
Sebelum Denis melakukan pengambilan sidik jari itu, ia kembali mengecek foto-foto itu menggunakan kaca pembesar, guna semakin memperkuat dugaannya. Dan benar saja apa yang ia temukan, terpampang jelas pada kaca pembesar itu.
Denis menunjukkan hasil temuannya kepada David satu-persatu. Namun, tidak berlangsung lama. Ia segera berlanjut ke proses penyelidikan lainnya, yaitu dengan pengambilan sidik jari pada foto tersebut.
Langkah pertama yang Denis lakukan adalah dengan menaburi salah satu foto itu dengan serbuk hitam, yang entah itu serbuk apa. Tangan kanannya tampak menari-nari mengibaskan kuas bedak di atas foto itu, mencoba meratakan serbuk hitam yang ia siapkan untuk mengambil sidik jari pada foto tersebut.
Prosesnya cukup lama, karena ia benar-benar harus teliti melakukannya. Itu kali pertama ia melakukan itu di depan kliennya. Biasanya ia selalu melakukan itu sendiri atau dengan timnya.
Sebagaimana David, Richard dan Rendy selalu percaya kepadanya, maka ia pun percaya kepada mereka. Oleh karena itu, ia mau melakukan itu di depan mereka. Hal yang selalu ia lakukan secara tersembunyi dan privasi.
"Ehem ... ehem ...." Rendy tampak berdeham berulang-ulang di tengah kegiatan Denis, sontak membuat David dan Richard menoleh kearahnya.
Pria itu tampak memegang tenggorokkannya, lalu seolah sengaja memperkeras suara berdehamnya.
"Kalian kalau mau minum atau makan, ambil sendiri ke dapur!" titah David seolah paham maksud dari tingkah Rendy.
"Dari tadi, kek, tenggorokkan gue sudah kekeringan begini, baru nyuruh!" gerutu Rendy segera beranjak dari tempat itu menuju dapur.
"Sorry, gue lupa!"
David baru sadar kalau ternyata ketiga tamunya tidak disuguhi apa-apa sedari tadi. Bahkan, sekadar air putih pun tidak.
"Asisten rumah tangga lo kemana, Dave?" tanya Richard.
"Pulang! Bi Ratih haya bekerja siang sampai sore saja," jawab David dengan fokus masih kepada Denis.
"Aretha?" tanya Richard lagi, karena ia heran sedari tadi tidak menemukan sosok wanita itu.
"Bukankah sudah gue bilang kalau dia marah besar?" ujar David.
"Lalu, dia pergi dari rumah?" Richard semakin dibuat penasaran.
"Ada, lagi mengurung diri di kamar," jawab David.
Richard terdiam sejenak. "Hm ... boleh gue menemuinya?" tanyanya ragu.
"Maksud lo apa, mau menemui istri gue di kamar?" geram David langsung naik pitam dibuatnya.
"Yaelaah ... gue cuma mau bantu membujuknya," jawab Richard seraya melengos kesal.
"No! Gue bisa bujuk sendiri!" tolak David.
Rendy sudah kembali dari dapur. Ia tampak membawa setoples camilan yang ia peluk di dadanya, lalu ia mendaratkan tubuhnya kembali di tempat semula.
Richard mulai mendekati Rendy, lalu meraih camilan itu dari dalam toples kaca yang masih dipegang oleh sahabatnya itu. Nampaknya, mereka berdua terlihat sangat lapar. Mungkin mereka belum sempat makan malam.
***
Denis telah menyelesaikan kegiatannya, dan mengambil satu persatu sidik jari itu dengan menggunakan perekat transparan. Terdapat enam sidik jari yang berhasil Denis temukan. Ia sedikit heran, lalu mulai menghitung siapa saja yang sudah memegang benda itu.
Denis tampak menunjuk dirinya, lalu David dan Richard secara bergantian. Sementara, Rendy tidak dihitung, karena ia tahu bahwa Rendy tidak memegang foto itu.
David dan kedua sahabatnya hanya memperhatikan apa yang Denis lakukan, dan mereka sama sekali tidak paham apa maksudnya. Namun, tidak membuat mereka berkomentar.
"Mbak Aretha sudah memegang foto ini?" tanya Denis kepada David. David hanya mengangguk.
