
David baru saja membuka matanya. Rasa lelah dan pusing yang terasa semalaman, nampaknya membuat pria itu terlelap begitu nyenyak, sehingga ia tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB.
Pria itu sedikit mengucek matanya seraya menetralkan penglihatannya yang masih terasa samar. Pria itu menoleh ke samping kanan, lalu kiri, mencari Aretha, sosok yang semalaman rela menunggunya. Namun, sayangnya sosok tersebut tak dapat ia temukan.
Pria itu mengangkat tubuhnya hingga terduduk sempurna di atas ranjang, lalu ia mengedarkan pandangan ke berbagai arah. Netranya tampak menelusuri setiap sudut ruangan itu. Namun, ia masih tidak menemukan sosok yang tengah dicarinya.
"Kemana dia?" gumamnya seraya tertegun. "Masa sepagi ini sudah pergi keluar?" imbuhnya heran.
Pria itu menguap sejenak, sebelum akhirnya ia membaringkan kembali tubuhnya seperti sedia kala.
Beberapa menit ia menunggu, Aretha masih tidak menampakkan diri di hadapannya. Entah kemana perginya gadis itu. Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun kepada David.
Kendatipun begitu, David masih sabar menunggu, mungkin Aretha sedang ada urusan di luar, pikirnya.
Sudah hampir satu jam, Aretha masih belum datang juga, kemana sebenarnya gadis itu pergi? Sungguh membuat David merasa cemas kala itu.
"Apa mungkin dokter memanggilnya disaat aku tertidur? Tetapi ... mana mungkin sepagi ini? Kemana dia sebenarnya?" David mulai bertanya-tanya.
Pria itu tampak menoleh ke kamar mandi yang ada di ruangan itu, lalu ia turun dari ranjang. Rasa pusing yang semalam mengganggunya, ternyata sudah hilang, setelah diberikan obat dan diistirahatkan.
Pria itu berjalan menghampiri kamar mandi, berpikir bahwa mungkin saja Aretha berada di sana, meski itu sangat kecil kemungkinan karena sedari tadi tidak terdengar ada suara apapun di dalam sana.
"Sayang, kamu ada di dalam?" seru David yang tentu saja tidak mendapat jawaban.
David pun membuka pintu kamar mandi itu. Dengan mudah ia membuka pintu yang tidak terkunci itu, dan benar saja Aretha tidak ada di sana.
"Aargh!" erangnya. Ia cukup dibuat frustasi.
Pria itu kembali ke tempat semula, berniat mengambil smartphone miliknya. Pandangannya fokus ke benda pipih itu. Ia segera meraihnya, setelah benda berbentuk persegi panjang itu sudah tak jauh dari jangakauannya.
David tampak mengutak-atik benda itu mencari kontak Aretha, tetapi seketika ia hentikan, ketika mengingat bahwa Aretha tidak membawa handphone.
"Ah, kemarin kan dia tidak sempat membawa handphone, bagaimana bisa aku menghubunginya," lirihnya seraya memasang ekspresi sedikit kecewa.
Seketika pria itu mengingat Richard. "Apa mungkin dia ke ruangan Richard?" ucapnya seraya berpikir. "Ya, mungkin dia di sana, aku harus segera menghubungi Rendy, barangkali dia masih di sana juga," imbuhnya.
David segera ingin mencari kontak Rendy. Namun, seketika ia mengurungkan niatnya, tatkala pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Dengan sigap ia menoleh ke arah pintu, berharap orang yang datang adalah Aretha. Namun, seketika harapannya lenyap, ketika hanya seorang perawat yang masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi! Mas sudah bangun rupanya. Bagaimana kondisinya, sudah baikan?" tanya perawat itu menyapa. Ia tampak menerbitkan senyumnya.
"Pagi, Sus! Saya rasa, saya sudah jauh lebih baik," jawab David.
"Syukurlah, tetapi tetap harus diperiksa dulu ya, Mas," balas perawat yang diketahui bernama Shinta, jika dilihat dari name tag-nya.
David hanya mengangguk sebagai tanggapan, lalu ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas dengan pandangan yang fokus ke arah ranjang.
Tak berlangsung lama, David kembali berbaring di atas ranjang dan melakukan serangkaian pemerikasaan oleh perawat tersebut.
Di tengah-tengah kegiatannya, David menoleh ke perawat itu. "Sus, apa Suster lihat kekasih saya, yang semalam menunggu di sini?" tanyanya sedikit ragu.
"Mbak Aretha?" tanya Shinta.
Ya, Shinta memang mengetahui Aretha, karena ia adalah perawat yang memberi tahu Aretha soal kondisi David semalam.
"Iya. Suster mengenalnya?" tanya David sedikit antusias.
"Saya belum melihat beliau pagi ini, Mas," balas Shinta yang sontak membuat David lagi-lagi merasa kecewa.
"Sudah selesai. Hasilnya bagus, sepertinya hari ini sudah boleh pulang," ucap perawat itu, setelah selesai dengan kegiatannya.
"Terima kasih, Sus," ucap David yang dibalas dengan senyuman.
"Baiklah, saya tinggal dulu, permisi," pamit Shinta.
"Sus, kalau lihat Aretha, tolong sampaikan saya mencarinya," ucap David yang langsung medapat anggukkan kepala dari perawat itu. Shinta pun segera keluar dari ruangan itu.
David kembali bangkit, ketika teringat dengan Rendy. Ia segera meraih benda pipih miliknya. Namun, lagi-lagi tangannya terhenti, ketika ia mendapati selembar kertas yang terlipat di atas nakas yang ditindih oleh kotak tissue dengan jarak hanya beberapa centimeter dari ponselnya.
David terdiam sejenak memperhatikan kertas itu. Setelah beberapa saat, ia pun meraih kertas itu dengan perasaan sedikit ragu. David mulai membukanya. Ia tampak terlonjak, matanya pun seketika terbelalak, ketika ia mengetahui isi dari kertas itu. Sebuah surat dari Aretha.
To : Mas David
Mas, maaf aku pergi.
Jujur aku masih kecewa dengan keputusanmu yang membatalkan pernikahan kita secara sepihak, aku kecewa berat, Mas. Dan itu membuatku ragu akan perasaamu terhadapku.
Sepanjang malam aku berpikir, apakah kamu benar-benar mencintaiku atau tidak? Sebab, sikapmu seolah membuatku ragu untuk mempercayainya, bahwa kamu benar-benar mencintaiku.
Kurasa kita butuh waktu untuk berpikir, pernikahan ini layak untuk dilanjutkan atau tidak. Aku harap kamu bisa memantapkan perasaamu terhadapku terlebih dahulu, sebelum membuat keputusan. Pun denganku yang butuh waktu untuk berpikir agar tidak salah memilih orang yang akan menemani hidupku di masa depan.
Maaf aku meninggalkanmu dalam situasi seperti ini. Semoga kamu cepat pulih kembali.
Aretha
"Aarrgh!" David mengerang frustasi seraya mengacak rambutnya sendiri. Ia tidak habis pikir jika ulahnya dapat membuat Aretha sekecewa ini.
"Kenapa kamu lakukan ini, Re? Aku mencintai kamu, apa sikapku selama ini tidak cukup meyakinkan?" ucapnya kecewa.
David benar-benar menyesali perbuatannya. Ia pun sadar dengan sikapnya yang terkesan plin-plan. Namun, itu bukanlah yang sebenarnya. Ia hanya tidak ingin melihat sahabatnya hidup terpuruk karena kehilangan wanita yang sangat ia cintai, terlebih penyebabnya adalah dirinya sendiri.
Berulang kali ia berpikir untuk ikhlas melepaskan Aretha untuk Richard yang tengah dalam keadaan sekarat. Meski itu juga berat baginya, tetapi memang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Richard, selain itu. Berharap dengan begitu mereka bisa hidup bahagia, Richard pun mungkin akan lebih semangat untuk hidup. Namun, ternyata itu salah.
Terkesan mengabaikan perasaan Aretha memang. Akan tetapi, jika berbicara perasaan, justru ia yang paling terluka di sini, ketika Aretha benar-benar menikah dengan Richard nantinya.
Ada rasa bahagia, ketika Aretha menolak permintaannya. Terlebih lagi ketika ia juga tahu bahwa operasi Richard berjalan dengan lancar. Namun, kenapa tiba-tiba menjadi seperti itu, setelah semalam ia menjelaskan kepada Aretha?
"Tidak! Aku tidak boleh panik! Aku yakin, Aretha masih ada di sini," ucap David seolah tidak ingin menyerah. "Aku harus segera mencarinya," imbuhnya.
_____________
Jangan lupa like and comment
Happy Reading!
Oh, ya! Maaf, sekalian author mau promo, barang kali Readers di sini ada yang mau baca karya baruku y berjudul "AFTER MEET YOU" 🤭
Silakan, dengan senang hati☺ Hanya saja novelnya tidak di publish di sini, tetapi di platform sebelah (Platform Hijau). So, kalau mau baca langsung cus aja ya ke sana.
Thank you🙏
TBC