Possessive Love

Possessive Love
Body Gitar Spanyol



Di depan sebuah gedung perkantoran, sebuah mobil mewah terparkir di sana. Tampak sebuah kaki jenjang yang putih mulus beralasakan high heels mengkilap berwarna hitam yang turun dari mobil tersebut. Ya, ia adalah Aretha.


Pagi itu, Aretha sudah berada di depan halaman kantor tempat ia bekerja sebagai pejabat tertinggi di perusahaan tersebut. Wanita itu tampak berlenggak-lenggok menuju lobi kantor tersebut dengan sebuah tas berwarna navy yang senada dengan pakaiannya, tampak disampirkan di lengan kirinya.


Penampilan wanita itu yang menunjukkan standar wanita karier tampak menajdi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya. Dan memang selalu seperti itu. Bukan hanya kaum adam, melainkan kaum hawa juga. Bahkan, kecantikan sering sekali membuat orang tertipu, karena memang wajahnya terlihat lebih muda dari usianya, sehingga tak jarang yang menganggapnya belum menikah dan memiliki anak.


Sesekali wanita itu juga menjadi trending topic para pegawai di kantornya. Tak jarang mereka mengatakan keberuntungan atas David yang memiliki istri sepertinya. Sudah cantik, baik, menarik pula. Kurang apa lagi? Dan, tak jarang juga mereka menjuluki Aretha dan David itu sebagai pasanag paling hits.


Memang benar. Keduanya sama-sama good looking dan memiliki karier yang sangat cemerlang. Soal materi, jangan ditanya. Apa sih yang tidak mereka miliki? Sungguh itu membuat semua orang yang melihatnya merasa iri.


Aretha terus melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya dengan senyum ramah dan semringah yang selalu ia tebar ke seluruh penjuru ruangan.


"Selamat pagi, Bu," sapa beberapa karyawan kantor yang tengah berjalan berpapasan dengannya.


"Selamat pagi," sapa balik Aretha tanpa menghentikan langkahnya menuju ruangannya.


Berbeda dengan dua karyawan berjenis kelamain laki-laki muda yang tadi sempat menyapa Aretha. Melihat penampilan Aretha yang selalu memesona membuat kedua pria itu terpana dan merasa rugi jika melewatkan pemandangan yang begitu indah di depan mata.


"Gila ... bos kita itu memang paling cantik se-Ibukota," ujar salah satu pria bernama Ferdy yang kala itu masih menatap punggung Aretha dari kejauhan.


"Betul banget. Lihat saja body-nya, beuuuuuh kayak gitar spanyol, Bro," timpal salah satunya yang bernama Igor sembari memainkan tangannya membuat bentuk body gitar spanyol yang diarahkan ke tubuh Aretha yang tentu sudah jauh dari jangkauannya. Jika jarak mereka berdekatan, mana mungkin berani mereka memuji atasannya seperti itu.


"Ehem!" Seketika suara dehaman seseorang membuat mereka tersentak, lalu menoleh ke belakang. Mereka tampak terlonjak dengan mata yang terbelalak, ketika menyadari sosok tidak asing bagi mereka, tengah berdiri tepat di depannya.


"Siapa yang body-nya seperti gitar spanyol?" tanya pria itu yang tak lain adalah David Wijaya—suami dari pimpinan perusahaan tersebut. Entah bagaimana ceritanya David bisa tiba-tiba berada di sana.


"Ma-maaf, Pak. Kami tidak bermaksud seperti itu," ucap keduanya berbarengan sembari mengatupkan kedua telapak tangan mereka masing-masing, sebagai tanda penyesalan mereka karena sudah berkata tidak senonoh terhadap atasannya, meski hanya di belakang.


David tampak menatap tidak suka kedua pria itu. Bagaimana tidak? Mereka membicarakan bentuk fisik istrinya di belakang, dan itu sangat membuatnya murka. Istrinya memang cantik dan menarik, tetap sungguh ia tidak rela jika itu menjadi konsumsi publik. Apapun alasannya, hanya dirinya yang boleh menikmati itu.


