
Walaupun masih pagi, nampaknya udara Jakarta memang selalu terasa panas, sehingga membuat Aretha memutuskan untuk memakai kaus polos berwarna putih dengan hot pants berwarna hitam yang sedikit mengekspos setengah paha hingga kakinya yang putih dan mulus.
Gadis itu tampak menyisir rambutnya dan membiarkan rambut lurusnya itu tergerai dengan begitu indah.
Belum selesai dengan kegiatan berdandannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang diiringi suara panggilan sang mami. Sontak membuat Aretha harus sedikit berteriak seraya menyahuti.
"Iya, Mi ... sebentar!" teriak Aretha, setelah sang mami memintanya untuk segera sarapan.
Gadis itu melanjutkan kembali kegiatannya. Ia tampak memakai sedikit pelembap pada bagian wajahnya, lalu memoleskan lip tint berwarna red-orange pada bibirnya yang mungil. Entah kenapa pagi itu ia ingin sekali berdandan sempurna, padahal sebelumnya mana peduli dengan alat make up. Terlebih lagi ketika libur kuliah.
Setelah selesai, Aretha segera keluar dan berjalan menuruni anak tangga, lantas mengahmpiri meja makan, dimana kedua orangtuanya telah berada di sana, menunggunya untuk sarapan.
"Pagi, Mi ... pagi, Pi ...," sapa Aretha seraya melebarkan senyumnya.
"Pagi, Sayang." Keduanya tampak kompak menyapa kembali sang buat hati.
"Tumben putri papi ceria sekali pagi ini?" Seloroh Anton yang tengah duduk di kursi meja makan dengan di temani Carmila, sang istri.
"Apa sih, Papi ... biasa aja, kok!" Aretha mendaratkan tubuhnya di kursi yang terletak di samping Anton, tepat di depan Carmila.
"Kamu mau sarapan apa, Re?" tanya sang mami. Tampak nasi goreng dan roti tawar berikut selainya telah tertata rapi di atas meja. Aretha memfokuskan pandangan ke arah kedua menu sarapan pagi itu.
"Mm ... aku sarapan ini aja, deh!" ucapnya seraya meraih selembar roti tawar, lalu dengan perlahan Aretha melumuri roti itu dengan selai cokelat.
Aretha mulai melahap sedikit demi sedikit roti itu, sesekali ia meminum segelas air susu yang sudah tersedia di sampingnya.
Ting tong!
Suara bel rumah membuat ketiganya seketika tersentak. Mereka pun menghentikan kegiatannya sejenak. Entah siapa yang bertamu sepagi itu, tumben sekali.
"Biar mami yang buka," ucap Carmila yang nampak telah selesai dengan kegiatan sarapannya. Perempuan paruh baya itu tampak beranjak dari tempat duduknya, sementara Aretha dan papinya melanjutkan kembali kegiatan mereka.
Tak berlangsung lama, Carmila telah kembali, sontak membuat Aretha dan sang papi penasaran siapa yang bertamu di pagi hari seperti itu.
"Siapa, Mi?" tanya Aretha seraya menoleh ke arah sang mami yang baru saja muncul di ruangan makan.
Carmila tersenyum. "Lihat siapa yang datang!" ucapnya seraya menengok ke belakang. Dan betapa terkejutnya Aretha, ketika mendapati sosok yang tegah berjalan di belakang sang mami, yang tak lain adalah David.
Mas David? Kenapa tiba-tiba dia ada di sini?
"Selamat pagi, Om, Re!" sapa David tampak tersenyum.Kala itu ia telah berdiri di samping meja makan. Entah apa maksudnya, Carmila langsung membawa pria itu ke ruang makan.
"Pagi, Nak Dave!" Anton tampak membalas sapaan pria itu seraya tersenyum senang, sementara Aretha hanya diam tak acuh.
"Ayo duduk, kita sarapan bareng!" titah Anton yang sontak membuat Aretha seketika menoleh sembari memberengutkan wajahnya.
Ngapain harus diajak sarapan juga, sih? Kenapa gak disuruh nunggu di ruang tamu saja? Gak tahu apa kalau aku lagi kesal sama dia?
