Possessive Love

Possessive Love
Seminar Enterpeneurship



"Sayang, hari ini aku ada urusan ke luar kota, sebaiknya kamu menginap dulu di rumah mami sama papi," ucap David, ketika Aretha tengah menyimpukan dasi di lehernya.


"Lho, kok mendadak sekali, Mas?" tanya Aretha seraya mendongak dengan ekspresi heran.


Ya, betul. David memang tidak pernah memberi tahu sebelumnya bahwa ia akan bertugas ke luar kota, sehingga wanita itu sedikit heran kenapa tiba-tiba mendadak sekali.


"Iya, Sayang. Maaf, aku baru kasih tahu kamu. Aku juga lupa kalau hari ini aku harus ke Bandung. Tiba-tiba saja Rangga memberi tahuku mendadak," jelas David.


"Meeting dengan klien?" tanya Aretha ingin tahu, setelah ia selesai dengan kegiatan menyimpulkan dasi di leher sang suami.


"Bukan!" jawab David. "Aku diminta untuk mengisi acara seminar Enterpeneurship di salah satu universitas di sana, kebetulan ada beberapa teman aku yang menjadi dosen di sana," jelasnya. Aretha tampak mengangguk seolah paham.


"Berapa hari?" tanya Aretha yang sedikit memberengutkan wajahnya.


"Tidak akan lama, kok, Sayang, paling satu malam aku di sana," jawab David seraya memegang kedua pipi sang istri. "Kamu tidak apa-apa 'kan kalau menginap dulu?" imbuhnya.


"Ya sudah, tapi bagaimana dengan rumah kita?"


"Tidak perlu khawatir, 'kan ada pak Adhi yang jaga," jawab David.


"Baiklah."


"Ya sudah, kamu siap-siap, kita berangkat bareng saja sekalian, biar kuantar kamu dulu," titah David.


"Baiklah, aku akan siapkan kebutuhanmu dulu, Mas. Tunggulah sebentar!"


Aretha segera menyiapkan beberapa perkengkapan yang sekiranya akan dibutuhkan oleh sang suami di sana, salah satunya adalah pakaian ganti.


Setelah semuanya siap, ia segera berganti pakaian. Rasanya senang sekali, karena bisa menginap di rumah kedua orangtuanya, setelah sekian lama ia tak berkunjung ke sana.


Kesibukan David membuatnya tidak bisa pergi kemana-mana. Bahkan, sekadar menengok kedua orangtuanya. Terlebih, ia memang baru beberapa minggu menempati rumah itu, dan David belum mengijinkannya untuk pergi keluar sendiri, setelah kejadian teror itu. Namun, kendatipun begitu, ia tetap berkomunikasi dengan kedua orangtuanya melalui telepon.


Bukan hanya dirinya. Bahkan, kedua orangtuanya pun sama. Mereka memiliki kesibukan tersendiri, sehingga sulit untuk mereka berkunjung ke rumah baru putri semata wayangnya itu. Dari semenjak mereka pindah rumah, baru sekali sang mami mengunjunginya, itu pun tanpa didampingi sang papi.


Aretha dan David tampak menitipkan rumahnya kepada Adhi dan Yudha, dua satpam yang berjaga di rumahnya. Ya, semenjak kejadian teror itu, David memang sengaja menambahkan satu satpam di rumahnya, dengan alasan untuk memperketat keamanan. Setidaknya, ketika salah satu dari mereka ada keperluan, masih ada satu orang yang berjaga.


David tampak melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, menuju rumah sang mertua. Tak menghabiskan waktu lama, karena jarak rumah mereka memang dekat, dalam waktu lima belas menit mereka telah tiba di rumah yang dituju.


Carmila tampak menyambut kedatangan putri dan menantunya dengan begitu bahagia. Setelah hampir dua minggu tidak bertemu dengan sang putri, nampakya membuat perempuan paruh baya itu merasakan rindu yang teramat mendalam. Sementara, papi Aretha sudah tidak ada di rumah, sepagi itu. Ya, sudah dapat dipastikan kemana perginya sang papi.


"Mi, saya titip Rere di sini dulu ya," ucap David seraya menitipkan sang istri kepada sang ibu mertua.


"Iya, Nak. Kamu ini seperti dengan siapa saja. Mami ini ibu yang melahirkannya, mami pasti senang kalau Rere ada di sini," jelas Carmila.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, Mi," pamit David seraya mencium tangan ibu mertuanya, lalu beralih ke sang istri. Ia tampak mengecup kening istrinya, tanpa malu-malu di depan Carmila.


"Sayang, aku berangkat dulu, kamu jaga diri baik-baik, jangan merepotkan mami!" ucap David mengingatkan yang langsung membuat Aretha memeberengut sejenak, apa ia se-manja itu, hingga harus merepotkan maminya sendiri, pikirnya.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya!" balas Aretha yang langsung direspon dengan senyuman oleh suaminya itu.


Setelah mengantar Aretha ke rumah sang mertua, David pergi ke kantor terlebih dahulu dan menyelesaikan beberapa tugasnya di sana. Mengingat ia yang mendapat jadwal pukul 15.00 pada acara tersebut. Sementara untuk hari esoknya ia mendapat jadwal pukul 08.00. Ya, seminar itu akan dilaksanakan selama dua hari.


***


Di depan sebuah hotel ternama berbintang lima, Rangga tampak menghentikan mobil yang dikendarainya di sana. Mobil yang merupakan milik sang atasan.


Ya, David memang tidak pergi sendiri. Ia pergi dengan Rangga, sang sekretaris sekaligus asisten pribadinya.


