
David semakin bingung, memangnya ada apa dengan jasnya? Batinnya saat itu.
Dengan rasa ragu, ia meraih jas itu. "Apa, sih?" tanyanya masih belum menyadari apa yang membuat Aretha marah seperti itu.
David tampak membolak-balikkan jasnya. Ia semakin frustrasi karena tidak paham dengan yang Aretha maksud.
"Apa?" tanyanya seraya menatap sang istri. "Kamu jangan aneh-aneh, deh. Aku bingung jadinya!" kesalnya.
"Kamu lihat baik-baik!" ketus Aretha.
David kembali membolak-balikkan jas itu, dan sialnya, ia masih tidak menemukan apa yang Aretha maksud. Bahkan, ia sudah mengecek semua kantong jas itu.
"Apaan, sih?" gumamnya sembari membolak-balikkan jas itu.
"Sudah, ya ... lebih baik kamu bicara langsung, aku pusing kalau seperti ini!" David tampak menyerah, setelah berulang kali ia tidak menemukan apa yang dimaksud Aretha.
"Ya, Tuhan ... kenapa sih, kamu itu menyebalkan sekali! Aku kesal!" geram Aretha.
Aretha meraih kasar jas yang ada di tangan David, lalu ia membalikkannnya.
"Nih!" Aretha tampak menunjukkan tanda merah itu kepada David. Namun, karena warnanya memang sedikit samar, David tidak bisa langsung menebak tanda merah itu bekas apa.
David meraih kembali jas itu, lalu mengamati tanda merah tersebut dengan seksama. Ia tampak membeliak, ketika menyadari bahwa tanda merah itu adalah bekas lipstik seseorang. David sedikit berpikir, mengingat-ingat kejadian yang ia alami seharian.
"Tidak bisa jawab 'kan kamu?" celetuk Aretha yang seketika membuyarkan lumunan David.
David mendongak, lalu menatap sang istri yang wajahnya sedikit menyeramkan. Namun, tetap tidak mengurangi kadar kecantikannya. Bahkan, Aretha terlihat imut ketika sedang marah.
"A-aku—"
"Apa?" Aretha tampak ngotot. "Kamu mau bilang, kalau seharian kamu pergi sama wanita lain sampai malam, iya?" imbuhnya.
"Astaghfirullah, mana mungkin aku seperti itu!" bantah David.
"Lalu, menurutmu itu bekas lipstik laki-laki, begitu?" tanya Aretha tidak percaya.
David hanya diam. Ia kembali berpikir apa yang sudah terjadi pada dirinya seharian itu, sehingga ada bekas lipstik wanita pada jasnya.
"Ya ampun ... tadi kan aku habis meeting dengan bu Anik. Aku yakin itu bekas lipstik beliau," gumam David dalam hati, setelah ia mengingat kejadian tadi sore.
"Sayang, kamu jangan salah paham! Aku yakin itu bekas lipstik bu Anik," jelas David memberi tahu.
"Ha? Bu Anik? Siapa dia? Selingkuhan kamu? Kamu ngapain saja dengannya, ha?" cecar Aretha seraya membulatkan mata, ketika David mengakui bekas lipstik itu.
"Bukan! Bukan! Dia itu klien aku, makanya kamu dengarkan aku dulu, jangan marah-marah terus," jawab David.
Aretha tampak diam, mencoba memberi celah kepada David untuk menjelaskan terkait apa yang sedang ia perkarakan.
"Kamu tenang dulu, ya," ucap David menenangkan.
David menceritakan kronologis kejadiannya kepada Aretha bahwa bu Anik yang menjadi kliennya itu hendak terjatuh karena kakinya terkilir, ketika ia akan pulang dan bersalaman dengannya. Karena posisinya David berada di hadapan kliennya itu, otomatis wanita itu tersungkur di dadanya, dan lagi pula David memang sengaja menolongnya, sehingga mereka terlihat seperti berpelukan. Namun, sebenarnya tidak.
Mungkin pada waktu kejadian itu, bibir kliennya David tidak sengaja mencium jasnya dan meninggalkan bekas lipstik yang menempel di bibirnya di sana.
"Jadi, begitulah kejadiannya," ucap David, setelah ia selesai bercerita.
Aretha tampak memberengut. Ia masih bisa mempercayai sang suami. Namun, tetap saja ia merasa cemburu, ketika membayangkan tubuh sang suami yang menyangga wanita itu.
