
"Pokoknya nanti Aruna maunya dijemput sama Papa, titik!" protes si kecil Aruna yang mulai memanyunkan bibir mungilnya sambil melipatkan kedua tangannya di dada pagi itu, sontak membuat David yang memang selalu sibuk dengan pekerjaan seketika dibuat kelabakan harus bagaimana menghadapi putrinya itu.
"Kalau Papa sempat, nanti Papa jemput ya, Sayang." David mengelus kepala sang putri dan mendaratkan ciuman di kening gadis mungil itu. Namun, terlihat Aruna masih memanyunkan bibirnya, karena tidak kunjung mendapt kepastian daru sang papa.
"Nanti biar Mama saja yang jemput ya, Sayang. Papa 'kan harus kerja," bujuk Aretha.
"Memangnya Mama tidak sekolah?" Aruna mendongakkan kepala, menatap wajah mamanya.
"Hari ini, Mama sekolahnya setelah jemput Aruna," jawab Aretha, sembari tersenyum pada putri kesayangannya.
"Yeay ... Arka, kata Mama, hari ini Mama mau jemput kita," ucap Aruna pada saudara kembarnya yang tengah mengunyah roti di mulutnya. Aruna pun turun dari kursinya dan berlari menghampiri Pengasuhnya dengan begitu girang.
"Encus," panggil Aruna kepada perawatnya yang sudah menjadi kebiasaan sejak pertama kali ia bisa memanggil perawatnya dengan sebutan itu. "Kata Mama, nanti Mama mau jemput kita. Encus pasti senang juga, kan?" sambungnya kemudian.
"Iya, Non. Encus juga seneng. Sekarang Non kembali ke meja makan, ya! Lanjutkan sarapannya lagi. Nanti kita bisa terlambat ke sekolahnya," pinta Ratna.
"Ok, deh. Encus." Dengan berjingkrak gembira Aruna pun kembali ke meja makan.
Saat di meja makan pun Aruna masih menunjukan rona bahagianya.
"Mama jangan bohong ya. Nanti dosa, lho...," ucapnya mengingatkan sang mama.
"Iya, Sayang. Mama tidak akan lupa, kok. Kamu tenang saja," Aretha mengusap kepala putrinya.
"Katanya mau cepat orang gede, tapi masih saja manja," sindir Arkana sambil meneguk susu di gelasnya.
"Ish, Arka menyebalkan deh. Aku tidak mau cepat jadi orang gede, tahu," ucap Aruna memanyunkan kembali bibir mungilnya.
"Kenapa? Biar terus-terusan bisa manja-manjaan sama Mama dan Papa?!" Arkana mencebikan bibir nya pada saudaranya.
"Ih, tuh 'kan Kamu memang menyebalkan. Pura-pura nanya saja kenapa, sih. Biar nanti aku saja yang jawab. Tidak usah nunjukin kecerdasan kamu di depan aku, sih. Ma, Pa lihat deh Arka menyebalkan. Sok-sokan nanya, tetapi dijawab sendiri, kesal!" adu Aruna pada ke dua orang tuanya.
David dan Aretha hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak mereka yang selalu menghangatkan pagi hari mereka dengan tingkah keduanya.
"Aku itu memang udah cerdas dari bayi, Aruna," ucap Arkana sambil menyeka bekas susu di mulutnya.
"Tapi kamu juga menyebalkan! Sudahlah aku mau berangkat sekolah sekarang saja." Aruna kecil pun beranjak dari duduknya sembari menenteng ransel kecil miliknya.
"Kan memang kita sudah mau berangkat sekarang." Arkana ikut beranjak dari kursinya.
"Kamu itu, mengalah sedikit sama adikmu kenapa, sih?" David yang berjalan di samping Arkana pun mengelus Kepala anak lelaki itu.
"Kesenengan nanti dia, Pa," ucap Arkana seraya memasang tas ransel di punggungnya.
"Eh, tunggu! Arka, tapi ada satu alasan lagi lho, yang buat aku tidak mau cepet jadi orang gede. Kamu pasti gak tahu, kan?" tanya Aruna yang tiba-tiba berhenti.
David, Aretha dan Arkana pun saling beradu pandang, tampak kebingungan.
"Kenapa?" tanya Arkana seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Aku gak mau cepat gede karena aku mau jadi anak yang Imut dan cantik terus, Weee," jawab Aruna sambil menjulurkan lidahnya pada Arkana. Dia pun berlari menuju mobil sang Papa.
David dan Aretha pun tertawa melihat tingkah putri mereka.
