Possessive Love

Possessive Love
Menjenguk Diandra



"Mas, kerak telornya mana?" tanya Aretha seraya mendongak, memfokuskan pandangan ke arah David yang kala itu masih berdiri di tempat yang sama.


David tampak mengerutkan dahinya seraya menatap heran. "Lho, kenapa tiba-tiba berubah jadi kerak telor, bukankah tadi kamu pesannya martabak manis cokelat keju?" tanya David.


"Aku tadi kirim pesan whatsapp lho, Mas ... memangnya kamu tidak membacanya?" gerutu Aretha kesal.


"Sayang, aku tidak bawa handphone lho, tadi lupa. Hanphone-ku masih di dalam saku jas itu," jelas David seraya menunjuk tuxedo yang sebelumnya ia pakai ke acara Rendy.


"Ya ampun, Mas ... kenapa tidak dibawa, sih? Padahal aku ingin sekali makan kerak telor," gerutu Aretha tampak mengerucutkan bibirnya.


"Aku 'kan sudah bilang, aku lupa," jawab David.


"Lalu, aku harus bagaimana?" rengek Aretha.


"Ya, bagaimana? Harus aku balik lagi ke tempat itu untuk membelikanmu kerak telor?" balas David.


"Memangnya mau?" tanya Aretha sedikit memelas.


David terdiam beberapa saat. Ia tampak bingung harus menajawab apa.


Haruskah aku menjawab pertanyaanmu, Sayang? Tidakkah kamu paham bahwa aku sangat lelah jika aku harus bolak-balik terus ke tempat itu?


Belum sempat David menanggapi, tiba-tiba ponsel Aretha kembali berbunyi, sehingga membuat fokus keduanya teralihkan.


Tanpa menunggu lama, Aretha segera menghampiri meja nakas, lalu meraih ponselnya yang terletak di sana. Tampak nama kontak Tania yang tertera di layar ponsel itu. Secepat kilat wanita itu menggeser ikon berwarna hijau, pertanda akan menerima panggilan suara dari Tania.


"Halo, Tan?" sapa Aretha. Ia terlihat memasang telinganya baik-baik, menunggu Tania akan membawa kabar apa.


"Re, gue lagi di jalan menuju rumah sakit. Sepertinya Diandra tidak memungkinkan kalau hanya dirawat di rumah," jelas Tania tanpa berbasa basi.


"Ya ampun ... serius, Tan?" tanya Aretha memasang wajah memelasnya.


"Ya, Re. Gue cuma mau mengabari itu saja, lo nggak perlu terlalu khawatir, Diandra akan baik-baik saja sama gue," jelas Tania.


Tak berlangsung lama, mereka segera mengakhiri obrolan, setelah Tania berhasil menyampaikan kabar terkait Diandra .


Meski Tania sudah mengingatkan untuk tidak terlalu cemas, tetap saja Aretha tidak bisa begitu saja melupakan keadaan Diandra malam itu. Terlebih lagi, ia tidak melihat langsung kondisinya seperti apa, sehingga membuatnya justru semakin cemas.


Ekspresi wajah wanita itu masih memelas. Seketika ia terdiam melamun memikirkan apa yang telah membuatnya merasa cemas, sehingga membuat David mengangkat sebelah alihnya, seraya menatap heran ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya David penuh selidik.


Aretha sedikit terkesiap, lalu memfokuskan pandangan kepada sang suami. "Mas, kamu mau antar aku ke sesuatu tempat?" tanyanya berusaha mencari kesempatan, barangkali David bisa dan mau mengantarnya untuk menjenguk Diandra malam itu juga.


"Kemana malam-malam begini?" tanya David masih dengan ekspresi heran.


"Diandra sakit, sekarang dia lagi dibawa oleh Tania ke rumah sakit, aku cemas, Mas. Aku mau menjenguk dia," jelas Aretha.


"Aku tidak mengijinkan!" tegas David tanpa berbasa-basi.


"Kenapa?" Seketika Aretha memberengutkan wajahnya merasa kecewa.


"Kamu masih tanya kenapa?" David menatap kesal wajah sang istri. Bagaimana bisa Aretha masih mempertanyakan hal itu. Tidakkah ia tahu bahwa suaminya juga cemas terhadap dirinya.


