
Waktu menunjukkan pukul 05.00. Mentari terlihat masih merunduk malu, mungkin ini masih terlalu pagi untuk ia keluar dari peraduannya. Namun, suara alarm yang berdering kencang membuat Aretha yang masih terlelap terpaksa harus membuka matanya.
Tanpa menunggu komando ia segera meraih jam weker yang berada di atas nakas dan tak jauh dari jangkauannya, lalu gadis itu mematikan alarm tersebut. Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya, ia segera bergegas ke kamar mandi yang berada didalam kamar.
Tak berlangsung lama ia selesai dengan kegiatan membersihkan diri. Gadis tiu tampak berganti baju. Kala itu ia mengenakkan kemeja berwarna biru langit yang dipadupadankan dengan rok span selutut berwarna navy, tak lupa high heels yang dapat menyempurnakan penampilannya.
Setelah semua ritual telah dilakukan, Aretha segera beranjak dari kamar menuju ruang makan. Di ruang makan terlihat Carmila tengah menyiapkan sarapan. Kali ini ia terlihat begitu rapi tidak seperti biasanya, entah mau kemana?
"Pagi, Mi!" sapa Aretha.
"Pagi, Sayang!" sapa Carmila.
"Tumben, rapi banget ... mau kemana, Mi?" tanya Aretha sembari mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi kosong di ruang makan.
"Mami mau pergi ke rumah sakit, jenguk teman mami." jelas Carmila.
"Sepagi ini?" tanya Aretha.
"Ya, teman-teman mami yang ngajak." Aretha hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
"Papi, kemana?" tanya Aretha kemudian.
"Sudah berangkat dari tadi." jawab Carmila yang mulai mendudukan tubuhnya di kursi makan yang berada di depan Aretha.
"Tumben, pagi banget?" tanya Aretha keheranan.
"Iya. Papi mau ketemu klien pagi ini."
Mereka terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mereka berdua mulai melakukan aktivitas sarapannya setelah semua makanan terhidang di atas meja makan. Dengan perlahan tapi pasti, Aretha mulai melahap nasi goreng telor ceplok yang berada dihadapannya.
"Mami berangkat diantar pak Iman?" tanya Aretha di tengah-tengah kegiatannya.
Iman adalah supir pribadi keluarga Aretha. Setelah putus dari Richard, Aretha lebih sering diantar jemput oleh supir pribadinya itu ketimbang membawa kendaraan sendiri. Meskipun ia sudah menjadi anak kuliahan, orang tuanya masih belum memberikan izin kepadanya untuk membawa kendaraan sendiri.
"Iya," jawab Carmila singkat.
"Ya sudah, berarti aku pesan taxi aja!" ujar Aretha.
"Tidak usah, kita berangkat bareng saja, Re!" seru Carmila..
"Memangnya satu arah?"
"Mm ... kayaknya sih beda arah." jawab Carmila seraya berpikir.
"Ya sudah, aku pesan taxi aja, daripada nanti Mami telat." Carmila mengiyakan ucapan Aretha.
Seusai sarapan, mereka berdua keluar rumah bersamaan. Aretha sempat akan memesan taxi online, namun ternyata koneksi sedang bermasalah sehingga ia mengurungkan niatnya. Mungkin karena jaringan yang tidak mendukung. Di depan rumah terlihat Iman yang tengah memanaskan mobil yang akan dikemudikannya.
"Mau berangkat sekarang, Bu?" tanya Iman kepada majikannya yang kala itu telah berada tepat didepannya.
"Iya, Pak. Tapi saya bingung, Rere berangkat sama siapa ya? Mau pesan taxi koneksinya kurang bagus!" jelas Carmila.
"Oh ... ya sudah biar saya antar sekalian, Bu!" ujar Iman.
"Tidak usah, Pak Iman. Biar nanti aku nunggu taxi aja." sahut Aretha.
"Tapi taxi disini susah, Mbak ... nanti malah kesiangan!" tukas Iman.
"Iya juga sih ...." Aretha berpikir sejenak. "Tapi ... kita beda arah, Pak!" imbuhnya.
"Atau begini saja, Mbak ikut kedepan saja dulu, nanti di depan baru naik taxi." ucap Iman menyarankan.
"Baiklah."
Setelah beberapa menit Aretha menunggu taxi, mobil berwarna hitam melintas dihadapannya dengan kecepatan yang sedikit tinggi sehingga membuat air sisa hujan itu menciprati sebagian pakaian yang Aretha kenakan. Ia merasa geram dengan kejadian yang dialaminya. Perasaan murkanya seketika tergambar diwajahnya. Ia segera berteriak menghentikan mobil itu, dan beruntung mobil tersebut berhenti tak jauh dari tempat ia berpijak.
Dengan sedikit tergesa-gesa, gadis itu menghampiri mobil tersebut dan mengetuk kaca mobil bagian depan, setelah menyadari seseorang yang ada didalamnya.
"Mas, keluar!" teriak Aretha sembari mengetuk kaca mobil berulang kali. Seorang pria berpenampilan gagah dengan setelan kerjanya pun keluar dari dalam mobil tersebut.
"Maaf, ada apa ini?" tanya pria itu sembari menghampiri Aretha.
Aretha terkejut setelah melihat pria yang ada di hadapannya. "Kamu??"
"Iya, saya kenapa?" tanya pria itu.
"Kamu kan cowok songong yang kemarin nabrak saya di mall, iya kan?"
"Oh, ya?" tanya pria itu seolah tidak mengingat apa-apa.
"Tidak usah belaga bodoh deh! Jelas-jelas kamu yang nabrak saya kemarin, kemudian nyelonong pergi tanpa permisi, apalagi minta maaf!" sergah Aretha.
"Oh ... jadi anda memanggil saya hanya untuk membahas hal yang tidak penting itu?" tanya pria itu sinis. "Maaf, saya tidak ada waktu!" imbuhnya seraya berbalik. Namun, seketika Aretha menghentikan niatnya.
"Lho, maksud kamu apa? Jelas-jelas saya memanggil kamu karena kamu bikin kesalahan lain, dan ini kesalahan yang kedua kalinya!" tegas Aretha.
"Maksud anda apa?" tanya pria itu memberi sedikit jeda. "Kalau cuma untuk membahas hal yang tidak penting, Maaf saya sibuk!" angkuhnya.
Pria itu membalikkan badan kemudian melangkahkan kakinya. Namun, baru satu langkah, Aretha menghentikan langkahnya dengan menarik tangan pria itu.
"Sungguh laki-laki yang tidak bertanggung jawab!!" ejek Aretha kesal.
"Maksud anda apa, Nona?" tanya pria itu sembari menepis kasar tangan Aretha dari lengannya.
"Masih nanya lagi! Apa anda tidak lihat baju saya? Semua ini karna ulah anda, Tuan yang terhormat!" geram Aretha.
Pria itu memperhatikan penampilan Aretha dari ujung kaki sampai ujung rambut. Penampilannya masih rapi seperti sebelumnya, hanya saja ada beberapa bagian yang kotor karena air tadi, termasuk wajahnya sehingga Aretha terlihat kumel. Baju dan rok yang dikenakannya sedikit basah. Pria itu sedikit mengerjap melihat Aretha. Namun, tetap memasang ekspresi datar seolah merasa tak berdosa.
Pria itu tersenyum getir, "Anda sangat lucu, Nona!" ledek pria itu. "Lempar batu sembunyi tangan!" ketusnya sembari memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Aretha sedikit membuka mulutnya, kemudian ditutupnya kembali sesaat.
"Kamu??" ucapnya seraya mengepalkan kedua telapak tangannya kesal.
Pria itu membalikkan badannya kembali dan akan berlalu pergi. Namun, lagi-lagi Aretha menahannya.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus tanggung jawab!!!"
Aretha semakin naik pitam. Akantetapi, pria itu tak menggubris sama sekali, seolah tidak tidak peduli. Ia berlalu pergi masuk kedalam mobil. Kali ini Aretha tidak bisa menahan langkah pria itu lagi. Pria itu telah sukses membuat Aretha murka. Berulang kali Aretha mengumpat pria tersebut dengan geram.
"Arrrgh!!!" Aretha mengerang frustasi seraya menghentakkan kakinya dengan geram.
Karena tidak mungkin ia ke kantor dengan keadaan kotor dan kumel, Aretha segera menghentikan taxi yang melintas dihadapannya, berniat kembali kerumahnya untuk berganti baju, meskipun ia tahu akan terlambat datang ke kantor tempatnya magang. Namun, apa boleh buat, hanya itu satu-satunya pilihan.
----------
Jangan lupa like and comment ya ...!
Silahkan vote juga jika berkenan. 😍😍
thanks. 😘😘😘
Happy Reading ...!😊😊
To be Continue ➡️