
Aretha meraih tas selempang yang kemudian dikaitkan di sebelah tangan kananya, lalu diraih pula ponsel miliknya dari atas nakas. Ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Dihampirinya sang mami dan oerawat yang kala itu tengah sibuk mengendong kedua bayi kembarnya.
"Sayang, mama tinggal dulu ya." Aretha tampak mendaratkan ciuman di pipi putra-putrinya secara bergantian.
"Kamu tidak sarapan dulu, Nak?" tanya sang mami.
"Tidak, Mi, ini sudah jam berapa? Aku harus segera pergi ke rumah sakit, kasihan mas David kalau terlalu lama menunggu," jawab Aretha, lalu menyalami sang mami seraya berpamitan. "Aku pergi dulu ya, Mi. Titip si kembar," ucapnya.
"Hati-hati, Nak!" balas Carmila mengingatkan.
Selama Aretha disibukkan dengan kegiatan mengurusi suaminya di rumah sakit, Carmila memang selalu siap siaga untuk membantu putrinya menjaga kedua bayi kembarnya itu.
Kegiatan pagi-pagi yang harus menyiapkan ASI ekslusif untuk kedua bayinya sebelum pergi ke rumah sakit, membuat Aretha sedikit terlambat. Harusnya ia sudah berada di rumah sakit sekitar pukul tujuh pagi, tetapi itu sudah pukul sembilan ia masih saja berada di rumah. Bahkan, ia rela melewatkan ritual sarapan paginya, demi menjadi ibu dan istri yang baik.
Pasalnya, hari itu adalah jadwal kepulangan sang suami dari rumah sakit. Setelah kondisi kesehatan pria itu dinyatakan sudah membaik, dokter memang telah memberinya izin untuk pulang. Dan Aretha tidak ingin jika sampai terlambat menjemput suaminya. Sebab, tidak ingin membuat sang suami merasa kecewa, meski ia tahu bahwa David tidak mungkin seperti itu.
Aretha tahu bahwa suaminya adalah orang yang selalu memahami kesibukannya, terlebih lagi setelah memiliki bayi. Pria itu sama sekali tidak pernah protes, sekali pun ia masih dalam keadaan sakit dan butuh sekali bantuan sang istri. Setidaknya dukungan dan segala perhatiannya, tetapi David tidak terlalu menuntut akan hal itu.
Aretha berjalan dengan sangat tergesa-gesa, bahkan sedikit berlari menuju halaman rumahnya untuk menemui Arman—supir pribadinya. Namun, baru saja ia keluar dari rumah bergaya minimalis itu, tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika mendapati mobil berwarna putih baru saja terparkir di halaman rumahnya, dan ia kenal betul siapa pemilik mobil itu.
Ya, Kris—ayah mertuanya—si pemilik mobil itu. Meski wanita itu belum melihat sosok yang turun dari mobil itu, tetapi ia yakin bahwa ia tidak salah bahwa itu adalah mobil milik mertuanya.
Aretha melangkahkan kakinya kembali dengan santai—menghampiri mobil itu. Ia tampak menatap heran, kenapa tiba-tiba papa mertuanya itu ada di rumahnya, padahal jelas-jelas tadi pagi mama metuanya menelepon bahwa mereka akan ke rumah sakit. Entahlah.
Pintu belakang mobil itu tampak terbuka, lalu turunlah seorang pria yang membuat Aretha sedikit terperangah. "Mas?" ucapnya.
Ya, benar. Davidlah yang turun dari mobil itu. Tak lama, pintu depan mobil juga terbuka, yang mana kala itu sang mama mertualah yang turun.
Aretha segera menghampiri mobil yang sudah tidak terlalu jauh dari jangkauannya. Ia mendekati suaminya. Tentu saja ia bingung dan sedikit menyesal, karena David telah pulang lebih dulu, sebelum ia berhasil menjemputnya.
"Mas, kamu kok sudah pulang?" tanya Aretha sedikit memberengutkan wajahnya, lalu mencium tangan sang suami.
David tampak tersenyum simpul, sebelum ia menjawab pertanyaan sang istri yang jelas terlihat sekali kekecewaan di wajah wanita itu.
"Kenapa? Kamu tidak senang kalau aku pulang?" tanya David seraya menatap wajah Aretha yang masih saja dengan ekspresi cemberutnya.
"Ya bukannya begitu. Aku baru saja mau berangkat lho, Mas," rengek Aretha. "Aku jadi tidak bisa jemput kamu, kalau kamu sudah pulang begini," imbuhnya dengan nada kecewa.
"Papa sengaja jemput David duluan, karena tahu kamu pasti sibuk mengurus si kembar, Nak," timpal Kris yang baru saja berdiri di samping istrinya.
Bahkan karena kekecewaannya, Aretha hampir lupa bahwa ada kedua mertuanya di sana. Dengan sigap wanita itu segera menyalami keduanya secara bergantian, sebagai tanda hormatnya kepada mertua, meski sedikit terlambat.
"Tidak apa-apa, Nak," jawab Kris. "Kamu fokus saja dengan cucu kesayangan papa sama mama," imbuhnya seraya tersenyum simpul.
"Ya sudah. Yuk, masuk, Pa, Ma," ajak Aretha kepada mertuanya. "Mas, masuk yuk," imbuhnya seraya menoleh ke arah suaminya.
Wanita itu tampak merangkulkan tangannya dilengan sang suami, lalu mengajak suaminya masuk ke dalam rumah, meski ia masih saja merasa menyesal karena tidak bisa menjemput suaminya tepat waktu, padahal ia ingin sekali menjemputnya untuk pulang, tetapi apa boleh buat?
Kris dan Maria tampak berjalan lebih dulu, sementara Aretha dan David bejalan tak jauh di belakangnya.
"Mas, maaf ya ... aku telat jemput kamu, jadinya begini deh, padahal aku sudah berniat mau jemput kamu pagi-pagi sekali, teta—"
"Sudahlah, Sayang ... aku tidak apa-apa. Aku paham sekali kesibukanmu sekarang. Justru aku yang minta maaf, karena tidak biaa membantumu, malah sebaliknya," potong David seaya menoleh ke arah sang istri.
"Tapi aku ingin sekali jemput kamu, Mas ...," rengek Aretha.
"Kamu tidak perlu menyesal seperti itu. Yang terpenting 'kan aku sudah pulang, kita sudah bisa berkumpul bersama kembali, hal yang sudah sangat aku tunggu." jelas David. "Lagi pula, Aku sudah tidak sabar ingin melihat anak-anak kita, Sayang. Maka dari itu, aku memutuskan untuk pulang, sebelum kamu jemput," imbuhnya. Aretha hanya diam tak membalas.
"Lho, kok Nak David sudah pulang? Padahal Rere baru saja mau jemput," ucap Carmila tampak heran m, ketika ia menyadari keberadaan David dan kedua orangtuanya di sana.
"Iya, Mi, saya sudah tidak sabar untuk segera pulang. Maka dari itu tidak menunggu Aretha dulu," jawab David.
"Waah ... cucu oma cantik sekali!" seru Maria tampak meraih baby girl dari tangan perawat yang membantu Aretha merawat bayinya. Seketika itu mengalihkan perhatiannya.
David semakin mendekati mami mertuanya, seraya ingin melihat bayi yang tengah digendong oleh perempuan paruh baya itu.
"Ini baby boy, Mi?" tanyanya kepada Carmila sembari menatap wajah bayi tersebut.
"Iya. Tampan 'kan, mirip papanya," goda sang mami.
"Ah, mami bisa saja," sangkal David serraya mencium kening bayi itu. "Lucu sekali, sih! Tentu lebih tampan dia, Mi," imbuhnya.
"Kalian sama-sama tampan. Lihat nih, mirip sekali sama kamu, Nak," balas Carmila.
"Masa sih, Mi?" David tampak mengamati bayinya seolah tidak percaya dengan ucapan sang mami mertua.
"Boleh saya menggendongnya, Mi?" David tampak sudah memasang tangannya seolah siap menerima bayi itu untul digendongnya.
"Tentu boleh dong, Nak," jawab Carmila. "Nih," imbuhnya seraya memberikan bayi itu kepada papanya.
"Aduh!"