Possessive Love

Possessive Love
Penurunan Omset



Keesokan paginya, David telah berada di rumah Aretha. Ia tampak duduk di ruang tamu, ditemani Anton. Ya, pria itu tak lain sedang menjemput Aretha untuk berangkat ke kantor.


Anton tampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Niatnya untuk segera berangkat ke kantor, terpaksa ia urungkan karena keberadaan David di rumahnya sehingga ia harus menemani pria itu terlebih dahulu, sebelum Aretha selesai dengan kegiatan sarapannya.


Lima menit kemudian, nampak Aretha yang berjalan malas menghampiri kedua pria itu. Sebelumnya, gadis itu memang telah mengetahui bahwa David sedang menunggunya, berdasarkan informasi yang ia dapat dari Carmila, ibu kandungnya.


"Selamat pagi, Pak," sapa gadis itu sekadar berbasa-basi.


"Pagi," balas David seraya tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu om berangkat duluan," ucap Anton.


"Silakan, Om. Kami juga akan segera berangkat, kok," jawab David.


Anton beranjak dari tempat duduknya, lalu menoleh kepada David. "Om titip Rere ya, Nak David," ucapnya.


"Baik, Om," jawab David. "Om hati-hati!" imbuhnya.


Anton tersenyum. "Kalian juga," balasnya, lalu berpamitan juga kepada Aretha.


Anton segera berlalu dari tempat itu, sedangkan Aretha dan David masih berdiri di ruang tamu. Mereka tampak beradu pandang sejenak.


"Sudah siap?" tanya David tanpa ekspresi.


"Sepeti yang Bapak lihat," jawab Aretha tampak cuek.


"Baiklah,"


Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera berangkat ke kantor. Seperti biasa, sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka bahas. Aretha tampak cuek. Tak ada satu pun kata yang lolos dari tenggorokkannya, meski sekadar berbasa-basi. Pun dengan David. Ia lebih memfokuskan pandangannya ke arah kemudi.


Setibanya di depan kantor. Aretha segera turun dari mobil pria itu, tanpa menunggu David membukakan pintu mobil untuknya. Sesegera mungkin ia masuk ke dalam kantor, Sebelum David berhasil turun dari mobilnya.


Gadis itu tampak berjalan tergesa-gesa seolah ingin menjaga jarak dengan sang atasan. Ia tidak ingin karyawan lain berpikiran yang tidak-tidak karena melihat kedekatannya dengan David.


Ada apa dengannya?


Pikir David yang sedari tadi termangu, memerhatikan gadis itu yang berjalan sangat terburu-buru.


Tak lama, David segera menyusul masuk ke dalam kantor. Dari kejauhan, tampak Aretha yang telah duduk manis di kursi kerjanya. Sama halnya dengan karyawan lain, gadis itu berdiri dengan sigap, lalu membungkukkan setengah badannya, tatkala David telah berada di hadapannya. Itu ia lakukan sebagai tanda penghormatan kepada sang atasan.


Pria itu menghentikan langkahnya sejenak. Ia melirik gadis itu. Gadis itu menegakkan kembali tubuhnya, berdiri dengan sempurna. Ia menatap sang atasan dengan sedikit rasa ragu. Mereka beradu pandang sejenak. Namun, seketika gadis itu menundukkan kembali kepalanya.


"Saya tunggu di ruangan saya!" tegas David, kemudian berlalu dari tempat itu. Ia masuk ke dalam ruangannya yang tepat berada di samping tempat kerja gadis itu.


Aretha tampak memperhatikan punggung sang atasan yang baru saja lenyap di telan pintu. Ia sedikit termangu, merasa ragu untuk melakukan perintah sang atasan kala itu. Namun, meski begitu, ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya.


Tuk tuk tuk


Gadis itu berjalan menuju ruangan CEO. Seperti biasa, ia mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu masuk ke dalam, setelah makhluk di dalamnya memberikan ijin.


Gadis itu menghampiri meja kerja David, lalu berdiri di hadapannya.


"Permisi, Pak," lirih gadis itu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.


"Duduk!" titah David tanpa mengalihkan perhatian kepada gadis di hadapannya. Pandangannya ia fokuskan ke layar laptop.


Dengan perlahan gadis itu mendaratkan tubuhnya di kursi, tepat di hadapan David. Ia menatap pria di depannya, sedangkan David masih fokus ke layar laptop, entah apa yang sedang ia kerjakan, mungkin mengecek laporan atau apa.


Setelah beberapa menit, David mulai mengalihkan perhatian kepada gadis yang sedari tadi tampak setia menunggunya. Ia menatap gadis itu. Secepat kilat Aretha menundukkan kepala. Mencoba menghindari tatapan pria itu.


"Bagaimana dengan jadwal meeting besok?" tanya David masih menatap gadis itu.


Aretha sedikit mendongak hingga mereka beradu pandang. "Sesuai schedule, Pak, akan dilaksanakan pukul sembilan pagi," jawab Aretha.


"Lantas, apa yang harus saya siapkan?" tanya Aretha.


"Tolong siapkan semua berkasnya! Kumpulkan semua manajer dan pastikan mereka sudah menerima materi untuk meeting besok!" perintah David.


"Baik, Pak!" tegas Arertha seraya menganggukkan kepala.


"Oh ya, bagaimana hasil rekapan data project baru kita dengan MC group?" tanya David memastikan.


"Saya sudah mengirimkan laporannya ke email Bapak, beserta time line-nya. Hanya ... tinggal menunggu persetujuan dari Bapak," jawab Aretha.


"Laporan hasil meeting dua hari yang lalu, dengan klien kita dari Jerman?"


"Sudah saya kirimkan juga, Pak. Silakan diperiksa!"


"Bagus!" puji David. "Saya baru saja mendapat kabar bahwa klien kita dari AR Corp berecana mengadakan pertemuan Rabu besok, Tolong kamu cek jadwal saya pada hari itu, apakah masih ada waktu senggang atau tidak," jelas David.


Secepat kilat Aretha membuka buku catatannya, lalu memeriksa jadwal kegiatan sang atasan selama satu minggu ke depan.


"Untuk hari rabu, hanya ada jadwal makan siang dengan beberapa pimpinan dari kantor cabang, Pak," terang Aretha.


"Tolong reschedule acara tersebut. Pertemuan dengan Klien dari AR Corp, itu lebih penting karena sangat berpengaruh untuk perusahaan kita!" titah David.


"Noted, Pak!"


Aretha tampak mencatat apa yang diperintahkan oleh atasannya, lalu mengatur jadwal untuk pertemuan dengan klien dari AR Corp.


"Baik, segera sebar materi untuk meeting besok kepada pihak terkait. Pastikan mereka hadir tepat waktu pada acara tersebut!" tegas David.


"Baik, Pak!" jawab Aretha. "Apa masih ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.


David terdiam sejenak. "Temani saya makan siang hari ini!" ucapnya seraya menatap dalam gadis itu.


Aretha sedikit terkesiap. Lagi-lagi ia harus menerima perintah di luar kerjaannya. Ah, sungguh pilihan yang sulit. Jika semua pegawai terlalu sering melihatnya makan siang dengan atasan, boleh jadi mereka akan berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.


"Ma-maaf, Pak—"


"Saya tidak menerima penolakan!" sela David memotong pembicaraan.


Seketika Aretha bungkam. Tingkah pria itu selalu saja membuatnya terlihat kikuk. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain mengiyakan perintah tersebut.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," pamit Aretha.


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Ia memandang pria di hadapannya sejenak, sebelum memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. David tampak mengangguk, tanda memberi ijin kepada gadis itu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian mereka, sebelum Aretha berhasil keluar dari ruangan itu. Secara bersamaan, keduanya menoleh ke arah pintu tersebut.


"Masuk!" seru David. Tanda memberi ijin kepada makhluk di balik pintu itu untuk masuk.


ceklek


____________


Gimana, masih penasaran???


Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya☺️


Happy Reading!


TO BE CONTINUED ....