Possessive Love

Possessive Love
Obat Segala Penyakit



"Lagi?" tanya David yang seketika membuyarkan lamunan Aretha, tepat ketika pintu ruangan itu terbuka dan munculah seorang pria.


Aretha dan David yang menyadarinya langsung menoleh ke arah pintu. Tampak Richard yang tengah berdiri di sana sembari memegangi knop pintu itu.


Merasa malu dan tidak enak hati, Richard segera memalingkan pandangannya ke sembarang arah, ketika Aretha dan David menyadari keberadaannya.


Tak kalah malu. Wajah Aretha pun sudah seperti kepiting rebus. Bagaimana tidak? Tentu saja ia akan malu, ketika sang mantan kekasihnya memergoki dirinya dengan sang suami dalam posisi seperti itu. Rasanya ingin sekali ia bersembunyi saja, tidak kuasa jika harus bertemu atau berbincang dengan Richard, setelah itu. Namun, mana mungkin bisa begitu.


Dengan sigap Aretha segera mengangkat tubuhnya—memposisikannya menjadi berdiri tegak. Ia terlihat sedikit kikuk. Seketika ia memundurkan tubuhnya, sedikit menjauh dari jangkauan David.


"Kk-Kak Richard?" Aretha menjadi salah tingkah. Ia tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sedangkan David masih menatap Richard dari kejauhan tanpa sepatah kata pun.


"Sorry ganggu," ucap Richard seraya menutup kembali pintu itu.


Richard langsung menutup pintu itu kembali, lalu berjalan menuju kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut. Ia tampak menenggelamkan wajahnya di kedua tangan yang sengaja ia topangkan di atas kedua pahanya.


Gila mereka, berani sekali bermesraan di depanku. Menyakitkan sekali rasanya. Ternyata David benar sudah siuman. Syukurlah.


Richard tampak mengembuskan napasnya berat dengan posisi kepala yang masih sama seperti sebelumnya.


"Sepertinya banyak sekali yang sedang kamu pikirkan." Seketika suara seorang wanita menyadarkan lamunan pria itu.


Richard mendongak, lalu mengarahkan wajahnya ke sumber suara.


"Mau temani aku ngopi?"


***


Di dalam ruangan, Aretha dan David dibuat mematung beberapa saat, ketika Richard memilih untuk tidak masuk ke ruangan itu.


"Mas, kamu sih ...," ucap Aretha menyalahkan David.


Ya, memang itu salah David. Andai saja pria itu tidak mencuri-curi kesempatan kepada istrinya, mungkin Richard tidak akan memergoki mereka dalam keadaan memalukan seperti itu.


"Lho, kenapa jadi aku, sih?" tanya David tanpa merasa berdosa. "Memang dia saja yang salah. Salah siapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" imbuhnya kesal, karena disalahkan.


"Ya, mungkin saja karena dia juga tidak tahu kalau kamu sudah sadar. Biasanya kan kita masuk kemari tanpa ketuk pintu dulu," jawab Aretha.


"Terus saja belain mantan kamu itu," sindir David seraya melengos kesal.


"Lho, kok jadi bahas mantan, sih?" kesal Aretha. Betapa menyebalkan suaminya itu. Selalu saja sensitif kalau menyangkut Aretha dan Richard. Entah kenapa David sangat cemburuan kepada pria yang tak lain sahabatnya sendiri, padahal ketika Samuel mengejar Aretha dulu, David tidak sebegitu cemburunya.


"Lantas, salah aku apa? Kita sudah menjadi suami istri, wajarlah kalau cuma melakukan hal itu," protes David.


"Iya, tapi harus tahu tempat juga, Mas!" ketus Aretha.


David hanya mencebikkan bibirnya tidak ingin menanggapi.


"Ya sudahlah, aku mau samperin dia dulu." Aretha berniat untuk beranjak menghampiri Richard yang mungkin berada di depan. Namun, baru saja ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba David menghentikannya.


"Eh, kamu mau ke mana? Sudah di sini saja, tidak perlu cari-cari kesempatan buat mendekati mantan. Jangan mentang-mentang aku lagi sakit, kamu bisa seenaknya ngobrol sama dia," celetuk David yang seketika membuat Aretha mendelik kesal.


