
"Apa elo pendonor itu?" tanya Rendy tiba-tiba yang membuat David tampak memasang ekspresi terkejut dan juga heran.
"Maksud lo?" tanya David.
"Lo yang donorin ginjal buat Richard, kan?" tanya Rendy sekali lagi. Ia mulai memasang wajah serius.
"Hh! Lelucon apa ini?" David mencebikkan bibirnya sembari memaksakan tawa kecilnya.
"Jawab gue, Dave!" paksa Rendy.
"Lo ngomong apa sih, Ren?" David mulai mode serius. "Lo kan dengar sendiri hasilnya, ginjal gue tidak cocok!" ucapnya penuh penekanan.
"Bisa saja itu cuma akal-akalan lo!" sergah Rendy tidak percaya. Seketika David melengos kesal.
"Lihat nih!" tegas David seraya menyingkap sedikit pakaian pasien yang ia kenakan. Ia tampak menunjukkan perutnya yang bidang, tanpa adanya luka atau perban yang menempel bekas operasi, sehingga membuat Rendy seketika terbelalak.
"Gak percaya banget sama gue!" kesal David seraya menatap sinis. Ia menutup kembali sebagian perut bidangnya itu.
"Jadi bukan lo?" tanya Rendy datar. "Lalu siapa sebenarnya pendonor itu?" imbuhnya seraya berpikir. Ia tampak memainkan jari telunjuknya di bawah bibir.
"Sudahlah! Yang penting kan Richard sudah baik-baik saja," ucap David seolah tidak terlalu peduli, meski sebenarnya ia juga sangat penasaran dengan si pendonor itu.
Di tengah perbincangan mereka, Aretha tampak keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.
Gadis itu menghampiri mereka, lalu menyimpan paper bag berisi pakaian kotor di lemari nakas.
"Mas, kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Aretha seraya menoleh ke arah David yang tengah bersandar pada sandaran ranjang pasien itu.
"Tidak, Sayang," jawab David seraya tersenyum.
"Jadi, kalian membatalkan pernikahan kalian?" tanya Rendy tiba-tiba yang sontak membuat Aretha sedikit mendongak kepadanya, lalu menoleh kembali kepada David. Ia menatap datar pria itu.
Sebagaimana Aretha, David pun melakukan hal yang sama. Mereka tampak beradu pandang. Tatapan mereka terkunci beberapa saat, sebelum akhirnya Aretha menanggapi pertanyaan Rendy.
"Bukan aku!" tukas Aretha kesal.
Rendy menghela napas kasar. "Pasti karena perbuatan pria bodoh ini, kan?" ucapnya seraya menunjuk David. Namun, tatapannya masih fokus kepada Aretha.
"Ck!" David berdecak kesal. "Gue lakukan itu demi Richard!" kesalnya.
Seketika Aretha dibuatnya memberengut kesal.
Apa cuma kak Richard yang dia pikirkan? Lalu aku?
"Biar saja, kita batalin saja sudah pernikahannya. Tidak akan ada lagi pernikahan!" kesal Aretha. Namun, tidak serius dengan ucapannya. Walau bagaimana pun ia tidak ingin menyimpulkan sendiri, hanya karena masalah itu.
Ia tahu betul David sangat menghargai pertemanannya dengan Richard dan Rendy, itulah mengapa ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka hanya karena ulah dirinya.
"Loh, kok begitu?" ucap David kecewa. Ia memasang wajah cemberut yang membuat Rendy seketika mengulum senyumnya.
"Baiklah, segera selesaikan masalah kalian, gue yakin Richard akan kecewa kalau tahu penyebab dari batalnya pernikahan kalian. Gue balik ke ruangan Richard," pamit Rendy. "Lo gak usah pasang eksperesi sok manja kayak gitu, jelek!" imbuhnya seraya mengejek yang sontak membuat Aretha menahan senyumnya.
"Shit! Sialan lo!" umpat David yang tak digubris oleh Rendy.
Rendy pun segera keluar dari ruangan itu, sementara Aretha masih diam di tempat dengan wajah yang masih cemberut. David memfokuskan pandangan kepadanya.
"Sayang," panggil David lirih. Namun, Aretha masih memberengutkan wajahnya dengan pandangan yang fokus ke sembarang arah.
