
"Dia?" gumamnya dalam hati.
Pria itu masih tertegun menatap sosok itu. Sementara, dari kejauhan sosok wanita terlihat menatap balik kepadanya, dan David menyadari itu. Bahkan, pria itu menangkap senyuman yang diterbitkan olehnya. Senyuman teduh yang selalu mengusik tidurnya, tetapi itu dulu, tidak untuk sekarang.
Seketika David tersadar kembali, setelah menyadari ratusan mahasiswa yang sudah memenuhi aula itu, nampak sudah siap untuk menerima materi dari setiap nara sumber.
David tetap bersikap elegan, berusaha tetap biasa, seolah tidak ada apapun atau siapapun yang tengah mengganggu pikirannya saat itu, meski sebenarnya itu sulit. Bagaimana tidak? Sosok pengganggu itu ada di depan mata.
Dalam hitungan menit, ia telah kembali melangkahkan kakinya menuju kursi yang dimaksud. Namun, seketika ia tertegun kembali, ketika seseorang mempersilakannya untuk duduk di samping sosok itu, seolah tidak sudi duduk berdekatan dengannya. Namun, ia tetap harus profesional, tidak seharusnya ia menyangkut pautkan masalah pribadinya dengan pekerjaan.
David menghela napas pendek, seolah berusaha menetralkan perasaanya, lalu ia duduk di kursi yang telah disediakan. Apa boleh buat, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tidak ingin hanya karena wanita itu, dirinya menjadi terlihat kikuk di hadapan orang banyak.
Sedangkan, wanita itu masih menatapnya. David tidak ingin menyapanya. Ia berpura-pura seolah tidak mengenalnya. Jangankan untuk menyapa atau mengajaknya berbicara, menoleh pun rasanya enggan untuk ia lakukan.
Namun, usahanya seakan sia-sia, ketika wanita itu telah lebih dulu menyapanya, entah ia harus berbuat apa, membalasnya atau malah mengacuhkannya?
"Hai," sapa wanita itu lirih, seraya menoleh ke samping, menatap pria yang telah duduk di sana.
David tidak menanggapi. Masa bodoh dengan wanita itu. Selagi tidak ada yang melihat ataupun menyadarinya, ia tidak akan membalas apapun yang wanita itu lakukan, atau bahkan bersikap ramah terhadapnya.
Manik coklat pria itu masih bisa menangkap dengan jelas bahwa wanita itu tengah melebarkan senyuman untuknya, meski ia memfokuskan pandangannya ke depan.
Ia masih hafal betul dengan senyuman itu. Senyuman yang selalu memberi ketenangan dikala ia merasa gundah. Senyuman yang selalu ingin ia lihat setiap detiknya. Senyuman yang selalu mebuatnya terpana, ketika ia melihatnya. Sungguh indah dipandang oleh mata.
Ah, tetapi sekali lagi, itu dulu. Dan kali ini, David begitu muak melihatnya. Ia muak dengan semua yang ada pada diri wanita itu. Kalau saja ia tahu akan dipertemukan dengannya di tempat itu, mungkin ia tidak akan menerima tawaran dari Zacky untuk mengisi acara pada seminar tersebut. Ia menyesal, benar-benar menyesal.
"Tak disangka, kita bisa dipertemukan di sini," ucap wanita itu kemudian, masih dengan senyuman dan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
"Ehem!"
David hanya berdeham. Entah apa maksudnya. Bisa jadi karena itu sebagai isyarat untuk menghentikan wanita itu berbicara, karena apapun yang keluar dari mulutnya, itu tidak akan merubah apapun, ia tetap pada pendiriannya untuk tidak akan mungkin menoleh ke belakang, terlebih ia tahu di depannya ada siapa.
"Aku senang bisa bertemu denganmu di sini," ucapnya, seolah tidak ingin menyerah.
Freya ... semanis apapun sikapmu, secantik apapun wajahmu, dan seindah apapun senyummu saat ini, aku tetaplah aku, seseorang yang dulu pernah kamu sakiti, pernah kamu khianati, dan pernah kamu hancurkan, hingga tak tersisa sedikit pun. Perlu kamu tahu satu hal! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi mengalihkan perhatian terhadapmu, karena nun jauh di sana, aku sudah memiliki seseorang yang jauh lebih dari segalanya, dan aku tidak ingin jatuh di lubang yang sama, hanya karena telah memberi kesempatan kepada orang yang salah, meski itu sekadar kesempatan berbicara saja.