"Kamu apaan sih, Mas?" kesal Aretha seraya menatap sinis suaminya. "Siapa juga yang mau cari-cari kesempatan?" imbuhnya.


"Itu kamu mau apa?" tanya David dengan nada menyindir.


"Aku mau suruh dia masuk. Dia pasti kemari buat jenguk kamu, Mas! Sama sahabat sendiri kok begitu amat!" geram Aretha.


"Tapi ...." David menggantungkan ucapannya, ketika Aretha memilih untuk beranjak dari tempat itu.


"Heran! Lagi sakit juga, masih saja menyebalkan!" gerutu Aretha sembari berjalan menuju arah pintu. Bahkan, ia sudah tidak ingin mendengarkan perkataan suaminya yang ia rasa sudah terlalu berlebihan.


Aretha tampak memutar knop pintu ruangan itu, lalu mengeluarkan sebagian tubuhnya. Ia tampak mengedarkan pandangan ke arah kanan dan kiri—mencari sosok pria yang hendak ia temui. Namun, nyatanya pria itu tidak berada di sana. Ia menatap kursi tunggu yang juga terlihat kosong.


"Kak Richard tidak ada. Ke mana dia?" tanya Aretha yang entah pada siapa. "Ah, aku jadi tidak enak." Aretha berpikir sejenak. "Ya sudahlah, nanti juga pasti balik lagi," imbuhnya tidak terlalu peduli.


Wanita itu kembali menutup pintu, lalu segera menghampiri kembali suaminya yang masih dalam posisi yang sama-terbaring.


"Mana dia?" tanya David yang tidak melihat sosok Richard ikut masuk ke dalam ruangan itu.


"Tidak ada. Mungkin dia pulang, karena merasa tidak enak hati," jawab Aretha.


"Bagus dong, jadi kita masih bisa berduaan." David mengerlingkan sebelah matanya—menggoda sang istri, sontak membuat Aretha seketika mencebikkan bibirnya.


Ya ampun ... suamiku, dalam kondisi sedang sakit saja, masih bisa-bisanya mencoba menggodaku, bagaimana nanti kalau sudah pulang ke rumah?


"Sini, duduk lagi." David meminta sang istri untuk duduk kembali di tempat semula. Entah apa lagi yang mau dibahas ataupun dilakukan oleh pria itu.


"Lebih baik kamu istirahat saja, Mas!" pinta Aretha seraya mengingatkan. "Supaya kondisi kesehatan kamu tetap terjaga," imbuhnya.


"Selagi kamu masih ada di sisiku, kondisi kesehatanku tidak akan pernah menurun. Maka dari itu, janganlah mencoba pergi dariku. Sebab, kamu adalah obat dari segala penyakit, salah satunya adalah penyakit malarindu," jawab David gombal.


"Cih! Kamu bangun dari koma kok jadi begini sih, Mas? Ada yang salah ya dengan otak kamu? Atau jangan-jangan kamu—"


"Apa? Aku hanya berkata yang sebenarnya!" potong David seraya membelalakkan matanya. Entah kenapa hari itu istrinya sangat menyebalkan sekali. Apakah ia tidak merasa rindu sama sekali? Pikirnya.


"Kamu sensitif sekali, Mas. Seperti wanita lagi datang bulan," ledek Aretha sekenanya.


David hanya melengos kesal.


Melihat sang suami yang sudah tampak geram. Aretha pun memutuskan untuk duduk kembali di tempat semula, tepat di samping David.


"Mas, maaf ya ...," lirih Aretha.


"Aku maafkan," jawab David seraya menoleh ke arah sang istri menatapnya sayu wajah teduh itu.


"Bukan itu," jawab Aretha seraya terdiam sejenak. "Nanti malam aku tidak bisa menemani kamu, aku harus pulang kasian anak-anak," jelasnya memasang ekspresi sedih.


David menerbitkan senyumnya. "Tidak apa-apa, Sayang, aku paham," jawabnya.


"Terima kasih, Mas." Aretha menyeringai senang.


