
Aretha tampak sedang mengemasi barang-barangnya. Pakaian, sepatu dan beberapa buku koleksinya sudah ia pilih satu persatu, mana yang akan ia bawa.
David tampak membantunya memasukan beberapa koleksi bukunya ke dalam dus berukuran sedang. David memang tidak memiliki barang-barang yang harus ia kemas di rumah itu, hanya beberapa pakaian saja, sebagai baju ganti selama seminggu tinggal di rumah mertua.
Sementara Aretha tengah sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper dengan begitu telaten. Ia tampak memasukkan beberapa potong pakaian yang sekiranya akan sangat dibutuhkan, ketika sudah tinggal di tempat baru.
"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya David, ketika ia baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Sedikit lagi, Mas," jawab Aretha yang masih fokus dengan beberapa potong pakaian yang ada di hadapannya.
"Baiklah, aku akan membawa ini ke mobil lebih dulu," ucap David seraya mengangkat dua dus berisi sepatu dan buku. Aretha tak menanggapinya.
Aretha telah menyelesaikan kegiatannya, tepat setelah David kembali ke kamarnya. Ia tampak meresletingkan kedua koper tersebut. Bukan hanya pakaiannya yang berada di dalam koper itu, melainkan beberapa pakaian David juga.
"Aku sudah selesai, Mas!" seru Aretha seraya mendongak ke arah David yang saat itu masih berdiri beberapa jengkal dari ambang pintu kamar.
"Sini, biar aku yang bawa," ucap David seraya meraih kedua koper itu hendak membawanya.
"Memangnya tidak apa-apa, Mas?" tanya Aretha sedikit termangu.
"Kenapa?" David tampak heran.
"Itu berat lho, Mas. Sini, satunya biar aku yang bawa!" ucap Aretha seraya akan meraih kembali koper itu dari tangan David. Namun, David menahannya.
"Kamu menyepelekanku?" tanya David membeliak, seolah tidak terima dengan perkataan Aretha yang seolah menyepelekannya tenaganya.
"Bukan begitu, Mas!" kesal Aretha. "Ya, sudah! Kamu saja yang bawa dua-duanya!" imbuhnya seraya berjalan melewati David, keluar dari kamar itu.
"Heran, jadi orang kok emosian banget!" gerutu Aretha sembari terus berjalan menuju lantai bawah.
Bagaimana pun David yang kala itu tengah mengekorinya, dapat mendengar perkataan sang istri, tetapi ia hanya diam tak berkomentar.
Mereka tampak menuruni anak tangga satu persatu, tampak Anton dan Carmila tengah menunggu di bawah sana.
Setelah kegiatan sarapan, dengan yakin David mengutarakan keinginannya untuk segera pindah, kepada mertuanya. Meski dengan berat hati mereka melepas putri semata wayangnya, Anton dan Carmila tetap memenuhi keinginan sang menantu. Walau bagaimanapun putrinya telah menjadi tanggung jawab pria itu. Mereka harus rela kemanapun Aretha dibawanya pergi.
"Kalian baik-baik ya di sana, jangan sering bertengkar," pesan Carmila kepada keduanya.
"Iya, Mami," jawab Aretha sedikit memberengut.
Bukan hanya orangtuanya, Aretha juga merasa masih sangat berat untuk meninggalkan rumah itu, rumah yang memiliki penuh kenangan sedari kecil. Seketika mata gadis itu berkaca-kaca, tidak kuat menahan kesedihan.
"Kenapa harus secepat ini sih, Nak?" tanya Carmila seraya memegang kedua bahu putrinya.
"Nanti kami akan sering ke mari kok, Mi," balas David menanggapi. "Saya mohon izin membawa Aretha. Walau bagaimanapun, kami juga harus bisa belajar hidup mandiri," imbuhnya, untuk yang kedua kalinya David meminta izin.
"Sudahlah, Mi ... nanti putrimu malah semakin manja lagi," ledek Anton yang seketika membuat Aretha terkesiap.
"Papi ... kapan aku manja?" tanya Aretha menggerutu.
"Setiap hari juga manja," jawab Anton menggodanya.
"Ish ... bohong banget, Papi." Aretha mencoba menepisnya, meski sebenarnya memang seprti itu adanya.
Aretha memberengut. Tak terasa pipinya sudah berubah bersemu merah, seolah merasa malu. Ia menoleh sejenak ke arah David, lalu memfokuskan kembali pandangannya kepada sang mami. David tampak mengulum senyumnya.