"Kami mohon, maafkan kami. Kami tidak bermaksud apa-apa. Kami hanya kagum saja terhadap beliau, tidak lebih," ucap Ferdy yang merasa takut jika perbuatannya akan mengancam nasibnya di perusahaan tersebut.


David tersenyum getir. "Jangan pernah ulangi, jika kalian masih ingin bekerja di sini!" tegas David memberi sedikit ancaman, sontak membuat kedua karyawan itu semakin gugup dan kikuk. Tidak ada yang bisa mereka katakan di depan David selain meminta maaf.


"Baik, Pak. Kami tidak akan mengulanginya lagi," jawab keduanya.


Tanpa menanggapi lagi kedua karyawan istrinya itu, David segera berlalu dari hadapan mereka, berjalan menuju ruangan sang istri.


"Dasar karyawan tidak tahu sopan santun! Bisa-bisanya mereka memerhatikan body istriku. Apakah mereka tidak tahu kalau atasannya itu sudah memiliki suami? Awas saja kalau sekali lagi aku melihat kejadian seperti ini, kuganti semua karyawan pria di sini dengan karyawan wanita. Memang susah kalau punya istri cantik. Menyebalkan sekali!" gerutu David di sepanjang perjalanan menuju ruangan Aretha. Bahkan, ia sampai tidak menyadari beberapa karyawan yang menyapanya, sehingga membuat mereka merasa bingung karena menyaksikan ekspresi murka dari seorang David Wijaya.


Setelah tiba di depan ruangan Aretha, David mengetuknya terlebih dahulu, lalu masuk setelah sang empunya mengizinkan.


"Lho, Mas?" Aretha tampak bangkit dari tempat duduknya disertai tatapan heran, ketika menyadari David yang masuk ke dalam ruangannya.


Bukankah tadi suaminya langsung pergi setelah mengantarnya, lalu kenapa tiba-tiba masih berada di sini? Pikirnya.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu masih di sini?" tanya Aretha penasaran. Lebih penasaran lagi, ketika ia melihat ekspresi kecut suaminya.


Kelakuan kedua karyawan Aretha benar-benar sudah merusak mood pria itu.


"Kenapa? Kamu keberatan aku berada di sini?" tanya David sedikit ketus.


"Lho, kamu kenapa sih, Mas? Bukan begitu maksudku. Aku hanya heran saja, kenapa tiba-tiba kamu berada di sini? Bukankah tadi kamu sudah pergi?" jelas Aretha.


Apa yang sudah terjadi, kenapa dia tampak begitu marah? Ah, pasti ada sesuatu yang menbuatnya seperti itu.


"Berkasmu ketinggalan di mobil," ucap David seraya meletakkan berkas milik Aretha di mejanya.


Aretha tampak menurunkan pandangannya ke arah berkas itu sejenak, lalu mendongak kembali menatap wajah kecut suaminya.


"Ya ampun, aku lupa. Terima kasih, Mas," ucapnya dengan perasaan masih heran dengan sikap David.


"Aku pergi dulu," ketus David yang langsung membalikkan tubuhnya, berniat segera pergi dari tempat itu.


"Lho, lho, lho, tunggu dulu, Mas!" Aretha tampak menghampiri suaminya, lalu menarik lengan David seraya ingin menahannya untuk tetap tinggal sejenak, sekadar memberinya penjelasan.


"Kamu kenapa sih, Mas? Ekspresinya kecut sekali, ada yang salah denganku?" tanya Aretha penuh selidik.


David menghela napas panjang. "Aku 'kan sudah pernah bilang, Ubahlah cara penampilanmu, biar tubuhmu tidak menjadi konsumsi publik pria tidak punya attitude di luaran sana. Kamu ini kenapa sih, tidak mau mendengar perkataanku?" geram David yang sungguh tidak dengan mudah dipahami oleh Aretha. Memanngnya siapa yang sudah menjadikan penampilannya sebagai konsumsi publik? Pikirnya.


"Maksud kamu apa, sih? Aku sudah berusaha merubah penampilanku, lho. Lihat! Aku pakai rok yang panjangnya melebihi lutut. Aku juga memakai pakaian yang ... kamu lihat sendiri. Apa ini terlihat seksi?" kesal Aretha seraya menuntun suaminya untuk memerhatikan penampilannya saat itu.


"Tapi buktinya, pandangan mereka masih menikmati tubuh kamu itu, lho. Aku tidak suka!" geram David. "Aku tidak mau ya melihat itu lagi. Meski mata mereka hanya menikmati kaki atau lehermu, aku tetap tidak rela!" imbuhnya tegas.


"Mereka siapa yang kamu maksud, Mas?" tanya Aretha semakin bingung.


"Siapa lagi kalau bukan karyawan kamu yang tidak punya sopan santun itu? Apapun alasannya, pokoknya aku mau kamu ubah lagi penampilan kamu sampai mereka tidak berani berkata tidak senonoh tentang tubuhmu itu!" tegas David.


"Mas—"


"Awas saja kalau sampai itu terjadi lagi, kuganti semua karyawan di sini dengan wanita!" imbuh David semakin meradang yang sontak membuat Aretha sedikit ingin tertawa. Namun, ia berusaha menahannya dan hanya mengulum senyumnya.


"Mas, ini kantor lho, bukan asrama," desis Aretha yang langsung mendapat tatapat menusuk dari suaminya itu.


"Masa bodoh dengan itu!" tukas David tidak peduli. "Enak sekali mereka bisa menikmati tubuh istriku sebebas itu," batinnya melanjutkan.


***


Pulang dari kantor, seperti biasa David menjemput kembali istrinya. Hal yang tidak ingin ia lewatkan begitu saja, karena kebetulan kantor mereka yang tempatnya juga tidak terlalu jauh.


Sore itu, mereka telah berada di dalam mobil. David segera melajukan mobilnya membelah jalan raya di bawah cuaca yang terlihat cukup cerah di sore itu.


"Mas, kita mampir dulu ke toko buku, ya," ucap Aretha di tengah-tengah perjalanan mereka.


"hmm," jawab David dengan malas.


Ada yang berbeda dari raut wajah pria itu. Nampaknya, kejadian tadi pagi masih saja belum mengembalikan mood-nya yang sempat berantakan karena dua karyawan istrinya.


Sikapnya yang terlihat lebih banyak diam membuat Aretha bingung harus berbuat apa.


"Mas, kamu masih kesal soal kejadian tadi pagi?" tanya Aretha lirih.


"Menurutmu?" David bertanya balik tanpa memalingkan pandangannya dari arah kemudi.


Aretha menghela napas pendek. "Yang membuat ulah mereka lho, Mas, bukan aku?" tanyanya.


"Menurutmu?" ucapnya dengan jawaban yang sama.


"Ya sudah dong, Mas ... jangan marah terus, aku tidak suka lho, melihat kamu diam terus seperti itu," pinta Aretha.


"Menurutmu?"


"Kamu itu dari tadi menurutmu, menurutmu terus, apa kamu tidak memiliki koleksi jawaban lain, selain 'menurutmu'?" protes Aretha dengan nada kesalnya.


David menoleh ke sampaing, menatap sejenak istrinya. "Ayo turun, sudah sampai di toko buku," titahnya.


Tanpa Aretha sadari, David telah menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko buku ternama di Ibukota.


Aretha tampak mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil, lalu dengan sigap membuka pintu mobil itu.


