
"Wah ... indah sekali, Mas!" puji Aretha ketika ia baru saja menginjakkan kembali kakinya di pantai, menatap indahnya matahari yang baru saja terbenam.
David tersenyum simpul melihat aksi sang istri. Disaat laki-laki diluar sana berlomba-lomba untuk membahagiakan pasangannya dengan berbagai macam cara melalui materi, tidakkah mereka tahu bahwa membahagiakan seseorang yang disayang itu sangatlah sederhana?
Senja sore itu tak kalah indahnya dengan senyuman merekah di bibir Aretha. Bukankah itu sangat sederhana? Melihatnya tersenyum hanya karena keindahan pesona jingga.
Sungguh Tuhan Maha sempurna, mampu menciptakan segalanya dengan sangat indah, tak senja, maupun Aretha. Keduanya mampu mengalihkan perhatiannya.
"Sayang, duduk sini!" titah David yang kala itu telah duduk di atas pasir putih.
Aretha menoleh, lalu segera menghampiri sang suami. Ketika ia telah berdiri tepat di hadapan David, sebuah tangan menariknya, lalu menuntunnya untuk duduk tepat di depan sang suami.
Aretha hanya bisa patuh. Ia duduk di antara kedua kaki David. Seketika kedua tangan kekar telah melingkar bebas di atas perutnya, merekatkan punggungnya dengan dada bidang sang suami. Tidak hanya menghangatkan, tetapi juga menenangkan. Aroma maskulin masih mampu ia hirup di tengah-tengah terpaan desir angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Wanita itu memejamkan matanya sejenak, menikmati hangat dan aroma yang selalu ia dambakan. Lalu, ia menghela napas panjang, sebelum akhirnya melebarkan kembali pupil matanya, menatap senja yang ia ketahui tidak akan lama menyebar keindahan.
Tuhan, melalui senja kutitipkan asa. Jangan biarkan rasa ini tenggelam bersamanya. Biarkan rasaku dan rasanya tetap sama, seperti pertama kali Engkau menorehkannya di dalam sana. Aku tak ingin dirinya seperti senja yang perlahan datang, lalu tiba-tiba menghilang. Biarkan cinta kami ini seperti hujan yang jatuhnya selalu berulang-ulang.
David menopang dagu di atas bahu sang istri, lalu sekilas mencium ceruk leher wanita itu, sehingga membuat Aretha merasa geli, lalu reflect memutar kepalanya, seraya melebarkan senyuman yang belum ingin ia hentikan.
"Indah sekali, Mas," ucapnya, seraya menatap wajah sang suami.
"Tak jauh lebih indah daripada kamu," balas David, lalu mengecup bibir Aretha sekilas. Ah, David selalu saja pandai membuat wanitanya tersipu malu.
Aretha memfokuskan kembali pandangannya ke depan. Selain ia tidak ingin David menyadari ekpresinya saat itu, ia juga tidak ingin melewatkan senja yang hanya sesaat datang dengan sejuta keindahan.
Sama halnya dengan Aretha, David pun melakukan hal yang sama. Seketika terbit senyuman di wajahnya.
Tuhan, kumohon ijinkan namanya tetap tinggal di hatiku, dan raganya tetap berada dalam pelukanku.
David mempererat pelukannya, lalu memfokuskan pandangannya ke depan, sebagaimana yang Aretha lakukan.
"Senja itu ibarat kamu, yang hadirnya membawa sejuta warna dan keindahan," lirih David tepat di telinga Aretha.
Lagi-lagi Aretha mengulas senyumnya. "Andai saja aku bisa seperti senja yang selalu menebar keindahan, juga kehangatan. Namun, nyatanya senja hanya satu, dan itu bukan aku,"
"Aku tidak peduli seberapan indah senja di ufuk sana. Bagiku, kamu adalah segalanya, dan lebih indah dari apapun. Baik senja ataupun pelangi, tidak ada yang bisa menandinginya," balas David.
"Gombal kamu, Mas," ledek Aretha mengalihkan rasa yang membuatnya seakan meledak.
"Ck!" David berdecak kesal. Mana mungkin ia gombal, disaat itu yang memang ia rasakan.
Aretha yang menyadari kekesalan sang suami langsung menatapnya kembali. "Jangan membuatku baper," rengeknya manja.
David mengulum senyum, ketika melihat wajah Aretha yang bersemu merah, menatap dalam iris mata berwarna cokelat itu. "Ketika senja punya sejuta cara untuk memberi warna, pun sama denganku yang selalu memiliki sejuta cara untuk mencintaimu." ucapnya seraya menatap sayu.