"Beneran?" tanya Aretha.
David mengangguk dengan tatapan serius, tidak ada kebohongan.
"Tapi, tetap saja dia pasti peluk-peluk kamu," ucap Aretha hanya menduga.
"Tidak, Sayang!" bantah David. "Aku berani sumpah!" tegasnya seraya mengacungkan kedua jarinya ke atas membentuk tanda 'V'.
"Ya sudah, berarti jas ini tidak usah dipakai lagi!" Aretha tampak meraih kasar jas itu dari tangan David, lalu membawanya ke tempat cuci pakaian. Ia meletakkannya di keranjang cucian.
David tampak mengulum senyum sembari menggelengkan kepalanya, lalu mengekori sang istri keluar dari kamarnya.
"Kenapa tidak dibuang saja sekalian?" tanya David, ketika melihat Aretha yang hanya menyimpan jas itu di tempat cucian.
"Sayang kalau dibuang," jawab Aretha sembari berjalan menuju ruang makan, lalu duduk di salah satu kursi kosong dengan wajah yang masih tampak cemberut.
David tampak terkekeh, lalu menghampiri sang istri, berdiri di belakanganya.
Cup!
David mendaratkan ciuman di pipi Aretha, ketika Aretha tengah sibuk menuangkan nasi ke dalam salah satu piring kosong.
"Sudah, duduk! Katanya lapar," titah Aretha.
David hanya tersenyum, lalu duduk kursi yang biasa ia duduki. Ia tampak memperhatikan sang istri yang tengah menyendoki ikan goreng ke dalam piringnya.
Aretha meletakkan piring yang sudah di isi nasi, sayur dan ikan goreng itu di hadapan David.
David tampak mengambil sendok, lalu memulai kegiatan makan malamnya. Namun, berbeda dengan Aretha yang hanya diam, tidak makan. Tentu saja itu membuat David heran, apa mungkin Aretha sudah makan? Pikirnya.
Namun, itu bukanlah kebiasaan Aretha. wanita itu selalu menunggu David pulang jam berapapun, dan mereka selalu melakukan makan malam bersama.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya David. Aretha hanya menggeleng.
"Lalu, kenapa tidak makan?" tanya David.
"Tidak nafsu," jawab Aretha dengan nada masih sedikit kesal.
David tersenyum, lalu menggeser kursinya, mendekati Aretha.
"Coba deh, kamu makan ini! Makanannya enak loh, Sayang," ujar David seraya menyodorkan satu sendok ke mulut Aretha.
"Tidak, Mas! Aku tidak lapar," tolak Aretha.
"Ayolah ... cobain sedikit saja." David tampak memaksa.
"Ish, kamu senang sekali memaksa orang!" gerutu Aretha.
"Sedikit saja," balas David tidak mau menyerah.
Akhirnya, setelah David berusaha keras membujuk sang istri, Aretha pun mau membuka mulutnya, menuruti permintaan sang suami, dengan memakan makanan yang diberikan olehnya.
"Enak?" tanya David seraya menatap intens wajah Aretha.
"Masih sama seprti biasanya!" jawab Aretha sedikit ketus.
"Tidak akan terasa enak, kalau cuma satu kali. Coba deh, kamu makan lagi," ujar David seraya menyodorkan kembali satu sendok makanan dari dalam piringnya.
Aretha hanya mendengus kesal. "Aku makan sendiri saja!" kesalnya seraya meraih piring yang ada di depannya.
David tampak tersenyum. Rupanya usahanya berhasil agar Aretha mau makan. Sebab, satu hal yang membuatnya selalu merasa khawatir, yaitu ketika Aretha telat makan.
Setelah selesai makan, Aretha langsung membereskan meja makannya, lalu mencuci piring kotor. Hal yang sudah biasa ia lakukan. Meski memiliki asisten rumah tangga, ia tidak selalu bergantung pada Ratih. Selagi ia bisa melakukannya, kenapa tidak?
"Sayang, sudahlah biarkan bi Ratih saja besok yang mengerjakan ini semua," ucap David seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Aduh, Mas ... kamu diam dulu, deh. Kamu tidak lihat aku sedang apa?" kesal Aretha seraya menghentikan kegiatannya sejenak.
"Tidur, yuk! Sudah malam," ajak David.
"Sebentar, Mas, aku selesaikan ini dulu," jawab Aretha.
"Lama, aku tidak sabar," keluh David dengan manja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
HAPPY READING
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT