakang dan mendapati David tengah memperhatikannya. Aretha hanya tersenyum senang dan seketika muncullah ide jahil di otaknya.


BRAK!


_________________________________


Makasih yang udah setia menunggu dan selalu kasih like, comment and vote buat novelku ini.


You are My beloved Readers๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Yang menunggu part sweet sabar dulu ya, authornya lagi menghayal dulu๐Ÿ˜‚๐Ÿ™


Oh ya, menurut kalian, apa aku perlu ganti visual characters?


HAPPY READING!