David masih tak bergeming, hingga tiba waktunya ia dipanggil oleh salah seorang pengatur acara untuk naik ke atas podium. David menarik napas lega. Setidaknya ia bisa menghindari wanita itu beberepa saat.
David telah berdiri di atas podium dengan begitu gagah dan berwibawa. Bukan materi yang ia sampaikan di depan sana, melainkan hanya sekadar berbagi pengalaman dan motivasi untuk para calon enterpeneur masa depan.
Penampilan pria itu di atas podium sungguh sangat membuat beberapa orang yang melihatnya seketika terpesona. Bagaimana cara ia berbicara dan bersikap, tentu itu membuat mereka terkagum-kagum, terlebih lagi kaum hawa. Pun dengan Freya yang sedari tadi tak melepas pandangannya, walau barang sedetik pun. Ia masih memandang dengan seulas senyuman yang ia ukir di wajahnya.
David menyadari akan hal itu dari kejauhan. Namun, ia tidak ingin terbuai dengan wajah lugu yang sempat membuatnya kagum, sekaligus hancur berkeping-keping.
David telah selesai dengan kegiatannya di atas podium. Ia segera turun, lalu duduk kembali di tempat semula, tepat di samping Freya.
"Kamu hebat!" puji Freya, tetapi lagi-lagi David hanya diam tak menanggapi.
Satu jam kemudian, Freya yang di panggil untuk mengisi acara di sana. Nampaknya, wanita itu juga mendapat undangan yang sama seperti yang David dapatakan, sebagai salah satu pengisis acara.
Ya, wanita itu, yang dulu membuat David jatuh cinta, sekaligus terluka, kini telah menjelma menjadi seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang perhotelan. Sama halnya dengan David, wanita itu juga banyak berbagi pengalaman tentang dirinya.
"Pak, bukannnya diaβ"
"Diam kamu!" David dengan sigap memotong pembicaraan Rangga, seolah ia tahu apa yang akan dibicaraka oleh sang asistenya.
Tentu saja Rangga mengetahui Freya. Sosok wanita yang waktu itu pernah memaksa untuk bertemu David. Ya, ia masih sangat mengingat wajah itu dengan jelas.
Setelah semua acara telah selesai. David tampak bersalaman dengan beberapa dosen di sana, lalu mengobrol beberapa saat. Tak henti-hentinya, ucapan terima kasih yang terlontar dari mulut mereka.
David dan Rangga segera kembali ke hotel, setelah semuanya dirasa cukup.
Mereka berjalan melewati lorong hotel itu menuju kamar mereka masing-masing, hingga seketika suara seseorang menghentikan langkah mereka.
"Menginap di sini juga?" tanyanya yang sontak membuat David dan Rangga menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya mereka saat mendapati sosok Freya yang berada di sana. Seketika David terbelalak geram. Sungguh dunia ini begitu sempit. Dari sekian banyaknya hotel terbaik di kota itu, kenapa mereka harus menginap di hotel yang sama. Ah, sial!
"Lagi-lagi Tuhan mempertemukan kita secara tidak sengaja," ucap Freya tiba-tiba yang tentu saja membuat David tidak suka mendengarnya.
David masih diam menatap wanita yang berdiri tepat beberapa meter dari hadapannya. Seketika tatapan biasa itu berubah menjadi tatapan sinis.
"Takdir Tuhan memang tidak ada yang pernah menduga. Setelah kamu berusaha menghindariku mati-matian, Tuhan justru malah berniat mempertemukan kita," ucap Freya percaya diri.
"Ck! Dan kamu merasa senang? Merasa bangga? Sungguh kasihan sekali dirimu, Freya!" ejek David tak peduli.
"Ayolah, Dave ... kita harus menyelesaikan semuanya," ujar Freya.
"Apa yang harus kita selesaikan? Bukankah semuanya sudah berakhir?" tanya David masih dengan tatapan sinis.
"Bahkan, kamu tidak pernah memberiku kesempatan sekali pun untuk menjelaskan," keluh Freya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yang kemarin minta jodoh buat Richard, maaf ya untuk sementara aku skip dulu, aku sudah siapkan part khusus untuk dia, cuma entah akan aku publish di novel ini atau malah akan kujadikan sekuel dari novel ini. Jadi, untuk sementara aku tunda, maaf π€π€ Selama dia menjomblo, biarkan author yang menjadi pendampingnya π
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC