Possessive Love

Possessive Love
Apartemen



"Apa kecupan itu masih kurang untuk dijadikan sebagai alasan?" David tampak mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha sehingga membuat gadis itu langsung sedikit memundurkan kepalanya.


"Maksud kamu?" tanya Aretha seolah masih tidak paham.


"Kamu benar-benar enggak paham?" David menatap lekat gadis itu. Aretha hanya menggelengkan kepala sebagai tanggapan yang sontak membuat pria itu melengos kesal.


"Memang susah ya ngomong sama bocah ingusan!" gerutu David seraya memfokuskan pandangan ke depan yang seketika membuat gadis itu kembali tersentak.


"Apa kamu bilang? Kamu mengataiku bocah ingusan?" teriak Aretha menatap tajam pria itu.


"Jangan berteriak seperti itu, aku enggak suka!" ucap David penuh penekanan seraya menatap sinis Aretha. Seketika gadis itu mengerucutkan bibirnya yang justru membuat David malah memfokuskan pandangan pada bibir gadis itu.


Sebagai pria normal, David merasa ingin sekali mengecup bibir seksi berwarna merah jambu itu. Namun, ia masih cukup waras untuk tidak melakukannya.


"Ah, sudahlah, percuma juga ketemu kamu!" kesal Aretha seraya membuka pintu mobil itu, berniat untuk segera keluar. Namun, secepat kilat David menarik tangannya hingga Aretha mengurungkan kembali niatnya.


"Lapasin! Aku mau keluar!" ketus Aretha seraya barusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman pria itu. Namun, nyatanya tangan kekar itu tak cukup mudah untuk ia lawan.


"Karena kamu sudah mengganggu pekerjaanku, jadi kamu harus menerima hukuman dariku," pinta David masih belum melepaskan tangan gadis itu.


"Aku enggak mau!" tolak Aretha.


"Aku tidak peduli kamu mau atau tidak! Silakan saja keluar, kalau kamu bisa!" ucap David masa bodoh.


Pria itu melepasakan tangan Aretha, lalu mengunci pintu mobilnya sehingga membuat gadis itu tidak bisa berbuat banyak.


"Aku enggak suka dipaksa!" terang Aretha seraya memberengut. Namun, tidak mendapat tanggapan dari pria di sampingnya.


David segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobil itu membelah jalanan ibu kota yang tampak ramai dan terang dengan streetlight yang menghiasi badan jalan tersebut.


"Mas David!" pekik Aretha. Namun, David masih tak bergeming. "Kamu mau bawa aku kemana, sih?" tanyanya heran.


David masih tidak mau menanggapi perkataan gadis itu. Ia masih fokus dengan kegiatan menyetirnya.


"Aku belum izin sama mami dan papi," rengek Aretha memberi tahu.


"Kamu bisa telepon mereka!" saran David tanpa menoleh.


"Aku enggak bawa handphone, Mas," jawab Aretha sedikit menurunkan nada bicaranya yang seketika membuat David menoleh.


Sebelum menemui David, Aretha memang sengaja menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Karena ia tidak berniat untuk pergi ke sesuatu tempat dengan pria itu, ia pikir tidak perlu untuk membawa handphone.


"Aku suka kamu memanggilku seperti itu," ucap David dengan tatapan menggoda.


"Hish, aku lagi serius ini!" ketus Aretha, kesal.


Tanpa menunggu perintah, David merogoh saku tuxedo berwarna abu yang ia kenakan. Ia tampak mengambil benda pipih dari dalam saku itu, lalu memberikannya kepada Aretha.


"Pakai punyaku!" titahnya seraya menyodorkan handphone cerdas keluaran terbaru yang ia miliki.


Aretha segera meraih benda pipih itu, lalu menekan beberapa tombol angka yang ternyata nomor sang mami sudah tersimpan di daftar kontak yang berada dalam ponsel tersebut.


Calon Ibu Mertua


Seketika Aretha membulatkan matanya, tatkala mendapati nama kontak itu. Ia mendelik ke arah David sejenak, lalu mulai melakukan panggilan ke kontak tersebut seraya menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Hallo, Mi! Ini aku, Rere. Aku pergi sebentar ya, sama mas David," ucap Aretha meminta izin, setelah sang mami berhasil menerima telepon darinya.


"Iya, Mi," lirihnya kemudian.


Aretha segera mematikan saluran telepon tersebut, setelah sang mami mengingatkannya untuk tidak pulang terlalu larut.


Gadis itu memberikan handphone itu kembali kepada sang pemilknya. David segera meraih benda itu. "Sudah selesai?" tanyanya.


"Hmmm ...." Aretha menanggapi, setelah memfokuskan pandangannya ke depan.


Nampak, beberapa toko dan kafe yang masih beroperasi dengan beberapa kepadatan dari para pengunjungnya.


Aretha menoleh, menatap pria yang tengah fokus mengendarai mini cooper yang ia tumpangi.


"Sebenarnya kamu mau bawa aku kemana, sih?" tanya Aretha penasaran.


"Ikut saja, tidak usah banyak tanya!" pinta David.


Aretha menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil. Menderita sekali rasanya jika semua perempuan harus bernasib sama sepertinya. Bertemu dengan David cukup membuatnya sedikit merasa tertekan, dimana ia harus selalu mengikuti apa yang diinginkan pria itu tanpa bisa menolak.


Entah kenapa Aretha merasa sangat kesulitan untuk bersikap tegas dan tidak mengikuti aturan yang diberikan oleh David, seolah ada magnet yang selalu mendorongnya untuk tetap patuh.


Setelah hampir setengah jam, David tampak memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen mewah di kotanya. Aretha masih tampak bingung, kenapa David membawanya ke tempat itu?


Setelah mereka berhasil turun dari mobil, David membimbing gadis itu untuk menaiki lift yang tertuju ke lantai 45. Aretha masih diam tak bertanya, meski sebenarnya ada hal yang ingin sekali ia tanyakan.


Tring!


Bunyi lift seketika membuat gadis itu sedikit terlonjak. Mereka tampak keluar dari lift, setelah beberapa menit berada di dalamnya.


David berjalan menuju salah satu unit apartemen di lantai tersebut, sementara Aretha mengekorinya. Pria itu tampak berdiri di depan pintu apartemen dengan nomor 355. Aretha masih diam memerhatikan pria di depannya.


David menekan beberapa angka sebagai PIN pada smart lock yang menempel di pintu tersebut. Dalam hitungan detik, pintu itu telah berhasil dibukanya.


"Ayo masuk!" ajak David. Namun, tak mebuat Aretha bergeming. Gadis itu masih tertahan di tempatnya, berdiri di depan pintu apartemen.


Untuk gadis sepolos Aretha, menginjakkan kaki di sebuah apartemen dengan seorang laki-laki adalah hal yang tabu sehingga membuatnya sedikit merasa ketakutan dan tidak berani untuk masuk ke dalamnya.


"Kenapa masih berdiri di situ?" tanya David seraya menghentikan langkahnya, setelah menyadari Aretha yang tidak mengikutinya untuk masuk.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Aretha seraya memandang David curiga.


"Ini apartemenku," jawab David. "Selama ini, aku lebih sering tidur di sini sendiri, ketimbang di rumah," imbuhnya yang sontak membuat Aretha semakin khawatir akan nasibnya malam itu.


"Aku enggak peduli! Aku tanya, kita mau ngapain di sini?" terang Aretha.


"Ada yang mau aku tunjukkan," jawab David. "Ayo masuk!" ajaknya kembali.


"Aku enggak mau! Kamu bawa saja ke sini, apa yang mau kamu tunjukkan!" titah Aretha kekeh.


"Haish, keras kepala sekali jadi orang!" umpat David. "Ya sudah, terserah kamu, berdiri saja di situ sampai puas!" ketusnya, lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu unit apartemen itu.


Aku enggak peduli, kamu mau anggap aku norak atau apa, yang jelas aku enggak mau jika aku terjebak dalam perangkapmu sehingga kamu bisa memperlakukanku seenaknya di dalam sana.


Pikiran negatif nampaknya mulai menggelayuti otak gadis itu sehingga ia pun memutuskan untuk tetap berdiri di luar, menunggu David kembali.


Setelah hampir lima belas menit Aretha menunggu, David tak juga keluar menemuinya. Kakinya sudah terasa sangat pegal hingga ia memutuskan untuk mendekat ke arah pintu yang masih terbuka lebar itu.


"Mas David!" panggilnya seraya memasukan sebagian tubuhnya, mencari sosok yang tengah ia tunggu. Namun, David tampak tidak menyahuti.


"Mas, kamu lagi ngapain sih, di dalam? aku pegal ini," ucap Aretha masih menunggu jawaban.


David yang kala itu tengah meneguk segelas air putih, setelah merapikan beberapa berkas pekerjaannya tampak sedikit terkesiap.


"Dasar gadis bodoh! Memangnya siapa yang meyuruh dia untuk berdiri di situ?" gerutu pria itu, lalu meletakkan kembali gelas yang dipegangnya di atas meja.


David berjalan kembali menuju pintu, lalu dengan paksa menarik tangan Aretha dan membawanya masuk ke dalam.


__________


HAPPY READING!