
"Apa perlu kita adakan pesta pertunangan terlebih dahulu, agar kamu merasa lebih yakin?" tanya pria itu, lagi-lagi menggoda Aretha.
"Haiish! Bahkan, saya belum menyetujui perjodohan itu. So, jangan macam-macam!" tegas Aretha tanpa rasa canggung.
Nampaknya, semakin sering David membuat gadis itu meradang, semakin kuat pula pertahanan yang timbul pada dirinya. Ia semakin berani terhadap atasannya itu.
"Well, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang," ucap David optimis seolah dirinya tidak akan kalah. Ia tampak tersenyum jahil sembari mengedipkan sebelah matanya.
Seketika Aretha merasa jijik melihat tingkah pria itu. Menurutnya, itu bukanlah David yang ia kenal. Meski ia baru beberapa minggu mengenal pria itu. Namun, ia tahu betul bahwa David bukanlah pria genit dan suka tebar pesona terhadap wanita.
Aretha tampak bergidik ngeri, sementara David terlihat menahan senyumnya.
"Sudahlah, saya mau pulang, permisi!" ucap Aretha penuh penekanan, lalu beranjak dari tempat duduknya. Namun, secepat kilat David meraih tangannya. Dalam sekejap, langkah gadis itu terhenti.
Aretha segera melepaskan tangannya dari genggaman pria itu, sebelum David berhasil mengatakan sesuatu.
"Tunggu dulu!" titah David.
Gadis itu menghela napas kasar. "Mau apa lagi, sih, Pak?" tanyanya.
"Sepakati dulu perjanjian kita, baru pulang!" titah David.
"Perjanjian yang mana? Saya tidak pernah merasa membuat sebuah perjanjian," jawab Aretha.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu sepakati perjanjian yang tadi saya buat!" tegas David memaksa.
"Apa???" Aretha tampak membelalakkan mata. Bagaimana mungkin ia menyepakati perjanjian konyol itu. Perjanjian yang hanya dibuat secara sepihak.
"TIDAK MAU!" tolak gadis itu.
"Well, saya bisa saja membuat tugas magang kamu berantakkan," ancam pria itu.
Gadis itu tampak tertegun. Ia tidak menyangka jika David selicik itu. Jika sudah seperti itu, apa yang bisa ia perbuat.
Sabar, Aretha ... hanya dua minggu lagi, tugasmu akan selesai. Setelah itu, kamu bisa bebas dari terkaman macan yang seakan ingin mencengkerammu habis, batinnya seolah menguatkan.
"Jadi bagaimana, Nona Aretha?" tanya David.
Gadis itu masih diam membisu, tak menanggapi. Ia masih berpikir untuk memutuskan. Hatinya ingin menolak, tetapi itu tidak mungkin. Mengingat tugasnya yang masih belum selesai, rasanya sayang jika harus berhenti di tengah jalan. Namun, ingin menyepakati pun seolah mulutnya kaku seolah terasa berat untuk mengatakan "iya".
"Hallo ... Nona Aretha?" Seketika David membuyarkan lamunan gadis itu.
Aretha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar. "Baik!" ucapnya terpaksa menyetujui perjanjian itu.
Gadis itu memasang ekspresi penuh emosi. Namun, David tidak peduli. Pria itu hanya tersenyum senang, merasa dirinya menang.
Lihatlah, Nona, baru tahap awal, siapa yang sudah berada di atas? batin David saat itu.
Ini bukanlah puncak dari segalanya, Pak David. Malam ini, boleh saja anda yang menang, tapi ingat, perjalanan kita masih panjang, sewaktu-waktu bisa saja anda terjatuh ke dalam lubang yang paling dasar, bisik gadis itu dalam hati.
Mereka tampak beradu pandang dengan tatapan yang sama-sama menunjukkan ketidaksukaan, terlebih lagi Aretha.
"Baiklah, Nona, saya senang jika kamu bisa bekerjasama dengan baik," ucap David seraya menerbitkan senyum di wajahnya.
Aretha tampak menanggapi dengan memutar bola matanya seolah tidak suka.
"Baiklah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan? Saya mau pulang," ucap Aretha.
"Oke, mari saya antar!" ajak David.
"Oh ... tidak usah, Pak, saya bisa pulang sendiri," ucap Aretha menolak. "Dan satu lagi, jangan panggil saya nona, saya tidak suka!" imbuhnya.
David tersenyum kecut "Baiklah, Rere ... belum genap lima menit, kamu sudah melupakan perjanjian kita," sindir David.
"Lho, bukannya anda sendiri yang bilang bahwa perjanjiannya dimulai besok?" balas Aretha.
David terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. "Baiklah, saya ralat! Perjanjian itu berlaku mulai malam ini dan seterusnya!" tegasnya, sontak membuat gadis itu kembali meradang. Namun, sebisa mungkin ia tahan emosinya.
Dengan susah payah, David menahan tawa karena melihat ekspresi Aretha yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Baiklah, Sayang ... ayo kuantar pulang!" ajak David seraya masih belum puas menggoda gadis itu, sontak membuat Aretha memelototkan mata kepadanya.
David semakin terkekeh, seolah tak peduli dengan tatapan gadis itu. Pria itu tampak meraih tangan Aretha seraya mengajaknya pulang. Namun, secepat mungkin Aretha melepaskannya.
"Jika anda bebas membuat kesepakatan, saya pun demikian. Jadi, tolong jangan berani pegang-pegang saya!" tegas Aretha.
David pun mengiyakan dengan bahasa tubuhnya. Mereka segera keluar dari tempat itu, menuju tempat parkir.
David telah lebih dulu masuk ke dalam mobil, sementara Aretha masih diam berdiri di samping mobil itu sehingga membuat David membuka jendela mobil sebelah kiri, lalu menoleh ke arah gadis itu.
"Kamu sedang menunggu apa?" tanya pria itu sedikit mendongak.
Aretha sedikit membungkukkan badannya, melihat ke dalam mobil.
"Jadi, menurut anda, saya harus membuka pintu mobil ini sendiri, sedangkan calon suami saya sedang berada bersama saya, begitu?" ucap Aretha dengan nada yang sedikit menyindir.
"Jangan kurang ngajar kamu! Saya ini bukan sopirmu!" ketus David seolah tidak terima.
"Well, kalau anda tidak mau, tidak masalah. Cuma perlu anda tahu bahwa mantan saya yang dulu, selalu memperlakukan saya dengan manis," balas Aretha seraya memanas-manasi.
"Oke, wait!!" David segera turun kembali dari mobilnya, lalu membukakan pintu mobil itu untuk Aretha. Ia seolah tidak mau kalah dengan mantan yang dimaksud oleh gadis itu.
"Silakan masuk, Tuan Putri!" pintanya dengan nada yang begitu manis, semanis senyumannya, sontak membuat gadis itu seketika terkekeh. Akhirnya, ia berhasil mengerjai balik pria itu.
Ah, jadi teringat dengan kak Richard, gumam Aretha, setelah ia duduk di samping jok kemudi.
"Tuan Putri, sudah siap untuk pulang?" tanya David seolah sengaja ingin terlihat manis.
"Telat semenit saja, saya turun lagi!" ketus Aretha.
"Galak banget, Mbak," ucap David seraya tersenyum melihat ekpresi gadis itu.
Pria itu segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Perjalanan mereka nampak begitu lancar. Meski terdapat cukup banyak kendaraan yang berlalu lalang, tetapi tidak lantas membuat jalanan itu macet.
Beberapa lampu jalanan tampak menghiasi malam itu sehingga suasananya terlihat begitu indah. Namun, seketika keindahan itu musnah, tatkala gadis itu menoleh ke sampingnya dan mendapati pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
Andai saja pria itu adalah orang yang ia cintai, mungkin suasananya akan terasa romantis. Sayang, nyatanya pria itu bukanlah sosok yang didambakan gadis itu.
Tidak ada pembahasan sepanjang perjalanan mereka hingga lima belas menit telah berlalu, mereka telah sampai di halaman rumah Aretha.
Tanpa menunggu komando, David segera turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Aretha, seperti sebelumnya. Gadis itu tampak menahan senyum melihat tingkah sang atasan. Entah apa yang sebenarnya membuat pria itu begitu mudah menuruti keinginannya.
"Terima kasih, Pak," ucap Aretha.
"Selamat beristirahat, kalau kamu tidak bisa tidur, sebut saja nama saya!" titah David.
Aretha tampak melengos sembari berdecak kesal.
"Baiklah, saya pamit," ucap David kemudian. "Night," imbuhnya. Aretha pun membalasnya dengan nada malas.
___________
TO BE CONTINUED
Sebelumnya kalian sudah mengetahui tentang mantan Aretha. Aku juga sudah memberikan sedikit gambaran tentang mantan David. So, siap-siap ya ... karena setelah ini akan ada mantan lewat. Entah itu mantannya siapa, kalian tebak sendiri.ðŸ¤
Jadi spoiler, kan?
HAPPY READING!