
Di kediaman Grissham.
Pagi itu, tampak keluarga besar Grissham tengah berkumpul, melakukan kegiatan sarapan di ruang makan. Ya, selain Anton dan Carmila, masih ada keluarga lainnya yang tak bukan adalah nenek dan juga keluarga pamannya Aretha.
Setelah kejadian pembatalan pernikahan itu, mereka memang tidak langsung pulang ke kotanya. Nampaknya gagalnya pernikahan Aretha dan David membuat mereka kecewa berat, hingga mereka tak henti-hentinya menggerutu kesal karena ulah David yang dianggapnya semena-mena, terlebih lagi Larasati, nenek dari Aretha.
"Ibu malu sekali! Ibu tak habis pikir calon menantu kalian bisa berbuat seenaknya, tanpa berkompromi terlebih dahulu soal ini," gerutu oma Larasati.
Meski Anton sudah berulang kali memberikan penjelasan kepada sang ibu, tetap saja Larasati seolah masih belum memahaminya. Lebih tepatnya, ia tak kuat menanggung rasa malu. Akibat perbuatan David, nama baik keluarganya seketika tercemar begitu saja.
"Sudahlah, Bu ... mungkin karena David sedang panik," jelas Anton seraya kembali memberikan pengertian. "Yang terpenting, dia kan memiliki alasan yang kuat, Bu," imbuhnya lirih.
Dari semalam Anton memang sudah memahami situasinya seperti apa, ketika Kris berulang kali meminta maaf atas kesalahan David, terlebih lagi rekan bisnisnya itu menjelaskan alasan David melakukan itu.
Rasa kecewa pasti ada, tetapi ia cukup memiliki hati dan rasa iba untuk mengerti situasi David saat itu. Sebab, itu akan menjadi pilihan terberat baginya. Walau bagaimana pun, selain cinta, sahabat juga sangat penting, terlebih lagi Richard yang sudah rela mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan David.
"Tetap saja, Anton ... itu tidak sopan namanya! Dimana tata krama dia sebagai seorang magister yang katanya lulusan luar negeri itu? Apa selama menjalankan pendidikan, dia tidak pernah diajarkan tata krama?" bantah Larasati seolah tidak mengindahkan perkataan Anton.
"Saya yakin bukan seperti itu, Bu! Saya tahu betul hubungan mereka seperti apa, terlebih lagi Richard adalah mantan Aretha yang memang selama ini masih mengharapkan Aretha bisa kembali kepadanya. Sudah sewajarnya David menunda pernikahannya. Saya yakin dia hanya butuh waktu agar keadaannya kembali membaik, dan mereka bisa menikah dengan tenang, tanpa menyakiti perasaan siapapun, termasuk Richard. Itu yang kira-kira saya tangkap, Bu," jelas Anton panjang lebar. Ia masih mencoba membela David.
Sementara yang lain hanya diam tak menanggapi, tetapi pandangan dan pendengaran mereka fokus dengan perdebatan sengit antara ibu dan anak itu.
"Tetap saja dia sudah bikin malu keluarga kita!" ketus Larasati masih menyangkal.
Seketika Anton menghela nafas panjang, lalu menghentikan makannya beberapa saat.
"Kalau saja David tahu dari awal tentang penyakit Richard, mungkin dia juga tidak akan berusaha mendapatkan Aretha. Mungkin dia justru akan berusaha agar Aretha kembali dengan Richard, tetapi masalahnya kan dia tidak tahu apa-apa soal ini, sehingga ketika dia mendengar kabar itu, saya yakin dia panik, bingung harus berbuat apa. Sebab, keduanya sangat penting baginya. Saya rasa kita juga akan merasakan, atau bahkan melakukan hal yang sama, ketika kita berada pada posisi deperti itu," terang Anton.
Larasati tampak hanya diam tak menanggapi, seolah ia sedikit memahami penjelasan yang disampaikan oleh putra sulungnya.
"Sudahlah, Bu ... jangan salahkan David terus, adapun Ibu malu, malu dengan siapa? Bukankah kita hanya mengundang keluarga besar saja, Bu, tidak ada orang lain," imbuh Anton seolah ingin mengakhiri pembahasan itu.
