
"Kamu dari mana?" tanya David kepada Aretha yang kala itu telah berdiri tepat di hadapannya. Namun, pandangannya masih fokus ke layar laptop yang sedari tadi mendampinginya bekerja.
"Dari tadi aku cari kamu, tapi kamu tidak ada," lanjutnya seraya menyela Aretha yang kala itu baru saja akan membuka mulut untuk berbicara. Namun, gadis itu seperti tidak diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.
"Kamu sudah makan?" David tampak mendongak, menatap gadis itu.
Aretha diam beberapa detik. Sepertinya David mulai memberikan kesempatan gadis itu untuk menjawab pertanyaannya. Hal itu terbukti karena David menatapnya begitu lama dengan tatapan penuh tanya. Ia tampak menunggu jawaban dari gadis di hadapannya.
"Ehem!" Aretha berdehem sekadar menghilangkan rasa gugup. "Saya baru saja selesai makan siang, Pak!" jawab Aretha seraya menundukkan kepala karena tidak tahan dengan tatapan David yang begitu menusuk. Namun, tetap memesona di matanya.
"Berbicaralah lebih santai. Bukankah dengan orang lain juga kamu bisa seperti itu? Kenapa denganku terlihat begitu kaku?" titah David.
"Maaf, Pak," lirih Aretha tampak tak berani menatap pria itu.
David mengangkat tubuhnya dari kursi putar yang tengah ia duduki, lalu beranjak menghampiri Aretha. Seketika gadis itu semakin bergemetar karena gugup. Entah kenapa setiap kali dihadapkan dengan pria itu, Aretha selalu saja merasa grogi.
"Kamu makan siang dengan siapa?" tanya pria itu seraya menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja kerja, tanpa mengalihkan barang sedetik pun pandangannya.
"Dengan rekan kerja yang lain, Pak," jawab Aretha tampak menoleh kepada atasannya.
"Maksud kamu Rangga?" tanya David yang sontak membuat Aretha terkejut, dari mana ia bisa tahu, pikir gadis itu.
"Iya, Pak." Aretha menjawab dengan santai.
Bukanlah hal yang sulit bagi David untuk mengetahui hal sekecil itu, dimana banyak CCTV yang terpasang di gedung perusahaan milik keluarganya, tak terkecuali di kantin. Selain itu, ia juga bisa meminta beberapa pekerja yang lain untuk mencari keberadaan Aretha. Atau mungkin, bisa jadi ia sendiri yang mencarinya. Entahlah.
David belum menanggapi. Namun, menatap gadis itu dengan tatapan tidak suka. Ia tampak berdecak kesal, lalu mulai melipatkan kedua tangannya di atas dada.
"Baru beberapa hari, kamu sudah berani melanggar perjanjian yang sudah kamu sepakati," sindirnya.
"Maksud Bapak?" tanya Aretha seraya menyipitkan matanya seolah tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh David.
"Bukankah saya meminta kamu untuk tidak dekat dengan pria lain? Apakah kamu lupa bahwa kamu sudah menyepakati itu?"
Aretha mendengus kesal. Bahkan, itu cuma makan siang biasa. Bagaimana bisa dibilang dekat? Terlebih lagi ia tidak hanya makan siang berdua dengan pria itu, melainkan ada Diandra juga di sana.
Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak bisa terus-terusan begini. Selalu mematuhi keinginan pak David yang seharusnya bukan tanggung jawab aku. Bahkan, aku tidak mengerti arti dekat dengan pria lain yang dia maksud itu seperti apa.
"Maaf, Pak, saya cuma makan siang biasa," jawab Aretha.
"Tapi aku tidak suka, Aretha!" bentak David yang sontak membuat gadis itu seketika terperanjat kaget.
Gadis itu semakin bergemetar dibuatnya. Ia tidak menyangka, ternyata David bisa semarah itu hanya karena hal kecil. Mulut gadis itu seolah-olah terkunci, tak bisa menjawab apapun, termasuk sekadar pembelaan bagi dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya David membentak Aretha seperti itu. Bahkan, hanya karena hal sepele.
Entah apa yang membuat David bisa semarah itu. Apa mungkin karena pria itu memang benar-benar sudah jatuh hati terhadap Aretha sehingga ia merasa cemburu melihat gadis itu bersama pria lain, meski sekadar untuk makan siang?
"Maaf, Pak—"
"Maaf, Pak, tapi memang—"
"Kenapa? Karena aku ini atasan kamu?"
David tampak mengintimidasi gadis di hadapannya. Sedangakan, Aretha terlihat bingung, entah apa yang harus ia lakukan untuk meredam emosi atasannya itu. Ia benar-benar merasa takut dengan ekspresi David yang terlihat begitu menyeramkan.
Hening.
Mereka terdiam beberapa detik. Tak ada satu pun kata yang lolos dari tenggorokan Aretha. Pun dengan David yang sedari tadi menatap penuh amarah kepada gadis itu.
Setelah beberapa menit, gadis itu mulai menetralkan kembali perasaannya. Ia menghela napas dengan perlahan, lalu mencoba berpikir apa yang harus ia katakan kepada David saat itu. Meski sedikit ragu, akhirnya gadis itu mulai membuka mulutnya. Menyampaikan apa yang menjadi kegelisahannya selama ini.
"Maaf, Pak, saya tidak bisa seperti ini terus. Sebaiknya ... kita segera hentikan semua ini!" ucap Aretha mulai serius, sontak membuat David seketika membeliak.
"Maksud kamu?" David mengernyitkan dahi.
"Maaf, sepertinya saya harus menarik kembali ucapan saya atas perjanjian itu," lirih Aretha seraya menurunkan tatapannya.
"Kasih aku alasan yang masuk akal!" tegas David menuntut.
"Saya ... saya ...." Aretha tak melanjutkan perkataannya. Sementara David masih menunggu jawaban darinya.
Gadis itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "To be honest, saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap Bapak." Satu kalimat yang lolos dari teggorokkan gadis itu sontak membuat pria di depannya tampak menatapnya skeptis. Bagaimana bisa gadis itu dengan berani menolaknya.
Namun, sungguh bukan hanya itu yang menjadi alasan, melainkan ada alasan lain. Disamping ia yang belum memiliki perasaan terhadap pria itu, ternyata ia juga tidak ingin gosip tentangnya dengan David semakin melebar kemana-mana. Namun, entah kenapa ia tidak memberi tahu David akan hal itu.
"Apakah dalam perjanjian itu aku menuntutmu untuk memiliki perasaan terhadapku?" tanya David tidak mau kalah. "Tidak, kan?" imbuhnya seolah-olah memaksa gadis itu untuk membenarkan apa yang diucapkannya.
"Tapi, Pak–"
"Aku tidak peduli apapun alasan kamu, kamu sudah sepakat dengan perjanjian itu dan aku tidak suka untuk dibantah, apalagi dipermainkan" tegas David seraya mendekati Aretha, sontak gadis itu semakin dibuatnya membatu.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha hingga tersisa hanya sekitar lima sentimeter. Ia menatapnya begitu lekat. Tatapannya begitu menikam. Namun, tidak lantas membuat gadis itu memalingkan wajahnya.
Mereka tampak beradu pandang. Seketika Aretha menjamah wajah pria itu dengan netranya. Ia menatap mata teduh itu sejenak, lalu beralih ke hidung yang bangir. Terakhir, ia menghentikan tatapannya pada bibir David yang tipis dan seksi. Entah kenapa wajah David begitu tampan jika dilihat dari jarak dekat sepeti itu, meski terlihat sangat menyeramkan. Namun, tidak sedikit pun mengurangi pesona akan ketampanannya.
"Kenapa? Kamu tetap akan menolakku?" ucap David yang sontak membuyarkan lamunan Aretha sehingga membuat gadis itu seketika mengerjap.
"Argh ... apa-apaan ini? Kenapa mataku jadi liar seperti ini? Sungguh memalukan!" umpat Aretha dalam hati, setelah ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan, lalu menetralkan kembali perasaannya.
"Ya, saya memang sudah muak dengan semua ini! Kali ini Bapak tidak bisa menuntut saya seenaknya, karena sejatinya status kita hanyalah sebagai rekan kerja dan Bapak adalah atasan saya, tidak lebih dari itu!" tegas Aretha memberanikan diri, meski sebenarnya ia merasa takut.
"Silakan saja, kalau kamu bisa!" tantangnya seraya membalikkan badan hingga menghadap meja, sementara Aretha segera beranjak dari sana tanpa permisi.
_________________
HAPPY READING!