Possessive Love

Possessive Love
Suami Pendosa



"Kasih aku alasan agar aku tidak mempercayainya!" teriak Aretha semakin geram.


"OKE! Tapi please ... kamu tenang dulu, aku mohon," ucap David memohon.


Aretha hanya diam menatap sang suami dengan air mata yang sudah tak bisa terbendung lagi.


"Aku akan jelaskan," ujar David terdiam sejenak. "Ini," David mengangkat salah satu foto ketika Freya memegang tangannya.


"Ini memang benar, aku semalam bertemu dengan dia secara tidak sengaja. Aku juga baru tahu, kalau ternyata dia salah satu nara sumber di acara seminar itu. Dia memaksaku untuk memberinya kesempatan menjelaskan kejadian dua tahun yang lalu antara aku dan dia. Aku menolak, tetapi dia mengejarku, dan akhirnya terjadilah seperti ini. Namun, aku tetap menepisnya dan aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ada foto ini. Kamu percaya, kan?" jelas David panjang lebar seraya menatap Aretha penuh harap. Berharap wanita itu akan percaya dengan penjelasannya.


Namun, Aretha terus diam. Ia sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya menangis yang bisa ia lakukan saat itu.


"Sayang, ayolah ... jangan menangis seperti itu," titah David masih berusaha bersikap lembut, meski keadaanya sedang memanas.


Aretha masih tak menanggapi. Ia tampak menurunkan tatapan sinisnya ke arah sebelah tangan David yang kala itu masih memegang sisa foto yang lainnya.


David langsung menyadarinya. Ia tahu bahwa tatapan itu berarti Aretha yang meminta penjelasan tentang foto-foto itu.


David melakukan hal yang sama sebelumnya. Ia mengangkat Foto-foto itu ke atas kepala, lalu menggantungnya beberapa saat di udara.


"Dan ini!" David menatap serius wajah sendu di depannya. "Sumpah demi apapun, aku sama sekali tidak pernah melakukannya!" ucapnya tegas penuh penekanan, tanpa adanya kebohongan yang tertangkap dari dua iris berwarna cokelat itu.


"Dan menurut kamu, itu bukti yang bisa kamu jadikan alasan? Cih!" ketus Aretha seraya mencebikkan bibirnya.


"Kamu sudah tidak mempercayaiku?" tanya David.


"Sayangnya, aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat!" ketus Aretha.


Tetap saja ia tidak bisa percaya begitu saja dengan penjelasan David yang hanya diperkuat melalui kata-kata. Apa semua wanita akan percaya semudah itu, jika dihadapkan dengan situasi yang sama?


Ya, benar. Kepercayaan memang satu hal penting dalam hubungan, terlebih lagi hubungan suami istri. Namun, apakah salah jika seorang wanita menuntut sebuah bukti untuk semakin memperkuat kepercayaannya?


"Oke, mungkin saat ini aku belum bisa membuktikan apapun, tetapi secepatnya, aku akan buktikan itu, aku janji!" terang David seraya memegang kembali kedua tangan Aretha.


"Aku kasih kamu kesempatan satu minggu! Dan mulai malam ini, aku tidur di kamar tamu, sampai kamu bisa membuktikan bahwa foto itu tidaklah benar!"


Aretha menarik tangannya dari cengkeraman David. Dalam satu kali hentakan, tangannya terlepas, lalu ia segera beranjak dari kamarnya.


"Lho, Sayang jangan begitu lah, aku tidak melakukannya!" teriak David. Namun, Aretha tak mempedulikannya. Ia terus berjalan ke kamar tamu, lalu menutup pintu kamar itu dengan kasar.


BRUK!


Sementara, David membiarkan Aretha pergi, tidak mengejarnya, karena percuma saja ia mengejar dalam situasi sedang memanas seperti itu.


Pria itu tampak menatap kembali foto-foto itu satu-persatu, lalu ia bergidik ngeri, merasa jijik melihat orang di dalam foto itu yang memang mirip sekali dengannya. Entah teknologi macam apa yang digunakan, sehingga itu bisa mirip sekali dengannya. Bahkan, bukan hanya mirip, tetapi nyaris sama.


"Apa-apaan ini? Menjijikkan sekali, Aarrgghh!!!!" erangnya frustrasi seraya mengacak rambutnya sendiri. Seketika foto-foto itu berhamburan dari tangannya.


Entah apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang istri. Sungguh ia tidak bisa jika harus berselisih terlalu lama dengannya.


"Freya ... freya ... freya ... sial, dia sudah membodohiku! Harusnya aku tidak memberinya celah untuk berbicara sepatah kata pun!" sesalnya sembari mondar-mandir tidak jelas. "Aku harus segera menemuinya, walau bagaimanapun dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat," imbuhnya.


"Tapi, bagaimana aku bisa menemuinya, sementara tempat tinggalnya saja aku tak tahu? Bahkan, nomor teleponnya pun aku tak tahu?" pikir David.


Sementara di luar, Ratih yang sedari tadi mendengar perdebatan antara kedua majikannya tampak bergidik ngeri, merasa takut. Bahkan, itu bukanlah sekadar perdebatan, melainkan pertengkaran. Itulah kali pertama ia mendengar pertengkaran yang begitu hebat antara keduanya.


Tanpa berpamitan terlebih dahulu, sang asisten rumah tangga itu segera pulang ke rumahnya, setelah tugas di rumah majikannya selesai. Bahkan, ia tidak berani menghampiri majikannya dalam kondisi sedang memanas seperti itu.


***


Hari semakin gelap, matahari telah terbenam dengan sempurna. Aretha masih meringkuk di kamar tamu sembari sesenggukkan menangisi apa yang sudah membuatnya sakit hati dan kecewa. Perasaannya seakan hancur dalam hitungan detik. Ya, semenjak pertama kali ia melihat foto-foto itu.


Tok ... tok ... tok ....


"Sayang, buka dong, please!" ucap David memohon di luar sana.


Itu bukan yang pertama kalinya, melainkan sudah yang ke tiga kali pria itu mengetuk dan memanggil Aretha, berharap sang istri mau luluh melihat usahanya. Namun, nyatanya tidak.


Itu terlalu menyakitkan buat Aretha, mana mungkin ia bisa melupakannya begitu saja, tanpa ada bukti yang benar-benar menyatakan bahwa foto itu tidaklah benar adanya.


"Sayang, buka pintunya! Aku tahu kamu belum tidur," teriak David sekali lagi.


Aretha mana mau peduli, hingga akhirnya David merasa lelah, ingin sekali menyerah. Namun, tidak semudah itu. Bagaimana pun kondisi Aretha adalah yang terpenting. Ia tidak ingin membiarkan wanita itu sakit hanya karena telat makan.


David mendengus kasar. Entah apa lagi yang harus ia lakukan. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar itu. Namun, seketika tebersit ingatan bahwa ia memiliki kunci serep kamar tersebut.


Dengan sigap, David menghampiri bufet laci yang berada tepat di depan kamar itu, lalu ia segera mencari kunci serep itu di salah satu laci pada bufet tersebut. Beruntung kunci itu bisa ia temukan dengan mudah.


Namun, sebelum membuka pintu itu, David mengambilkan makanan dan minuman terlebih dahulu untuk dibawa ke dalam kamar, dimana sang istri berada.


Pria itu tampak menyiapkannya dalam sebuah nampan, lalu membawa masuk ke dalam kamar tamu.


Ceklek!


Pintu itu berhasil dibuka. David segera masuk ke dalam. Di sana, tampak Aretha yang masih terlihat meringkuk, disertai terdengar lirihnya isak tangis yang keluar dari tenggorokkan wanita itu.


David menatapnya iba dari kejauhan. Ia menghentikan langkahnya sejenak. Namun, seketika ia langkahkan kembali kakinya menuju sebuah nakas yang berada di samping tempat tidur, tepatnya di depan Aretha dimana ia tengah berbaring.


Dengan rasa ragu, David mendudukkan tubuhnya di bibir tempat tidur, tepat di sebelah kaki Aretha. Namun, secepat kilat Aretha membalikkan tubuhnya hingga posisinya membelakangi David.


David mendengus kesal. Namun, ia artikan sikap Aretha adalah hal yang wajar. Ia memberanikan diri untuk mengelus punggung Aretha, meski itu tidak akan memberikan ketenangan untuk istrinya, paling tidak itu menunjukkan bahwa ia masih berusaha untuk bersikap lembut dalam situasi yang memanas.


"Sayang, aku tahu kamu marah, kamu terluka. Silakan kalau kamu mau marah, memnbenciku, ataupun menangis semalaman, tetapi aku mohon makanlah dulu. Bahkan, untuk menangis pun kamu masih membutuhkan energi," ucapnya seraya mengelus punggung Aretha. Namun, lagi-lagi Aretha bergeser menjauh dari jangkauannya.


Aretha semakin terisak. Di satu sisi, ia sangat membenci David saat itu. Namun, di sisi lain, hatinya sedikit luluh akan perhatian yang pria itu berikan. Hanya saja, ia sedikit kesal mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh David.


Ini apa maksudnya? Jadi dia senang kalau aku menangis semalaman, sampai harus ditambah energi dulu? Dasar suami pendosa, tak tahu diri! Kesel! Kesel aku sama kamu, Mas!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC