
Selang beberapa menit, Aretha dikejutkan dengan kedatangan tiga sahabatnya, yaitu Diandra, Deasy dan Tania. Tidak hanya mereka. Ternyata Samuel juga ikut menjenguknya sore itu. Tentu saja membuat David seketika merasa jengkel melihat Samuel ada di sana.
Untuk apa dia ikut menjenguk Aretha? Cari perhatian saja!
Mereka tampak membawa sebuah bingkisan parsel buah dan segera memberikan bingkisan itu kepada Carmila.
"Terima kasih lho ... kalian sudah repot-repot menjenguk Aretha," ucap Carmila seraya meraih parsel itu dari tangan Tania.
"Tidak apa-apa, Tante. Sama sekali tidak merepotkan, kok," jawab Tania seraya menerbitkan senyumnya.
"Lho, ini siapa? Sepertinya tante baru lihat," ucap Carmila seraya memegang bahu Samuel yang memang berada di belakang Tania waktu itu.
"Perkenalkan saya Samuel, Tante. Teman sekelas Aretha sekaligus calon pacarnya anak Tante," jawab Samuel polos yang langsung membuat Carmila tergelak pelan.
Bahkan, Samuel sama sekali tidak peduli dengan keberadaan David yang ia ketahui sebagai calon tunangan Aretha. Pria itu tampak mencium tangan perempuan paruh baya itu dengan sopan.
Di samping itu, David tampak memperhatikan aksi Samuel yang menurutnya sok mencari perhatian. David menatap tajam pria itu, sebelum Samuel menyelesaikan perbincangannya dengan Carmila.
"Nak, Samuel ini bisa saja," ujar Carmila masih terkekeh.
"Ehem!" David berdeham sedikit kasar. Tak hanya Samuel yang fokusnya teralihkan, tetapi yang lain juga, termasuk Aretha dan mamanya. Namun, tak berlangsung lama karena David segera melengos ke sembarang arah.
"Emang dasar sengklek lo ya!" bisik Diandra seraya mengumpat Samuel. Kebetulan kala itu ia berada di samping Samuel.
"Apa sih, lo? Protes mulu, deh!" gumam Samuel menggerutu. Namun, Diandra tak menggubrisnya.
Satu persatu dari mereka mulai menghampiri Aretha, lalu memeluk Aretha secara bergantian, kecuali Samuel yang hanya berani berdiri tepat di samping kanan Diandra. Sementara di depannya, terhalang ranjang pasien, tampak David yang masih menatapnya tidak suka.
"Re, bagaimana keadaan lo?" tanya Tania memasang ekspresi memelas karena melihat kondisi kaki dan kepala Aretha yang masih diperban. Gadis itu berdiri di samping ranjang pasien, tepat paling dekat dengan Aretha.
"Kenapa bisa kayak gini sih, Re?" tanya Deasy menimpali yang kala itu berdiri di tengah-tengah antara Tania dan Diandra.
"Gue baik-baik saja, kok. Besok sudah diperbolehkan pulang," jawab Aretha tersenyum. "Thanks ya ... kalian sudah peduli sama gue," imbuhnya.
Seketika perhatian Deasy teralihkan kembali kepada pria yang satu meter berada di depannya. Keberadaan David di ruangan itu cukup membuat Deasy termangu. Demikian juga Tania. Dua sahabat Aretha yang memang belum pernah bertemu dengan David sebelumnya. Jadi, wajar saja jika mereka mempertanyakan sosok tersebut.
"Re, itu siapa?" tanya Deasy seraya melirikkan matanya ke arah David, sebagai bahasa isyarat.
"O ya, lupa." Aretha baru menyadari hal itu. "Mas David, kenalin ini Deasy dan Tania, sahabat aku," ucapnya seraya memperkenalkan kedua sahabatnya kepada David.
Mendengar nama David, Tania dan Deasy langsung menyadari bahwa pria itu tak lain adalah atasan Aretha sewaktu magang dan pria itulah yang dijodohkan dengan Aretha, seperti yang pernah diceritakan oleh Aretha sebelumnya.
"Gue juga mau kalau dijodohin sama model begini mah," gumam Deasy kepada Tania. Namun, Tania hanya berdecak menanggapinya.
Dengan senang hati mereka pun berkenalan dengan David. David juga tampak menyapa Diandra yang telah lebih dulu dikenalnya.
"Pak David di sini juga rupanya. Apa kabar, Pak?" tanya Diandra sedikit canggung.
"Saya baik," jawab David singkat disertai ekspresi dinginnya, lalu menatap sinis Samuel.
Samuel hanya mencebikkan bibirnya karena mendapat tatapan yang tidak menyenangkan dari David. Namun, ia tak ingin ambil pusing akan hal itu.
"Re, cepat sembuhlah ... kelas sepi kalau enggak ada kamu, sama seperti hatiku," celetuk Samuel seolah sengaja ingin membuat David geram karena ulahnya. Tentu saja David semakin mempertajam tatapannya.
Berani sekali dia menggoda Aretha di depanku dan mamanya.
"Bisa saja kamu, Sam," jawab Aretha seraya terkekeh, hanya sekadar menghargai karena Samuel sudah mau menjenguknya. Sementara mamanya yang sedari tadi memperhatikan tingkah Samuel tampak terkekeh menahan tawa.
***
Beberapa jam sebelumnya, Aretha terlihat begitu bahagia, setelah mendapat kabar dari mamanya bahwa ia sudah bisa pulang besok. Demikian juga dengan David. Pria itu juga turut bahagia dengan kabar tersebut. Sebab, itu artinya keadaan Aretha sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya.
Namun, kebahagiaan pria itu seketika lenyap, tatkala ia mendapatkan telepon dari Denis, sang agen rahasia yang mengabarkan bahwa dalang di balik kecelakaan Aretha tak lain adalah Alivia, mantan sekretaris yang sempat menggodanya sewaktu di Bali. Akhirnya, kebenaran itu terungkap.
Pria itu begitu geram mendengar kabar itu. Di sisi lain, ia juga menyesali akan apa yang telah ia lakukan terhadap perempuan itu. Bukan menyesal karena telah menyakiti Alivia dengan perkataan dan perbuatannya, tetapi menyesal karena ternyata apa yang ia lakukan, telah menjadi penyebab kecelakaan itu terjadi dan nyaris menghilangkan nyawa gadis yang amat ia cintai.
Malam itu, David terpaksa meninggalkan Aretha di kamar rawatnya sendirian, hanya demi menerima telepon dari Denis. Ia tidak ingin jika Aretha mendengarkan percakapannya dengan agen rahasia suruhannya itu. Sementara itu, Carmila telah lebih dulu pulang, sesuai permintaan David.
"Saya tidak mau tahu! Kamu kejar dia sampai kemana pun dan bawa dia ke hadapan saya, secepatnya!" tegas David penuh penekanan dan emosi, setelah Denis mengatakan bahwa Alivia telah lebih dulu melarikan diri ke Belanda.
Pria itu mematikan saluran telepon itu dengan perasaan amarah yang kian bergejolak di dalam dadanya. Tanpa memberi jeda, ia langsung menyambungkan kembali saluran telepon itu kepada Richard. Tak menunggu lama, Richard telah menerima telepon darinya.
"Gue sudah tahu siapa pelakunya," ucap David kepada Richard.
"Siapa?" tanya Richard di seberang sana terdengar penasaran.
"Alivia," singkat David.
"Alivia?" Nada bicara Richard terdengar seolah tidak percaya. Namun, itulah kenyataannya. "Maksudnya ... Alivia sekretaris lo?" tanyanya memastikan.
"Mantan sekretaris gue!" jawab David.
"Ada masalah apa lo sama dia?" tanya Richard seolah mencium sesuatu yang tidak beres antara David dengan mantan sekretarisnya itu.
David menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Alivia kepada Richard. Ia menceritakannya dengan begitu detail, mulai dari kejadian di Bali hingga pemecatan secara tidak terhormat terhadap perempuan itu. Bahkan, ia pun menceritakan tentang sumpah serapah yang ia lontarkan kepada Alivia. Tak lupa ia juga memberi tahu Richard bahwa Alivia telah melarikan diri ke luar negeri.
"Menurut lo, salah gue dimana coba?" tanya David, setelah ia menceritakan semuanya kepada sang sahabat. "Apa gue salah telah mengambil keputusan secepat itu untuk memecatnya?" imbuhnya.
"Lo enggak salah! Apa yang lo lakukan sudah benar, hanya saja itu memang akan sedikit menyakitkan bagi Alivia. Hal yang wajar. Terlebih lagi ... sepertinya dia sangat terobsesi sama lo," jawab Richard.
"Ck ... gue tidak habis pikir jika perbuatan gue akan berakibat sepatal ini. Nyawa Aretha dipertaruhkan. Gue menyesal karena telah membuat Aretha terlibat dalam masalah gue," keluh David gusar. Ia tampak mengacak kasar rambutnya sendiri.
"Sudahlah, tidak ada gunanya lo menyesali semua itu. Kita masih punya banyak kesempatan untuk menyergap Alivia, sekalipun ia telah pergi jauh. Gue percaya Denis bukanlah orang bodoh. Dia akan secepatnya menemukan Alivia dan membawanya ke hadapan kita. Yang terpenting, mulai sekarang lo jaga Aretha baik-baik, jangan sampai kejadian seperti itu terulang kembali," ujar Richard panjang lebar.
"Gue—"
"Malam ini juga, gue sama Rendy akan urus si brengsek itu dan menyerahkan dia ke polisi. Biarkan Denis beserta anggotanya segera mempercepat aksi penyelidikan mereka," sela Richard memotong pembicaraan.
"Thanks, Bro. Lo dan Rendy selalu ada disaat gue butuhkan," lirih David.
____________________
KOMEN KOMEN KOMEN
HAPPY READING
TBC