
Aretha dan Richard telah berada di kediaman gadis itu. Mereka tampak duduk bersama Anton dan Carmila yang tak lain adalah orang tua Aretha.
Dengan penuh kegundahan, Richard mengungkapkan apa yang menjadi keinginan papanya kepada kedua orangtua Aretha. Pria itu juga menjelaskan alasan kenapa papanya sangat memaksa dirinya untuk segera menikah, berharap kedua orangtua dari sang kekasih dapat memahaminya.
Richard benar-benar mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menemui kedua orangtua Aretha dan menceritakan duduk perkara yang tengah mereka hadapi. Meskipun pada akhirnya harus menerima kenyataan pahit, setidaknya Richard sudah berusaha agar mendapatkan titik terang dari masalah yang tengah dihadapinya.
Dengan nada bicara yang hati-hati dan sopan, Richard meminta kepada orangtua gadis itu agar mereka dapat memberikan izin kepadanya untuk menikahi Aretha, setelah lulus sekolah nanti, sedangkan Aretha hanya diam membisu sembari menundukan kepalanya.
Di satu sisi gadis itu tidak ingin masa depannya hancur hanya karena menikah muda. Namun, di sisi lain ia juga tidak ingin jika harus menerima kenyataan bahwa harus mengakhiri hubungannya dengan Richard. Itu akan terasa menyakitkan baginya, jika sampai terjadi.
"Nak Richard, bukannya kita tidak paham tentang keinginan papamu, tapi om mohon maaf ... sekali, om tidak bisa mengizinkan Aretha menikah dalam waktu dekat ini," tutur Anton dengan sangat hati-hati.
"Aretha adalah anak semata wayang kami, jadi om sangat ingin dia memiliki masa depan yang bagus, om dan tante ingin dia melanjutkan sekolahnya dulu. Aretha itu satu-satunya harapan kami, kalau bukan dia yang yang menjadi penerus di perusahaan kami nanti, mau siapa lagi?" imbuh pria paruh baya itu.
Seketika susana menjadi hening. Tak Richard atau Aretha. Bahkan, Carmila ikut bungkam, tak menanggapi. Terlihat raut kekecewaan yang terpancar di wajah Richard, begitupun Aretha.
"Sekali lagi om minta maaf," Anton menatap pria itu dengan wajah memelas.
Bukan hal yang mudah bagi pria paruh baya itu menyerahkan putrinya begitu saja kepada seorang pria, di saat usianya masih muda seperti itu. Namun, dalam hatinya ia pun merasa tidak tega melihat Richard. Ia tahu betul bahwa Richard adalah pria yang baik. Namun, itu tidak lantas membuatnya begitu saja menyetujui keinginan Richard dan ayahnya.
Mendengar pernyataan dari papinya Aretha membuat dada Richard begitu sesak, begitupun dengan Aretha. Ingin sekali menjerit sekeras-kerasnya. Itu artinya cepat atau lambat mereka akan segera berpisah.
Seketika Aretha teringat bahwa Richard akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis papanya, apabila dia tidak bersedia menikah dengan Richard.
Rasanya sudah tidak ada lagi harapan. Kesedihan pun melanda hati gadis itu sehingga membuat matanya berkaca-kaca mengingat dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan hubungannya dengan Richard. Satu-satunya yang menjadi harapan adalah kedua orangtuanya, tetapi ketika mereka sudah tidak mendukung apa mau dikata?
Dengan masih menahan air matanya, Aretha mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah itu. Segala sesuatu kemungkinan buruk yang akan terjadi mulai mengusik pikirannya, membuat dadanya semakin sesak dan rasanya susah untuk bernafas normal.
Richard pun tidak bisa memaksa kedua orangtua Aretha agar mau menerimanya. meskipun dengan berat hati, dia menerima keputusan Anton sebagai ayah Aretha dan dia sangat menghargai keputusan itu.
"Baiklah, Om, saya paham. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Richard dengan sopan meskipun menahan kesedihan yang begitu mendalam.
Apa yang ada dalam pikiran Aretha mungkin sama dengan apa yang dipikirkan pria itu. Namun, Richard harus berlapang dada akan usahanya yang ternyata sia-sia.
"Sekali lagi om minta maaf ya, Nak. Sampaikan juga permohonan maaf om kepada papamu!" titah Anton, sementara Richard hanya menganggukkan kepala, kemudian menoleh ke arah Aretha yang kala itu masih terlihat bungkam.
Begitu nampak kesedihan yang tersirat di wajahnya membuat Richard yang melihatnya tidak tega. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Sayang, aku pulang dulu," lirih Richard seraya mengelus puncak kepala Aretha. Namun, Aretha tak bergeming sedikitpun.
Aretha langsung pergi ke kamarnya di waktu bersamaan, ketika Richard keluar dari rumah itu, tanpa mengantar Richard sampai depan rumahnya yang tak lain adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan gadis itu.
Aretha mengurung diri di kamar mencoba menenangkan pikirannya. Namun, tidak sedikit pun dia bisa menghilangkan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat itu sehingga membuatnya menangis sejadi-jadinya yang tentu saja membuat kedua orangtuanya sangat khawatir.
Tok ... tok ... tok ...
Carmila mencoba mengetuk pintu kamar Aretha. Namun, Aretha tak mau membuka atau sekadar menyahutinya. Akhirnya, Carmila yang diiringi Anton di belakangnya memutuskan untuk membuka pintu kamar Aretha yang ternyata tidak dikunci.
Setelah mereka masuk kedalam kamar, terlihat Aretha yang tengah membaringkan tubuhnya dalam posisi tengkurap dan menenggelamkan wajahnya pada sebuah bantal. Aretha menangis tersedu sedan, isaknya yang memecah membuat kedua orangtuanya merasa iba dan tentu saja membuat mereka khawatir.
Dengan tatapan memelas, Carmila langsung mengusap punggung Aretha memberikan sedikit ketenangan sembari mengeluarkan nasihat layaknya seorang ibu kepada anaknya.
"Sayang, menangislah sewajarnya. Mami tahu, ini memang menyakitkan buat kamu." ucap Carmila seraya mengalihkan tangannya dari punggung ke puncak kepalanya. Ia mengusapnya dengan lembut.
"Tetapi ini kan belum berakhir. Kita gak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, mungkin saja Richard bisa membujuk papanya kembali agar mengurungkan niatnya, kita kan tidak tahu!" imbuhnya menenangkan, sedangkan Anton masih diam memperhatikan anaknya. Ada rasa bersalah yang tengah dirasakannya. Namun, keputusan yang diambilnya pun semata-mata demi kebaikan putrinya sendiri.
Aretha masih fokus dengan kegiatan menangisnya. Ia sama sekali tidak ingin menggubrisnya sang mami sedikit pun.
Carmila memalingkan pandangannya ke arah Anton seraya memberi kode bahasa tubuh seolah bertanya apa yang harus kita lakukan? Namun, Anton juga tetap diam tak bersuara.
Entah apa yang harus mereka perbuat dalam situasi seperti itu. Harusnya Aretha memang dibiarkan sendiri dulu, tapi sebagai orangtua mana bisa mereka melihat anaknya menangis seperti itu.
"Sayang, mami yakin Richard sangat menyayangimu dan dia pasti akan berusaha mempertahankan hubungan kalian." ucap Carmila memberitahu bahwa masih banyak harapan yang kemungkinan terjadi. Seketika suara Aretha pun akhirnya memecah.
"** ...** ... tapi om Felix akan menjodohkan kak Richard, Mi." Ucap Areta terbata-bata. "Aku harus gimana?" Tanyanya kemudian sembari membalikan badannya menghadap kedua orangtuanya.
"Iya mami tahu, tapi itu kan baru rencanya om Felix, Sayang." Carmila tampak menyelipkan anak rambut yang sedikit berantakkan dan menghalangi sebagian wajah gadis itu ke telinga Aretha.
"Sayang, kamu percaya kan bahwa takdir seseorang itu telah ditentukan dari sejak ia lahir?" tanya Anton mulai membuka suara sembari memegang sebelah bahu Aretha, Aretha mengangguk tanpa menghentikan tangisannya barang sedetik pun.
"Nah, begitupun dengan kamu dan Richard. Jodoh, maut dan rezeki seseorang itu memang sudah di gariskan oleh sang maha kuasa dan tidak ada satu pun yang dapat mengubah itu, selain-Nya. Termasuk om Felix." jelas Anton memberi pencerahan.
"Jadi, apapun yang akan terjadi setelah ini, itu sudah menjadi takdir untuk kalian berdua dan tidak ada satupun yang dapat menghalanginya, baik itu om Felix ataupun papi dan mami," lanjutnya seakan tidak ingin memberi harapan manis kepada Aretha.
Itu memang benar, karena sekali pun Anton menenangkan dengan memberikan harapan manis untuk anaknya sedangkan kenyataan yang diterimanya lebih pahit, justru itu akan membuatnya lebih sakit lagi dari pada yang tengah Aretha rasakan saat itu.
Meskipun ucapan Anton sedikit menyakitkan dan memberikan Aretha kecemasan yang luar biasa, tapi setidaknya dia menyadari bahwa jodoh, maut dan rezeki itu adalah rahasia Tuhan yang tidak bisa ditebak-tebak layakya sebuah teka-teki.
"Kalau jodoh tidak akan kemana!" tukas Anton setelah suasana hening beberapa saat.
Aretha langsung memeluk sang papi, setelah dia mengubah posisinya menjadi duduk. Anton mengusap punggung Aretha, sedangkan Aretha menangis dalam pelukan Anton dan menopangkan dagunya di bahu pria paruh baya itu.
Carmila pun melakukan hal yang sama dengan mengelus puncak kepala Aretha seraya memberikan ketenangan. Rasa khawatir mereka sedikit berkurang melihat respon anak semata wayangnya. Meskipun Aretha belum sepenuhnya menerima, paling tidak sekarang ia tahu apa yang harus dilakukannya jika kemungkinan buruk terjadi pada hubungannya dengan Richard.
Setelah keadaan Aretha sudah sedikit membaik, Anton dan Carmila pergi meninggalkan Aretha sendiri di kamarnya. Aretha memang masih belum mengehentikan tangisannya. Namun, tangisan kali ini tidak terlihat seperti sebelumnya. Meskipun dia masih memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah ini, tapi ia sadar akan Zat yang Mahakuasa.
Terkadang itu memang akan terasa menyakitkan. Akan tetapi, inilah hidup, tidak selamanya kita berada di atas, adakalanya dalam hitungan detik kita harus terjun kebawah dalam keadaan terpaksa dan menyakitkan.
Aretha membaringkan kembali tubuhnya, sembari menatap langit-langit kamar. Ia masih tidak berhenti memikirkan akan kelanjutan hubungannya dengan Richard hingga akhirnya dia tertidur setelah matanya terasa lelah dan sembab karena terlalu lama menangis.
Hai Readers... ini baru konflik ringan saja ya... ikuti terus kelanjutan ceritanya, semoga kalian suka 😘😘😘
jan lupa tetap tinggalkan jejak kalian dengan like n comment,,, jika berkenan vote and rate bintang 5 juga ya boskuh....
THANK YOU