Possessive Love

Possessive Love
Ijab Kabul



Seorang gadis tengah berdiri sembari melebarkan senyum simpul pada bayangannya yang terpantul pada cermin. Rona bahagia tampak terpancar dari wajah gadis itu. Siapa sangka ternyata hidupnya akan berakhir seperti itu.


Tak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa hidupnya akan berakhir mengenakan pakaian pengantin berwarna putih itu. Tak lama lagi, ia akan menyandang status sebagai istri seorang CEO di perusahaan tempat ia magang yang tak lain adalah David Wijaya.


Dengan perlahan tapi pasti, gadis itu melangkahkan kakinya dengan diapit dua orang bridesmaid. Langkahnya seakan berat. Namun, tak mungkin dirinya berbalik dan berlalu pergi hanya karena rasa gugup yang seakan menghantuinya.


Jantungnya berdegup kencang. Antara gugup dan bahagia, layakanya rasa asin dan manis yang bercampur aduk menjadi satu. Tujuannya sudah ada di depan mata. Tinggal selangkah lagi menuju momen sakral yang selama ini selalu menjadi dambaan setiap insan, tak terkecuali dirinya.


Kini mereka telah duduk berdampingan untuk saling mengikat janji satu sama lain, sebelum menjalani bahtera rumah tangga yang dipenuhi dengan sukacita dan kebahagiaan.


Tampak keduanya saling beradu pandang sejenak, lalu melempar senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka, layaknya sinar mentari yang begitu cerah dengan segenap keindahannya, seakan ikut merestui hubungan mereka.


Kicauan burung terdengar begitu merdu seakan bersiap untuk mengiringi momen terindah yang hendak mengikat keduanya menjadi satu. Semilir angin sejuk berembus menyelusup masuk ke dalam pori-pori tubuh, seakan ikut mendoakan untuk kebahagiaan mereka kelak.


David tampak telah siap. Tangannya saling menjabat dengan tangan pria paruh baya yang hendak mengucap ijab dan kabul. Rasa gugup pasti ada. Namun, semua kegugupan itu nampak musnah seketika, tergantikan dengan rasa bahagia yang kian memuncak.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aretha Chairani Grissham binti Antonio Grissham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dengan suara sedikit lantang, David meloloskan kalimat itu dengan lancar tanpa hambatan apapun.


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya seorang penghulu kepada kedua saksi yang sontak mengalihkan perhatian semua orang yang berada di sana, tak terkecuali kedua mempelai itu. Mereka tampak menunggu jawaban "SAH" dari kedua saksi tersebut.


"Sah!"


"Sah!"


Aretha tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan. Pria itu tampak memandang sosok di sampingnya, lalu menyunggingkan senyum bahagianya. Pun sebaliknya, Aretha tampak membalas senyuman itu dengan lebar dan penuh kebahagiaan layaknya bunga mawar yang merekah dengan begitu indah. Namun, di mata David Aretha jauh lebih indah dari segalanya.


Sosok berwajah cantik yang sudah mencuri perhatiannya. Kini telah berada di sampingnya duduk berdampingan saling mengikat janji dan menyematkan cincin perkawinan di jari manis masing-masing.


Sungguh sulit dipercaya, setelah ia berusaha keras untuk meyakinkan sosok gadis itu, ternyata semesta turut mendoakan dan mengabulkannya. Meski itu tidak mudah. Namun, nyatanya ia mampu mencapai apa yang menjadi harapannya selama ini, menjadi pendamping hidup Aretha.


Pria itu tampak mengambil sebuah cincin pernikahan dari sebuah kotak, lalu meraih tangan Aretha, hendak menyematkan cincin itu di jari manis wanita yang telah menjadi istrinya. Lagi-lagi ia tersenyum, sebelum berhasil menyematkan cincin itu.


Drt ... drt ... drt ....


Tubuh Aretha terasa seperti bergetar, ketika David baru saja akan menyematkan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Entah karena gugup atau apa, yang jelas ia tak menghiraukannya. Dengan perlahan David berhasil menyematkan cincin itu di jari manis Areha dengan begitu sempurna.


