
Setelah dari taman, Richard mengajak Aretha ke sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat itu. Mereka tampak makan siang di sana.
Richard sengaja memilih tempat duduk nomor 15 yang sedikit jauh dari keramaian dengan alasan agar bisa lebih tenang dan santai berbincang dengan gadis itu.
Richard dan Aretha segera memesan menu makan siang mereka, setelah seorang pelayan datang menghampiri keduanya. Tak berlangsung lama, pelayan itu telah kembali dengan membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan.
Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, mereka langsung melakukan kegiatan makan siangnya dengan keadaan sunyi senyap, tak ada yang mereka bahas. Nampaknya, kala itu mereka sangat memerhatikan table manner sehingga mereka memilih untuk diam di tengah kegiatan makan siangnya.
Meski beberapa pengunjung lain terdengar sedikit riuh dengan perbincangan dan canda tawa mereka. Namun, itu sama sekali tidak mengganggu keduanya. Aretha dan Richard tampak menikmati makan siangnya di tengah kegaduhan kafe tersebut.
Setengah jam berlalu. Mereka telah selesai dengan aktivitasnya.
"Oh ya, aku ada sesuatu untuk kamu," ucap Richard seusai makan.
"Apa?" tanya Aretha sedikit penasaran.
Richard tampak mengambil sebuah paper bag yang ia letakkan di kursi kosong di sampingnya, lalu memberikan paper bag itu kepada Aretha.
"Makasih, Kak." Dengan senang hati gadis itu segera meraih paper bag itu, lalu meletakkannya di atas meja.
"Gak kamu buka sekarang?" tanya Richard.
"Harus kubuka sekarang?" Aretha bertanya balik.
"Enggak juga sih," jawab Richard.
Aretha tampak berpikir sejenak. Sepertinya ia penasaran juga dengan isi paper bag itu. Gadis itu pun memutuskan untuk mengambil kembali benda itu, berniat untuk membuka hadiah yang diberikan oleh Richard.
"Buku?" Aretha tampak mendongak menatap pria di depannya, tatkala ia melihat isi dari paper bag itu. Gadis itu merogohnya, lalu mengeluarkan buku itu.
"Kamu masih suka baca, kan?" tanya Richard.
"Masih," jawab Aretha masih fokus dengan wajah pria itu, lalu mengalihkan pandangannya ke buku yang tengah ia pegang.
"Belongs to me, Richard Calder," lirihnya tampak membaca judul dan penulis buku itu. Gadis itu kembali mendongak, sedikit heran dengan nama penulisnya. "Ini ... Kak Richard yang nulis?" tanyanya penasaran.
"Sebagai hadiah ulang tahun kamu," jawab Richard.
"Ulang tahun? Ulang tahunku masih lama." Aretha sedikit kecewa karena ia menyangka bahwa Richard melupakan hari ulang tahunnya.
"Tahun lalu, cuma aku baru sempat kasih ke kamu sekarang," terang Richard.
Pria itu masih ingat betul dengan hobi Aretha yang suka membaca buku, itulah mengapa ia memberikan hadiah itu untuk ulang tahun Aretha. Namun, hanya karena ingin terlihat sedikit unik, pria itu menulis sendiri buku tersebut.
Buku yang menceritakan tentang kisahnya dengan gadis itu. Pria itu sangat menunggu momen seperti ini, setelah satu tahun ia menyimpan buku itu. Meski menjadi hal yang biasa untuk Aretha. Namun, paling tidak buku yang ia kasih kali ini adalah hasil karyanya sendiri yang dibuat dengan penuh pengorbanan.
"Kenapa belongs to me?" tanya Aretha penasaran.
"Karena ... sampai detik ini aku masih berharap bahwa hati kamu masih milikku. Namun, ternyata aku salah," ucap Richard sembari tertawa kecil yang keluar dengan nada sedikit kecewa.
Aretha memelas menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar pengakuan pria itu. Ia tidak menyangka jika Richard bisa melakukan hal sampai sejauh itu demi dirinya. Ia tahu betul bahwa menulis itu tidak semudah membacanya.
"Aku–"
"Aku harap kamu bisa bantu aku untuk mewujudkan harapan itu." Richard tampak memohon yang sontak membuat hati Aretha sedikit luluh.
Aretha meletakkan buku itu di atas meja dengan tangan yang masih ia biarkan di atasnya. Gadis itu terdiam beberapa saat, merasa bingung harus menjawab apa.
"Re," lirih Richard seraya memegang tangan Aretha yang kala itu masih berada di atas buku yang ia berikan.
Aretha cukup dibuatnya terkejut. Secepat mungkin ia menoleh ke arah tangannya. Tampak tangan Richard yang telah berada di atas punggung telapak tangannya sendiri.
Namun, berbeda dengan sebelumnya. Kala itu, tidak ada lagi yang istimewa dari itu semua. Rasanya biasa, tidak membuat jantungnya berdebar walau hanya sedikit. Mungkinkah karena ia memang benar-benar sudah tidak memiliki feeling apapun terhadap pria itu.
Lantas, apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti itu. Haruskah ia berkata jujur tentang semua itu atau malah membantu pria itu mewujudkan harapannya, dengan alasan karena merasa kasihan? Tidak. Itu salah.
Sungguh membuat gadis itu semakin dilema. Sejujurnya ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Namun, ia juga tidak ingin jika kejujurannya malah akan membuat pria itu sakit hati. Entah harus mulai dari mana ia mengungkap kebenaran itu.
"Kamu mau kan bantu aku?" tanya Richard seraya menatap sayu gadis itu. Aretha seketika menoleh ke arahnya.
Dengan sedikit terpaksa, Aretha menerbitkan senyumannya. "Kita lihat saja nanti," ucapnya seraya menatap pria itu.
"Kalian?"
Seketika suara bariton membuat keduanya menoleh. Dengan sigap Richard menyingkirkan tangannya dari tangan Aretha, tatkala mendapati David yang tengah berdiri di sana dengan seorang perempuan yang tak lain adalah Alivia, sekretaris barunya.
"Dave?"
"Pak David?"
Richard dan Aretha tampak menyebut nama pria itu kompak. Namun, tidak dengan David yang hanya diam termangu menatap tangan Aretha yang terlanjur ia pergoki tengah dipegang oleh Richard, sahabatnya sendiri.
Melihat ekspresi David, secepat kilat Richard mengkalrifikasi apa yang sempat mengganggu pikiran David saat itu.
"So-sorry, tadi ada nyamuk di tangan Aretha, jadi aku bantu singkirkan," ucap Richard gugup yang sontak membuat David menatapnya tidak percaya.
Apa mungkin di tempat higienis seperti ini masih ada nyamuk berkeliaran. Ah ... sudahlah, mungkin Richard benar.
"Kalian–"
"Kita tidak sengaja bertemu di tempat ini, makanya aku sekalian ajak Aretha ngobrol, soalnya sudah lama sekali tidak ngobrol seperti ini. Bukan begitu, Re?" jelas Richard memotong pembicaraan seolah ia paham apa yang ingin ditanyakan oleh David. Pria itu menatap Aretha seakan meminta gadis itu untuk menyetujui perkatannya.
"I-iya, betul sekali." Aretha tampak gugup mengikuti permainan Richard.
Bukan karena Richard yang kurang gentleman dengan berbohong seperti itu. Hanya saja ia tidak ingin jika David mengetahui dengan cara seperti itu. Kalaupun David harus tahu akan hubungannya dengan Aretha, maka ia sendiri yang akan menyampaikan itu semua kepada David. Dan itu janjinya, setelah Aretha kembali kepadanya.
_____________
HAPPY READING!