Possessive Love

Possessive Love
What a Pitty you are



Dia yang dulu membuatku nyaman


Namun, dia juga yang memilih untuk meninggalkan


Hingga semuanya terasa riskan


Untuk membuatku tetap bertahan


Pena Batik


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kamu?"


David membulatkan matanya sempurna, ketika mendapati sosok wanita tengah berdiri di ambang pintu dengan tangan yang masih memegang handle pintu itu.


"Can I come in?" tanya wanita itu.


"No!" tolak David tanpa berbasa basi.


Pria itu tampak melanjutkan niat awalnya untuk segera pulang ke rumah. Mengingat ada seseorang yang tengah menunggunya di sana, tanpa peduli dengan tamu tak di undang yang tiba-tiba datang ke ruangannya.


David ingin segera keluar dari sana, tetapi sialnya sosok itu masih berdiri di ambang pintu yang tentu menghalangi waktuny.a.


"Dave, please!" Wanita itu tampak memohon.


David tetap tidak peduli dengan wanita itu. Bahkan menatap wajahnya pun, nampaknya ia tidak sudi.


"Pull over, please!" sinis David.


"No! We have to talk, Dave," tolak wanita itu, tidak ingin memberi jalan. "Ada banyak hal yang harus kusampaikan ke kamu," imbuhnya.


"The ship has sailed!" tukas David. "There is nothing else we need to discuss. It's all over!" imbuhnya seraya menatap tajam wanita itu.


"Dave, please!" Wanita itu seakan tidak ingin menyerah. "I regret," imbuhnya menyesal.


Ia tampak memasang ekspresi memelasnya, seolah berharap David akan merasa iba. Namun, bukanlah David namanya yang bisa luluh begitu saja. Terlebih oleh wanita yang telah tega menyakitinya di masa lalu.


"I don't care! Dan tolong jangan ganggu aku!" geram David.


"Dave, I am sorry for ...."


"Frey, aku tidak tahu sejak kapan kamu pulang ke Indonesia, lalu tiba-tiba ada di sini, itu tidak penting bagiku! Hanya satu hal yang perlu kamu tahu, don't bother me, please! I am married," jelas David memotong pembicaraan. Ia semakin dibuat naik pitam.


Freya.Ya, wanita itu adalah Freya. Adik kelas David sewaktu kuliah di London, sekaligus mantan kekasihnya yang sempat mengkhianati dan membuatnya terluka karena pria lain. Itulah mengapa David begitu muak melihatnya yang tiba-tiba berada di kantornya. Entah dari siapa ia mengetahui keberadaan David.


Mendengar pernyataan David, wanita itu sedikit tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca, seolah ada penyesalan dalam dirinya.


"Bullshit!! Aku tahu kamu sedang berbohong, Dave!" bantah Freya.


"Untuk apa aku berbohong? It's useless!" bantah David. Nampaknya, pernyataan David tidak lantas membuat Freya percaya begitu saja.


"I'm sorry for let you down. I'm really sorry, Dave!"


"Asal kamu tahu, Frey! Aku tidak peduli dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Justru aku sangat bersyukur karena Tuhan menunjukkan siapa diri kamu sebenarnya. Bagiku, kamu hanyalah Loser!" umpat David masih dengan nada sinis.


"Aku datang ke sini untuk memperbaiki semua kesalahanku. Please, give me one more chance!"


"Hh ... What do you said, Freya? Give you a chance? Mimpi kamu!" ketus David. "Setelah apa yang kamu perbuat kepadaku, lalu sekarang kamu memohon untuk aku memberi kamu satu kesempatan lagi? Aku hanya bisa berkata, What a pitty you are! Kamu sama saja dengan wanita murahan yang tak tahu diri!" imbuhnya mengeluarkan sumpah serapah terhadap wanita itu.


Nampaknya David memang terluka begitu dalam dengan apa yang telah Freya perbuat terhadapnya. Ia tak habis pikir, wanita yang ia anggap lugu, ternyata memiliki bisa yang sangat menyakitkan. Bahkan, mematikan.


Ya, hanya karena dirinya, David seolah tidak ingin mengenal lagi yang namanya wanita, sebelum dipertemukan dengan Aretha. Hatinya seakan mati untuk berurusan dengan cinta. Beruntung Tuhan mempertemukan pria itu denga wanita yang kini sudah menjadi istrinya, sehingga ia bisa menghapus semua kenangan buruk yang selalu menyayat hatinya, ketika ia mengingat itu.


"Tetapi aku benar-benar menyesal, Dave. Aku sungguh tidak bermaksud mengkhianati kamu," jelas Freya berusana membela dirinya.


Benar-benar wanita tidak tahu malu! Setelah David mencacinya, ia masih saja bertahan untuk membela diri. Memohon agar David mau memaafkan kesalahannya. Sayang sekali, itu sudah sangat terlambat untuk David mengulas kembali kenangan yang telah lama pergi.


Baginya, Freya hanyalah masalalu yang sempat membuatnya terbelenggu, hanya karena sebuah kata-kata rindu yang mendayu, tetapi nyatanya itu palsu.


"Stop, Frey! Aku tidak ingin mendengar kata apapun dari mulutmu itu! Telingaku terlalu berharga untuk mendengar semua omong kosong kamu!" sergah David.


Ibarat buku, Freya adalah lembaran yang sudah terlewati, tidak perlu ia buka dan baca kembali. Ia hanya perlu fokus ke lembaran selanjutnya, lembaran yang akan mempertemukannya dengan masa depan, yang akan mebuatnya lebih nyaman, daripada apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.


"Waktu itu aku—"


"STOP! Aku bilang STOP!"


Bahkan, David sudah tidak ingin memberi kesempatan kepada Freya untuk berbicara. Rasanya ia sudah muak dengan perkataan wanita pembual itu. Jika ia benar-benar menyesal, kenapa baru kali ini ia berusaha memperbaiki? Lantas, dua tahun yang lalu ia kemana saja? Pikirnya.


Di tengah perdebatan sengit itu terjadi, tiba-tiba Rangga datang menghampiri.


"Maaf, Pak, saya sudah menahan mbak ini, tetapi dia memaksa untuk masuk," jelas Rangga yang kala itu tengah berdiri di belakang Freya.


"Tolong kamu urus wanita ini, dan jangan sekali-sekali ijinkan dia untuk masuk ke perusahaan!" tegas David seraya melangkahkan kakinya, sementara Rangga tampak menarik paksa Freya agar tidak menghalangi jala David.


"Baik, Pak!"


"Dave!" pekik Freya masih berusaha memanggil David. Namun, David tak menggubrisnya. Ia segera berlalu dari tempat itu.


***


Sepulang dari kantor, David hanya melamun, sehingga membuat Aretha merasa sedikit heran, entah apa yang David tiba-tiba berubah seperti itu. Namun, ia pun masih belum berani bertanya.


Setelah kegiatan makan siang dengan sang istri, David memutuskan untuk mengurung diri di ruang kerjanya. Bukan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya, melainkan ia masih merasa muak dengan kehadiran sang mantan kekasihnya yang secara tiba-tiba.


Itu membuatnya khawatir, jika Freya akan terus mengganggunya, melihat usaha wanita itu yang terlihat pantang menyerah.


Semakin lama, Aretha semakin merasa heran akan sikap David yang sejak dua jam yang lalu tidak keluar dari ruang kerjanya. Ia pun memutuskan untuk menghampiri pria itu di sana.


"Mas, boleh aku masuk?" tanya Aretha, setelah ia berhasil mengetuk pintu ruangan David.


"Masuk saja, Sayang!" teriak David dari dalam sana.


Aretha segera masuk ke dalam, lalu menghampiri suaminya. Ia tampak berdiri di samping David, lalu memegang bahu pria itu.


"Apa kamu sesibuk itu sampai melupakan aku?" sindir Aretha.


David menoleh, sedikit memutar tubuhnya ke samping, lalu tersenyum simpul. Ia merangkulkan kedua tangannya di perut Aretha.


"Kamu tahu? Bahkan sedetik pun, aku tidak punya waktu untuk melupakan kamu," gombalnya.


"Hmm ... gombal!" ledek Aretha.


"Kamu tidak percaya?" tanya David mengangkat sebelah alisnya, sementara tangannya masih memeluk tubuh mungil di hadapannya.


"Untuk apa aku percaya sama kamu, Mas. Musyrik!" jawab Aretha yang sontak membuat David melengos kesal.


"Mas, aku mau bertanya sesuatu," ujar Aretha.


"Apa?" David mengernyitkan dahinya.


"Kamu kenapa terlihat sangat murung sekali, sepulang sari kantor? Ada masalah?" tanya Aretha ingin tahu.


"Iya, ada sedikit maslah di kantor, kamu tidak perlu terlalu khawatir ya," jawab David memberi satu alasan, padahal yang membuatnya kepikiran adalah Freya, kenapa bisa hadir kembali.


"Bagaimana aku tidak khawatir, Mas, dari tadi kamu melamun saja."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai Readers, ... kita main tebakan, yuk!


Kira-kira David akan bertahan atau malah tergoda?


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING...


TBC