Di usianya yang masih seusia anak TK memang Aruna sudah terlihat pandai sekali berbicara, berbeda dengan anak-anak lainnya. Pun dengan Arkana yang juga memiliki kecerdasana dalam hal akademik yang cukup luar biasa di usianya yang baru menginjak lima tahun. Namun, sudah seperti siswa anak Sekolah Dasar. Sayang sekali, ia tidak bangak berbicara, berbeda dengan adiknya.
Setelah berpamitan pada sang Mama Arkana dan Aruna pun berngkat menuju sekolah mereka dengan di antar David.
Hari ini mereka melakukan kegiatan sekolah seperti biasanya.
David memang sengaja memilih sekolah terbaik di kota ini. Dengan segala fasilitas yang ada dan mampu menunjang segala kebutuhan anak-anaknya. Dia ingin memberikan yang terbaik dan senyaman mungkin untuk anaknya.
***
Sesuai janjinya Siang itu Aretha mejemput kedua Anaknya di sekolah.
"Mama ...," teriak Aruna berlari menghampiri sang Mama yang tengah duduk di ruang tunggu yang disediakan oleh pihak lembaga sekolah.
"Terima kasih ya, Ma, sudah jemput Aruna," ucap gadis kecil itu seraya mencium punggung tangan sang mama.
"Sama-sama, Sayang." Sebuah kecupan mendarat di pipi chubby gadis kecil itu.
Tak lama Arkana pun datang dan mencium punggung tangan sang Mama. Saudara kembar Aruna tersebut memang sifatnya berbanding teralik dengan Aruna. Arkana memang terlihat lebih tenang dan kalem.
"Bagaimana tadi sekolahnya? Apa menyenangkan?" tanya Aretha pada kedua anaknya, sesaat setelah mereka berada di dalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadi mereka.
"Seru, Ma. Aku tadi ketemu sama temen baru lho, Ma. Namanya Amel, Dia kasih aku ini!" ucap Aruna seraya menunjukan lolipop yang ia dapat dari teman barunya.
"Kamu 'kan baru kenal dia, kenapa kamu langsung terima pemberian dia begitu saja?" timpal Arkana yang kala itu tengah memainkan rubik kesayangannya, tanpa mengalihkan fokus dari rubrik di tangannya.
"Ih, kata ibu guru 'kan kita harus menghargai pemberian teman, Arka." Aruna sedikit kesal dengan sifat kembarannya itu.
"Kamu 'kan baru ketemu sama dia," Arkana masih tak mau kalah.
"Iya, tapi 'kan kita sudah menjadi teman. Ish, kamu selalu saja begitu! Aruna kesal, Ma," rengek Aruna pada samg mama.
"Sudah-sudah jangan bertengkar terus," ucap Aretha pada kedua anaknya. "Jangan cemberut seperti itu, nanti cantiknya hilang," imbuhnya seraya mencubit gemas pipi chubby putrinya tersebut.
Aretha melirik pada Arkana yang tengah asyik memainkan benda kotak di tangannya. Ia tersenyum lalu mengusap kepala sang putra.
Aretha mengerti jika Arkana bukanlah anak yag mudah dekat dengan orang baru. Mempunyai sikap yang dingin dan pendiam membuat teman-temannya berpikir dua kali untuk mendekatinya. berbanding terbalik dengan Aruna yang mempunyai banyak teman di sekolah.
Arkana hanya dekat dengan seorang anak yang menjadi sahabat Adiknya.
Seorang gadis kecil yang satu tahun di bawah mereka. karena Arkana sangat suka menjahili gadis kecil tersebut.
***
Hari terus beganti. Kebahagiaan pun terus menyelimuti keluarga kecil David dan Aretha. Semenjak kehadiran dua buah hati mereka, hidup mereka seakan penuh warna. Aruna yang manja dan cerewet selalu bisa menghidupkan dan menghangatkan suasana rumah.
Rasa lelah dari aktivitas di kantor pun hilang seketika saat kepulangannya di rumah begitu ditunggu dan disambut oleh istri dan kedua buah hatinya. Begitulah yang david rasakan.
Namun, ada yang berbeda Sore hari itu. Saat David baru tiba di rumah, ia tak melihat Aruna menyambutnya. Hanya ada Aretha yang tengah duduk di ruang tengah bersama Arkana.
Aretha lalu beranjak dari duduknya dan mencium punggung tangan suami tercintanya yang di ikuti oleh Arkana. Setelah mengusap kepala putranya David pun ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Aruna mana, Sayang?" tanya David pada sang istri seraya mengedarkan pandangannya mencari si kecil cerewet Aruna.
"Ada di belakang, lagi berenang sama Zelline, Mas." Aretha pun meraih tas kerja suaminya. Meletakkan tas itu di atas meja dan ikut duduk di samping David.
"Huh! Syukurlah kalau dia ada di rumah," ucap David mengembuskan napas lega.
"Aku cuman khawatir dia diculik lagi sama Richard," ucapnya sambil menatap sang istri. Seakan tahu apa yang di pikirkan istrinya.
Bahkan, kejadian yang sudah terjadi begitu lama itu masih saja diingat oleh David.
"Mas, jangan begitu ih, ngomongnya," Aretha mencoba mengingatkan.
"Ya, apa dong namanya kalau membawa anak orang pergi tanpa seizin orang tuanya, kalau bukan menculik?!" ucap David.
"Lah, anak kamu juga yang mau saja dibawa sama Kak Ricard." Aretha tersenyum, ada rasa menggelitik di hatinya bila teringat kejadian sayu tahun lalu.
"Kenapa sih, harus Richard?" tanya David. Entah pada Aretha atau pada dirinya sendiri.
"Sudah, kamu mandi dulu, sana! Agar tidak kepanasan," ucap aretha seraya tersenyum.
"Cih!" David berdecih, lalu beranjak menuju kamar mereka.
Aretha yang meihat sorot mata cemburu dari suaminya pun hanya tersenyum.
"Mama tinggal dulu buat menyiapkan pakaian papa kamu ya, Sayang," ucap Aretha pada Arkana seraya mengambil tas kerja suaminya yang ia letakkan di atas meja tadi.
Aretha pun segera menyusul sang suami ke kamar mereka.
***
Siang itu, hujan yang tak terlalu deras mengguyur kawasan Ibukota.
"Aruna!!" panggil seorang gadis kecil yang berlari menghampiri Aruna yang tengah menikmati tetesan air hujan yang menguyur rerumputan halaman sekolahnya.
Ia berdiri di sisi lantai keramik, dan menengadahkan tangannya, membiarkan tetesan hujan dari atas atap membasahi telapak tangannya. Ia menoleh pada amel dan tersenyum.
"Kamu belum dijemput, ya?" tanya Amel yang beberapa hari lalu resmi menjadi teman Aruna.
"Belum. Sepertinya hari ini, kita pulang lebih awal, deh," jawab Aruna masih asyik menengadahkan tangannya ke arah tetesan hujan. "Kamu belum di jemput juga?" Aruna bertanya balik pada Amel.
"Belum. Aruna hari ini aku di jemput sama Papi baru aku, lho. Papi baru aku ganteng, baik lagi. Dia juga sayang banget sama aku dan Mami. Aku senang banget pokoknya," ucap Amel mulai bercerita, lalu menyeringai menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi untuk anak seusianya.
"Papi baru?" tanya Aruna tak menegerti.
"Heem," jawab Amel sambil mengangguk.
"Memangnya papi lama kamu sudah jelek, ya? Sampai harus punya papi baru?" tanya Aruna lagi dengan polosnya.
"Tidak. Papi lama aku 'kan di luar negeri, jauh. Dia tidak pernah pulang. Kita ngobrol hanya melalui telepon saja, itu pun kadang-kadang. Jadi, mami carikan aku papi baru. Kata mami, papi baruku tidak akan meninggalkanku sama mami jauh-jauh," jawab Amel yang kini ikut menengadahkan tangannya pada tetesan air hujan.
"Jadi, sekarang kamu punya dua Papi?" tanya Aruna lagi.
"Iya," jawab Amel dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.
Kehadiran seorang Lelaki tampan yang gagah menghentikan perbincangan dua anak kecil itu. Amel segera berlari menghampiri lelaki itu.
"Papi ...," ucapnya sambil menghambur kedalam pelukan sang Papi barunya. "Aruna, aku pulang duluan ya," pamit Amel setelah lelaki itu menggendong tubuh mungilnya.
"Aku juga mau Papi baru" gumam Aruna.
"ARUNA ... Kamu dari mana saja? Aku cari kamu dari tadi." Arkana dan pengasuh mereka menghampiri Aruna. Saudara kembarnya itu memang sering kali pergi tanpa pamit lebih dulu padanya. "Kasihan Encus nyariin kamu," sambungnya lagi dengan wajah kesalnya.
"Arka, Encus, aku mau papa baru," ucap Aruna lalu beranjak pergi meninggalkan saudara kembar dan pengasuhnya.
Arka dan Encus saling beradu pandang sejenak.
"Aku tidak tahu, Encus. 'Kan, dari tadi aku sama Encus." Arka yang memang sangat cerdas seakan tahu arti sorot mata sang pengasuh yang penuh tanya.
***
Sore harinya, David disambut dengan wajah muram putri kesayangannya. David menatap sang istri seakan menuntut jawaban.
"Minta papa baru," bisik Aretha di telinga suaminya, sontak membuat David membulatkan matanya sempurna.