"Iya, Bu ... sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mungkin yang dikatakan mas Anton ada benarnya juga," timpal Arman yang mulai menanggapi, meski sebenarnya ia juga merasa kecewa.
Seketika fokus mereka teralihkan, ketika terdengar suara bunyi handphone milik Anton yang tergeletak di atas meja makan, tepat di sampingnya.
Anton segera meraih handphone itu, lalu menempelkan ke telinganya.
"Hallo," sapa Anton.
***
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit.
Dengan masih memakai seragam pasien, David keluar dari kamar rawatnya, tanpa melepaskan ponsel dari genggamannya.
Pria itu tampak mengelilingi rumah sakit itu untuk mencari Aretha. Dia sudah mendatangi lobi rumah sakit, memperhatikan setiap kerumunan pengunjung rumah sakit itu, tetapi ia tidak menemukan Aretha.
Seketika pria itu kembali menyesali perbuatannya. Andai saja ia tidak langsung mengambil keputusan secepat itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Andai saja ia tidak meminta Aretha untuk menikah dengan Richard yang seolah-olah dirinya sudah tak lagi membutuhkan gadis itu, mungkin Aretha tidak akan sekecewa itu terhadapnya, hingga ia lebih memilih untuk pergi darinya.
Ah, sayangnya nasi yang sudah berubah menjadi bubur, nampaknya tidak bisa berubah kembali menjadi nasi seperti sedia kala.
"Argh! Sudah kucari kemana-mana, tetapi dia tidak ada!" kesal David, setelah mencari Aretha ke sekeliling rumah sakit.
Pria itu semakin frustasi dibuatnya. Ia tampak berkacak pinggang di tengah-tengah koridor rumah sakit yang menghubungkan ke ruangan ICU. Koridor itu tampak sepi sehingga membuat David bisa lebih berekspresi di sana.
"Apa mungkin dia pulang?" ucapnya seraya berpikir.
Tanpa berpikir panjang lagi, David segera menghubungi nomor telepon papinya Aretha. Namun, lagi-lagi ia kecewa, ketika Anton memberi kabar bahwa Aretha masih belum ada di rumahnya.
Setelah beberapa saat, David kembali teringat dengan Rendy. Pria itu pun segera menghubungi sahabatnya yang mungkin saja masih berada di rumah sakit itu.
"Ren, lo dimana?" tanya David seraya menempelkan benda pipih itu di telinganya, setelah saluran telepon telah terhubung dengan kontak Rendy.
"Gue masih di rumah sakit, ini masih di ruangan Richard. Bagaimana keadaan lo, sudah membaik, Dave?" suara di seberang sana tampak menanggapi.
"Gue baik-baik, saja. Kebetulan sekali lo masih di sini. Apa lo lihat Aretha pagi ini?" tanya David penasaran. Ia harap Rendy sudah bertemu dengan gadis itu.
"Tidak! Gue belum bertemu dengan Aretha. Kenapa? Ada apa dengan dia? Bukankah semalam dia bersama lo?"
"Iya, tetapi tadi pagi tiba-tiba dia menghilang, Bro," lirih David menjelaskan.
"Hilang? Hilang bagaimana maksudnya?" Nada bicara Rendy terdengar heran.
David pun mulai menceritakan tentang isi surat yang ditinggalkan oleh Aretha di ruangan rawatnya. Tak lupa, ia juga menceritakan tentang ia yang meminta Aretha untuk menikah dengan Richard yang langsung mendapat umpatan dari sahabatnya itu.
"Dasar bodoh!" umpat Rendy, setelah ia mendengarkan penjelasan dari David. "Jelas saja Aretha marah. Dia kecewa karena merasa dipermainkan. Gue tidak habis pikir kalau lo sebodoh itu. Setidaknya, lo kan bisa jelaskan terlebih dahulu, sebelum langsung mengambil keputusan," imbuhnya kesal.
"Gue tahu, gue salah, tetapi lo mengerti kan alasan gue?" balas David.
"Ya, gue paham," jawab Rendy. "Tapi, bukan berarti lo enggak salah," lanjutnya.
______________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING!
TBC