
"Ra, ayo makan!" titah Aretha yang sedikit membuat Diandra tersentak.
Lagi-lagi Diandra hanya diam menatap Aretha.
"Ayo!" Aretha sudah mode memaksa, sehingga membuat Diandra tidak bisa lagi menolaknya.
Dengan bibir gemetar, Diandra terpaksa menerima satu sendok suapan bubur yang Aretha berikan untuknya. Seketika ia membuang muka, seolah ingin menyembunyikan ekspresinya saat itu. Meski tanpa Diandra mengalihkan pun, Aretha sudah tahu dan bisa menangkap arti dari gemetarnya itu.
Ya, tentu saja Aretha tahu bahwa Diandra tengah berusaha menahan tangisnya. Bahkan, ia juga tahu apa penyebab dari kesedihan Diandra, meski tanpa Diandra bercerita kepadanya. Namun, ia masih belum ingin berkomentar. Mungkin nanti, ketika waktunya sudah tepat, ia pasti akan menanyakan lebih lanjut perihal yang membuat Diandra sedih.
Aretha melakukan kegiatan menyuapi Diandra dengan berulang kali hingga Diandra nyaris menghabiskan satu mangkuk bubur itu, meski sebelumnya ia mengatakan bahwa perutnya belum lapar.
Tidak lupa, Aretha mengajak Diandra mengobrol dan bercanda di tengah-tengah kegiatannya itu, berharap caranya itu dapat mengalihkan kesedihan yang tengah Diandra rasakan saat itu.
Aretha memberikan suapan terakhir kepada Diandra. Namun, Diandra tampak menggelengkan kepala karena merasa sudah sangat kenyang. Namun, Aretha tetap memaksa, seperti sebelumnya Diandra meminta untuk mengakhiri. Alhasil, Aretha berhasil membujuk Diandra agar menghabiskan semua bubur itu.
Aretha tampak menyimpan kembali mangkuk bekas bubur itu ke tempat semula, lalu meraih gelas berisi air putih yang ada di atas nakas. Aretha memberikan gelas itu kepada Diandra.
Setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol santai. Akhirnya Aretha mengetahui bahwa Diandra terserang penyakit tifus, sehingga mengharuskannya untuk diopname di rumah sakit.
Mereka terdiam beberapa saat. Namun, seketika Aretha mulai membuka suara untuk membahas hal yang lebih serius.
"Ra, boleh tanya sesuatu?" tanya Aretha sedikit canggung.
"Hn? Apa?" Diandra tampak tertegun sejenak.
Aretha menghela napas pendek, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Orangtua lo sudah tahu kalau lo sakit?" tanyanya penasaran.
Ya, walau bagaimana pun mereka adalah orangtua Diandra. Jadi, sudah sewajarnya mereka tahu tentang kondisi Diandra saat itu. Aretha pikir ia perlu tahu apakah Diandra sudah memeberi tahu kedua orangtuanya atau belum.
Diandra terdiam sejenak. Ia tampak menundukkan kepalanya, seolah ada yang tengah ia pikirkan saat itu. Ya, tentu saja itu benar. Namun, ia merasa bingung harus menyampaikannya kepada Aretha, meski ia sudah terbiasa bercerita kepada sahabatnya itu. Namun, rasanya untuk masalah itu, ia sudah malas untuk menceritakannya kembali kepada Aretha yang sudah sering mendengarnya.
"Ra, lo masih anggap gue sahabat lo, kan?" tanya Aretha seraya menatap dalam wajah Diandra, sehingga membuat sahabatnya itu mendongak kembali.
"Belum. Gue belum memberi tahu mereka," jawab Diandra datar.
"Kenapa?" tanya Aretha ingin tahu alasannya, meski ia sudah dapat menebak jawaban yang akan Diandra berikan untuk pertanyaannya.
"Untuk apa? Gue rasa kondisi gue saat ini tidak begitu penting untuk mereka," jawab Diandra.
"Hus! Nggak boleh punya pikiran seperti itu!"
Aretha berusaha menasihati sahabatnya itu. Walau bagaimana pun mereka adalah kedua orangtuanya. Sesibuk apapun orangtua Diandra, Aretha yakin mereka akan selalu mengkhawatirkan putrinya yang jauh dari samping mereka. Terlebih ketika mereka tahu bahwa sang putri tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.
"Lo coba kasih tahu mereka deh, Ra!" titah Aretha memberi saran.
"Nggak!" tolak Diandra.
"Kalau memang mereka peduli sama gue, harusnya mereka hubungi gue setiap hari dong, Re. Lah, ini mana? Sudah satu minggu mereka nggak ada sama sekali nanyain kabar gue," keluh Diandra.
"Mungkin mereka sibuk, Ra," ujar Aretha berusaha menenangkan pikiran Diandra.
Seperti itulah yang selalu Aretha lakukan, ketika sahabatnya itu bercerita tentang kegundahan dan kekesalan yang tengah dihadapinya. Namun, Aretha selalu saja berusaha agar Diandra tidak pernah memiliki pikiran buruk terhadap orangtuanya. Sampai detik ini, Aretha masih percaya bahwa tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya, kecuali jika bukan darah dagingnya sendiri. Itulah yang selalu ia tekankan kepada Diandra.
Aretha percaya bahwa kedua orangtua Diandra sangat menyayangi putrinya. Ia juga percaya bahwa kedua orangtua Diandra juga memiliki alasan yang kuat kenapa memilih tinggal di luar Negeri. Pasti bukan karena mereka tidak menyayangi putri mereka, melainkan karena memang ada alasan lain yang memang hanya bisa dipahami oleh mereka bedua.
"Handphone lo mana?" tanya Aretha seraya menengadahkan telapak tangannya.
"Buat apa?" tanya Diandra penasaran.
"Sini," pinta Aretha masih dengan posisi tangan yang sama.
"Buat apa, sih?" Diandra semakin penasaran dibuatnya.
"Lo nurut saja," jawab Aretha.
Dengan perasaan ragu, Diandra pun mengambil ponselnya dari atas nakas, lalu memberikannya kepada Aretha.
"Jangan macam-macam!" tegas Diandra mengancam.
Aretha tak menanggapi. Ia langsung memfokuskan pandangan ke layar ponsel, lalu mulai mencari kontak orangtua Diandra. Setelah ia menemukannya, ia segera menekan tombol panggilan suara.
Aretha menempelkan ponsel itu di telinganya, menunggu panggilan itu terjawab. Namun, hasilnya nihil. Tidak menyerah sampai di situ. Aretha.terus berusaha hingga nomor telepon yang dituju menerima panggilan darinya.
Diandra yang sedari tadi menyadarinya, la tampak mengernyitkan dahinya merasa heran, entah siapa yang akan dihubungi oleh sahabatnya itu.
"Re, lo telepon siapa, sih?" tanya Diandra ingin tahu.
"Halo, Tante ... ini saya Aretha," sapa Aretha, ketika panggilan suaranya baru saja mendapat jawaban dari nomor tujuan.
Ya, Aretha memang sengaja ingin memberi tahu orangtua Diandra terkait kondisi putrinya saat itu.
Diandra yang menyadarinya tampak mengusap kasar wajahnya menggunakan sebelah telapak tangannya.
Ya ampun, Re ... kenapa telepon mami gue, sih?
"Halo, Nak Rere. Ada apa? Diandra kemana? Kenapa kamu yang telepon tante?" cerocos Melanie yang tak lain adalah maminya Diandra di seberang sana.
"Iya, Tante. Maaf sebelumnya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Diandra sekarang ini sedang dirawat di rumah sakit, Tan," jelas Aretha memberi tahu.
"Apa?" Melanie terdengar sangat kaget mendapat kabar buruk itu. "Sakit apa? Sejak kapan? Mana Diandranya, tante ingin berbicara!" imbuhnya sedikit heboh.
Aretha tampak berbisik kepada Diandra dan menyampaikan bahwa maminya ingin berbicara denganya. Namun, Diandra tampak malas, entah karena apa, sehingga wanita itu terlihat malas sekali jika harus berbicara dengan orangtuanya.
Diandra hanya memberikan kode untuk meminta Aretha menyampaikan kepada maminya bahwa ia sedang tidur. Aretha pun tak bisa memaksa sahabatnya itu. Ia hanya bisa menurut. Baginya, dengan orangtua Diandra yang mengetahui bagaimana kondisi putrinya, itu sudah jauh lebih cukup.
"Dari kemari, Tante. Diandra sakit tifus. Maaf, sekarang Diandrana sedang istirahat, mungkin tante bisa menghubunginya kembali nanti," terang Aretha.
"Nak, sepertinya tante tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini. Tante boleh minta tolong sesuatu?" tanya Melanie.
"Tante titip Diandra ya ... dia 'kan dekat dengan kamu, Nak. Tante bingung harus minta tolong kepada siapa lagi, selain padamu," ucap Melanie sedikit memberi jeda. "Tolong kamu jaga Diandra, bisa 'kan, Nak,?" imbuhnya memohon.
"Dengan senang hati, Tante," ucap Aretha menyetujui. Tanpa dipinta pun ia pasti akan menjaga sahabatnya itu. "Baiklah, Tante. Saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Soal kondisi Diandra saat ini, Tante tidak perlu khawatir, saya pasti akan membantu menjaganya," imbuhnya kemudian.
Aretha segera mengakhiri obrolan dengan maminya Diandra. Ia memberikan ponsel itu kembali kepada sang empunya.
"Lo lihat sendiri 'kan bagaimana mami gue?" ucap Diandra dengan sedikit kesal.
"Sudahlah, dia sangat khawatir sama lo. Mana mungkin ada orangtua yang tidak khawatir ketika tahu putrinya sakit," balas Aretha masih berusaha mengingatkan Diandra.
"Lo nggak tahu bagaimana mereka ke gue, Re. Mereka tidak seperti orangtua lo yang perhatian, ketika anaknya membutuhkan pelukan hangat. Mereka bukan orangtua yang langsung datang, ketika mendengar anaknya sakit, dan—"
"Stop, Ra! Gue yakin mereka sayang sama lo, sama halnya kedua orangtua gue yang menyayangi gue sebagai anaknya," sela Aretha membantah semua ucapan sahabatnya itu.
Seketika airmata Diandra luruh. Ia benar-benar sudah tidak bisa membendung air mata yang sudah sedari tadi ia tahan.
"Gue kangen sama mereka, Re," lirih Diandra terisak.
Tentu saja itu meluluhkan hati dan jiwa Aretha sebagai sahabatnya. Dengan sigap ia merengkuh tubuh Diandra, lalu membiarkan sahabatnya itu menangis di dalam pelukannya.
"Gue tahu perasaan lo, Ra. Lo yang sabar, semua pasti kembali seperti sebelumnya. Mungkin sekarang memang belum waktunya mereka untuk pulang, tetapi lo percaya sama gue, cepat atau lambat mereka pasti kembali," balas Aretha berusaha menenangkan dengan memberi usapan lembut di punggung Diandra.
Diandra tampak merenggangkan pelukannya, lalu memandang Aretha dengan tatapan sendu.
"Lo tahu?" Diandra sedikit memberi jeda akan ucapannya. "Dulu, orangtua gue yang memaksa agar gue bisa ikut mereka tinggal di Belanda, tetapi sekarang? Bahkan, sekadar untuk melepas kangen pun, gue dilarang untuk menemui mereka, apa segitu tidak pedulinya mereka sama gue, Re?" imbuhnya seraya mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya.
Ya, setelah Diandra mengungkapkan keinginannya untuk tinggal bersama kedua orangtuanya beberapa bulan yang lalu, kedua orangtua wanita itu justru malah melarangnya untuk menemui mereka, entah apa alasannya, ia pun tidak tahu pasti. Hanya saja itu membuatnya bertanya-tanya.
"Bahkan, sekadar ingin mendengar suara mereka pun rasanya susah sekali. Mereka sudah jarang menghubungi gue, seolah tidak ingin tahu bagaimana kabar gue di sini." Diandra semakin terisak, ketika ia mengingat semua hal yang membuatnya sedih.
Sementara Aretha, sebagai seorang sahabat ia sangat peduli dengan apa yang dirasakan oleh Diandra saat itu. Maka dari itu, ia tidak ingin jika Diandra merasa sendiri, tanpa memiliki siapapu.
Itulah hal yang membuat Aretha susah tidur semalam. Benar saja, ternyata Diandra butuh sosok yang bisa menemaninya, dan itulah saatnya Aretha memposisikan dirinya sebagai seseorang yang dibutuhkan oleh Diandra saat itu, selain sebagai sahabat, juga sebagai keluarga bagi Diandra.
"Ra ...."
"Lo bayangin ketika lo berada di posisi gue! Lo juga pasti akan merasakan hal yang sama, kan?" potong Diandra.
"Gue tahu. Gue paham betul apa yang lo maksud. Tapi ingat! Sekarang lo lagi sakit, gue minta lo jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang dapat membuat kondisi lo semakin memburuk. Ingat, di sini ada gue, lo nggak sendirian, ada Tania, ada Deasy juga, kita siap menjadi bagian dari hidup lo. Lo bisa cerita ke kita kapanpun yang lo mau, lo bisa anggap kita sebagai keluarga, bukan cuma sebagai sahabat. Lo percaya 'kan sama gue?" jelas Aretha panjang lebar. Ia menatap Diandra penuh keseriusan dan keyakinan.
Diandra terdiam beberapa saat di tengah isak tangisnya. Namun, pada akhirnya ia juga memahami apa yang dimaksud oleh Aretha. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Aretha, Tania dan Deasy yang selalu ada untuknya.
"Thanks, Re. Kalian memang yang terbaik buat gue," ujar Diandra.
Aretha segera memeluk kembali sahabatnya itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga ikut merasakan sakit yang begitu mendalam, melihat sahabatnya bersedih dan menangis seperti itu.
***
Seharian Aretha menunggu di rumah sakit. Sore harinya tampak Tania yang datang kembali menjenguk Diandra. Namun, kali ini ia datang bersama Deasy.
Tepat sekali.
Disaat Aretha sudah waktunya pulang, tiba-tiba mereka datang. Setidaknya ada yang menggantikan posisi Aretha untuk berjaga dan menemani Diandra, karena tidak mungkin jika Aretha yang harus stay di sana, mengingat David yang tidak akan mungkin memberikan izin kepadanya untuk berlama-lama menunggu Diandra, terlebih lagi jika sampai menginap di rumah sakit.
"Lo dari tadi, Re?" tanya Deasy, setelah ia menanyakan kondisi Diandra kepada orangnya langsung.
"Syukurlah kalian ke sini. Gue dari pagi di sini, sepertinya gue tidak akan bisa menemani sampai malam, lo tahu sendiri 'kan suami gue? Gue harap kalian bisa menemani Diandra malam ini," terang Aretha.
"Tentu saja gue sama Tania akan menemani Diandra di sini, lo tidak perlu khawatir," jawab Deasy yang sudah tahu pasti bagaimana kekhawatiran Aretha terhadap Diandra.
"Thanks ya. Gue beruntung bisa memiliki sahabat seperti kalian," balas Aretha dengan mata sedikit berkaca-kaca, karena merasakan terharu yang begitu mendalam.
"Gue yang lebih beruntung di sini. Siapa sih gue? Bahkan tidak ada yang lebih mempedulikan gue, selain kalian. Thanks." Lagi-lagi air mata Diandra kembali luruh. Melihatnya seperti itu, Aretha, Tania dan Deasy segera memeluknya hingga seketika kegiatan mereka terhenti, ketika ada yang mengetuk pintu ruangan itu.
Fokus mereka berempat tampak teralihkan ke arah pintu. Nampak jelas dari kaca pintu itu bahwa di luar tengah berdiri seorang pria gagah yang tak lain adalah David. Meski kaca itu berukuran kecil, tetapi mereka masih bisa melihat dengan jelas.
Aretha tampak menyunggingkan senyumannya, lalu segera menghampiri pintu ruangan itu dan membukanya lebar.
"Mas, kamu sudah di sini rupanya," ucap Aretha seraya mencium tangan sang suami.
"Iya aku sengaja kemari lebih cepat. Bagaimana kondisi Diandra?" tanya David.
"Masuk, Mas," ajak Aretha.
Pria itu pun menuruti ajakan sang istri, lalu menghampiri wanita yang tak lain adalah sahabat sang istri, sekaligus mantan karyawan magang di perusahaannya. Kala itu Diandra masih terduduk bedsandar di atas ranjang pasien.
"Selamat sore, Diandra. Bagaimana keadaanmu?" tanya David datar dengan ekspresi yang memang selalu dingin seperti itu.
"Saya sudah membaik, Pak. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk saya," jawab Diandra.
"Ya, sekalian menjemput istri saya. Sepertinya kami juga tidak bisa berlama-lama di sini. Mengingat waktu yang sudah sangat sore," jawab David tanpa ingin berbasa-basi, karena tujuan utama ia datang ke rumah sakit adalah untuk menjemput sang istri.
Diandra terdiam sejenak. "Baru juga pukul empat sore, Pak. Buru-buru amat sih mau bawa istrinya pulang," batin Diandra menanggapi.
"Tidak apa-apa, Pak." balas Diandra.
"Baiklah, kalau begitu saya izin membawa pulang istri saya. Semoaga kamu lekas sembuh." ujar David kemudia.
"Terima kasih, Pak," jawab Diandra singkat.
Meski merasa tidak enak hati, Aretha segera menuruti keinginan sang suami untuk segera pulang. Berharap ketiga sahabatnya memahami sikap David yang memang terkesan cuek dan kaku di hadapan orang-orang yang memang tidak terlalu akrab dengannya.
Aretha segera berpamitan kepada Diandra. Tak lupa ia mengingatkan Aretha untuk tetap menjaga kesehatannya dengan tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang dapat menurunkan kondisi kesehatannya itu.
Setelah itu, Aretha juga berpamitan kepada Deasy dan Tania. Ia juga menitipkan Diandra kepada mereka, meski tanpa ia titipkan pun Deasy dan Tania sudah pasti menjaga Diandra dengan baik.