Jika ditambah mbak Aretha dan pelaku itu, harusnya ada lima sidik jari, tetapi ini ada enam. Apa mungkin pelakunya ada dua?
Denis tidak ingin terlalu ambil pusing dengan itu. Yang terpenting adalah ia mengecek satu persatu sidik jari itu pada alat yang sudah ia sediakan.
"Ada enam sidik jari," ucap Denis memberi tahu, sontak membuat ketiga pria lainnya terlonjak kaget. Namun, masih tak berkomentar.
Denis segera menyiapkan alat untuk mendeteksi sidik jari. Ia menyalakannya, lalu mengecek satu-persatu sidik jari yang sudah ia dapatkan.
Sidik jari pertama berhasil dicek, dan itu adalah sidik jari David, berdasarkan pencocokkan data dengan sidik jari tersebut. Beralih ke sidik jari lainnya. Ternyata alat tersebut mengidentifikasi bahwa itu sidik jari Richard. Dan begitulah seterusnya.
Denis sudah selesai mendeteksi keempat sidik jari yang menyatakan bahwa itu miliknya, David, Richard dan Aretha. Hanya tersisa dua lagi. Ia mengambil salah satunya, lalu mulai mengecek sidik jari itu dengan sangat hati-hati.
"Felix!" ucap Denis memberi tahu, sontak membuat Richard yang kala itu tengah bersandar pada sofa, seketika terlonjak mendengar nama Felix disebut. Sementara, David dan Rendy membeliak.
"Siapa lo bilang?" tanya Richard meyakinkan apa yang baru saja ia dengar. Berharap apa yang ia dengar itu salah.
Denis menaikkan tatapannya dari alat itu, seraya menatap Richard. "Felix William," jawabnya.
Richard menghela napas lega, seraya mengusap dadanya. Pun dengan David dan Rendy, tampak melakukan hal yang sama.
"Lo nyaris bikin gue jantungan, Den!" gerutu Richard.
"Ada yang salah?" tanya Denis.
"Felix William siapa?" tanya Rendy. "Lo kenal, Dave?" imbuhnya seraya menatap David.
"Tidak," singkat David.
Denis tampak menunjukkan data diri dan foto orang yang dimaksud pada alat pembaca sidik jari itu.
"Gue belum pernah lihat orang ini," ucap David seraya menggelengkan kepala.
"Mungkin bisa dicari melalui sosial media," saran Denis.
"Biar gue bantu," sigap Richard seraya mengeluarkan ponsel cerdasnya dari saku celananya.
Pria itu tampak membuka aplikasi instagram, lalu mencari akun nama tersebut. Cukup banyak nama yang hampir mirip, bahkan sama. Richard membukanya satu-persatu akun itu, hingga ia menemukan satu akun dengan foto yang sama sesuai yang ditunjukkan oleh Denis.
"Felix William, seorang fotografer," ucap Richard memberi tahu, seraya menunjukkan layar ponselnya kepada mereka.
Ya tentu saja ia tahu bahwa orang tersebut seorang fotografer, karena di bionya terdapat profesi orang itu, lalu semakin diperkuat dengan foto-foto yang di posting olehnya pada instastory.
"Mungkin dia yang mengedit dan mencetak foto," ujar Denis hanya menduga.
"Shit!" umpat David geram.
Denis melanjutkan proses identifikasi satu sidik jari lagi. Alat teknologi yang sangat canggih. Dalam hitungan detik sidik jari itu sudah langsung terbaca dan menunjukkan data diri dari pemilik sidik jari tersebut.
Denis terdiam sejenak. Ia hanya menggelengkan kepalanya, seolah ada sesuatu yang sangat tidak ia percaya akan apa yang tengah ia lihat saat itu.
"Bagaimana?" tanya David penasaran.
Denis mendongak, lalu menghela napas pendek. "Percaya atau tidak, tetapi alat ini menunjukkan bahwa pemilik sidik jari tersebut adalah ...." Denis menggantungkan ucapannya beberapa saat. "Hendra! Hendra Ariansyah!" imbuhnya memberi tahu, sontak membuat ketiganya terbelalak hebat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf jika ada yang keliru 🙏🤧🤧
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC