Possessive Love

Possessive Love
Terpesona



"Kamu bisa ke rumah saya hari ini?" tanya David kepada seseorang di seberang sana.


Ya, Pria itu tampak tengah mengobrol melalui telepon dengan seseorang yang tak lain adalah Denis.


Kejadian yang sudah membuat dirinya resah, nampaknya membuat pria itu tidak ingin diam saja. Ia ingin segera mengetahui siapa orang yang berniat jahat kepadanya dan juga Aretha.


Denis adalah seseorang yang bisa diandalkan. Setelah beberapa kasus yang menyangkutnya bisa diselesaikan dengan baik oleh Denis, maka David pun berharap bahwa pria itu juga bisa menyelesaikan kasus terbaru darinya dengan baik.


"Baiklah saya tunggu!" ucap David segera menutup saluran telepon itu, setelah Denis menyetujui permintaannya untuk datang ke rumah barunya itu.


"Mas, kamu ngobrol sama siapa barusan?" tanya Aretha yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, sehingga membuat David yang kala itu masih fokus ke layar ponsel sedikit terkesiap.


"Denis," jawabnya singkat.


Aretha hanya diam, seolah paham. Ia memang sudah mengetahui siapa Denis, dan sepertinya ia juga tahu tujuan David menelepon pria itu.


"Sayang, kamu mau kan berjanji satu hal?" tanya David, setelah berada tepat di hadapan Aretha. Ia tampak memegang bahu sang istri, seraya menatapnya dalam penuh permohonan.


"Apa?" tanya Aretha sedikit heran.


"Jangan sampai siapapun tahu soal teror itu, termasuk papi sama mami, ataupun kedua orangtuaku, kamu mau kan menyembunyikan masalah kita dari mereka?" jelas David.


"Kenapa?"


"Aku hanya tidak ingin membuat mereka cemas, Sayang," jawab David.


"Ya, baiklah," jawab Aretha setuju.


"Terima kasih, Sayang." David tampak mendaratkan kecupan di kening sang istri. "Aku janji akan segera menemukan siapa pelakunya," imbuhnya.


"Hati-hati." Hanya itu yang lolos dari tenggorokkan Aretha.


Teror itu benar-benar membuat hidup wanita itu merasa tidak tenang. Meski ia masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, tetap saja hati dan pikirannya tidak bisa berpaling dari berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi kepadanya dan juga suaminya.


"Pasti! Kamu tidak perlu mencemaskanku seperti itu, aku pasti baik-baik saja. Aku hanya minta satu hal dari kamu, jangan terlalu pikirkan perihal teror itu, dan jaga dirimu baik-baik dimanapun kamu berada," pinta David.


Aretha tersenyum menatap sang suami yang jelas sangat mengakhawatirkannya. "Aku bukan anak kecil, Mas. Aku pasti akan jaga diri baik-baik, kamu tidak perlu khawatir," ucapnya.


David segera merengkuh wanita di hadapannya. "Aku hanya tidak ingin terjadi apapun denganmu. Sebab, kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jadi tolong, kamu selalu ingat kata-kataku!" ucapnya seraya memeluk erat tubuh sang istri, seolah tidak ingin kehilangan sosok itu.


"Iya, Mas," jawab Aretha singkat.


Beberapa saat mereka berpelukan, sehingga membuat keduanya seakan tenggelam dalam kehangatan, juga kenyamanan. Terlebih Aretha yang selalu merasa aman, ketika berada dalam pelukan sang suami.


Seketika Aretha teringat sesuatu di tengah-tengah kegiatan mereka. "Mas, aku lupa mau menanyakan sesuatu," ucap Aretha tiba-tiba, sehingga membuat David sedikit merenggangkan pelukannya.


"Apa?" tanya David seraya menatap wajah yang hanya beberapa sentimeter dari pandangannya.


Aretha menarik napas pendek, sebelum ia menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada sang suami.


"Apa kamu tidak punya foto mantan kamu itu?" tanya Aretha sedikit ragu. Nampaknya ia masih penasaran dengan mantan sang suami.


"Mantanku yang mana?" tanya David heran, kenapa tiba-tiba Aretha menanyakan perihal mantan yang sudah tidak ingin ia bahas.


"Memangnya kamu punya mantan berapa?" Aretha tampak membelalakkan mata.


"Menurutmu, orang setampan aku ini punya mantan berapa?" goda David.


"Cih! Modal tampang doang, buat apa kalau sikapnya dingin, mana ada yang mau! Hanya aku saja sepertinya yang entah kena kutukan apa sampai bisa terpesona sama kamu!" ledek Aretha yang sontak membuat David mengulum senyumnya.


"Cieee ... yang terpesona," goda pria itu seraya terkekeh.


Seketika wajah Aretha bersemu merah, mendapat godaan dari sang suami.


"Yah, sepertinya aku salah ngomong," ucapnya menyesal.


"Jadi, sejak kapan kamu terpesona karena wajah tampanku ini?" tanya David sedikit memberi jeda. "Oh, atau mungkin kamu lebih terpesona dengan sikapku yang dingin?" imbuhnya seolah tidak ingin mengakhiri menggoda sang istri. Ia semakin menarik pinggang sang istri agar lebih mendekat.


"Tidak ada! Sudahlah, aku tadi hanya salah ngomong, Mas!" bantah Aretha seraya tidak berani menatap wajah David.


"Yakin?" David menatap dalam wajah wanita itu. Dengan sedikit memaksa, David membuat Aretha menatapnya balik.


"Ya sudah, besok-besok salah ngomong saja terus, aku suka mendengarnya," balas David sembari tersenyum senang, dengan tidak memalingkan pandangannya.


"Dih!" Aretha hanya mencebikkan bibirnya.


David masih belum ingin berpaling dari wajah itu. Lagi-lagi ia mengulas senyumannya dengan posisi tangan yang masih melingkar di pinggang sang istri. Semakin lama pandangan itu semakin dalam, sehingga membuat Aretha semakin merasa gugup dan canggung.


Wanita itu berniat untuk lepas dari pelukan sang suami. Namun, David semakin memperkuat tangannya. Ia menautkan setiap jemari dari kedua tangannya itu, sehingga membuat Aretha semakin terkunci.


Tanpa disadari, pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha, lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir ranum berwarna merah muda itu.


Hanya beberapa detik, tetapi membuat hati Aretha merasa tergelitik. Bukan hanya sekadar nikmat, tetapi juga membuatnya nyaman, seolah merasa terbang bebas, lari dari penatnya dunia.


"Kamu masih meragukanku?" tanya David lirih, masih dengan tatapan yang sama, sehingga membuat Aretha terpaku sejenak. "Apakah selama ini aku bersikap sedingin itu sama kamu?" imbuhnya.


Aretha hanya terdiam, seolah bingung harus menjawab apa.


"Mungkin kamu benar bahwa aku memang dingin, cuek, terkadang tidak acuh, tetapi itu hanya berlaku untuk wanita lain, tidak untukmu yang sudah dengan jahatnya merenggut satu-satunya yang kumiliki," ucap David yang sontak membuat Aretha terkesiap, lalu terkekeh menahan tawa.


"Apaan sih kamu, Mas? Merenggut? Memangnya apa yang sudah kurenggut darimu?" tanya Aretha masih terkekeh, seolah ada yang lucu baginya.


"Hatiku!" singkat David seraya mengulum senyumnya. Aretha terdiam sejenak. "Juga itu" imbuhnya sembari melihat ke bawah, sontak membuat Aretha tersentak dan merasa geli, karena mengerti maksud dari ucapannya.


"Mas, ish!!!" kesal Aretha, kali ini giliran David yang terkekeh.


"Lho, kenapa? Benarkan?" lagi-lagi David menggoda sang istri.


"Entahlah, mungkin saja ada wanita lain yang sudah lebih dulu merenggutnya," jawab Aretha tidak serius. Kali ini ia yang ingin menggoda sang suami.


"Kamu tidak percaya?"


"Kalau tidak, memangnya kenapa?" tanya Aretha seraya menjulurkan lidahnya.


"Wah ... kamu minta dicium nih." David kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha seolah ingin mencium kembali bibir mungil itu. Namun, dengan sigap Aretha menghalaunya dengan sebelah tangannya. Ia tampak mendorong wajah sang suami, agar lebih menjauh dari jangkauannya.


"Jangan mulai deh, Mas!" gerutu Aretha.


"Kamu tahu? Berlama-lama dalam posisi ini membuatnya menegang, aku tak kuasa, Sayang," rengek David yang tentu saja langsung dimengerti oleh Aretha.


Seketika tatapan pria itu berubah menjadi tatapan intim, penuh hasrat yang seolah meminta dituntaskan.


"Mas, awas ya kamu! Ini sudah jam berapa?" ucap Aretha waspada. Ia tampak melepas paksa tangan sang suami, lalu mundur beberapa langkah.


"Lho, memangnya ada aturan mainnya? Bukankah kita boleh melakukannya kapan saja?" tanya David seraya mengikuti pergerakkan Aretha.


"Mas, ayolah ... jangan membuatku ketakutan seperti ini," rengek Aretha sembari tetap menjauh dari jangakauan sang suami.


"Apa maksudnya membuatmu takut? Aku tidak akan menyakitimu, bukan?"


"Iya aku tahu, tetapi tolong jangan lakukan itu sekarang, di rumah ada bi Ratih, kamu lupa?" ucap Aretha memohon dengan menjadikan asisten rumah tangganya sebagai alasan.


"Menolak suami dosa lho, Sayang." David tak mau kalah.


"Tidak akan dosa, kalau kamu ikhlas," balas Aretha membela diri.


"Sayangnya, aku tidak ikhlas. Bagaimana dong?" tanya David yang tak ingin berhenti menjahili sang istri yang terlihat sudah sangat ketakutan.


"Mas, ayolah ... aku hanya bercanda," bujuk Aretha.


"No!" tolak David.


Secepat kilat pria itu telah berhasil menyergap tubuh sang istri, lalu membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC