Possessive Love

Possessive Love
Masa Lalu David dan Fathur (Part 2)



"Jika saya mempunyai bukti, apakah Tante siap jika saya melaporkan balik anak Tante?" ucapan David sontak embuat semua mata menatap ke arahnya.


"Kamu mau mengncam saya?" Mama Damar seolah tidak percaya dengan ucapan David.


David merogok kantong celana seragamnya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya.


"Semua bukti ada di sini, Pak. Silakan Bapak lihat sendiri." David menyerahkan ponsel miliknya kepada Kepala Sekolah.


Pak Gofur pun menerima ponsel yang diberikan oleh David, lalu segera membukanya.


Terdapat sebuah video yang tersimpan di dalam ponsel itu, dan pak Gofur pun memutar video tersebut. Pak Gofur cukup terkejut melihat video tersebut, lalu ia memberikan handphone milik David kepada kedua orang tua Damar, supaya mereka bisa menyaksikan sendiri kelakuan putranya.


David cukup puas melihat keterkejutan kedua orang tua Damar. "Apakah ada bantahan dari video tersebut, Om, Tante?" tanya David. "Apa perlu juga saya panggilkan anak-anak yang pernah dipukuli anak Tante karena mereka tahu kelakuan Damar yang sering merokok diam-diam di sekolah? Dan mereka yang diancam jika sampai berani mengadukan Damar kepada pihak sekolah?" sambungnya seolah ingin membongkar semua kelakuan less attittude putra mereka.


Tak ada sedikit pun rasa takut di wajah David menghadapi masalah yang menyudutkan dirinya. Ia tahu bahwa apa yang sudah ia lakukan adalah benar, jadi untuk apa ia menakuti hal yang memang bukan kesalahannya, sekali pun itu menyudutkan dirinya.


David yang memang terlahir menjadi anak yang jenius, dari dulu memang tidak pernah gegabah dalam melakukan sesuatu. Ia akan berbuat jahat terhadap seseorang, ketika ia memiliki bukti yang akurat. Tanpa itu, tak mungkin ia melakukannya sembarangan. Sebab, itu sama saja dengan ia menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang kehancuran.


Kedua orang tua David menunduk malu. Bagaimana bisa anak seusia David begitu berani mengungkapkan kebenaran, bahkan tanpa di dampingi wali murid di sampingnya.


"Jika Tante masih ingin melanjutkan masalah ini kepada pihak berwajib, saya akan menghubungi orang tua saya dan pengacara keluarga kami untuk melanjutkan kasus ini," tegasnya lagi.


Pernyataan David seketika membuat kedua orang orang tua Damar tercengang.


"Siapa sebenarnya anak ini? Sepertinya dia bukan berasal dari keluarga sembarangan" batin papa Damar.


"Nak David, Kami mohon maaf atas perkataan kami tadi dan atas sikap anak kami, Damar. Saya harap masalah ini cukup sampai di sini saja. Biarkan kami yang akan menghukum anak kami sendiri. Kami juga tidak akan meminta ganti rugi atau apapun," ucap papa Damar menyesal.


"Dengan Arumi lah seharusnya Om dan Tante meminta maaf. Karena di sini Arumilah korban yang sebenarnya," ucap David.


Akhirnya kedua orang tua Damar pun meminta maaf kepada Arumi. Masalah itu diselesaikan tanpa jalur hukum. Namun, sekolah tetap mempunyai peraturan tersendiri. Anak-anak yang terlibat dalam perkelahian pun mendapat skorsing dari pihak sekolah, terkecuali Arumi.


karena di sini ia hanyalah korban. Damar dan ketiga temannya pun sudah menandatangani perjanjian hitam di atas putih. Jika mereka ketahuan melakukan kekerasan dan melakukan hal-hal yang dilarang di sekolah, seperti merokok, mem-bully teman, mengancam. Maka mereka akan dikeluarkan oleh pihak sekolah dengan tidak terhormat.


