Possessive Love

Possessive Love
Menangisi Kepergian Papi



Aretha dan David sudah berada di perjalanan menuju kediaman orang tua kandung Aretha.


Setelah David memberi pemahaman dan sedikit ketenangan kepada Aretha, akhirnya wanita itu bisa sadar akan ketetapan yang sudah Tuhan gariskan dan ia tidak bisa melawan itu. Meski itu berat, tetapi ia berusaha untuk tetap ikhlas.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Aretha menangis. David pun tak berusaha menghentikannya, karena ia pikir itu hal yang wajar, sehingga ia lebih memilih membiarkan istrinya menangis, selagi itu bisa sedikit menenangkan hatinya, kenapa tidak?


David hanya fokus dengan kemudinya, meski sesekali ia melirik ke arah sang istri. Namun, tak membuatnya gagal fokus dari jalanan yang kala itu tampak sibuk dengan kendaraan yang berlalu lalang, terlebih lagi itu masih jam kerja.


Tak lupa. Sebelum berangkat, David telah lebih dulu memberi tahu supir dan perawat yang mengantar anak-anaknya ke sekolah agar mereka segera membawa Arkana dan Aruna ke rumah omanya.


Tepat di depan rumah orang tua Aretha. Tampak bendera kuning yang sudah berkibar di sana. Halaman rumah itu juga dipenuhi oleh beberapa orang yang bertakziah. David menghentikan mobilnya di sana.


Seketika Aretha semakin terisak melihat keramaian di rumah orang tuanya. Sungguh itu terasa mimpi baginya.


"Sayang, ayo kita turun," ajak David.


"Mas ... a-aku." Tangan Aretha menutupi sebagian wajahnya, lalu ia menggelengkan kepalanya seolah masih belum memercayai apa yang ada di depan matanya, sedangkan air matanya semakin deras mengalir di pipinya. Sungguh membuat David tidak tega melihatnya.


David memeluk Aretha kembali. "Kamu harus kuat, demi mami," ucapnya seraya mengelus-elus punggung istrinya. "Kasihan mami, Sayang," imbuhnya yang juga sudah tidak kuasa menahan air matanya. Namun, secepat kilat David menyekanya kembali, demi tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang istri.


David segera turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Aretha.


"Ayo!" David mengulurkan tangannya kepada sang istri. Namun, Aretha masih sama. Ia masih saja terisak sembari menatap sendu wajah suaminya.


"Ayo, Sayang," ajak David sekali lagi.


Akhirnya Aretha pun mau mengikuti permintaan sang suami. Ia meraih uluran tangan David, lalu turun dari mobil itu. Tubuhnya seketika menjadi lemas seolah merasa tidak menapak. Rasanya berat sekali untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam sana. Namun, David tetap saja menuntunnya dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang sang istri.


Dengan langkah yang gontai dan sedikit bantuan dari suaminya, Aretha berjalan memasuki rumahnya. Tampak beberapa orang yang memerhatikan kedatangannya dari sejak awal. Mereka terlihat menatap sendu wajah Aretha.


Aretha dan David terus berjalan hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang sudah ramai dengan beberapa orang yang lebih dominan mengenakan pakaian hitam. Mereka tampak duduk membentuk lingkaran berukuran besar di sana, sedangkan di bagian tengah, tampak sesorang yang terbujur kaku tak berdaya dengan ditutupi oleh kain berwarna putih. Di depannya tampak Carmila yang tengah terisak menangisi sosok tak bernyawa di hadapannya saat itu. Ya, siapa lagi jika bukan Antonio Grissham—papinya Aretha.


Seketika Aretha terkulai lemah mendapati suasana yang mengharukan seperti itu. "Papiiii!!" jeritnya sudah tak kuasa lagi menahan luka di benaknya.


Semua mata tertuju padanya. Pun dengan Carmila yang semakin terisak melihat tangisan putrinya. "Papi ... jangan tinggalkan Rere, Pi ...."


"Sayang ...." Lagi-lagi David merengkuh istrinya, berusaha menenangkannya. Namun, Aretha terus-terusan menjerit memanggil papinya.


Sunguh wanita itu tidak kuasa melihat pemandangan tersebut. Semua itu terlalu menyakitkan baginya. Bahkan, ketika ia ingat bahwa dirinya belum sempat memberi kebahagiaan untuk sang papi, tetapi papinya telah lebih dulu meninggalkannya. Hatinya patah dan hancur. Bahkan, lebih dari sekadar itu.


"Papiii," panggil Aetha sekali lagi di dalam pelukan David.


Tentu itu membuat David sebagai suaminya sangat terluka. Ya, hal yang paling membuat dirinya terluka adalah dengan melihat Aretha—orang yang sangat ia cintai terlihat hancur.


"Sayang, Tuhan lebih sayang sama papi. Percayalah bahwa ini yang terbaik untuk beliau. Jangan seperti ini. Kamu harus kuat. Lihatlah mami! Beliau sendirian saja. Mami butuh kamu, Sayang. Ayolah ... bangkit!"


Sekeras apapun David bertahan, dengan melihat Aretha yang seperti itu, akhirnya air matanya luruh juga. Ia benar-benar sudah tak kuasa melihat kesedihan Aretha saat itu.


Di satu sisi ia ingin sekali menenangkan sang istri. Namun, di sisi lain ia juga tidak kuasa menahan kesedihannya, ditambah lagi melihat sang istri yang semakin membuatnya tidak tega. Untuk yang kedua kalinya, ia menangis karena sosok yang sangat ia cintai, setelah dulu, beberapa tahun silam ia juga pernah melakukannya untuk kepergian seorang wanita yang namanya pernah sempat terukir di dalam hatinya.


Seketika Aretha mengangkat kepalanya dari dada bidang David, lalu dari kejauhan ia menatap sang mami yang kala itu tengah menatapnya sembari menangis, dengan didampingi kedua perempuan paruh baya di samping kanan dan kirinya yang Aretha kenal sebagai tetangga maminya yang berusaha menenangkan.


"Mami ...," lirihnya masih dalam posisi yang sama. Ia semakin terluka melihat maminya menangis seperti itu. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak, karena pada kenyataannya ia pun tengah berada pada posisi terlemahnya. Entah bagaimana jadinya jika ia tidak memiliki suami seperti David, yang sedari tadi tidak pernah bosan dan tidak menyerah untuk membuatnya bangkit kembali dari rasa sakit yang bahkan sampai detik itu masih bernaung dalam dirinya. Bahkan, semakin lama rasa sakit itu semakin terasa.


David mengangkat tubuh Aretha hingga berdiri, lalu membawanya ke hadapan sang mami. Dengan sigap Aretha langsung membenamkan wajahnya di pangkuan sang mami. Di situlah, ia kembali menangis sejadi-jadinya.


"Papimu sudah tenang, Nak," ucap Carmila lirih sembari mengelus-elus kepala putrinya, meski ia sendiri mungkin jauh lebih terluka ditinggal suaminya di usia yang masih belum mencapai setengah abad itu.


Namun, Aretha semakin tersedu sedan. Ia tahu bahwa maminya juga sedih dan terluka, tetapi dalam situasi seperti itu saja, maminya masih berusaha menenangkannya. Beliau benar-benar wanita yang hebat untuknya.


"Doakan saja papimu. Beliau pasti bahagia di sana," ujar Carmila dengan masih berlinang air mata.


"Ma-maafkan aku, Mi. Ba-bahkan, aku belum sempat memberi kebahagiaan pada papi, tetapi papi sudah lebih dulu pergi," ucap Aretha terbata di tengah isak tangisnya.


"Kamu salah, Nak. Kata papi, kamu adalah kebanggaannya. Papi bahagia sekali memiliki putri yang kuat sepertimu, Nak. Jadi, mami mohon, jangan buat beliau kecewa karena tangisanmu sekarang. Papi tidak menyukainya," tutur Carmila kemudian yang sontak membuat Aretha semakin tidak kuasa menghentikan tangisannya.


"Bangunlah, Nak. Lihat papimu untuk yang terakhir kalinya," pinta Carmila memohon.


"Mama ...."


Seketika suara Arkana dan Aruna memecah di ruangan itu, sehingga membuat Aretha reflect menghentikan tangisannya, meski air matanya tetap saja mengaliri pipinya.


Aretha mengangkat kepalanya dari pangkuan sang mami, lalu menoleh ke belakang. Tampak Arkana dan Aruna yang tengah berdiri di sana didampingi oleh perawatnya.


"Mama, Mama kenapa?" tanya Arkana dan Aruna berbarengan, ketika menyadari wajah mamanya yang berlumuran air mata.


"Sini, Sayang," ajak David kepada kedua buah hatinya.


Arkana dan Aruna langsung menghampiri papanya, lalu duduk di atas pangkuan pria itu bersebelahan sembari masih menatap sedih mamanya.


"Papa, mama kenapa?" tanya Aruna seraya mendongakkan kepalanya menatap sang papa.


Anak-anak seusia mereka masih belum begitu memahami tentang arti sebuah kehilangan seseorang yang mereka cintai. Mereka hanya tahu bagaiamana sedihnya, ketika mainan kesayangannya hilang ataupun diambil orang, yang tentu saja itu bisa kembali mereka dapatkan, karena banyak tersedia di pasaran.


"Tidak apa-apa, Sayang," jawab David.


"Tidak apa-apa kok menangis? Oma juga," selidik Aruna yang memang selalu memiliki segudang cara untuk bertanya.


"Iya, Pa," timpal Arkana yang juga mengindahkan perkataan adiknya.


Aretha masih menatap kedua buah hatinya. Seketika ia mengingat sang mami yang selalu berusaha kuat di hadapannya meski dalam situasi yang telah menyakitinya, sedangkan dirinya? Ia tidak bisa berpura-pura kuat dalam hal itu. Namun, demi anak-anaknya, nampaknya ia benar-benar harus menjadikan maminya sebagai contoh. Ia tidak boleh lemah di hadapan anak-anaknya. Pun demi papinya yang jelas sangat tidak menyukai jika melihat dirinya menangis.


Aretha segera menyeka air matanya, demi tidak ingin melihat kedua buah hatinya bersedih karena melihatnya menangis.


Aruna segera berlari memeluk mamanya, seolah ia merasakan kesedihan yang tengah Aretha rasakan saat itu. Pun dengan Arkana yang juga ingin menghampiri mamanya. Namun, secepat kilat David menahannya.


"Arka di sini saja sama papa," ucap David yang langsung mendapat anggukkan kepala dari putranya.


"Jeng ... kami turut berduka cita," ucap Maria yang baru saja tiba di tempat itu dengan Kris. Wanita itu tampak langsung memeluk Carmila dengan menunjukkan ekspresi sedihnya. Sungguh ia tidak menyangka jika besannya akan pergi secepat itu, dan itu membuatnya syok berat, ketika David memberi tahunya dua jam yang lalu.


Dalam pelukan Maria—teman sekaligus besannya itu, Carmila menumpahkan segala kesedihan yang tengah dirasakannya saat itu. Sungguh kehilangan suaminya adalah hal yang paling menyedihkan baginya.


Sedangkan Kris tampak menghampiri Aretha, sebelum mengucapkan bela sungkawa kepada Carmila.


"Pa. Papi, Pa ...," lirih Aretha kembali menangis. Bahkan, ia lupa kalau Aruna masih duduk di pangkuannya saat itu.


Melihat menantunya yang bersedih seperti itu, Kris langsung memeluknya layaknya kepada seorang anak kandungnya. "Kamu yang sabar, Nak. Kamu masih punya Dave, mami, papa dan mama juga. Kamu anak papa. Papimu pasti bahagia di sana," ucapnya sembari mengelus-elus punggung Aretha.


Tak lama kemudian, datanglah keluarga Aretha yang dari luar kota. Tampak oma dan keluarga pamannya yang turut hadir di sana. Lagi-lagi Carmila menjatuhkan tangisannya di pelukan mertuanya, ibu dari suaminya. Suasana pun menjadi semakin haru dalam sekejap.


Tak hanya mereka. Bahkan, sahabat dan kerabat Aretha dan David pun tampak hadir di sana. Juga dengan beberapa rekan bisnis dan pegawai di perusahaan papinya tampak sudah berada di tempat itu.


Setelah semuanya mulai stabil, barulah dilakukan proses mengurusi jenazah Anton hingga jasadnya diantar ke tempat peristirahatan terakhir yang tidak jauh dari rumahnya.


***


Sepulang mengantarkan papinya ke tempat peristirahatan terakhirnya, Aretha dan maminya tampak duduk bersebelahan di sofa panjang yang berada di ruang tengah ditemani oleh suami dan mertuanya. Tampak Richard dan Rendy beserta istrinya yang juga masih berada di sana.


Aretha tampak bersandar di dada maminya. Lagi-lagi ia menangis. Memang tidak mudah untuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang sangat dicintai, seperti halnya yang dialami oleh Aretha.


"Sudahlah, Nak. Kita tidak perlu berlarut dalam kesedihan. Tuhan lebih menyayangi papi. Papi pasti bahagia di sana, Sayang. Asalkan kita di sini juga bahagia," ucap Carmila sembari mengusap lengan Aretha.


Aretha menyeka air matanya, tanpa berkomentar apapun.


Mami selalu berusaha menguatkanku, meski aku tahu sebenarnya mami juga rapuh. Dan itu justru membuatku semakin terluka melihat mami yang pura-pura tegar.


Justru yang Aretha khawatirkan sekarang adalah sang mami. Entah akan seperti apa hidup maminya, setelah papinya tidak ada di rumah untuk menemani wanita yang sudah sembilan bulan mengandungnya.


Tak hanya maminya, yang lain pun ikut memotivasi Aretha, saling menguatkan satu sama lain, meski mereka juga sangat merasa kehilangan.


***


Kepergian papinya membuat Aretha lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Kala itu ia tampak duduk bersandar di atas tempat tidur sembari menatap nanar ke sembarang arah.


"Sayang, sarapan dulu," titah David yang kala itu terlihat membawakan makanan ke dalam kamar. Namun, Aretha tidak menjawab apapun.


"Sayang, ayo dong ... jangan seperti ini terus. Kamu harus makan. Kalau tidak makan, bagaimana kamu mau menjaga mami, ha?" ucap David menasihati.


"Aku tidak nafsu makan, Mas," jawab Aretha masih dengan tatapan yang sama.


"Iya, aku tahu. Tapi, setidaknya makanlah sedikit, jangan biarkan perutmu kosong. Kamu belum makan lho dari kemarin siang. Aku mohon," balas David memohon.


"Kamu sayang 'kan sama aku? Sayang juga 'kan sama Arka dan Aruna? Begitu pun dengan mamimu?" tanya David. "Kalau kamu sayang, makanlah untuk kami," imbuhnya kemudian.


"Aku bingung, Mas. Rasanya berat sekali untuk ikhlas," lirih Aretha.


"Semuanya juga sama. Lakukan saja secara perlahan, jangan terlalu memaksakan. Toh, kapanpun semuanya akan kembali pada Tuhan tanpa kita duga, dan kita harus siap menghadapinya, lalu berusaha mengikhlaskannya. Perihal kehilangan, memang akan selalu seperti itu alurnya," jelas David berusaha menbuka hati Aretha untuk sadar akan garis takdir Tuhan.


"Mami?" Aretha sedikit terkesiap ketika ia mengingat maminya. " Mas, mami sudah makan?" tanyanya kepada Aretha.


"Belum," jawab David menggelengkan kepala. "Mami sama sepertimu, belum mau makan, belum ingin keluar kamar juga. Hanya kamu yang bisa membuat mami bangkit kembali. Kalau kamu seperti ini terus, mami juga pasti sama. Datangilah, jangan membuat mami semakin terpuruk," pinta David.


Mendengar pernyataan David, Aretha langsung pamit menuju kamar maminya. Tampak sang mami yang kala itu masih duduk bersandar di tempat tidur dengan air mata yang menetes di pipinya. Mungkin, itulah tempat yang ia rasa paling aman untuk bersembunyi dan melimpahkan segala kesedihannya.


"Mami," panggil Aretha lirih sembari menghampiri maminya.


Secepat kilat Carmila menyeka air matanya, lalu memaksakan senyumnya, ketika menyadari keberadaan Aretha di sana seolah tidak ingin putrinya tahu bahwa ia sedang menangis.


"Mami, sudah dong ... jangan menangis terus. Katanya papi akan bahagia kalau melihat kita tersenyum bahagia," ucap Aretha seraya mendaratkan tubuhnya di samping sang mami.


"Mami tidak menangis, Nak," jawab Carmila yang tentu saja Aretha tahu bahwa itu suatu kebohongan.


"Mami sarapan dulu. Biar aku suapin," ujar Aretha yang kala itu memang sengaja membawa makanan untuk sang mami.


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Carmila.


Aretha tersenyum. "Kita makan berdua," jawabnya yang langsung mendapat senyuman dari sang mami.


Aretha pun mulai memberi satu suapan nasi yang langsung mendapat sambutan dari maminya. Mereka makan bergantian. Semburat senyum bahagia saling mereka lemparkan satu sama lain, meski itu terkesan sedikit dipaksakan di tengah kehancuran yang memang sulit untuk dilupakan dalam waktu singkat.


"Mami, nanti Mami mau 'kan tinggal sama aku dan mas David?" tanya Aretha, setelah mereka berhasil menghabiskan sarapannya. Ia tampak memegang tangan maminya.


"Kenapa mami harus tinggal dengan kalian?" tanya Carmila sekenanya, padahal ia tahu maksud dari putrinya mengajak tinggal bersama, tak lain karena Aretha merasa khawatir dengannya.


"Mami ... aku dan mas David tidak akan mungkin membiarkan Mami tinggal sendirian di sini. Maka dari itu, Mami mau ya tinggal bersama kami. Aku mohon," terang Aretha memohon.


Lagi-lagi Carmila menyunggingkan senyumnya. "Tidak, Sayang. Lagipula, di sini 'kan ada bi Reni yang menemani mami. Kamu tidak perlu khawatir," jawabnya menolak.


"Berbeda lah, Mi ... aku tidak bisa lho meninggalkan Mami sendiri," ujar Aretha tampak bingung.


"Sampai kapanpun mami tidak akan meninggalkan rumah ini. Begitu banyak kenangan di rumah ini. Kenangan bersama papi, juga kamu, Nak. Mami tidak mau meninggalkan semua kenangan itu begitu saja." Mata Carmila mulai berkaca-kaca kembali, ketika ia berhasil menerawang kenangan bersama almarhum suaminya dan juga Aretha sewaktu masih kecil dulu.


"Mami ...." Aretha memeluk maminya dengan penuh haru.