"Aku tunggu di mobil, ya," ucap Aretha yang membuat sang istri menoleh sejenak, tetapi tak berkomentar apapun. Nampaknya, perbincangan singkat dengan suaminya telah membuatnya merasa sedikit kesal.


Aretha segera turun dari mobilnya, tanpa menghiraukan David sama sekali. David yang menyadarinya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Aretha tampak mengelilingi beberapa rak buku yang berada di toko buku tersebut. Ia mencari beberapa buku menarik tentang dunia bisnis dan juga beberapa buku novel terbaru yang best seller dan best quality tentunya.


Meski sudah memiliki dua anak dan disibukkan dengan pekerjaan di kantor, wanita itu masih saja selalu menyempatkan waktu untuk menyalurkan hobinya membaca buku. Maka dari itu, sampai detik ini ia masih suka membaca buku dan tak pernah bosan melakukan itu.


Seketika mata Aretha tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang berjudul Zero to One, karya dari Peter Thiel—pebisnis dan investor ternama dari Silicon Valley. Namun, baru saja ia hendak meraih buku tersebut, tiba-tiba sebuah tangan kekar telah lebih dulu mengambilnya.


Sosok pria asing yang berdiri di sampingnya sembari memegang buku itu tampak menoleh ke arah Aretha. Pun sebaliknya.


Seketika pria yang usianya kira-kira tidak jauh dengan David itu tampak tertegun memandang wajah Aretha, seakan terhipnotis oleh wajah cantik wanita itu dalam hitungan detik. Namun, tak berlangsung lama, ia segera sadar kembali dari lamunannya.


"Kamu butuh buku ini?" tanya pria itu.


Aretha melebarkan senyumnya, berusaha bersikap ramah terhadap sosok asing itu. "Saya memang butuh buku itu, tetapi Mas telah lebih dulu mendapatkannya," jawab Aretha.


Pria asing itu tampak mengambil buku tersebut, lalu menyodorkannya kepada Aretha. "Kalau kamu butuh, silakan ambil," ujarnya.


"Oh, terima kasih, tetapi itu hak Mas. Jadi, silakan ambil saja," jawab Aretha menolak. Walau bagaimana pun ia tahu bagaimana aturan 'Siapa Cepat Dia Dapat', apalagi dalam hal seperti itu.


"Ladies first ...," ujar pria asing itu seraya menatap Aretha dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya, seolah masih berusaha membujuk Aretha agar mengambil bukunya.


Lagi-lagi Aretha tersenyum. "Baiklah," ucapnya seraya akan meraih buku itu dari tangan pria asing di hadapannya. Namun, seketika ia mengurungkan niatnya, lalu menarik kembali tangannya, sebelum berhasil mengambil buku itu. "Tidak, ladies first tidak berlaku dalam hal ini. Jadi, silakan Mas ambil saja," imbuhnya menolak.


"Lho, tidak apa-apa, saya bisa cari buku yang lain. Ini kamu ambil saja," jawab pria itu.


Aretha terdiam sejenak seraya berpikir. "Baiklah, saya ambil. Terima kasih, Mas," balasnya seraya meraih buku itu dari tangan pria asing tersebut.


"Sama-sama."


"Kalau begitu, saya pamit dulu. Sekali lagi, terima kasih," pamit Aretha sembari menyunggingkan senyum simpulnya.


"Baik, silakan," tutur pria itu.


Aretha segera beranjak dari hadapan pria itu. Setelah ia mendapatkan beberapa buku yang ia inginkan dan butuhkan, wanita itu segera membayarnya di kasir, lalu segera menghampiri suaminya yang masih menunggu di dalam mobil.


"Lama sekali?" tanya David, katika Aretha baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.


"Iya, aku beli beberapa buku soalnya, jadi agak lama pilih-pilihnya," jawab Aretha yang tidak mendapat tanggapan lagi dari suaminya.


Pria itu segera menyalakan mesin, lalu melajukan mobilnya kembali, melanjutkan perjalanan pulang mereka.