
Sinar mentari pagi tampak menyapa dengan begitu indah, diiringi bunyi alarm yang memecah di seluruh ruangan sehingga membuat Aretha terbangun dari tidurnya. Gadis itu tampak memicingkan matanya, tatkala kedua iris berwarna cokelat itu menangkap cahaya yang membias melalui sela-sela jendela kamarnya.
Karena ulah David yang mencuri ciuman pertamanya membuat Aretha tidak bisa tidur semalaman, sebab terlalu sulit untuk melupakan perkara yang bahkan hanya terjadi sekilas itu. Entah kenapa kejadian itu selalu mengganggu pikirannya, meski ia sudah berusaha keras melupakannya.
Bukan karena ia mengindahkan perbuatan David. Justru Aretha merasa jijik. Entah kenapa bisa begitu. Harusnya first kiss itu menjadi hal terindah bagi setiap insan. Namun, nyatanya tidak dengan Aretha. Mungkin karena ia terlalu polos, jadi tidak mudah baginya menerima pengalaman pertama yang begitu mengejutkan dalam hidupnya, sehingga ia merasa tidak biasa dan memang tidak sepantasnya begitu, pikirnya.
Sebelum tidur, berulang kali Aretha mencuci bibir mungil berwarna merah jambu itu, lalu menggosoknya memakai sabun pencuci muka. Namun, entah kenapa jejak yang diberikan David seolah masih terasa jelas di bibirnya, meski sudah berulang kali digosok dan dicuci.
Jangankan untuk menjadikannya candu, untuk sekadar membayangkannya pun rasanya Aretha tidak sudi. Namun, sayang otaknya tidak bisa diajak kompromi. Selalu saja memikirkan apa yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan.
Disaat tengah tertidur pulas, gadis itu terpaksa bangun karena bunyi alarm yang begitu nyaring di telinganya. Entah siapa yang sudah berani mengatur jam alarm tersebut sehingga mengganggu tidurnya, atau mungkin karena ia lupa?
"Ah, siapa sih yang berani setting alarmku?" gerutu Aretha kesal.
Seketika ia teringat kembali dengan David, di tengah kekesalannya karena terpaksa harus bangun, setelah ia sengaja tidur kembali dari waktu subuh.
"Aarrgh ... Mas David keterlaluan! Sudah membuatku tidak bisa tidur semalaman!" erang Aretha pelan seraya menutup wajahnya sendiri, menyembunyikan pipinya yang selalu berubah memerah, ketika mengingat hal itu.
Seketika ia memegang bibirnya kembali. "Iiiih ... Mas David!!" pekik Aretha kesal. "Kok masih terasa, sih," lirinya seraya memberengut.
Tak peduli mau dibilang norak atau tidak, yang jelas itulah yang dirasakan gadis sepolos Aretha saat itu.
Setelah melirik jam yang menunjukkan pukul 07.00, gadis itu segera beranjak masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan badan. Terlebih lagi menghapus jejak dibibirnya. Entah bisa atau tidak, berusaha tidak ada salahnya, pikirnya.
Setelah lebih dari setengah jam, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe dan handuk kecil yang dililit dikepalanya. Entah apa saja yang ia lakukan di dalam sana hingga menghabisakan waktu selama itu.
Wajahnya masih memberengut tidak jelas. Nampak dipegangnya bibir ranum itu. "Kok, masih terasa ya? Gini banget sih rasanya, heuh!" kesalnya.
Nampaknya ritual yang ia lakukan selama lebih dari setengah jam di dalam kamar mandi, tidak lantas menghilangkan jejak di bibirnya begitu saja.
"Kenapa sesuatu yang pertama kali itu selalu sulit untuk dilupakan, ha?" Aretha tampak merutuki dirinya sendiri. "Gak cinta pertama, gak ciuman pertama, selalu saja mengganggu otak ini, HAH!" kesalnya.
Seketika dering ponsel membuat Aretha tersentak, lalu menghentikan kegiatan bermonolognya.
Gadis itu berjalan menghampiri nakas yang terletak di samping tempat tidur, lalu meraih ponsel miliknya. Seketika ia terbelalak, ketika mendapati satu panggilan telepon dari David.
"Ah, mau apa dia telepon sepagi ini?" ketus Aretha seraya menatap layar ponselnya, lalu meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas. Gadis itu tidak mempedulikan panggilan masuk tersebut. Gadis itu segera berjalan ke arah lemari, memilih pakaian yang akan ia kenakan pagi itu.
Setelah beberapa detik, dering ponsel itu mati dengan sendirinya. Namun, tak berlangsung lama. Ponsel itu kembali berbunyi. Masih sama, gadis itu tidak menggubrisnya. Hingga setelah tiga kali ponsel itu berdering Aretha kembali meraih benda pipih itu. Tidak berniat untuk menerima panggilan itu, melainkan kebalikannya. Aretha menolak panggilan tersebut.
"Biar dia tahu rasa!" ucapnya masih dengan nada kesal, lalu ia melanjutkan kembali kegiatannya, yaitu berganti pakaian.
Sudah dapat dipastikan bahwa David akan merasa kesal karena panggilan teleponnya ditolak oleh sang kekasih. Namun, Aretha tak peduli. David marah atau tidak, itu urusannya, pikir gadis itu.
Aretha tampak menyeringai senang. "Rasain! Emangnya enak aku cuekin?" umpatnya sembari berganti baju. "Biar saja dia menerima hukuman untuk perlakuannya kemarin!" imbuhnya.
Seketika gadis itu terdiam, tatkala ada notifikasi pesan whatsapp dari David. Gadis itu segera membaca pesan itu.
My Crazy Boss : Kenapa?
Sesingkat itu David bertanya, sontak membuat Aretha semakin terkekeh. Lagi-lagi Aretha membiarkan pesan whatsapp itu, tidak membalasnya.
***
"Ck ... kenapa di-reject?" gerutu David, setelah berulang kali berturut-turut ia melakukan panggilan ke nomor Aretha.
David tampak berpikir sejenak. "Apa ada yang salah denganku?" tanyanya kepada diri sendiri. "Atau dia sedang sibuk?" imbuhnya masih bertanya-tanya.
"Ah, tetapi sibuk apa? Bukankah hari ini libur?" ucapnya heran seraya mengerutkan dahinya.
David tampak berpikir panjang dan mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi. Namun, hasilnya nihil. Pria itu masih belum nenemukan jawaban atas pertanyaannya. Tampak digaruknya kepala yang dirasa tidak gatal itu.
Tanpa ingin menyerah begitu saja, pria itu kembali menelepon Aretha. Namun, hasilnya masih sama. Setelah beberapa kali Aretha tidak menerima telepon darinya, David pun memutuskan untuk mengirim pesan whatsapp, meski hanya sekadar bertanya 'kenapa?'.
David menunggu beberpa menit. Namun, tidak ada balasan dari gadis itu, padahal pesannya telah terbaca.
Pria itu kembali berpikir, apa yang sebenarnya membuat Aretha seperti itu. Apakah gadis itu tengah marah kepadanya? Akan tetapi, karena apa? Apa yang sebenarnya sudah ia lakukan terhadap Aretha sehingga membuatnya marah seperti itu? Batin David mulai bertanya-tanya.
Seketika ia teringat kejadian kemarin sore. "Apa dia marah karena itu?" ucapnya seraya berpikir. "Ah, gadis bodoh mana yang marah karena mendapat ciuman dari kekasihnya, yang benar saja!" imbuhnya tidak percaya.
"Coba lagi, deh!" ucapnya kemudian, setelah ia menepis dugaannya sendiri.
"Ah, sial! Masih saja di-reject!" umpat David, setelah mendapat penolakan kembali dari Aretha akan teleponnya. "Sebenarnya apa salahku?" ucapnya frustasi.
David kembali mengetikan pesan whatsapp di layar ponselnya. Sembari mengetik pesan itu, ia pun membacanya. "Sayang, ada apa? Kenapa teleponku kamu reject?" ucapnya.
Tampak tanda centang dua itu berubah warna menjadi biru. Itu berarti Aretha sudah membacanya. Namun, setelah beberapa detik tidak ada balasan juga. David masih menunggu. Hingga hampir sepuluh menit, Aretha masih belum membalasnya.
"Wah ... tidak bisa dibiarkan ini!" ucapnya mulai geram. "Sepertinya dia minta diberi hukuman yang lebih," imbuhnya seraya menyeringai.
_________
Hai Readers๐๐
Tetap setia dengan jejak like and comment kalian ya. Aku padamu๐๐๐
Happy Reading!