Gadis itu mendaratkan tubuhnya di kursi yang terletak di samping ranjang pasien.
"Sayang," panggil David sekali lagi. Aretha masih tetap diam tak bergeming.
David mendengus kasar. "Kamu masih kesal?" tanyanya polos.
Seketika Aretha mendongak kepadanya, lalu menatap sinis pria di hadapannya. "Aku bukan kesal, aku MARAH!" ucapnya penuh penekanan.
"Maaf, aku tahu aku salah," gumam David memelas.
Sudah sedari tadi ia ingin sekali mengungkapkan kekecewaannya. Namun, situasinya sangat tidak memungkinkan. Meski ia tahu alasan David, tetap saja ia merasa kesal dengannya yang sering sekali berbuat seenaknya.
Pertama, pria itu mengajaknya menikah dalam waktu singkat, lalu tiba-tiba membatalkan pernikahan itu, ditambah lagi David memintanya untuk menikah dengan Richard, apa itu tidak cukup membuat Aretha naik pitam?
Terlebih lagi ia memikirkan keluarganya yang juga pasti merasa malu sekali karena ulah David.
David memegang tangan Aretha. "Bukan begitu, Sayang ... itu aku karena sedang panik saja," ucapnya.
"Panik kamu bilang?" Aretha membulatkan matanya lebar. "Semudah itu kamu mengabaikan perasaanku, Mas?" geramnya.
"Bukan seperti itu maksudku," lirih David masih menyangkal.
"Ternyata benar ya, mempertahankan itu tidak semudah mendapatkannya," gerutu Aretha. Namun, kala itu David hanya diam, menatap gadis itu.
Shit! Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi cerewet seperti itu?
"Kamu tahu tidak? Seberapa sulitnya aku untuk mencintai kamu, dan seberapa sulitnya aku untuk menerima perjodohan ini? Sekarang, disaat aku sudah menerimanya, kamu malah menghancurkan semuanya dengan membuatku kecewa? Lama-lama aku bisa mati rasa, Mas, karena terlalu banyak dibuat kecewa!" cerocos Aretha.
"Aauuuww!" pekik David seraya memegang kepalanya, setelah aretha menghujaninya dengan berbagai macam umpatan.
"Mas, kamu kenapa?" Aretha reflect bangkit dari tempat duduknya, lalu memegangi kepala David. Namun, David tak menjawab. Ia masih menahan kepalanya dengan sebelah tangannya.
"Aku akan panggilkan dokter!" ujar Aretha seraya membalikkan badannya. Namun, dengan sigap David menarik tangannya, sehingga membuat gadis itu menoleh kembali.
"Jangan! Aku tidak butuh dokter!" ucap David menolak.
"Kepala kamu harus diperiksa, Mas!"
David menggelengkan kepalanya, lalu mempererat genggaman tangannya. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya pusing mendengar kamu marah-marah seperti itu," ungkapnya seraya mengulum senyum.
"Mas!" kesal Aretha yang langsung menyadari bahwa David hanya mengerjainya. David tampak menyeringai penuh kemenangan.
"Sudah dong ... jangan marah terus," ucap David memelas.
"Masa bodoh sama kamu!" balas Aretha masih dengan nada sinis.
"Ya sudah, kalau kamu sudah tidak sabar ... ayo, sekarang juga kita ke KUA!" ajak David hanya menggoda Aretha yang sontak membuat Aretha seketika tersipu malu.
"Apaan sih kamu, Mas?" ucap Aretha seraya menahan senyumnya.
"Kamu bilang tadi tidak sabar, ingin segera menikah denganku, tidak mau dengan pria lain," sindir David tidak serius.
"Aku tidak bilang begitu," ucap Aretha menampik.
"Mmm ... bohong banget!" David sedikit mengerucutkan bibirnya, sementara Aretha tampak tersenyum malu.
"TIDAK!"
"Nah, begitu dong ... aku suka kalau lihat kamu tersenyum seperti ini," puji David, tetapi tidak mendapat tanggapan dari Aretha.
"Sayang, aku mau bertemu dengan Richard, kamu bisa antar aku?" tanya David, setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Tidak, jangan sekarang! Besok pagi saja!" tolak Aretha.
"Kenapa?" tanya David seraya mengerutkan dahinya.
"Kamu harus istirahat!" titah Aretha.
________________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC