
Ceklek!
"Ehem!" Aretha berdehem, setelah berhasil membuka pintu kamar mandi itu, sontak membuat kedua perempuan penggosip itu seketika menoleh ke arahnya.
Dita tampak membelalakkan matanya, tatkala mendapati Aretha yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Ia tidak percaya bahwa orang yang sedang ia bicarakan ternyata berada di sana.
Seketika Dita menjadi salah tingkah. Ia hampir tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu, sementara Aretha terus menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Tidak hanya Dita. Rena yang ikut andil di dalamnya juga merasa terkejut akan keberadaan Aretha. Meski ia tidak begitu menanggapi rekan kerjanya itu, tetapi tetap saja ia merasa tidak enak hati terhadap Aretha.
"Sudah selesai, Mbak, gibahnya?" tanya Aretha santai. Namun, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat benci dengan mereka, terlebih lagi kepada Dita.
"I-itu ... A-anu—"
"Kenapa, Mbak? Ngomong aja terus! Kalau tertarik, saya nguap!" sindir Aretha seraya memotong pembicaraan Dita yang mulai tergagap.
"Maaf, Re, kami tidak bermaksud seperti itu," lirih Rena seraya menundukkan kepala yang sontak membuat Aretha seketika mengalihkan perhatiannya.
Tak berlangsung lama. Aretha kembali memfokuskan pandangan kepada Dita, tanpa menanggapi maaf dari Rena.
Jelas! Karena yang memprovokasi adalah Dita, bukan Rena. So, kenapa yang harus minta maaf Rena?
Usia Dita memang lebih tua dari Aretha. Namun, apakah masih pantas ia bersikap sopan kepada orang semacam itu, sementara perempuan itu telah menginjak harga dirinya.
Aretha menatap Dita dengan sinis. Sepertinya orang seperti itu memang pantas untuk diberikan sedikit pelajaran.
"Mbak tahu? Katanya, orang yang suka nyinyir itu artinya proses evolusi dia dari monyet ke manusia itu belum selesai, sehingga menjadi tidak sempurna!" Tanpa rasa ragu, Aretha mengeluarkan sindiran pedasnya sehingga membuat Dita seketika geram dibuatnya.
Perempuan itu menatap murka Aretha. Dadanya tampak naik turun seolah menahan amarah yang semakin membeludak dibenaknya.
Aretha merasa senang. Namun, ia tidak ingin berlanjut lebih jauh. Gadis itu segera memutar seluruh badannya, lalu beranjak dari tempat itu.
"Tapi ... apa yang kukatakan benar, kan?" Seketika suara Dita menghentikan langkah Aretha.
Aretha kembali membalikkan badannya, lalu menatap Dita dengan tatapan sinis.
"Aku punya bukti. Setiap hari pak Dave menjemput dan mengantar kamu pulang, kan? Kalian juga kerap kali menghabiskan waktu di luar berdua," ujar Dita tampak terlihat takut. Namun, perempuan itu seakan mencoba menyembunyikannya, meski itu tidak terlihat sempurna.
"Itu bukti atau spekulasi?" tanya Aretha yang sontak membuat Dita seketika mati kutu, tak bisa menjawab.
Kalaupun itu benar, memang apa urusannya?
Lagi-lagi Aretha mengurungkan niat untuk keluar dari tempat itu. Ia kembali melangkahkan kaki mendekati Dita. Dengan masih menatap sinis perempuan itu, Aretha berkata, "Mbak itu cantik, tapi sayang bermuka dua hingga membuat saya kesulitan menentukan, mana yang harus saya tampar terlebih dahulu!"
Sungguh sulit dipercaya, Aretha dapat mengeluarkan kata-kata itu untuk Dita yang jelas-jelas usia perempuan itu jauh lebih tua darinya. Tentu saja ucapannya membuat Dita semakin murka kepadanya. Namun, perempuan itu hanya diam, menatap geram. Ia seperti kesulitan untuk membalas perkataan gadis itu.
Aretha tampak masih menatap Dita sembari tersenyum getir. "Mbak tidak takut gibahin orang di kamar mandi seperti ini? Bukankah kamar mandi itu tempat tinggalnya setan?" tanyanya sedikit memberi jeda.
"Oops! lupa kalau orang yang suka nyinyir itu ternyata lebih menyeramkan daripada setan!" lanjutnya seraya mengatupkan bibirnya dengan sebelah tangannya, lalu berlalu dari tempat itu.