Sekarang giliran Aretha. Ia tampak mengambil cincin yang satunya, lalu mulai menyematkan cincin itu di jari manis David. Namun, lagi-lagi tubuhnya kembali terasa bergetar, sebelum ia berhasil melakukannya.


Aretha merasa bahwa itu bukanlah getaran sekadar hanya karena rasa gugup, melainkan seakan ada sesuatu yang tengah menggoyangkan tubuhnya sehingga menjadi bergetar seperti itu yang entah itu apa.


Getaran itu terasa lebih lama dan seakan enggan untuk pergi dari tubuhnya hingga membuat Aretha seketika menjatuhkan cincin itu dari tangannya, sontak membuat gadis itu seketika terperanjat.


"Ya ampun ... mimpi itu lagi," lirih Aretha.


Gadis itu tampak melihat sekeliling tempat tidur, mencari sumber yang membuat tubuhnya bergetar sehingga ia harus terpaksa bangun dan mengakhiri mimpi itu. Ternyata pelakunya adalah benda pipih yang selama ini selalu menemani hari-hari gadis itu. Ia segera meraih ponsel yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur, tepat di belakangnya.


Seketika Aretha mengucek matanya, sebelum ia melihat layar ponsel tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00. Gadis itu segera mematikan alarm yang sengaja ia setting pada layar ponselnya, tadi malam. Lantas, ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual hariannya.


Gadis itu tampak bersemangat sekali dengan kegiatannya pagi itu. Entah apa yang membuatnya lebih bersemangat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.


Seperti biasa, Aretha segera mengenakan pakaian kerja, setelah kegiatan mandinya selesai. Ia tampak mengenakan rok hitam yang dipadupadankan dengan kemeja berwarna peach, berbalut blazer berwarna senada dengan roknya.


Gadis itu tampak menghampiri meja rias untuk sedikit memoles wajahnya. Namun, seketika ia mengurungkan niatnya, tatkala mendengar ponselnya bergetar.


Gadis itu segera meraih ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas, samping tempat tidurnya.


"Pak David?" Aretha sedikit mengernyitkan dahi, setelah melihat nama kontak yang tertera pada layar ponselnya.


Gadis itu menatap ponselnya sejenak, lalu menggeser ikon berwarna hijau, setelah beberapa saat. Ia tampak menerima panggilan dari sang atasan.


"Hari ini saya tidak bisa jemput kamu, kamu berangkat sendiri, ya!" ucap David, setelah gadis itu berhasil menyapanya melalui udara.


Aretha terdiam sejenak. Ia sedikit memberengut. "Oh ... iya, Pak, tidak apa-apa," ucapnya sedikit kecewa.


Setelah beberapa minggu kebelakang, pria itu selalu bersedia menjemputnya, kenapa tiba-tiba di hari terakhir ia magang pria itu malah tidak bisa menjemputnya.


Meski itu tidak begitu masalah bagi Aretha. Namun, tetap saja ia merasa ada yang kurang. Walau bagaimana pun, selama ini ia selalu pulang dan pergi ke kantor bersama David.


"Baiklah, aku cuma mau kasih tahu itu saja. Bye!"


David tampak menutup kembali teleponnya, sementara Aretha sedikit termangu dengan sikap pria itu yang tiba-tiba berubah. Padahal selama ini David yang selalu memaksa agar ia berangkat dan pulang kantor dengannya.


"Padahal ini hari terakhir aku loh. Kenapa pak David tiba-tiba tidak bisa menjemputku, tanpa alasan lagi," gerutu Aretha seraya mengerucutkan bibirnya.


__________


HAPPY READING


JANGAN LUPA KOMEN YA😁


DAN BUAT KALIAN YANG BELUM RATE POSSESSIVE LOVE, MOHON BANTU NAIKIN RATING YA DENGAN KASIH 5 STAR PADA NOVEL INI.


THANKS.