Possessive Love

Possessive Love
Memaafkan



"Kamu? Kamu membodohiku?" David mempertajam tatapannya.


Aretha membuka kedua matanya dengan sempurna, menatap David. Gadis itu melebarkan senyuman, disaat David terbelalak menanti sebuah jawaban darinya.


"Mana berani aku membodohi CEO seperti kamu," jawabnya sedikit memberi jeda. "Tidak lihat kaki aku digips begini?" tanyanya seraya sedikit mengangkat kaki sebelah kanan yang digips.


David tertegun sejenak. Netranya menatap sendu kaki gadis itu, lalu beralih ke kepala gadis itu yang juga diperban. Secepat kilat pria itu memeluk Aretha yang kala itu masih terbaring di atas ranjang pasien.


"Kamu membuatku cemas," lirihnya seraya memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


David membenamkan wajahnya di ceruk leher Aretha, tanpa berkata apapun lagi. Hanya khawatir yang ia rasakan saat itu. Seketika ia teringat akan sikapnya yang selalu dingin terhadap Aretha beberapa hari lalu. Itu cukup membuatnya merasa menyesal karena telah mengabaikan gadis yang ternyata sangat ia cintai.


Pelukan itu berlangsung cukup lama hingga membuat dada Aretha sedikit merasa sesak karena terhimpit tubuh David yang begitu kekar.


"Mas," lirih Aretha berat.


David tersentak di tengah lamunnya, lalu sedikit merenggangkan pelukan itu. Pria itu menatap manik cokelat yang terlihat sayu. Sebelah tangannya mulai membelai kepala gadis itu.


"Ini sakit?" tanyanya memelas.


Lagi-lagi Aretha membalasnya dengan senyuman, sebelum ia menanggapi pertanyaan David. "Tidak lebih sakit dari hatiku yang tiap hari kamu abaikan," sindir Aretha sedikit mengerutkan bibirnya membuat David merasa gemas melihatnya.


Ingin rasanya meraup bibir mungil itu. Namun, waktunya tidak tepat. Gila saja jika ia mengambil kesempatan di rumah sakit seperti itu, terlebih di luar ada banyak orang yang sedang menunggu. Kendatipun begitu, tatapannya masih terkunci seakan enggan untuk mengalihkannya.


"Ehem." Aretha yang merasa sudah tidak nyaman dengan posisi itu tampak berdeham dan membuat David sedikit terlonjak.


Cup!


"Maaf," ucap David seraya melayangkan kecupan manis di kening gadis itu, meski terhalang kain kasa yang melingkar di kepala Aretha. "Maaf sudah mengabaikanmu beberapa hari ini," imbuhnya menyesal.


David mengangkat kembali tubuhnya, lalu duduk di tempat semula, sementara Aretha tampak tersipu malu dengan ekspresi seperti orang bodoh yang baru saja pertama kali mendapat ciuman dari sang kekasih. Meski kenyataannya itu bukanlah yang pertama baginya, tetap saja membuat pipi gadis polos seperti Aretha seketika bersemu merah.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu tidak berhati-hati? Kenapa harus menyetir sendiri? Sudah tahu kamu jarang melakukannya!" Serentet pertanyaan keluar dari mulut pria itu dengan nada sedikit kesal.


"Kamu meragukan kemampuanku?" kesal Aretha. "Meski aku jarang melakukannya, tetapi aku bisa mengendarai mobil dengan baik, kok. Kalau saja rem itu tidak blong, mungkin ini tidak akan terjadi," jelasnya memberengut.


"Blong?" David tampak heran seraya membulatkan matanya. Namun, Aretha hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pria itu.


David mulai menanyakan awal mula kejadian kepada Aretha dan benar saja apa yang disampaikan sang mama kepadanya bahwa Aretha mengalami kecelakaan sepulang dari toko kue.


Berdasarkan penjelasan dari Aretha, penyebab kecelakaan itu karena disfungsi rem yang tidak dapat ia kendalikan, ketika ada sebuah motor yang melintas di hadapannya sehingga Aretha terpaksa membuang setir dan menabrak pohon, demi tidak mencelakai pengendara motor itu.


David tampak mengerutkan dahinya heran, ketika mendengar pengakuan dari Aretha. "Lantas, kenapa Richard dan Rendy ada di sini? Apa aku sebegitu tidak pentingnya hingga kamu menghubungi mereka lebih dulu?" tanyanya seolah curiga.


"Karena mereka yang menolongku, Mas. Secara kebetulan mereka berada di lokasi, jadi mereka langsung membawaku ke rumah sakit. Harusnya kamu berterima kasih kepada mereka," jelas Aretha.


David hanya termangu, ketika Aretha menjawab pertanyaannya dengan begitu panjang lebar. Kenapa tiba-tiba remnya blong? pikirnya.


"Mas!" Panggilan Aretha seketika membuat David tersadar dari lamunnya.


"Hn? Kenapa?" tanyanya datar.


"Kok bengong?" tanya Aretha heran.


"Aku mau nagih janji kamu!" jawab Aretha seraya mengerucutkan bibirnya.


"Janji? Janji apa?" David nampak mengingat janji apa yang telah ia ucapkan kepada gadis itu. Namun, berulang kali ia membolak-balikkan pikirannya, tetap saja David tidak mengingat akan hal itu.


"Katanya tadi mau melakukan apa saja yang aku minta," sindir Aretha.


"Itu karena kamu membodohiku, kupikir kamu koma. Sekarang aku tarik lagi kata-kataku," ucap David seraya ingin menolak.


"Mana bisa begitu? Ya sudah, kamu pulang saja sana!" usir Aretha kesal. Namun, ekspresi gadis itu justru membuat David merasa lucu dan ingin sekali tertawa, tetapi ia tahan.


David berpikir sejenak. "Ya sudah, kamu mau minta apa?" tanyanya sedikit bersemangat. Baginya, bisa memenuhi keinginan gadis yang ia cintai adalah suatu kebahagiaan, itulah mengapa ia sangat senang jika Aretha mau meminta sesuatu darinya.


"Mm ... maafin aku," jawab Aretha seraya menatap lekat pria itu.


David menghela napas pendek, lalu mengelus kembali puncak kepalanya. "Aku sudah memaafkanmu, Sayang," lirihnya seraya tersenyum.


"Maafin kak Richard juga," lirih Aretha ragu.


"Kenapa jadi kamu yang harus meminta maaf?" David mempertajam tatapannya. Ia selalu saja merasa cemburu, ketika Aretha terus-menerus membela mantannya. Mantan Aretha yang bahkan telah menjadi sahabatnya sendiri. "Tidak! Dia sudah keterlaluan!" sergahnya.


Aretha berdecak kesal. "Itu artinya kamu tidak menepati janji kamu!" ketusnya.


"Tidak untuk itu! Minta yang lain saja, aku akan lebih senang memberikannya!" tolak David.


"Aku maunya itu," rengek Aretha. "Dia kan cuma masalalu aku, Mas ... tidak perlulah kita kaitkan dengan hubungan kita, yang terpenting kan aku sudah memilih kamu, hmm ...," jelasnya.


"Dia sudah keterlaluan bohongi aku, kamu juga!" kesal David. "Aku pernah punya masa lalu buruk tentang cinta, dan kamu tahu? Betapa takutnya aku jika kamu mengkhianatiku, Re. Terlebih lagi dengan sahabatku sendiri. Aku bisa gila kalau sampai itu terjadi!" ungkap David yang sontak membuat Aretha mengernyitkan dahinya, siapa maksud dari masa lalu buruknya itu, pikirnya.


Namun, untuk saat itu, rasanya hal itu tidak penting bagi Aretha. Yang terpenting adalah bagaimana caranya Aretha bisa membujuk David agar mau memaafkan Richard dan persahabatan mereka kembali lagi seperti sebelumnya.


"Mas ...," panggil Aretha lirih. "Ayolah ... please ... Mana mungkin aku berani mengkhianatimu, kalau aku mau sudah kulakukan dari kemarin-kemarin," ucapnya memohon.


David berpikir sejenak, lalu menghela napas berat. "Baiklah, aku akan memaafkannya," jawabnya. "Tapi ... kamu harus janji satu hal!" imbuhnya memberi syarat.


"Apa?" tanya Aretha penasaran dibarengi rasa khawatir karena takut David akan memberikan syarat yang menurutnya berat.


"Jangan pernah tinggalkan aku," jawab David menatap sayu gadis itu. Ada rasa khawatir di benaknya. Ia khawatir jika Aretha akan kembali kepada Richard, atau malah Richard yang diam-diam akan merebut Aretha kembali darinya.


Aretha mengangguk, lalu tersenyum. "Aku janji! Kecuali takdir memang tidak berpihak kepada kita, aku bisa berbuat apa?" jawabnya.


"Aku akan berdoa setiap waktu supaya semesta turut merestui hubungan kita," timpal David penuh harap. Namun, Aretha hanya membalas dengan senyuman.


_________________________________________


Aretha dan David sudah baikan, jangan lupa komentarnya🙏


Hati-hati di depan masih banyak ranjau🙃


Yang setiap hari like tapi gak pernah absen di kolom komentar boleh dicoba donk sekali saja, biar aku tahu wujud kalian kek gimana☺


HAPPY READING!