
"APA?" David seketika terperangah, dengan pupil mata yang melebar. Memang tidak sampai membuat bola matanya keluar, tetapi seperti nyaris.
David bangkit dari duduknya, memasang ekspresi frustrasi, seolah tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Ini maksudnya apa? Kamu ini ngidam atau modus, sih? Hh! Lelucon macam apa ini!" tanya David melayangkan protesnya, ketika baru saja mendengar permintaan Aretha yang menginginkan sekali perutnya dielus sang mantan, yang tak lain adalah Richard.
David menatap sinis sang istri yang memang sangat aneh, aneh sekali. Mana mungkin ada wanita hamil yang mengidam seperti itu, apa bukan mencari kesempatan namanya? Pikirnya saat itu.
Kalut. Pikirannya benar-benar kalut. Bagaimana bisa ia memenuhi permintaan Aretha yang satu itu. Sungguh, dari sekian banyaknya hal yang Aretha minta, justru itu adalah permintaan yang paling berat baginya, benar-benar berat.
Melihat dan mendengar tanggapan dari sang suami, tiba-tiba membuat air mata Aretha luruh kembali. Seketika ia membaringkan kembali tubuhnya, membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia benar-benar kecewa, karena sang suami tidak dapat memenuhi permintaannya saat itu.
Ya, memang sedari awal ia sudah menduga kemungkinan yang akan terjadi, ketika ia menyampaikan keinginannya itu kepada sang suami. Maka dari itu, ia memilih untuk diam, tidak mengeluarkan apa yang ia inginkan.
Namun, nyatanya seperti itu. Ia seolah tidak bisa membendung ataupun menunda keinginannya itu, sehingga pada akhirnya berakhirlah dengan tangisan, sebagaimana ketika ia menginginkan sesuatu yang lainnya, pasti akan berakhir dengan isak tangis, ketika tidak langsung terpenuhi.
Aretha semakin menangis menjadi-jadi. Ia sadar betul bahwa ini salah, tetapi apa yang bisa ia perbuat, kalau pada kenyataannya ia memang menginginkan hal itu.
"Ayolah, Sayang ... kamu boleh minta apa saja, asalkan tidak untuk yang satu ini, please!" bujuk David sangat memohon.
Aretha terus menangis. Ia pun bingung bagaimana cara mengatasi keinginannya saat itu.
Ya, Tuhan ... aku harus bagaimana. Ini perut kenapa sih, ingin sekali dielus sama kak Richard. Kenapa ngidam serumit ini?
Aretha semakin terisak, merasakan frustrasi, karena tidak bisa mengatasi keinginannya yang sangat konyol itu. Kalau ia bisa mengatasinya, tanpa diminta pun sudah dari awal ia lakukan.
"Sungguh, aku benar-benar tidak rela melihatmu disentuh pria lain, terlepas siapapun itu!" tegas David.
David tampak mengacak rambutnya kasar. "Ya, Tuhan ... dosa apa aku ini!" geramnya.
David menaiki tempat tidur, berniat mencoba menenangkan sang istri yang masih bertahan dengan tangisannya.
"Sayang ... ayolah, kamu minta yang lain saja, jangan yang aneh-aneh seperti ini," ucap David seraya mengangkat tubuh Aretha.
"Tidak apa-apa, Mas, kalau memang kamu tidak bisa memenuhi permintaanku, aku paham, kok," ucap Aretha sedikit terbata, ketika ia telah duduk berhadapan dengan suaminya. Namun, tetap saja air matanya masih saja menetes sendu. Nampaknya, ia benar-benar harus mengalah perihal itu.
David tampak menatap sendu wajah Aretha. Bagaimana bisa ia membiarkan sang istri terus-menerus menangis seperti itu.
"Re, kamu mau jawab pertanyaanku dengan jujur?" tanya David dengan tatapan penuh harap.
Aretha tertegun sejenak, lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Kamu masih mencintai Richard?" tanya David penuh selidik.
Dengan sigap Aretha menggelengkan kepalanya. Ia sangat mengerti kenapa David mempertanyakan perilah itu. Ya, tentu saja semua pria mungkin akan memiliki perasaan yang sama, ketika berada dalam posisi seperti David.
"Jawab aku dengan jujur, Re!" tegas David memastikan.
"Tidak, Mas!" jawab Aretha.
Aretha memang menginginkan sekali perutnya dielus oleh sang mantan kekasih, tetapi sungguh ia tidak memiliki tujuan lain, apalagi terkesan mencari kesempatan. Dan tentang perasaannya terhadap pria itu, memang benar seperti itu adanya, ia sudah tak memiliki rasa apapun kepada pria itu. Terlebih lagi, mengharapkan bisa kembali dengannya seperti dulu. Ah, benar-benar tidak mungkin baginya, ketika ia tahu bahwa seluruh hatinya sudah menjadi milik David seutuhnya.
"Kamu yakin?" David masih menatap penuh tanya.
Sungguh David tidak ingin ada kebohongan diantara mereka. Ia tidak ingin jika hidup dengan wanita yang ternyata hati dan perasaannya untuk pria lain. Maka dari itu, ia perlu memperjelas tentang semua yang tengah mengganggu pikirannya saat itu.
"Aku butuh kejujuran dari kamu," terang David.
"Aku memang sudah tak lagi memiliki perasaan apapun kepada dia. Kak Richard sudah benar-benar kuanggap seperti kakakku sendiri, tidak lebih. Dan untuk hari ini, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin sekali dia mengelus perutku, tetapi jika kamu tidak mengijinkan, aku tidak masalah, aku paham sekali maksud kamu," jelas Aretha dengan ekspresi sendunya.
"Benarkah seperti itu?" David tampak memegang kedua bahu Aretha, seraya menatapnya intens.
Aretha mengangguk dengan penuh keyakinan.
Secepat kilat, David menarik tubuh Aretha, membawanya ke dalam dekapan yang begitu erat. Beberapa saat ia memeluk tubuh mungil istrinya itu.
"Sayang, kamu tahu 'kan perasaanku jika sampai aku memenuhi keinginanmu kali ini?" tanya David di tengah dekapannya. "Aku sungguh tidak bisa. Rasanya pasti akan sakit sekali, Sayang. Jangankan untuk disentuh, melihat cara dia memandang kamu saja, aku selalu merasa tidak rela. Kamu itu terlalu berharga buatku," imbuhnya mengungkap apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku paham, Mas," ucap Aretha lagi-lagi meneteskan air mata. Sudah dapat dipastikan ia tidak akan mendapat apa yang ia inginkan.
David melepaskan pelukannya. "Aku tahu perasaanmu, ketika aku tidak mengabulkan apa yang kamu inginkan. Maka dari itu, untuk kali ini aku mau berkorban. Anggap saja ini pengorbanan terberatku, sebagai bentuk cintaku kepadamu. Aku akan mengikuti keinginanmu kali ini," ujar David yang sontak membuat Aretha terbelalak tidak percaya.
"Kamu serius, Mas?" tanya Aretha antusias. David hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
"Mas, kalau kamu tidak bisa jangan dipaksakan, aku tidak apa-apa, paling nanti anak kita ileran," ucap Aretha sedikit memberi tahu efek yang tentu saja tidak benar.
"Begitukah?" polos David seraya menatap tidak percaya.
Aretha memasang ekspresi memelasnya, lalu menganggukkan kepala.
"Kamu ngidan beneran, kan? Bukan curi-curi kesempatan untuk membodohi suamimu ini?" David tampak memastikan.
"Ngidam beneran, Mas," jawab Aretha. Ia sendiri bingung dengan keinginannya saat itu. Namun, sungguh ia sudah benar-benar tak memiliki perasaan apapun kepada pria itu.
"Ya sudah, aku akan panggil Richard," ucap David.
"Serius, Mas?" Aretha masih tidak percaya dengan keputusan sang suami.
"Ya, tapi kamu harus janji satu hal!" tegas David.
"Apa?" tanya Aretha penasaran.
"Tidak boleh lebih dari satu menit. Tidak ada kontak fisik lainyya, termasuk main mata sama dia, pokoknya apapun alasannya kamu tidak boleh membalas tatapannya, titik!" tegas David.
"Lalu?"
"Ya, pandang saja aku, apa susahnya?"