Setelah kejadian itu tak ada lagi dari mereka yag berani merundung Arumi. Bahkan isu keberanian David pada Orang tua Damar pun menyebar di sekolah. Semakin banyak murid perempuan yang mengangumi David. Entah kenapa Arumi merasa tidak suka dengan David yang kini bayak didekati gadis di sekolahnya, meski David terkesan dingin menghadapi mereka.


"Eh, Dave, gue pensaran. Kok, lo bisa kepikiran sih, buat rekam kejadian Arumi waktu itu. Kenapa tidak langsung lo tolongin saja?" tanya Fathur yang sudah meletakan tas ranselnya di atas tempat tidurnya.


Sore itu David sengaja main kerumah Fathur untuk bermain game bersama sahabatnya tersebut. Karena rumah Fthur sepi, jadi mereka bebas berteriak sesuka hati. Sebab, orang tua Fathur yang memang memilih untuk tinggal di luar negeri. Bahkan, selama berteman dengan Fathur, David belum pernah sekali pun melihat papanya.


"Kalau gue tidak rekam dulu, yang ada Gue yang masuk penjara, Arumi juga." David membuka seragam sekolahnya dan hanya mengenakan kaus putih polos yang menjadi dalaman seragamnya.


"Terus lo serius mau laporin balik si Damar?" tanya fathur lagi.


"Tidak mungkin gue sejahat itu. Kasihan masa depannya masih panjang," jawab David yang memang tidak sampai hati. "Dengan melihat tingkah laku dia yang ketahuan oleh satu sekolah saja, itu sudah lebih daripada cukup buat gue," imbuhnya.


"Jadi, itu cuman gertakan lo saja?"


"Iyalah, Thur. Kalau kita terlihat lemah justru mereka akan semakin merasa menang," balas David.


Fathur pun tertawa mendengar ucapan David. Dia tak habis pikir dengan kecerdasan David. Sebuah gertakan yang mampu membuat orang tua Damar meminta maaf. Sungguh itu sangat luar biasanya.


***


Waktu terus berlalu, meninggalkan dan mengukir kenangan di antara mereka. Ketiga sahabat itu kini telah menginjak kelas XII.


Siang itu, ketiga sahabat itu berencana akan belajar bersama di rumah David. Namun, karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan Arumi di sekolah, gadis itu pun meminta kedua sahabatnya untuk kerumah David terlebih dahulu, sementara ia akan menyusul, setelah urusannya selesai.


"Kalian duluan saja, Ya. Nanti aku nyusul pake taxi saja." Arumi pun berlalu menuju perpustakaan meninggalkan kedua sahabatnya.


David dan Fathur pun pergi menuju rumah David dengan mengendarai motor sport masing-masing.


David dan Fathur menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah David. David dan Fathur memasukkan motornya, ketika seorang security berhasil membuka pintu gerbang itu dengan lebar. David dan Fathur tampak membuka helm yang menutupi kepalanya, lalu menaruhnya di atas kaca spion motor.


"Pak, nanti kalau ada Arumi surub langsung masuk saja, ya!" pesan David ketika security rumahnya membukukan pintu gerbang besar itu kembali.


"Baik, Mas," ucap security itu mengangguk hormat. David pun segera masuk disusul oleh Fathur di belakangnya.


Orang tua David dan para pekerja di rumahnya memang sudah tahu kedekatan ketiga remaja itu. Baik Arumi maupun Fathur mereka sering sekali berkunjung ke rumah David.


Apalagi Arumi si gadis remaja yang sangat ramah, semua Asisten Rumah tangga yang bekerja di rumah David pun sangat menyukai gadis itu. Setiap kali ditawari minum, Arumi tidak akan mau dilayani oleh mereka. Justru gadis itu akan membantu mereka membuatkan minuman untuk dirinya dan kedua sahabatnya.


Kedua orang tua David pun sangat bersyukur dengan kehadiran Arumi dalam kehidupan David. Semenjak David bersahabat dengan Arumi, David berubah menjadi anak yang Raijin dan mandiri. Ketika ia membutuhkan sesuatu, selagi ia bisa melakukannya sendiri, ia tidak akan memanggil asisten rumah tangganya.


"Thur, sudah kamu kasih kalungnya sama Arumi?" tanya David yang kini tengah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang tengah ia duduki.


Beberapa waktu lalu Fathur sempat menunjukan sebuah liontin padanya. Liontin yang akan di berikan Fathur pada Arumi sebagai ungkapan perasaannya. Sampai saat ini David belum mendengar lagi kabar hubungan keduanya, hingga ia pun berinisiatif menanyakan hal itu, meskipun ada sedikit rasa nyeri di hatinya.


"Belum, Dave. Gue gerogi terus setiap kali mau ngomong sama dia. Menurut lo gimana?" Fathur memcoba meminta pendapat sahabatnya.


"Ya lo tembak saja lah. Atau gue saja nih yang bilang sama dia 'Arumi gue cinta sama lo. Gue harap lo mau jadi pacar gue'. Ide bagus, kan?" ucap David tertawa.


Tanpa Fathur sadari sesungguhnya kalimat itu lah yang ingin sekali David ungkapkan kepada Arumi, sebelum ia tahu bahwa Fathur juga menyukai gadis yang sama dengannya.


"Jangan, dong. Gila saja lo. Masa gue saingan sama sahabat gue sendiri," ucapnya sambil melempar bantal sofa ke arah David yang masih tertawa.


"Kalau dibuat judul film kurang enak ngucapinnya, Dave. Sahabatku menjadi saingan cinta antara aku dan sahabatku," sambungnya lagi. Mereka pun kembali tertawa terbahak-bahak.


"Eh, Dave. Tapi lo nggak suka beneran 'kan sama Arumi?" Pertanyaan Fathur membuat David tersedak minuman yang sedang ia teguk di gelas miliknya.


"Uhuk, uhuk! Ya, tidaklah. Mana mungkin aku suka sama sahabatku sendiri. Lo tenang saja. Arumi bukan tipe gue," ucap David berdusta.


Tanpa mereka sadari, ada seorang gadis yang tengah tertegun di depan pintu. Gadis itu mengusap air matanya yang mulai meluncur tanpa permisi. Dadanya terasa sesak mendengar pernyataan David. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang menganggap bahwa perlakuan David padanya karena lelaki itu mempunyai perasaan yang lebih untukknya. Ternyata dia salah! David hanya menganggapnya tak lebih dari seorang sahabat.


Gadis itu pun berlari meniggalkan rumah David.


"Tolong jangan bilang mereka kalau saya ke sini ya, Pak." Pesan gadis itu, ketika melewati gerbang rumah David dan mendapat tatapan penuh tanya dari security di rumah itu.


"Baik, Non," ucap security tersebut.


***


Sebulan sudah berlalu semenjak kejadian itu. David merasakan ada perbedaan dari sikap Arumi yang terlihat lebih pendiam. Setiap kali David menanyakan kenapa? jawaban sahabatnya itu hanya "Tidak apa-apa".


Pagi itu, setelah selesai pelajaran olahraga, David menghampiri Arumi yang sedang mengambil pakaian gantinya di loker sekolah mereka. David ingin menanyakan sekai lagi kenapa sahabatnya itu akhir-akhir ini berubah.


"Rum ...," panggil David.


Arumi menoleh sebentar, lalu kembali mengambil barang di lokernya. "Kamu kenapa sih, Rum?" taya David lagi. "Kamu marah sama aku?" imbuhnya.


Arumi menoleh, menatap David dengan dalam. Ada cairan bening yang sudah menupuk di matanya. Dalam sekali kedipan saja, maka cairan itu akan tumpah tanpa permisi.


"Aku 'kan sudah bilang aku tidak kenapa-kenapa," ucap Arumi seraya menutup dan mengunci loker di depannya.


Saat ia berkedip cairan bening itu meluncur begitu saja. Arumi memalingkan wajahnya dan hendak pergi meninggalkan David. Namun, langkahnya terhenti saat tangan david berhasil mencekal pergelangan tangannya.


"Arumi, Please! jangan seperti ini, Rum. Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu. Aku tidak bisa kamu diemin aku seperti ini terus," ucap David masih mencekal tangan Arumi.


Air mata Arumi semakin deras. Ia juga sebenarnya tidak mau menghindari David, tetapi semakin dekat dengan David, hatinya semakin menuntut perasaan lebih dan ia tahu jika ia terus membiarkan itu ia akan semakin terluka. Sebab, yang ia tahu bahwa sahabatnya itu tak memiliki perasaan lebih padanya.


Arumi memabalikan badannya dan menatap David. Terlihat airmata sudah membasahi pipinya. " Kamu tidak salah kok, Dave. Aku yang salah, aku yang terlalu bodoh dan berharap lebih. Please, biarkan aku seperti ini, semakin dekat denganmu hanya akan membuat aku semakin sakit," ucapnya lirih. "Maafkan aku, Dave." Arumi pun melepaskan tangannya dari tangan David dan meninggalkan sahabatnya itu dengan segala pertanyaan dalam benak David.


David mencoba mencerna setiap kalimat yang dikeluarkan oleh mulut Arumi pagi tadi, sehingga ia tak dapat mencerna setiap pelajaran yang di berikan gurunya, karena terlalu fokus dengan ucapan Arumi terhadapnya.


Apa maksud kaimat Arumi tadi pagi? apa mungkin Arumi mempunyai perasaan lebih padaku? Lalu, kenapa dia tidak pernah mengatakan langsung padaku? Jika benar Arumi menyukaiku, lalu kenapa dia memilih untuk menjauh dariku?


Segelintir pertanyaan muncul dalam benak David. Kecerdasannya di bidang Akademi nyatanya tak mampu membuat dia untuk memahami perasaan seorang Arumi.


Seminggu sudah berlalu David benar-benar dibuat gila dengan sikap Arumi yang semakin menghindarinya. Sepulang sekolah David berniat ingin memastikan persaan Gadis itu terhadapnya.


"Dave ...," Fathur yang tiab-tiba sudah berada di belakangnya, membuat David terlonjak.


"Lo nggak lupa 'kan malam ini di kafe?" tanya Fathur. Dan hanya ditanggapi anggukan kepala oleh David. "Gue punya kejutan buat lo," sambung Fathur lagi.


David mengerutkan keingnya. "Kejutan?" tanyanya heran.


"Pokoknya, lo lihat saja nanti malam," jawab Fathur, lalu pergi meninggalkan David.


***


Malam itu adalah malam Anniversary persahabatn mereka yang ke-3. David sudah duduk di sebuah bangku berada di sudut ruanagan kafe. Kafe dan tempat duduk yang sama setiap kali mereka berkunjung dan merayakan Anniversary persahabatan mereka setiap tahun.


Mata David tertuju pada sosok yang tengah berdiiri di samping Fathur. Ya, ia adalah Arumi. Gadis itu terlihat sangat catik dengan balutan dres selutut berwarna baby pink yang membungkus tubuh mungilnya. Rambutnya ia biarkan terurai indah, hanya ada sebuah jepitan indah yang menghiasi kepalanya. Arumi sangat terlihat cantik malam itu.


"Woi, jangan lama-lama dong lihatin pacar gue!" ucap Fathur yang kini sudah berdiri di samping David dan menutup mata sahabatnya dengan telapak tangannya. David yang terkejut melepaskan tangan Fathur yang menatap penuh tanya sahabatnya itu.


"Iya, Kita sudah resmi jadian kemarin," ucap Fathur yang kini sudah duduk di bangku depan David, tepat di samping Arumi yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Kita sengaja nggak kasih tahu lo dulu, karena kita mau kasih kejutan buat lo di hari Anniversary persahabatan kita malam ini," sambung Fathur lagi.


David terdiam, ia menatap Arumi yang hanya tertunduk. "Selamat ya, buat kalian," ucap David.


Malam itu terlihat David lebih banyak diam. Ia sama sekali tak menikmati makanan yang ia santap. Sesekali ia mencuri pandang pada Arumi yang terlihat tak pernah menatapnya. Ternyata sesakit itu melihat orang yang ia cintai bersanding dengan orang lain, terlebih lagi itu sahabatnya sendiri.