"Terima kasih, Om!" David mulai mendaratkan tubuhnya di kursi yang terletak di samping Aretha. Setidaknya ia senang karena bisa sarapan bersama di meja yang sama pulang dengan calon istri. Sementara Aretha masih fokus melahap roti yang tinggal sebagian lagi.
"Nak Dave, mau sarapan apa?" tanya Carmila.
"Roti saja, Tante," jawab David tanpa rasa malu.
"Re, kamu siapin ya ... mami mau ke dapur dulu!" titah Carmila yang sontak membuat Aretha mendelik kesal ke arah David.
"Iya, Mi ...," jawab Aretha sedikit malas.
Aretha meletakkan roti miliknya yang belum sempat ia habiskan, lalu mengambil selembar roti yang baru.
"Nak David, Om tinggal sebentar ya ... kamu di sini saja dulu temani Aretha sarapan!" ujar Anton, setelah selesai menghabiskan sepiring nasi goreng.
David memfokuskan pandangannya ke arah Aretha yang kala itu tengah sibuk dengan kegiatannya. Pria itu menatapnya lekat.
"Mau rasa apa?" tanya Aretha ketus seraya menoleh ke arah David. Gadis itu telah siap dengan roti tawar dan sendok di tangannya.
"Ada rasa apa saja?" tanya David tampak menatap wajah Aretha sembari tersenyum.
Dia sangat menggemaskan kalau lagi marah seperti ini.
"Kacang, strawberry, nanas, srikaya, cokelat. Mau apa?" jelas Aretha tak ada lembut-lembutnya sembari menunjuk satu persatu selai itu.
"Mau kamu," jawab David menggoda. Ia masih fokus menatap Aretha yang menggemaskan sehingga membuat gadis itu merasa risih sedari tadi ditatap seperti itu.
"Mas David!" pekik Aretha yang seketika membuat David terlonjak.
"Kamu kalau ngomong biasa saja, tidak usah berteriak seperti itu! Malu tahu kalau kedengaran orang!" kesal David seraya mengedarkan pandangan ke beberapa arah, khawatir ada yang mendengar teriakan Aretha.
"Lagian, kamu menyebalkan!" bisik Aretha ketus.
David menghela napas secara perlahan. "Sini, aku makan rotinya saja," ucapnya seraya meraih roti tawar yang masih polos itu dari tangan Aretha. Seketika Aretha termangu, ketika melihat David mulai melahap roti itu.
"Memangnya enak?" tanya Aretha heran.
"Enak!" jawab David yakin.
"Enak apa, enggak ada rasanya gitu dibilang enak!" ujar Aretha.
"Kan rasanya kamu," lirih David lagi-lagi menggoda gadis itu.
"Ck!" Aretha berdecak kesal seraya memutar bola matanya.
"Apapun, kalau dimakan dekat kamu pasti rasanya enak," bisik David seraya mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
Sejak kapan kamu jadi bucin seperti itu!
Aretha mengalihkan perhatian ke arah sepotong roti miliknya yang belum sempat ia habiskan, lalu mengambil sepotong roti itu dari piring yang berada tepat di hadapannya. Gadis itu pun melanjutkan kembali kegiatan sarapannya dengan ditemani David.
"Kamu tidak malu, datang ke sini cuma buat numpang sarapan di rumahku?" tanya Aretha tanpa menoleh.
"Kamu yang sudah buat aku melewatkan sarapanku pagi ini!" David mulai kesal, mengingat teleponnya yang berulang kali diabaikan oleh gadis itu. Aretha yang merasa hanya diam tak menjawab.
"Ada apa, sih? Kamu lagi PMS, ya?" tanya David masih penasaran, apa yang sebenarnya membuat Aretha marah.
"GAK!"
"Lantas?" David mengerutkan dahinya.
"Pikir saja sendiri!" ketus Aretha yang membuat David seketika melengos.
Shit! Kenapa perempuan sulit sekali untuk dipahami?
David kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Aretha. "Apa karena hukuman yang kemarin kurang?" tanyanya lagi-lagi ingin menggoda. "Kalau masih kurang, aku bisa kasih lebih kok, Sayang," imbuhnya yang langsung mendapatkan cubitan dari Aretha dipinggangnya.
"Aauuuwwww!"
______________
KOMENTARNYA DONK🙏
HAPPY READING!