"Rasanya aku ingin segera melihat mereka. Pasti mereka lucu-lucu sekali," ujar David seraya menatap langit-langit kamar itu sembari membayangkan betapa lucunya anak kembar yang belum sempat ia lihat secara langsung. "Mereka sehat 'kan, Sayang?" tanyanya seraya menoleh kembali ke arah sang istri.


"Sehat, Mas. Mereka juga tidak rewel, sama sepertiku." Aretha tampak terkekeh geli dengan ucapannya sendiri, sontak membuat David merasa gemas melihatnya.


"Pasti kecantikanmu yang paripurna itu kalah cantik sama anak kita," ledek David.


"Enak saja! Mana mungkin. Kita pasti memiliki kadar kecantikan yang sama, kok. Kamu tidak perlu khawatir, Mas," jawab Aretha tak mau kalah.


"Pantas saja sang mantan susah move on," goda David lagi-lagi bahas mantan.


"Kok, bahas mantan lagi, sih? Nakal ya kamu, Mas!" Dengan sigap Aretha mencubit tangan suaminya—merasa gemas karena sedari tadi membahas seputar mantan.


"Auuww!!" rintih David kesakitan. "Sakit, Sayang," ucapnya sembari mengusap bekas cubitan sang istri dengan sebelah tangannya.


"Biarin saja! Kamu juga cemburu 'kan mantan kamu mau menikah dengan mas Denis?" balas Aretha tak mau kalah.


"Ck!" David hanya berdecak kesal, lalu melengos sejenak, seolah malas membahas orang yang dimaksud oleh Aretha. Ia benar-benar sudah melupakan wanita itu. Bahkan, tak tersisa satu pun kenangan bersama Freya yang bisa membuatnya tersenyum mengingatnya. Hanya dua orang wanita yang bisa membuatnya tersenyum, yaitu istri dan mamanya. Dan mungkin akan segera bertambah, yaitu putri kecilnya yang nanti akan membuatnya semakin tersenyum lebar.


"Ciee ... marah," goda Aretha. " Baru segitu langsung marah. Curang!" protes Aretha.


"Dia sudah mau menikah. Lihat tuh mantan kamu, sampai sekarang masih saja belum move on!" kesal David.


"Belum ada jodohnya, bukan belum move on," balas Aretha menepis ucapan David. "Sudah ah, jangan bahas mereka. Bahas yang lain saja," imbuhnya.


"Aku ingin segera pulang," ujar David tiba-tiba.


"Mana mungkin bisa, Mas. Sabarlah dulu, nanti kalau sudah membaik, dokter juga pasti menyuruh pulang." Aretha tampak mengambil ponselnya dari atas nakas. " Aku mau telepon dulu ke rumah, takut si kembar rewel kalau ditinggal terlalu lama.


Aretha segera menelepon maminya, menanyakan keadaan putra-putrinya. Tak berlangsung lama. Aretha kembali menutup panggilan suara itu, setelah ia mengetahui keadaan mereka yang baik-baik saja, tidak rewel sedikit pun.


Wanita itu tampak meletakkan kembali ponselnya di tempat semula.


"Bagaimana? Mereka baik-baik saja?" tanya David yang juga ikut cemas.


"Syukurlah." David terlihat lega. "Mereka mau kamu kasih nama apa?" tanyanya kemudian.


"Nah, itu dia, Mas. Aku bingung harus kasih mereka nama apa. Kamu sendiri bagaimana?" Aretha malah balik tanya. Namun, belum sempat David menanggapi pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu ruangan itu.


"Siapa ya, Mas?" tanya Aretha heran.


"Coba kamu lihat," titah David.


Wanita itu tampak menurut. Ia berjalan menghampiri pintu, lalu membukanya.


"Kak Richard?" Aretha tampak sedikit membulatkan matanya sejenak, ketika menyadari keberadaan Richard di depannya. "Dari mana saja? Cepat sekali menghilangnya?" tanyanya berbasa-basi. Sebenarnya ia sangat malu dihadapkan dengan pria itu, setelah kejadian tadi. Namun, apa boleh buat, tidak mu


"Tadi habis minum kopi dulu, sekalian nunggu Rendy," jawab Richard datar. "David sudah siuman, ya?" tanyanya yang juga berbasa-basi, padahal ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa David memang sudah sadar dari komanya.


"Alhamdulillah sudah, Kak." jawab Aretha.


"Syukurlah," balas Richard singkat.


"Kak Rendynya mana?" Aretha tampak celingukkan mencari sosok yang baru saja ia tanyakan.


"Mungkin sebentar lagi akan tiba," jawab Richard masih dengan nada dan ekspresi datar.


"Masuk, Kak," titah Aretha.


Richard tampak masuk ke dalam kamar itu dengan mengekori Aretha di belakang.


David yang menyadari keberadaan Richard tampak memerhatikan dari kejauhan.


Baru juga diomongin sudah muncul saja nih anak.


"Dave, bagaimana kondisi lo?" tanya Richard yang kala itu sudah berdiri di samping David. Ia tampak memeluk dan menepuk punggung David pelan.


Sungguh Richard sangat bahagia melihat David telah kembali seperti semula. Setidaknya ia tidak akan melihat Aretha kembali bersedih.


"Seperti yang lo lihat, gue sudah jauh lebih baik, bukan?" ujar David.


"Syukurlah, gue senang melihatnya," balas Richard.


"Thanks ya, Bro, lo sudah bantu menyelamatkan istri dan anak-anak gue," ujar David yang tidak akan pernah lupa dengan jasa sahabatnya itu. Sebab, berkat Richard, Aretha dan kedua bayinya bisa selamat.


"Sudah seharusnya. Gue akan senang sekali kalau lo membalasnya dengan memberikan anak gadis lo nanti buat gue," seloroh Richard dengan diakhiri tawa lepasnya.


David tampak mencebikkan bibirnya, merasa geli dengan candaan Richard saat itu.


Tak lama kemudian, tampak Rendy dan Clara yang juga turut hadir di sana. Setelah mereka mendengar kabar baik dari Richard beberapa jam yang lalu, mereka langsung antusias untuk menjenguk David di rumah sakit. Terlebih lagi, Rendy yang memang sudah sangat merindukan sahabatnya itu.


Tanpa berbasa-basi, Rendy langsung memeluk David, sebagaimana yang dilakukan oleh Richard. "Gue senang lihat lo sembuh, Bro," ucap Rendy dengan ekspresi sedikit haru.


Kecelakaan yang dialami David benar-benar meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi mereka. Kecemasan dan ketakutan yang mengganggu pikiran dan waktu istirahat mereka akhirnya terjawab sudah. Akhirnya, David bisa melewati masa-masa kritisnya. Itu yang selama ini mereka harapkan, dan Tuhan mengabulkannya.


"Thanks, Bro," jawab David.


Aretha yang kala itu masih memerhatikan kegiatan mereka, matanya tampak berkaca-kaca karena menahan haru. Beruntung sekali David memiliki sahabat-sahabat baik seperti mereka. Sama halnya dengan dirinya yang juga memiliki sahabat baik yang selalu peduli terhadapnya.


Seketika wanita itu sangat merasa berdosa sekali kepada Tuhan, karena selama ini terlalu banyak mengeluh, sementara ia tidak memiliki alasan untuk hal itu. Sebab, terlalu banyak nikmat yang telah Tuhan berikan untuknya, termasuk orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Re, bagaimana kabar si kembar?" tanya Clara yang sontak membuat Aretha tersentak dan membuyarkan lamunannya.


"Hh?" Aretha termangu sejenak. "Baik kok, Mbak. Mereka tidak rewel seperti papanya," selorohnya seraya melirik ke arah David.


"Lho, apa maksudnya, Sayang?" tanya David yang merasa tersindir, padahal selama ini ia merasa tidak seperti yang dikatakan Aretha.


"Laki-laki memang seperti itu, Re, kalau sama istrinya," timpal Clara yang juga sudah memiliki pengalaman berumah tangga.


"Lho, apa-apaan ini, Sayang? Kenapa kamu jadi ikut-ikutan dengan Rere, sih?" protes Rendy.


"Biarkan saja, memang begitu kenyataannya, kok." Clara tampak memalingkan wajahnya.


"Ah ... sudah, sudah! Sopankah kalian pamer kemesraan di depan jomlo yang tengah berjuang menemukan tambatan hatinya?" Richard tampak melayangkan protesnya yang seketika memecah gelak tawa.


"Sudah gue kasih dokter cantik, lu nggak mau, gimana sih!" ledek Rendy, sedangkan David tidak berkomentar apapun.


Bukan hal yang sulit bagi Richard mencari wanita yang bisa ia jadikan kekasih ataupun lebih dari itu. Hanya saja memang dasarnya Richard tidak menginginkan hal itu, karena ia masih belum bisa pindah ke lain hati, dan David tahu itu. Pun dengan Rendy.


"Ck!" Ricahrd hanya berdecak kesal. Sungguh ia sangat tidak menyukai jika ada yang mencoba menjodohkannya.


Perbincangan mereka pun berlanjut dengan diselingi canda tawa.


***


"Mas, aku pulang sekarang tidak apa-apa?" tanya Aretha, setelah beberapa menut Richard dan Rendy pulang.


"Sebenarnya aku masih kangen, tetapi ya sudah kamu pulang saja, kasihan anak-anak," jawab David.


"Kami baik-baik ya, Mas. Istirahat tepat waktu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku!" pinta Aretha mengingatkan.


"Iya, Sayang," singkat David. "Kamu juga hati-hati di jalan," imbuhnya.


"Iya, Mas," singkat Aretha.


"Peluk dulu." David tampak merentangkan tangannya seraya sudah siap memeluk tubuh sang istri.


Aretha tersenyum, lalu mendekatkan tubuhnya ke suami. Dengan sigap David segera memeluknya.


"Aku pasti akan kangen sekali sama kamu. Kamu jaga baik-baik anak kita ya, Sayang," ucap David seraya memeluk erat tubuh sang istri.


"Kamu juga. Tetap jaga kesehatan untuk aku dan anak-anak kita, juga untuk mama dan papa," balas Aretha.


"Terima kasih, Sayang." David semakin mempererat pelukannya, lalu mencium pipi Aretha dengan begitu gemasnya.


"Sudah, Mas. Sudah sore."Aretha mulai berusaha menghentikan kegiatan mereka.


David pun melepaskan pelukannya. Namun, baru saja Aretha kan menjauh darinya, ia malah menarik kembali tangan wanita itu.


"Apa lagi sih, Mas?" heran Aretha.


"Titip salam buat si kembar," jawab David seraya menatap Aretha dengan sangat lekat.


"Iya, nanti aku sampaikan," balas Aretha tersenyum. "Sekarang lepaskan dulu tanganku," imbuhnya memohon.


"Aku sekalian mau titip kecupan buat mereka." David masih belum ingin melepaskan tangan Aretha.


Aretha tampak mengangkat sebelah alisnya merasa heran. "Iya," jawabnya tidak terlalu ingin peduli dengan perasaan herannya.


"Sini, biar aku kasih kecupannya," ucap David mencari alasan.


"Maksud kamu?" tanya Aretha semakin heran.


"Aku titipkan kecupanku sama kamu, nanti kamu kasih lagi sama mereka," balas David tidak mau kalah, padahal tidak seperti itu konsepnya.


"Huh!" Aretha hanya mengembuskan napasnya, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Wanita itu tampak mendekatkan pipinya ke wajah David, lalu secepat kilat David mendaratkan kecupannya di pipi Aretha. "Titip buar mereka, ya," ucap David.


"Iya, Mas." Aretha baru saja akan menjauhkan wajahnya. Namun, lagi-lagi David menahannya.


"Tunggu dulu!" seru David.


"Apa lagi?" kesal Aretha.


"Baru satu. Satu lagi," rengek David. Aretha pun hanya bisa menuruti kemauan sang suami.


Baru saja ia selesai memberi kecupan di pipi Aretha, tiba-tiba ia langsung beralih ke bibir wanita itu. "Untuk mamanya," ucapnya yang lagi-lagi membuat hati Aretha berbunga-bunga.