"Tuh 'kan ... aku tambah baper jadinya." Aretha tampak menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Sungguh ia tidak ingin David melihat ekspresinya yang tengah tersipu dan sangat memalukan, meski kepada sang suami.
"Aku iri kepada senja, dia saja bisa membuatmu baper, masa aku tidak?" balas David menanggapi.
Aretha hanya mencebikkan bibirnya, sebagai tanggapan.
"Aku suka." David menanggapi. Tangannya beralih mendekap seluruh tubuh Aretha, sehingga membuat tangan wanita itu terkurung.
"Suka apa?" tanya Aretha seraya menoleh sedikit.
David tersenyum jahil, berniat menggoda sang istri. "Suka wajah kamu yang merah," bisiknya tepat di telinga Aretha.
"Mas ...," rengek Aretha, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih, selalu saja membuatku gemas, ha?" David tampak menarik hidung mancung sang istri, sehingga membuat Aretha seketika merintih kesakitan.
"Sakit, Mas!" Aretha mengusap-usap hidungnya, setelah David melepaskan tangannya.
"Sakit mana, ketika tahu mau ditinggal nikah oleh orang tersayang?" sindir David yang sontak membuat Aretha membeliak seketika.
"Tahu dari mana kamu, Mas?" Aretha menatap penuh selidik.
"Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa," bantah David.
"BOHONG!!" Aretha tidak percaya.
"Memangnya aku ada tampang pembohong?" David memasang ekspresi serius.
"Ada!" jawab Aretha yakin.
"Mana ada!" David tetap tidak mau mengaku.
"Kelihatan kalau kamu bohong," ungkap Aretha masih menatap penuh tanya. "Ah, sudahlah! Tidak usah bahas masa lalu," imbuhnya kesal.
"Jawab dulu dong!" pinta David masih ingin menggoda sang istri.
"Jawab apaan, sih?" Aretha bingung harus jawab apa. Ia hanya berlagak bodoh, pura-pura tidak paham.
Tentu saja ia tahu mana yang lebih sakit, dan tanpa ia jelaskan pun pastinya David tahu hal itu. Jelas lebih sakit ketika tahu akan ditinggal menikah oleh orang yang disayang. Namun, tidak etis saja ketika ia membicarakan masa lalu dengan mantan di depan suami, nanti kalau ia terbawa perasaan lagi, lalu suaminya cemburu, siapa yang mau disalahkan?
"Lebih sakit mana?" tanya David sekali lagi.
Aretha mendengus kasar, lalu menatap kembali wajah sang suami. "Lebih sakit kalau kamu meninggalkanku," jawabnya yang jelas tidak nyambung dengan pertanyaan David.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!" David tampak begitu yakin.
"Tidak ada yang tahu ke depannya akan seperti apa," balas Aretha.
"Kamu mendoakanku seperti itu?" David sedikit membulatkan matanya.
"Bukan seperti itu, tapi 'kan memang begitu konsepnya," jelas Aretha.
"Ya tidak boleh khilaf," pinta Aretha.
"Mana mungkin bisa begitu?" David terkekeh. Betapa lucunya istrinya itu.
"Ah, sudahlah, Aku mau menikmati senja. Rasanya terlalu indah jika dilewatkan begitu saja." Aretha ingin mengakhiri pembahasan.
"Aku temani," ucap David dengan posisi masih sama seperti sebelumnya.
Mereka pun menikmati indahnya senja, sebagaimana yang tengah dilakukan oleh ribuan pasang mata. Meski mereka tak tahu teman-teman yang lain berada di sebelah mana, tetapi mereka yakin bahwa yang lain juga tengah melakukan hal yang sama.
"Mas," lirih Aretha dengan tidak memalingkan pandangan dari keindahan karya Sang Mahakuasa.
"Hmm ...?" David menanggapi seraya menempelkan sebelah pipinya dengan pipi Aretha.
"Kamu mau punya anak berapa?" tanya Aretha tiba-tiba yang sontak membuat David diam beberapa saat.
David mengulas senyumnya, sebelum akhirnya ia menanggapi. "Kamu siapnya kasih berapa?" ucapnya berbalik tanya.
"Tergantung Tuhan yang kasih." Jawaban Aretha cukup sederhana. Namun, semua orang tahu bahwa itu memiliki makna.
"Ya sudah, berarti jawabanku sama," balas David tak mau kalah.
Mereka terdiam lagi beberapa saat. Rasanya sunyi, menyejukkan, juga menenangkan, memandang senja di tengah deburan ombak yang menerpa karang dan tepi pantai, meski sesekali terdengar bergemuruh. Namun, semuanya seolah memiliki makna yang mendalam. Baik senja, ombak, maupun karang.
"Mas, kamu mau anak pertama laki-laki atau perempuan?" Aretha kembali membuka suara.
"Laki-laki," jawab David tanpa berpikir panjang.
"Kok laki-laki? Perempuan dong, Mas," protes Aretha langsung menoleh.
"Kamu maunya perempuan?" David sedikit memberi jeda. "Ya sudah, aku nurut saja," imbuhnya tak masalah. Baik laki-laki ataupun perempuan, bukahkah sama saja, pikirnya.
"Lucu sekali kalau kita punya anak perempuan, Mas. Nanti aku akan merias rambut dia dengan gaya rambut yang berbeda-beda setiap harinya, pokoknya pasti lucu!" Aretha tampak membayangkan apa yang akan ia lakukan, jika ia memiliki anak perempuan.
"Pasti seperti kamu, Sayang," balas David, lalu mencium pipi wanita itu.
Mereka berdua terkekeh membayangkan indahnya jika ada seorang anak kecil di rumah mereka. Rupanya keduanya sudah mantap ingin segera memiliki anak, terlebih lagi Aretha yang memang memiliki rencana program hamil lebih dulu.
"Ya, Tuhan!" reflect Aretha ketika ia baru saja mengingat sesuatu.
David langsung terkejut, ketika menyadarinya. Entah ada apa dengan istrinya saat itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya David heran.
"Diandra, Mas! Diandra kemana? Aku hampir saja melupakannya," jawab Aretha.
"Ck! Kupikir apa," gerutu David sembari berdecak kesal. "Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkannya, dia 'kan sudah besar!" jawab David.
"Bukan begitu, Mas. Masalahnya yang tidak membawa pasangan 'kan cuma dia, dan sepertinya hubungannya dengan Samuel malah semakin tidak baik, aku takut dia sendirian saja, kasihan dong, Mas ...," jelas Aretha di tengah-tengah kekhawatirannya.
"Jangan bilang kamu mau mencarinya dan merusak kebersamaan kita kali ini?" selidik David.
Tentu saja ia tidak rela, jika acara romantisnya dengan sang istri rusak begitu saja hanya karena hal yang tidak begitu penting baginya.
"Tapi kalau dia kenapa-kenapa, gimana?" tanya Aretha memasang wajah memelas. "Cari sebentar yuk, Mas!" ajaknya sembari merenegk manja.
"No!" tolak David.
"Ayolah, Mas ... please!" Aretha memohon dengan sangat agar sang suami mau mengantarnya.
"Kamu bisa 'kan hubungi nomornya?" tanya David yang lebih ke nada mengingatkan.
"Oh iya, aku lupa!" Aretha langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas slempang yang memang didesain khusus untuk mengantongi handphone.
David sedikit merenggangkan pelukannya, hingga Aretha bisa sedikit lebih leluasa menggerakkan tanganny, daripada sebelumnya.
Wanita itu langsung mengetikan beberapa kata pada layar ponselnya, lalu menekan tombol kirim, menanyakan keberadaan Diandra kepada orang yang bersangkutan.
Setelah satu menit ia menunggu. Namun, tak kunjung mendapat balasan dari Diandra. Bahkan, pesan whatsapp yang ia kirim masih belum menunjukkan tanda terbaca.
"Mas, tidak ada balasan, bagaimana ini?" tanya Aretha masih memandang layar ponselnya.
"Mungkin belum sempat, Sayang," jawab David berusaha tidak membuat istrinya panik.
"Sebentar lagi malam, Mas. Aku takut," keluh Aretha, lalu mengedarkan pandangannya ke beberapa arah, mencari sosok yang tengah membuatnya cemas. Namun, sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan Diandra di sana.
Meski sedikit gelap, tetapi Aretha masih bisa melihat orang-orang yang ia kenal di sana seperti Deasy, Tania, Richard dan yang lainnya. Namun, ia tak melihat Diandra dan Samuel di sana.
"Lihat, Mas, dia tidak ada di sekitar sini, kemana dia?"
"Coba kamu tanya ke Samuel, mungkin dia dengannya." David memberi saran.
Aretha langsung melakukan apa yang disarankan oleh sang suami. Ia tampak mengetikkan beberapa kata pada layar ponselnya, lalu menunggunya beberapa saat dengan tidak mengalihkan perhatian dari layar ponselnya.
Aretha menghela napas lega, ketika baru saja mendapat balasan dari Samuel yang mengatakan bahwa Diandra tengah bersamanya.
"Syukurlah ...," ucap Aretha seraya mengusap dada pelan.
"Ada?" tanya David.
"Ada, Mas," jawab wanita itu seraya menyeringai senang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=