Dita tampak semakin naik pitam dibuatnya. Namun, sebisa mungkin ia menahan emosi itu.
"Sial! Berani-beraninya bocah ingusan itu mempermalukanku di depan Rena!" umpat Dita dalam hati, lalu mendecak kesal.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan!" ucap Rena menatap iba rekan kerjanya.
Rena mencoba menenangkan rekannya itu dengan mengusap pelan punggung Dita. Ia tampak tidak terlalu memihak kepada Dita. Jelas karena ia tahu bahwa di sini Dita lah yang bersalah. Apapun alasannya tetap Dita yang salah karena tidak sepantasnya ia mencampuri hidup orang lain.
Disatu sisi Rena merasa tidak enak hati kepada Aretha. Namun, di sisi lain ia juga merasa iba terhadap Dita. Ia tahu betul perasaan Dita saat itu sehingga ia mencoba menenangkannya.
Dengan perasaan muak, Aretha keluar dari toilet itu. Ia tampak berjalan sedikit tergesa menghampiri Diandra dan Rangga.
"Belum tahu dia siapa gue! Memangnya harta bisa semudah itu mengalihkan perhatian gue? NO!"
Aretha tampak mengumpat sepanjang langkahnya hingga ia kembali ke tempat semula dengan ekspresi geram.
"Huh!" Aretha tampak mendaratkan kembali tubuhnya di atas kursi.
"Kenapa lagi, lo?" tanya Diandra seraya mengernyitkan dahi heran melihat ekspresi sahabatnya yang tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan, setelah dari toilet.
"Habis ketemu detergen gue," jawab Aretha.
"Ha?? Detergen?" Diandra dan Rangga tampak ternganga seolah tidak paham maksud perkataan Aretha.
"Menurut mbak Syahrini sih, begitu, hehe." Aretha tampak menyeringai dan sedikit menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Maksudnya opo tok, Re?" tanya Rangga masih penasaran.
"Orang yang suka nyinyir emang pantas dibilang detergen!" umpatnya.
"Kenapa begitu?" tanya Diandra dan Rangga berbarengan. Mereka tampak memfokuskan perhatian mereka terhadap Aretha dengan ekspresi yang terlihat sangat penasaran.
"Haiiish ... biasa aja kali ekspresinya!" gerutu Aretha.
"Lo aneh, Re!" balas Diandra. Aretha hanya menanggapi dengan mendecak.
"Lo datang-datang bahas detergen, kita mana paham. Memangnya lo di toilet habis nyuci?" ujar Diandra.
"Nyuci mulut orang!" ketus Aretha asal. "Ih sumpah ya, gue kesal banget sama tuh orang, seenak jidat gibahin orang, udah berasa jadi seleb yang punya banyak haters deh gue!" imbuhnya kesal.
"Kenapa? Ada yang ngomong tidak-tidak soal kamu?" tanya Rangga menebak.
Aretha mengangguk. "Iya, makanya aku bilang detergen. Soalnya orang-orang seperti mereka itu kan, makin dikocok, mulutnya akan makin berbusa," jawab Aretha yang sontak membuat Diandra dan Rangga terkekeh menahan tawa.
"Sabar! Netizen kan maha benar." Rangga tampak menenangkan.
"Ha? Sejak kapan netizen memiliki kedudukan yang sama dengan atasan? Sama-sama maha benar!" gumam Aretha dalam hati.
Drt ... drt ... drt ...
Seketika getar ponsel milik Aretha mengalihkan pandangan mereka. Gadis itu segera meraih benda pipih yang terletak di atas meja, lalu mengusap layar ponselnya, tanda membuka lock pada layar ponsel tersebut. Nampaknya sebuat pesan whatsapp masuk.
Gadis itu tampak sedikit memberengut, ketika menyadari nama kontak atasannya yang tertera di sana.
Ada apa lagi ini? Baru juga diomongin beberapa menit yang lalu, udah ngehubungi aja. Bahkan, jam istirahat masih tersisa lima belas menit lagi. HAH!
Saya tunggu di ruangan saya, sekarang juga!
___________
Chapter ini jadi self-reminder deh😂
Fix! Mulai sekarang, kurangi gibahin orang!🤭🤭
HAPPY READING!