Possessive Love

Possessive Love
Diktator



"Hallo!" sapa Aretha melalui udara.


"Hallo, Sayang!" Suara di seberang sana terdengar menyapa Aretha dengan menggoda.


Deg!


Seketika jantung Aretha berdegup kencang mendengar David memanggilnya seperti itu.


Ha, sayang? Apa dia sudah tidak waras?


"Baru juga beberapa menit ketemu, kamu sudah kangen rupanya," celetuk David yang tentu saja membuyarkan lamunan gadis itu sehingga membuatnya sedikit terkesiap.


Bukanlah hal yang biasa bagi Aretha, menelepon pria itu lebih dulu, kecuali menyangkut pekerjaan. Bahkan, itu pun jarang ia lakukan. Namun, kala itu ia terpaksa melakukannya karena mendengar kabar yang sangat tidak menyenangkan dari sang papi. Ia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menelepon pria yang akan ditunangkan dengannya.


Bahkan, ia belum menyetujui perjodohan itu, kenapa tiba-tiba akan ada pesta pertunangan. Sungguh hal yang sangat mengejutkan bagi gadis itu.


"Pak, haiish!" Aretha tampak berdecak kesal, tatkala ia mengingat bahwa ia sudah berjanji tidak akan memanggil David dengan sebutan bapak. Jika sampai melanggarnya kembali, ia pasti akan terkena masalah baru lagi.


"Sorry, maksudku ... Mas David, aku enggak lagi bercanda ya, kayaknya kita perlu ketemu sekarang juga!" ucap Aretha penuh penekanan.


"Ada apa, sih? Kok tiba-tiba banget?" tanya David seolah penasaran.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada bisikan di telinga kiri gadis itu bahwa David adalah dalang dari semua itu.


"Halaah ... jangan pura-pura gak tahu deh, Mas!" tukas Aretha. "Aku yakin, ini semua ulah kamu, kan?" tuduhnya kemudian.


"Kamu ngomong apa, sih?" Nampaknya David masih belum paham akan arah pembicaraan gadis itu.


"Kamu tahu kan, rencana papa kamu soal pesta pertunangan kita?" tanya Aretha menginterogasi. "Aku tahu, kamu kan yang ada di balik semua rencana itu?" hardiknya.


"Apa sih kamu? Aku benar-benar enggak tahu soal itu, malah baru mendengar kabar itu dari kamu," jelas David.


"AKU GAK PERCAYA!" cecar gadis itu.


"Whatever, Nona." David tampak tidak peduli. Aretha mau percaya atau tidak, itu bukan urusannya. "Lagian, bagus dong ... kalau orangtua kita sudah merencanakan sejauh itu," imbuh pria itu terdengar senang.


"Cih, aku enggak mau tahu, pokoknya kamu temui aku SEKARANG JUGA!" tegas Aretha kesal.


"Enggak bisa Aretha ... aku masih di kantor, masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan," kilah David menolak.


"Itu cuma alasan kamu saja!" ketus Aretha. "Sekarang kan sudah waktunya pulang kerja, kamu juga sudah jemput dan antar pulang aku, tadi. Jadi, mana mungkin kamu masih di kantor?" imbuhnya tidak percaya.


"Pak, ini laporan yang Bapak minta." Samar terdengar suara perempuan yang mengajak David berbicara. Namun, meski demikian Aretha masih bisa menangkap kalimat itu dengan jelas.


"Iya, terima kasih." David tampak menjawabnya.


Aretha masih mendengarkan perbincangan kedua makhluk yang berada di tempat berbeda denganya itu. Sepertinya David tidak sedang berbohong.


Sial, aku malah dicuekin!


"Apa Bapak mau saya buatkan kopi?" Perempuan itu terdengar menawarkan kopi kepada David.


"Tidak usah, terima kasih."


Aretha masih terdiam. Setelah beberapa detik tidak terdengar lagi suara perempuan itu, menandakan mereka telah mengakhiri obrolannya, Aretha pun kembali membuka suara.


"Kamu beneran masih di kantor?" tanya Aretha.


"Iya, Aretha. Aku lembur sama Alivia, ada yang harus segera kami selesaikan malam ini," jelas David seolah sengaja ingin membeberkan kegiatannya dengan perempuan itu. Entah apa maksudnya.


Jadi, mereka hanya lembur berdua saja? Ah, masa bodoh dengan mereka.


Aretha terdiam sejenak. "Pokoknya aku enggak mau tahu, kamu temui aku sekarang juga, titik!" ucapnya memaksa. "Aku tunggu di rumah, bye!" imbuhnya. Bahkan, ia tidak peduli dengan kesibukkan David saat itu.


Aretha segera mematikan saluran teleponnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari menunggu David datang menjemputnya.


***


Satu jam berlalu.


Setelah melaksanakan ibadah shalat maghrib, Aretha kembali merebahkan tubuhnya. Hampir saja Aretha tertidur karena terlalu lama menunggu David. Harusnya pria itu sudah datang setengah jam yang lalu, tetapi hingga pukul 18.30 David masih belum muncul di hadapan Aretha.


Drt ... drt ... drt ...


Suara getar ponsel seketika membuat gadis itu tersentak. Dengan sigap Aretha segera meraih benda pipih yang ia letakkan di sampingnya. Benar saja dugaannya bahwa itu pesan dari David.


My Crazy Boss : Sudah di depan, nih. Aku masuk ya!


Khawatir David akan segera masuk ke dalam rumahnya. Aretha segera menghubungi pria itu melalui telepon.


"Jangan masuk! Biar aku yang keluar, wait!" ucap Aretha, setelah David menerima telepon darinya, sontak membuat pria itu tampak menggerutu di dalam mobil.


"Haiish, sudah mulai berani dia atur-atur gue!" gerutu David seraya mencebikkan bibirnya.


Bruk!


Tanpa menunggu komando, Aretha masuk ke dalam mobil pria itu, lalu duduk di sampingnya. Seketika David termangu melihat keanehan pada diri gadis itu. Ya, aneh. Tidak biasanya ia meminta David untuk menemuinya seperti itu.


"Kamu kenapa, sih?" tanya David heran seraya mengerutkan dahinya.


"Pake nanya lagi!" ketus Aretha. "Aku cuma butuh penjelasan kamu soal rencana papa kamu itu!" imbuhnya.


"Penjelasan apa sih, Aretha? Bahkan, aku enggak tahu soal itu?" terang David.


"Mas David jangan bohong!" tegur Aretha.


"Untuk apa aku berbohong?" David tampak mempertajam tatapannya.


"Lantas, kenapa tiba-tiba pak Kris ingin membuat pesta pertunangan untuk kita?" Aretha memasang ekspresi kesal.


"Mana kutahu!" jawab David masa bodoh. "Apa kamu sebegitu bencinya sama aku hingga tidak sudi untuk bertunangan denganku?" tanyanya seraya menatap dalam gadis itu.


Aretha sedikit terkesiap. "Aku?" tanyanya seraya menunjuk wajahnya sendiri. "Mana mungkin aku mau bertunangan dengan pria macam kamu!" ketusnya.


Jleb!


Hati David seakan tertusuk, ketika mendengar perkataan Aretha yang seolah menganggap dirinya manusia yang paling buruk dan tidak pantas untuk bersanding dengannya.


"Maksud kamu apa? Apa sebegitu buruknya aku di mata kamu, ha?" geram David dengan tatapan yang semakin menusuk hingga membuat Aretha sedikit tersadar akan perkataannya sendiri.


"Bu-bukan begitu maksudku, maaf," lirih gadis itu. "Aku hanya tidak suka dengan cara kamu memperlakukanku. Kamu itu seolah diktator banget. Suka seenaknya memperlakukanku," jelas Aretha seraya menundukkan kepala, sementara David tampak melengos kesal. Namun, seketika ia menatap Aretha kembali.


"Aku punya alasan untuk melakukan itu semua!" tegas David.


"Tapi apa?" tanya Aretha kesal. "Sebenarnya salahku apa hingga membuat kamu senang sekali menindasku?" imbuhnya.


"Apa kamu bilang? Menindas? Kamu bilang itu menindas?" cecar David. Ia tak habis pikir jika Aretha akan berpikiran sejauh itu tentangnya.


Dasar gadis bodoh! Bagaimana bisa dia tidak memahami arti dari semua itu? Apa aku sejahat itu sampai dia bilang bahwa itu adalah penindasan?


"Apa kecupan itu masih kurang untuk dijadikan sebagai alasan?"


__________