"Pokoknya ingat pesan mami. Kamu baik-baik di sana, jangan suka membantah sama suami!" ucap Carmila mengingatkan pesan yang sudah berulang kali ia ucapkan kepada putrinya. Bahkan, Aretha hampir lupa berapa kali maminya itu berkata seperti itu kepadanya.
"Iya, Mi," lirih Aretha sedikit kesal.
***
David tampak mengendarai mobilnya ke arah yang berlawanan dengan apartemennya, sontak membuat Aretha sedikit kebingungan. Yang ia tahu, David akan membawanya tinggal di apartemen miliknya, tetapi kenapa tiba-tiba David malah melewati jalan itu, yang jelas-jelas arahnya sangat berlawanan.
"Kenapa?" David masih fokus ke depan.
"Ini bukan arah ke apartemen kamu, kan? Kita mau kemana dulu?" Aretha tampak menatap pria di sampingnya penuh tanya.
David menoleh sejenak. "Kamu lihat saja nanti," ucapnya seraya menerbitkan senyum simpulnya.
Tak ada yang bisa Aretha lakukan selain mengangguk patuh.
David terus melajukan mobilnya memebelah jalanan yang sedikit sibuk dengan berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang. Beruntung tidak terjadi macet saat itu.
David menghentikan mobilnya di depan rumah bergaya minimalis yang berada di perumahan real estate yang tidak jauh dari tempat orangtua Aretha.
Aretha masih tampak bingung. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melalui jendela mobil. Rumah dua lantai bergaya minimalis dengan gerbang pagar setinggi dua meter yang menjulang di depan mobil David.
David memencet klaskson mobil itu seolah memberi kode. Tampak seorang satpam membuka gerbang, lalu mobil David pun memasuki halaman rumah itu. David memarkirkan mobilnya di sana, tepat di depan garasi mobil yang berada di rumah tersebut.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Aretha masih heran. "Kenapa kita ke sini?" imbuhnya masih bertanya-tanya. Namun, David tak berniat menanggapi.
Seketika Aretha mengedarkan pandangannya kembali ke arah bangunan rumah yang sudah tidak jauh dari jangkauan netranya.
Rumah minimalis dengan konsep monokrom, yang tertangkap oleh sepasang iris berwarna cokelat itu. Tampak di bagian luar, tepat di depan teras rumah, terdapat sebuah taman kecil, tetapi cukup membuat suasana rumah itu sejuk.
Rumah itu tidak terlalu mewah dan luas, tetapi masih cukup untuk kekuarga kecil yang memiliki dua atau tiga anak.
"Turun, yuk!"
Ajakan David seketika membuat Aretha, lalu menoleh ke arahnya. David tak menghiraukan, pria itu langsung turun dari mobil, lalu meminta satpam menurunkan beberapa barang bawaannya dari bagasi.
Dengan sedikit bingung, Aretha pun ikut turun dari mobil itu, lalu menghampiri suaminya yang kala itu sudah berdiri di depan mobil.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Areta masih heran.
David menoleh ke arah istrinya. "Kamu suka?"
Alih-alih memberi jawaban, David malah bertanya balik
"Ya, tapi ini rumah siapa, Mas?"
"Rumah untuk kita," jawab David memberi tahu, sontak membuat Aretha terbelak tak percaya. Kapan David menyiapkan semua itu untuknya? Pikirnya.
"Kamu serius, Mas?" tanya Aretha seolah masih tidak percaya.
"Memangnya ada ketidak-seriusan di wajahku?" tanya David.
"Ah, tidak. Aku hanya sedikit bingung dengan semua ini. Aku senang, Mas, terima kasih," ucap Aretha tersenyum bahagia.
Bukan tentang rumahnya, melainkan soal tempat yang tidak jauh dari rumah kedua orangtuanya, juga kampus dimana ia kuliah. Sebelumnya, ia pernah mengeluhkan jarak dari apartemen David ke kampusnya. Aretha senang karena David memahami keinginannya untuk tidak tinggal jauh dari kedua orangtuanya.
__________________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
JIKA BERKENAN, SILAKAN MAMPIR JUGA DI KARYAKU YANG KEDUA, BARU PUBLISH HARI INI DI NOVELTOON/MANGATOON. DENGAN JUDUL "AFTER MET YOU"
TERIMA KASIH
HAPPY READING😚
TBC