"Oke," jawab Aretha setuju. "Tapi ... kamu ikhlas 'kan, Mas?" tanyanya kemudian.
"Demi kamu. Kalau berbicara rela tidak rela, atau ikhlas tidak ikhlas, mungkin jawabannya tidak, tetapi ya sudahlah, aku harus bagaimana, selain hanya bisa mengikuti keinginan kamu itu. Asal kamu ingat pesanku barusan, aku tak apa," jawab David yang sebenarnya ia juga merasa ragu. Namun, apa boleh buat, ia juga tidak ingin jika keinginan yang tidak terpenuhi bisa membuat sang istri stres, terelepas dari mitos yang menyatakan bayinya bisa ileran.
"Terima kasih, Mas. Aku senang, aku sudah tidak sabar," ucap Aretha seraya menyunggingkan senyumnya yang sontak membuat David membeliak, menatapnya tidak suka, sehingga membuat Aretha seketika menciut kembali.
"Maaf," lirih Aretha.
"Jangan macam-macam!" tegas David.
David menurunkan tatapannya ke perut sang istri, lalu mengelusnya dengan lembut, sebelum dielus orang lain. Seketika ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium perut sang istri.
Aretha hanya tersenyum melihat suaminya itu.
Maafkan aku ya, Mas. Aku tidak bermaksud ingin membuatmu cemburu atau apa.
"Nak, nanti kalau sudah lahir, kamu jadi anak yang baik ya. Jangan lagi-lagi membuat papa kalap seperti ini," ucap David mengajak ngobrol janin yang ada di dalam kandungan sang istri.
Lagi-lagi Aretha menyunggingkan senyumnya, merasa lucu dengan tingkah sang suami saat itu.
Setelah beberapa menit, David tampak sedang mengobrol dengan Richard melalui udara.
"Ayolah, Bro ... gue butuh sekali bantuan lo," ucap David memohon, ketika Richard baru saja menyatakan bahwa ia tidak bisa datang ke rumah David, dengan alasan sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Sorry, Dave. Gue tidak bisa kalau malam ini," ucap Richard lagi-lagi menolak.
"Demi Aretha." David tampak memberi tahu alasan yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan.
"Aretha?" Suara Richard terdengar sedikit terkejut.
"Ya," singkat David.
"Kenapa dengan istri lo?" tanya Richard tampak penasaran.
"Pokoknya, gue tunggu di rumah, malam ini juga. Jangan lupa ajak Rendy. Bye!" tegas David segera mengakhiri perbincangan dengan sahabatnya itu.
***
Setelah hampir satu jam menunggu, terdengar suara ketukan pintu di kediaman David dan Aretha. Sudah dapat dipastikan itu siapa. Dengan sigap, David segera membuka pintu itu. Benar saja, tampak Richard dan Rendy yang berdiri di depan rumahnya. Bahkan, Clara juga ikut bersama mereka.
"Masuk!" titah David dengan ekspresi datar.
"Ada apa sih, Dave?" tanya Richard penasaran.
"Duduk!" titah David tanpa menanggapi pertanyaan Richard.
Mereka bertiga tampak menuruti perintah sang pemilik rumah. Mereka duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Gue panggil Aretha dulu," ucap David seraya melangkahkan kakinya dari ruangan itu, dengan tatapan tak acuh.
"Shit! Itu anak kenapa, sih?" gerutu Richard.
"Gue rasa ada yang tidak beres dengan dia," balas Rendy.
"Hus! Jangan negative thinking, Beb!" timpal Clara mengingatkan.
Dari kejauhan, tampak David dan Aretha yang tengah berjalan menghampiri tamunya yang berada di ruang bagian paling depan rumah itu.
Dengan senyuman semringah, Aretha menyapa mereka bertiga. Namun, kendatipun begitu mereka tetap bisa melihat mata Aretha yang sembap, dan mereka bisa memastikan bahwa telah terjadi sesuatu kepada wanita itu, terlebih lagi Richard yang sudah mengetahui lebih banyak tentang Aretha.
"Syukurlah, ada mbak Clara juga," ucap Aretha tersenyum senang. Paling tidak, dengan kehadiran Clara, ia tidak menjadi wanita satu-satunya di tengah-tengah ketiga pria itu. "Apa kabar, Mbak?" tanyanya kemudian.
"Aku baik, Re. Tadi kebetulan aku sama Rendy habis dari luar, tetapi tiba-tiba di telepon Richard dan diajak ke sini, jadi ya sekalian saja. Kupikir aku juga ingin tahu rumah kalian," jelas Clara.
"Aku senang, jadi ada teman mengobrol," balas Aretha. "Oh iya, kalian mau minum apa?" tanyanya kemudian.
"Apa saja, Re," jawab Clara.
"Kak Rendy, Kak Richard?" Aretha tampak memandang kedua pria itu secara bergantian.
"Aku ikut saja, Re," jawab Rendy.
"Bisa aku minta kopi?" tanya Richard seraya menatap wajah Aretha dengan penuh tanya. Ya, ia masih bertanya dalam hatinya, apa penyebab dari sembapnya mata Aretha. Terlebih lagi, ia masih mengingat dengan jelas perkataan David yang menyatakan bahwa ia diminta datang ke rumah itu demi Aretha yang entah itu maksudnya apa.
"Baiklah, tunggu sebentar," jawab Aretha seraya beranjak dari tempat itu, sementara David telah duduk di sofa.
David hanya diam saja. Nampaknya ia sangat malas untuk mengeluarkan sepatah kata pun malam itu. Wajahnya tampak sedikit murung. Terlihat jelas bahwa ada yang tengah ia pikirkan. Ya, apa lagi jika bukan tentang ngidamnya sang istri yang bahkan sudah bukan hanya aneh, tetapi lebih dari itu.
Melihat ekspresi David saat itu membuat kedua sahabatnya merasa heran dan penasaran, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada David. Akhirnya, Richard berniat untuk membuka suara dan bertanya kembali kepada tuan rumah.
"Dave, sebenarnya ada apa?" tanya Richard tampak menatap penuh tanya.
"Tahu, itu muke ditekuk begitu. Kayak kekurangan vitamin tahu nggak sih, lo?" ledek Rendy menimpali.
Namun, David tak ingin menimpali cemoohan sahabatnya itu. Sungguh, baginya itu bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda.
David tampak menghela napas kasar, lalu menyandarkan tubunya di sandaran sofa. Memang benar ia telah memberikan ijin kepada Aretha, tetapi dari hatinya yang paling dalam, itu sungguh terasa berat sekali. Entah ia mampu atau tidak melihat pria lain mengelus perut istrinya.
Ah, sungguh ia benar-benar frustrasi. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Richard juga sudah berada di rumahnya. Ia hanya tinggal menghitung waktu, untuk menyaksikan adegan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jangankan untuk melihatnya, untuk mengatakannya kepada Richard saja itu terasa berat sekali.
"Kenapa sih, Dave?" tanya Rendy makin penasaran.
"Aretha ...," lirihnya dengan tatapan kosong yang terfokus ke sembarang arah.
"Kenapa dengan Aretha?" Rendy tampak mengerutkan dahinya heran.
"Gue lihat, Aretha habis menangis, kenapa? Kalian ada masalah?" selidik Richard.
David tampak melengos kesal mendengar pertanyaan dari Richard. Selalu saja, ia tahu tentang istrinya itu. Itu benar-benar membuatnya cemburu.
Kenapa dia sangat mengenal Aretha? Menyebalkan!
"Gue bingung harus memulai dari mana," ucap David lagi-lagi mengehela napas, lalu mengembuskannya sedikit kasar.
"Lo yang membuat Aretha menangis?" tanya Richard menginterogasi.
"Ya, mungkin," jawab David singkat.
"Kenapa sih, Dave? Lo lupa janji lo sama gue? Lo bilang, lo mau menjaga dia dengan baik, tapi nyatanya?" kesal Richard.
Tentu saja Richard seketika naik darah, mengetahui hal itu. Mengingat Aretha adalah wanita yang paling penting baginya. Meski ia sudah bukan lagi siapa-siapa untuk wanita itu, tetapi kebahagiaan Aretha tetap akan menjadi bahagianya, pun sebaliknya.
"Bagaimana gue tidak kesal, ketika tahu dia ngidam ingin dielus sama lo!"