***


Nyatanya waktu yang berlalu begitu cepat tak mampu mengikis perasaan cinta David terhadap Arumi. Setahun terakhir menjalani kehidupan di sekolah membuatnya semakin merasakan sakit setiap hari saat melihat kebersamaan Fathur dan Arumi.


Penderitaan David tak hanya sampai di situ, Bahkan ia harus menjalani kehidupan di kampus yang sama dengan kedua sahabatnya itu. David merasa ia tak mampu lepas dari bayang-bayang Arumi setiap hari. Semakin ia berusaha untuk melupakan gadis itu, semakin sulit untuk ia lakukan. Hingga suatu ketika David berencana untuk meninggalkan kampusnya dan pindah ke London. Ia berharap bisa melupakan Arumi dan memulai kehidupan barunya di sana.


Namun, sebelum ia pergi ke London, tanpa ia sadari Arumi telah mengetahui keputusannya.


Sore itu hujan deras mengguyur kawasan Ibukota. David yang tengah berdiri menuruni tangga di kampusnya dikagetkan oleh kehadiran Arumi di hadapannya. Ia melihat gadis itu terisak, Pipinya sudah basah dengan Air mata.


"Kamu jahat, Dave. Kamu benar-benar akan pergi meninggalkanku. Apa memang aku tidak berarti apa-apa buat kamu selama ini, Dave?" Arumi semakin terisak.


"Mungkin aku bodoh terlalu berharap lebih sama kau, Tapi apa memang tidak ada sedikit.pun rasa cinta di hati kamu buat aku, Dave?" Tangis arumi semakin pecah seiring dengan derasnya air hujan yang turun. David membawa Arumi ke dalam pelukannya. Ia mendekap erat tubuh gadis yang sangat ia cintai itu.


"Maaf kan aku, Arumi. Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku tak ingin menghancurkan persahabatan kita. Fathur juga sangat mencintai kamu, Arumi." Arumi semakin terisak saat David mengungkapkan perasaannya. jadi, selama ini perasaannya tak hanya bertepuk sebelah tangan.


"Lalu, kenapa kamu tidak mengatakannya, Dave? bukankah kamu juga berhak atas cintaku, dan aku juga berhak untuk memilih mencintai siapa saja?" Arumi melepskan pelukan David dan menatap pemuda di hadapannya itu. menuntut sebuah jawaban.


"Maafkan aku Arumi," ucapnya lirih.


"Nyatanya aku masih belum bisa membuka hatiku untuk Fathur, Dave. Aku salah saat aku berpikir bisa melupakanmu dan membuatmu sakit hati dengan aku menerima cinta Fathur. Kenyataannya aku tak bisa sedikit pun melupakanmu." Arumi masih menatap David.


David menatap Arumi dengan air mata sudah memupuk di sudut matanya.


"Arumi, Fathur sangat mencintai kamu, aku yakin dia bisa membahagiakan kamu. Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk saling mencintai tanpa saling memiliki," ucap David menggenggam tangan Arumi. "Mafkan aku, Aku akan tetap pergi ke London," sambung David.


Tangis Arumi semakin pecah. "Kamu jahat, Dave!" Arumi melepaskan tangan David dan ia pun berlari keluar. Saat david hendak mengejarnya, ia melihat Fathur sudah berdiri di hadapannya. Sorot mata dari Fathur seakan penuh amarah.


"Thur ...."


BUM


sebuah pukulan mendarat di wajah David, tubuhnya terhuyung ke samping tangga.


"BRENGSEK LO!" Sebuah pukulan mendarat lagi di wajah David, hingga pemuda itu terjaruh di lantai. Fathur kemudian meninggalkannya, berlari mengejar Arumi.


"ARUMI!!" teriak Fathur saat mendapati tubuh Arumi sudah tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan. Darah segar mengalir dari kepala Arumi. Di tengah derasnya hujan yang turun. Fathur memeluk tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa lagi.


"ARUMI ...."


Demi mengubur semua perasaannya terhadap David, Arumi merelakan nyawanya melayang begitu saja, hingga kejadian itulah yang membuat Fathur menyalahkan David atas kepergian Arumi, gadis yang sangat ia cintai.