Tatapan tajam ia arahkan pada istrinya. Aretha hanya mengedikkan bahunya seolah tidak tahu apa yang membuat putri kecilnya tiba-tiba meminta papa baru.
Dari pulang sekolah tadi, si cerewet Aruna memang merengek minta papa baru pada sang mama. Hal itu tentu saja membuat mamanya bingung. Bahkan saat ditanya pun putri kesayangannya itu hanya kekeh dengan keinginannya yang terkesan konyol itu.
Saat ditanyakan pada pengasuh kedua anaknya dan Arkana sang kakak pun mereka hanya menggelengkan kepala, sehingga membuat Aretha semakin bingung.
"Princess-nya papa kenapa, sih?" tanya David pada Aruna yang kini sudah berada di pangkuannya.
"Aruna mau papa baru. Boleh ya, Pa?" Pinta Aruna dengan polosnya.
"Lho, kenapa? Papa Aruna 'kan masih ada. Nih, masih utuh dan tampan." David mengelus-ngelus kepala putrinya, lalu menunjuk wajahnya sendiri.
"Pokoknya Aruna mau papa baru, selain Papa." Aruna menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang Papa.
"Aruna kasih tahu dulu sama papa dan mama, alasan Aruna mau papa baru apa, Sayang?" Aretha yang duduk di samping David pun ikut bicara.
"Kamu 'kan tahu, Sayang. Kalau kamu menginginkan sesuatu itu harus ada alasannya," ucap David, lalu mengecup puncak kepala putrinya.
Aruna mendongakkan kepala—menatap kedua orang tuanya bergantian. "Tadi di sekolah, teman Aruna dijemput oleh papa barunya, Papanya tampan lagi. Aruna juga 'kan mau, Pa," ucap Aruna sambil menunduk dan memberengutkan wajahnya.
David menghela napas panjang, sebelum menanggapi. "Mungkin Papanya teman kamu sudah meninggal, sayang. Jadi, dia punya papa baru, deh," pikir David.
"Tidak, Pa. kata maminya, papinya yang pertama itu ada di luar negeri, jauh. Terus tidak pulang-pulang. Mereka hanya ngobrol lewat telepon saja. Jadi, maminya kasih dia papi baru. Sekarang dia jadi punya dua papi," jawab Aruna terdiam sejenak. "Aruna juga mau punya dua papa, Pa. Biar nanti kalau Papa ke luar kota, 'kan ada yang nemenin Mama, Arka, sama Aruna di rumah. Terus kalau Papa gak bisa jemput Aruna di sekolah, 'kan ada papa baru yang jemput Aruna dan Arka," pinta Aruna dengan polosnya.
Aretha dan David tersenyum mendengar permintaan polos sang putri yang meminta Papa baru seperti meminta sebuah boneka. Sementara itu, saudara kembarnya Arkana hanya menggelengkan kepala mendengar alasan sang adik meminta papa baru.
"Aruna, Sayang. Papi dan maminya temen kamu itu memang sudah tidak bisa bersama lagi, karena memang sudah tidak boleh tinggal bersama juga. mereka sudah berpisah, Sayang. Sedangkan Papa dan Mama 'kan masih bersama, tinggal bersama. Jadi, Aruna tidak perlu Papa baru, Sayang."
Aretha pun menjelaskan pelan-pelan pada Aruna dan Arkana tentang sebuah perceraian dalam rumah tangga, meskipun mereka masih kecil, setidaknya mereka sedikit paham.
Hal itu dilakukan agar mereka bisa lebih bersyukur lagi karena memiliki keluarga yang utuh. Dan mereka bisa saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Aretha juga mengajarkan pada mereka untuk tidak merendahkan atau mengucilkan mereka yang mempunyai keluarga yag tidak utuh. Mereka harus tetap saling menghargai.
Perlahan Aruna pun mengerti. "Maafkan Aruna ya, Ma, Pa." Gadis kecil itu menenggelamkan kembali wajahnya pada dada bidang sang papa.
"Memangnya Aruna mau papa baru yang seperti apa?" tanya David sekenanya.
"Aruna mau papa baru yang seperti Om Ricard. Soalnya Aruna nyaman kalau dekat dengan om Ricard. Om ricard baik, tampan, sayang lagi sama Aruna, tapi tidak tahu kalau sama mami. Kata teman Aruna, papi barunya dia itu syaang sama dia juga sama maminya," jawab Aruna panjang kali lebar.
"Eh ...." Aretha menahan tawanya. "Makanya jangan asal ngasih pertanyaan sama anak mu, Mas." sambung Aretha dengan senyum jahilnya.
Ekspresi david? Jangan ditanya lagi. Jika digambarkan, mungkin di atas kepalanya sudah ada api yang berkobar-kobar.