Setelah pria itu memarkir mobil, mereka tampak memasuki hotel itu. Yang pertama mereka temui adalah resepsionis hotel. Beruntung mereka sudah reservasi kamar sebelumnya, sehingga tidak harus berlama-lama menghabiskan waktu, sekadar memilih kamar lagi.


"Terima kasih, Mbak," ucap Rangga kepada salah satu resepsionis yang memberikan kunci kamar hotel kepadanya.


Tampak seorang porter sudah menunggu di sana, untuk mengantarkan mereka ke kamar yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Tepat sekali. Mereka tiba tepat di jam makan siang. David memutuskan untuk mengajak sang asisten makan siang terlebih dahulu di restoran yang ada di hotel itu, setelah ia meminta seorang porter mengangkut barangnya ke dalam kamar yang akan mereka tempati masing-masing.


Sepasang atasan dan bawahan itu tampak sangat menikmati makan siangnya, setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di jalan.


Sudah menjadi hal yang biasa bagi Rangga, makan bersama dengan atasannya itu, sehingg ia tak lagi merasa canggung kepada David.


"Sudah cukup?" tanya David kepada Rangga, setelah mereka selesai dengan kegiatan makan siang mereka.


"Sudah, Pak," jawab Rangga.


"Tidak ada lagi yang mau kamu pesan?" tanya David menawarkan.


"Apa masih ada waktu untuk kita beristirahat?" tanya David kemudian.


"Masih ada waktu dua jam lagi, Pak," jawab Rangga memberi tahu.


"Baiklah."


Setelah selesai dengan kegiatan makan siang itu, mereka memasuki kamar hotel masing-masing. Masih ada waktu untuk mereka beristirahat di sana. Kebetulan sekali hotel itu sangat dekat dengan kampus, dimana kegiatan seminar itu akan dilaksanakan.


David tampak merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king, seraya meregangkan otot-otot yang sempat menegang karena perjalanan yang jauh. Pria itu tampak sangat menikmati waktu senggangnya itu. Seketika ia teringat sang istri yang jauh di sana.


Baru beberapa jam saja ia meninggalkan istirnya, nampaknya pria itu sudah merasakan rindu begitu berat.


Pria itu pun segera menghubungi Aretha, sekadar hanya ingin mengabari bahwa ia telah tiba di tempat tujuan.


"Hallo, Sayang!" sapanya pada seseorang di sana, dengan tidak merubah posisi tubuhnya dari semula.


"Halo, Mas," sapa Aretha dari seberang sana. "Kamu sudah sampai di tempat tujuan?" tanyanya.


"Sudah, Sayang. Aku baru selesai makan siang. Kamu sudah makan?" tanya David.


"Belum, Mas, tunggu sebentar lagi, aku masih belum menyelesaikan membaca novelku," jawab Aretha.


"Makanlah, Sayang ... baca novel 'kan bisa dilanjutkan nanti," titah David sedikit mencemaskan kesehatan Aretha, mengingat wanita itu yang memilki gangguan pada lambungnya.


"Iya, Mas, aku pasti makan," jawab Aretha.


"Sekarang! Sebelum aku meminta mami untuk menyuapimu," tegas David penuh penekanan.


"Iya ... iya ... kamu cerewet sekali, Mas!" gerutu Aretha.


Pria itu segera menutup teleponnya, setelah Aretha ijin untuk segera melakukan apa yang ia perintahkan.


Pria itu masih dalam posisi yang sama, merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar hotel berwarna putih itu, hingga beberapa menit kemudian ia tak sadar bahwa telah memejamkan mata, lalu tidur beberapa saat di sana.


Setengah jam kemudian, David tampak dibuat terperanjak oleh suara ketukan pintu pada kamar hotelnya. Pria itu segera membuka pintu itu. Rupanya Rangga yang sudah membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Pak, satu jam lagi acaranya dimulai," ucap Rangga memberi tahu. "Apa Bapak mau berangkat sekarang?" tanyanya.


Rangga pikir, akan jauh lebih baik, jika mereka tiba di tempat sebelum acara itu dimulai.


"Saya siap-siap dulu, tunggu sebentar!" perintah David.


"Baik, Pak," jawab Rangga ramah.


Hanya dalam waktu sepuluh menit, David telah siap dan terlihat gagah dengan setelan tuxedo yang pressbody.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Rangga segera mengantarkan sang atasannya ke kampus yang di maksud. Dalam waktu singkat mereka telah tiba di kampus itu. Bahkan, mereka telah berada di depan aula kampus, dimana seminar itu akan dilaksanakan.


Kedatangan David tampak disambut oleh beberapa dosen yang memang sudah mengenalnya. Mereka adalah temannya sewaktu kuliah di London. David juga dikenalkan kepada dosen lainnya oleh mereka.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Zacky akrab, salah satu teman kuliahnya yang menjadi dosen di kampus itu.


"Baik-baik, seperti yang kau lihat," jawab David. Tak lupa ia juga bertanya balik tentang kabar mereka, lalu memperkenalkan Rangga sebagai asistennya.


"Semakin gagah saja kau, Dave," puji Arya.


"Ah, kau terlalu berlebihan. Apalah aku dibandingkan kalian," balas David merendah.


Dosen-dosen muda itu tampak mempersilakan masuk kepada David dan Rangga untuk duduk di kursi tamu undangan yang sudah disediakan. David dan sang asisten pun menurut.


Namun, seketika langkah David terhenti, mulutnya terperangah, ketika ia mendapati sosok tidak asing baginya berada di sana, tengah duduk di kursi yang sama, yaitu kursi yang dikhususkan untuk para tamu undangan, terlebih lagi nara sumber yang akan mengisi acara tersebut.


"Dia?" gumamnya dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC