
Aretha sedang berada di dalam kamar mandi. Setelah Ratih berhasil membelikan test pack untuknya, ia segera beranjak masuk ke kamar mandi yang berada tepat di bawah tangga. Sementara, Ratih dimintanya untuk menunggu di luar hingga ia selesai dengan kegiatannya dan mengetahui hasilnya.
Cukup lama wanita itu berada di dalam kamar mandi. Ya, selain harus melalui proses, ia juga sedikit memperlambat aksinya, seolah merasa ragu dan gugup. Tak lupa, ia juga membaca dulu cara penggunaan alat tes kehamilan itu
Wanita itu sangat sudah berharap dugaan sang asisten rumah tangganya itu benar. Dan, jika harapannya ternyata musnah, ia bisa saja merasa kecewa, karena ia benar-benaer sudah menunggu kabar baik sejak dari awal ia memutuskan untuk program hamil.
Aretha memejamkan matanya, setelah ia menyelupkan alat itu ke dalam wadah yang berisi urine-nya. Ia benar-benar takut jika hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Namun, setelah ia pikir-pikir, percuma saja ia terus-menerus memejamkan matanya, kalau rasa penasaran jelas-jelas menghantuinya
"Semoga hasilnya positif," lirih Aretha dengan mata yang masih dipejamkannya.
Dengan rasa ragu, Aretha melebarkan pupil matanya secara perlahan, lalu memfokuskan pandangannya pada test pack yang berada di tangannya. Ia sedikit membeliak, lalu segera keluar dari kamar mandi, tanpa berkomentar apapun.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Ratih antusias, ketika ia menyadari sang majikan yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.
Aretha tampak menunjukkan ekspresi semringahnya kepada Ratih, lalu menunjukkan test pack itu kepada wanita paruh baya di hadapannya.
"Ini, Bi!" Aretha menyodorkan benda mungil itu kepada asisten rumah tangga yang sudah satu tahun lebih bekerja di rumahnya.
Dengan rasa penasarannya Ratih segera meraih benda itu dari tangan Aretha, lalu segera memperhatikan garis merah pada benda tersebut.
"Wah ... alhamdulillah, positif!" seru Ratih, ketika mendapati dua garis merah pada benda tersebut.
Wanita paruh baya itu segera mendongak menatap sang majikan. "Selamat ya, Mbak," ucapnya senang.
Aretha menganggukkan kepalanya berulang kali, sebagai tanggapan. Seketika rasa mual yang sedari tadi menyiksanya, tiba-tiba hilang begitu saja, setelah ia melihat hasil dari test kehamilan itu.
"Tapi ... jujur, saya masih belum yakin, Bi." keluh Aretha seraya mengerucutkan bibirnya.
"Lho, kenapa harus tidak yakin, Mbak?" Ratih menatap heran sang majikan. Entah apalagi yang majikannya itu inginkan untuk meyakinkan kehamilannya, setelah dua garis merah jelas-jelas tertera di sana, lalu apa lagi yang harus ia ragukan?
"Saya takut alat ini tidak akurat, Bi." Aretha memasang ekspresi ragunya, maklumlah itu pengalaman pertama baginya menggunakan alat tersebut, jadi wajar saja.
Ratih tersenyum menatap lucu sang majikan yang usianya jauh lebih muda darinya. Menurutnya, wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu masih terlihat sangat polos perihal kehamilan.
"Setahu saya, alat ini 99,99 persen sangat akurat, Mbak," ujar Ratih memberi tahu. "Tetapi, kalau memang Mbak masih merasa ragu, sebaiknya segera periksa ke dokter," jawab Ratih seraya memberikan saran.
"Iya, Bibi benar." Aretha menganggukkan kepalanya pelan seolah mengindahkan perkataan asisten rumah tangganya itu.
"Mas David pasti senang sekali kalau tahu soal ini!" seru Ratih seraya mengulas senyumannya.
"Pokoknya, Bibi diam dulu, ya." Aretha tampak meminta Ratih untuk tidak memberi tahu suaminya. "Jangan sampai mas David tahu dulu soal ini ya, Bi!" imbuhnya mempertegas.
"Siap, Mbak!"
Di tengah euforia mereka, tiba-tiba suara bel rumah membuat keduanya tersentak, lalu segera menghentikan perbincangannya.
"Siapa, Bi?" Aretha mengerutkan dahinya merasa heran.
"Tidak tahu, Mbak. Biar saya bukakan pintunya dulu."
Ratih segera beranjak dari tempat itu menuju ruangan depan, berniat untuk membukakan pintu yang entah rumah itu kedatangan tamu dari mana.
Sementara, Aretha pergi ke dapur seraya mengambil gelas kosong, lalu menuangkan air putih ke dalam gelas itu hingga penuh. Ia duduk di kursi makan, lalu meneguk air itu hampir satu gelas. Rupanya rasa tegang menanti hasil tes kehamilan membuatnya merasakan sangat dahaga.
"Sayang!"
Seketika suara bariton yang tak asing membuat wanita itu mengalihkan fokusnya, lalu meletakkan gelas itu di atas meja, setelah menyadari kehadiran sang suami yang tidak terlalu jauh dari tempatnya.
"Mas? Tumben sudah pulang?" Aretha berdiri dari tempat duduknya, menghampiri sang suami, lalu mencium tangan pria itu, sebagaimana yang biasa ia lakukan.
Ya, tentu saja Aretha merasa heran karena David pulang lebih dulu. Padahal, itu masih siang, belum waktunya pria itu pulang ke rumah, setelah sebelumnya David selalu melewatkan makan siangnya di kantor.
"Kamu membuatku khawatir," kesal David dengan ekspresi cemasnya.
"Aku baik-baik saja, Mas." Aretha menyunggingkan senyumnya, lalu merangkul tangan sang suami.
"Mm ... Mas pasti belum makan siang. Kita makan siang, yuk!" ajak Aretha seraya menarik pelan tangan David.
Ya kebetulan, Ratih sudah memasak beberapa menu makan siang untuknya dan juga suaminya. Rasanya, ia tak ingin melewatkan waktu yang sangat jarang mereka lakukan bersama, karena kesibukan sang suami.
David hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah sang istri yang tiba-tiba berubah seperti orang yang benar-benar ingin terlihat sehat. Jelas-jelas wajahnya terlihat pucat dan menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Lagi pula, kondisinya tadi pagi juga sangat membuat pria itu merasa cemas hingga ia tidak begitu fokus dalam pekerjaannya. Oleh karenanya, pria itu memilih untuk pulang lebih dulu, sebelum waktunya.
David masih mengamati wajah sang istri yang kala itu tengah sibuk menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan dengan dibantu oleh Ratih.
"Biar saya saja yang menyiapkannya, Mbak," ucap Ratih merasa tidak enak kepada pria yang tengah duduk di sana.
Sebab, sebelumnya tuan majikan sudah menitipkan sang istri kepadanya. Rasanya kurang enak saja, jika ia membiarkan majikannya ikut sibuk menyiapkan, sedangkan ia tahu bahwa nyonya di rumah itu tengah sakit.
"Saya tidak sakit 'kan, Bi?" Aretha tampak menoleh ke samping, dimana Ratih tengah berada di sana. Ia baru saja menaruh sepiring ikan goreng di atas meja.
Ratih hanya menggelengkan kepala sembari menyunggingkan senyumannya.
"Ya sudah, kalau begitu jangan memperlakukan saya seperti orang sakit," pinta Aretha seraya mendaratkan tubuhnya di atas kursi.
Lagi-lagi Ratih hanya tersenyum menanggapi majikannya itu, lalu segera pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya, setelah semua siap.
Masih sama seperti sebelumnya. David masih heran dengan perubahan sang istri yang terjadi hanya dalam beberapa jam. Bahkan, bukan hanya istrinya, tetapi juga asisten rumah tangganya yang seolah mereka tengah memiliki suatu kesepakatan yang entah itu apa, sehingga Ratih terlihat hanya bisa menurut dengan perkataan Aretha, meski memang sudah seharusnya seperti itu. Namun, tetap saja itu terlihat beda di mata David.
"Mas, kamu mau makan apa?" Aretha memfokuskan pandangan ke arah sang suami yang kala itu masih memasang ekspresi datarnya.
Alih-alih memberi jawaban, David malah meraih tangan Aretha. "Are you okay?" tanyanya masih heran.
"Sure," singkat Aretha yakin.
David mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan yang terlihat sangat serius. "Aku tidak percaya!" celetuknya,
"Why? Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?" tanya Aretha bingung.
David memalingkan wajahnya sejenak, lalu memfokuskan kembali tatapannya ke wajah sang istri. "Ya, bukan begitu maksudku," bantahnya. Ia pun bingung harus memberi jawaban apa.
"Lalu?" Aretha tampak menunggu kelanjutan kalimat yang mungkin akan terlontar dari mulut sang suami.
"Kamu terlihat beda. Bi Ratih juga," ucap David curiga.
"Lalu?"
"Ck! Lalu apa lagi?" David semakin kesal dibuatnya, karena merasa dipermainkan oleh sang istri yang tiba-tiba berubah menyebalkan.
"Ya kamu jelaskan dong! Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Aku tahu kamu lagi sakit, wajahmu pucat, lesu, tetapi kamu seolah memaksakan diri agar terlihat sehat. Jangan seperti itulah, aku tidak suka!" geram David seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi makan dengan kedua tangan yang dilipat di atas dada. Sementara tatapannya tak beralih barang sedetik pun.
"Sakit? Ya ampun ... aku sehat begini, kamu bilang sakit?" Aretha membulatkan matanya diiringi pergerakan tanganyya sebagai mimik untuk mempertegas ucapannya.
"Kamu pucat, Sayang. Kamu bilang sama aku, kamu sakit apa? Aku ini suami kamu, lho!" David menatap teduh wajah Aretha. Ia meraih kembali tangan wabita itu, lalu mengecupnya, berharap dengan ia memperlakukannya dengan lembut, sang istri akan mau memberi tahu apa yang sudah menjadi pertanyaannya.
Sebagai seorang suami yang sudah satu tahun lebih hidup dengan wanita itu, tentu ia mengetahui bagaimana istrinya. Ia juga bisa langsung menyadari, ketika terjadi perubahan pada sang istri. Lantas, haruskah ia meragukan kecurigaannya, sementara ia begitu yakin akan perasaanya?
"Aku tidak apa-apa, Mas. Kamu percaya sama aku!" lirih Aretha berusaha meyakinkan suaminya.
Tentu saja Aretha menganggap bahwa itu bukanlah suatu penyakit, karena memang seperti itu kenyataannya. Bahkan, itu adalah anugerah. Jika ditanya perasaannya seperi apa saat itu, tentu jawabannya sangat bahagia.
"Sayang, aku tahu kamu, please!" David masih kekeh dengan apa yang tengah dirasakannya.
"Sudahlah, Mas, aku baik-baik saja. Lebih baik kita segera makan siang, karena setelah ini aku mau minta kamu antar aku ke sesuatu tempat, kamu bersedia, kan?" terang Aretha.
David mendengkus kasar. Istrinya begitu keras kepala. Ia sulit sekali menaklukan egonya yang seperti itu.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya David dengan ekspresi yang masih datar.
"Ada deh ...," jawab Aretha sembari menuangkan nasi ke dalam piring sang suami.
"Tuh 'kah? Bahkan, untuk hal sekecil ini pun kamu masih saja main rahasia-rahasiaan denganku." gerutu David lagi-lagi melayangkan protesnya kepada sang istri.
"Kamu itu kenapa sih, Mas? Kok tiba-tiba sensitif sekali?" Aretha menanggapi sang suami dengan sedikit terkekeh, sehingga membuat David berdecak semakin kesal.
"Kamu yang kenapa? Bukan aku!"