"Ini sudah jam berapa? Ini sudah larut malam, mana mungkin aku mengijinkan kamu untuk pergi," imbuh David kemudian.


"Tapi aku khawatir sama Diandra, Mas. Dia 'kan di kota ini tidak memiliki saudara, orangtuanya pun jauh, lalu kalau bukan aku, Tania dan Deasy yang membantu kesulitannya, mau siapa lagi?" terang Aretha. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Malam ini ada Tania 'kan yang membantunya?" tanya David memastikan.


"Iya sih, tetapi aku tetap merasa khawatir kalau belum melihat kondisinya langsung, Mas," jawab Aretha semakin memasang ekspresi sendu.


"Kamu itu kenapa sih, selalu saja lebih mengkhawatirkan orang lain daripada diri kamu sendiri? Kamu tolong dong, perhatikan juga kesehatan kamu, janin yang ada di dalam kandungan kamu, jangan terus menerus membuatku khawatir seperti ini. Ketika kamu lebih mengkhawatirkan orang lain, aku pun sama mengkhawatirkan kamu. Kamu paham, kan?" jelas David panjang lebar dengan nada dan ekspresi yang sudah terlihat kesal.


"Tapi—"


"Tidak ada alasan, aku tetap tidak memberikan ijin!" tegas David tidak mau menerima alasan apapun yang akan diberikan oleh sang istri.


Aretha tampak semakin memberengutkan wajahnya. Seketika ia menciut mendengar perkataan sang suami. Terlebih lagi, ketika ia melihat tatapan pria itu yang begitu menusuk.


David yang menyadari ekspresi Aretha waktu itu, langsung berusaha mengembalikan mood istrinya kembali.


"Besok pagi akan kuantar kamu untuk menjenguknya. Sekarang istirahatlah saja dulu. Aku tidak ingin melihat kamu terlalu mengkhawatirkan orang lain, sementara kesehatan kamu sendiri kamu abaikan."


Nampaknya, David sudah tidak lagi ingin memberikan toleransi kepada sang istri. Mana mungkin ia memberi Aretha ijin, sedangkan itu sudah larut malam dan Aretha baru saja pulang. Jika dipaksakan, tentu Aretha akan semakin merasa kelelahan, karena terlalu banyaknya kegiatan yang ia lakukan hingga melupakan akibatnya nanti. Sungguh itu sangat tidak baik untuk kesehatan tubuhnya, juga kandungannya.


"Benarkah?" Aretha tampak memastikan.


"Iya," singkat David.


"Sekarang makanlah itu, setelah itu istirahat! Aku mau mandi dulu," pinta David seraya meminta Aretha untuk segera memakan martabak yang sudah ia beli.


Aretha menundukkan kepala, seraya menatap kantong berisi martabak yang masih berada di pangkuannya, lalu seketika mendongak kembali, ketika David baru saja akan melangkahkan kakinya.


"Lalu, kerak telornya bagaimana?" tanya Aretha yang masih mempertanyakan kerak telor yang ia inginkan.


David menghela napas kasar. Ia hanya menatap sang istri datar, merasa bingung bagaimana harus menanggapinya.


Ya, Tuhan ... masih ingat saja dia.


***


"Setelah perut kenyang dengan memakan kerak telor dan sebagian martabak yang dibelikan David untuknya, ternyata tidak lantas membuat Aretha bisa tidur dengan mudah. Ia masih saja teringat dengan kondisi Diandra di rumah sakit.


Ya, betul. Setelah Aretha merengek minta dibelikan kerak telor, dengan terpaksa David kembali pergi untuk membelikannya. Meski itu membuatnya semakin geram, tetapi ia tetap melakukannya sebagai pembuktian bahwa betapa ia sangat menyayangi istrinya dan akan melakukan apapun demi membahagiakan sang istri.


Kegelisahan wanita itu sontak membuat suaminya yang baru saja terlelap kembali terjaga, karena menyadari sang istri yang sedari tadi berusaha merubah posisi tidurnya ke kana dan kiri.


"Sayang, kamu kenapa? Masih lapar?" tanya David sedikit parau dengan mata yang sedikit menyipit.


Aretha yang kala itu tengah tidur terlentang pun langsung menoleh ke samping. "Aku kepikiran Diandra, Mas," lirihnya lagi-lagi memasang ekspresi cemas.


David mendengkus kesal. Masih saja sang istri memikirkan sahabatnya itu, tanpa peduli dengan dirinya sendiri.


"Ya, Tuhan ... kamu bisa tidak lupakan masalah itu sejenak, kamu harus istirahat, aku yakin Diandra akan baik-baik saja di sana. Bukankah ada petugas kesehatan yang akan merawatnya?" gerutu David.


"Iya, aku tidak tahu, Mas. Entah kenapa dari tadi kepikiran dia terus," jelas Aretha.


"Kamu sayang kepadaku?" David menatap sang istri penuh tanya.


"Ya sudah, kamu lakukan apa yang aku minta, jaga kesehatan kamu baik-baik, jaga pula kesehatan calon bayi kita," pinta David memasang ekspresi serius. "Kamu tahu, betapa berartinya kalian untukku? Aku tidak ingin sekecil apapun hal buruk terjadi kepada kalian. Jadi, kumohon jagalah untukku!" imbuhnya memohon.


Aretha masih belum menanggapi. Mereka terdiam beberapa saat, entah apa yang tengah melintas dipikiran keduanya.


"Bisa, kan?" tanya David ingin tahu.


Aretha menghela napas, lalu mengembuskannya perlahan, sebelum akhirnya ia menanggapi perkataan suaminya.


"Baiklah, aku akan berusaha menjaganya. Maaf kalau aku sudah terlalu egois," ucap Aretha dengan ekspresi menyesal.


"Sudah, tidak apa-apa. Ayo, tidur!" ajak David tampak merengkuh tubuh sang istri, lalu membenamkan wajah wanita itu ke dada bidangnya. David tampak mengusap lembut kepala sang istri hingga akhirnya wanita itu bisa tidur dengan lelap di dalam dekapannya. .


***


Keesokan paginya, Aretha sudah terlihat rapi dengan pakaian setelan santai dan tetap terlihat elegan untuk seorang wanita hamil sepertinya. Setelah Tania mengabarinya bahwa Diandra harus menjalankan rawat inap, ia segera bersiap-siap untuk menjenguk Diandra di rumah sakit pagi itu juga.


Rencananya ia akan diantar oleh suaminya, sekalian pria itu berangkat kerja, karena memang rumah sakit tempat Diandra dirawat cukup dekat dengan kantor perusahaan yang dikelola oleh David.


Sebagaimana Aretha, David pun terlihat sudah rapi dengan setelan kerja berwarna navy. Ia tampak tengah sibuk memakai arloji mewah yang dilingkarkan di pergelangan tangan kanannya.


Aretha langsung mengajak sang suami untuk melakukan rutinitas pagi, sebelum berangkat ke kantor. Apa lagi jika bukan sarapan.


"Mas, kamu mau sarapan apa?" tanya Aretha, ketika ia dan suaminya sudah duduk di kursi makan.


Ada dua menu sarapan di atas meja, nasi goreng beserta lauk pauknya dengan roti tawar dan beberapa varian isinya. Aretha mencoba menawarkan dari kedua pilihan tersebut, hal yang sudah biasa sekali ia lakukan.


"Roti saja, Sayang," jawab David.


"Baiklah, mau rasa apa?" Aretha kembali bertanya.


"Cokelat saja," jawab David.


Seketika Aretha menerbitkan senyumannya, lalu mulai mengambil satu lembar roti tawar. Wanita itu tampak mengolesi roti tawar itu dengan selai cokelat yang diminta oleh sang suami.


"Ini, Mas!" Aretha meletakkan roti yang sudah diolesi selai cokelat di atas piring David.


"Terima kasih, Sayang." David langsung meraih roti itu, lalu langsung memakannya.


Berbeda dengan David, Aretha justru lebih memilih nasi goreng untuk menu sarapannya pagi itu.


Tak banyak waktu yang mereka habiskan hanya sekadar untuk sarapan pagi. Setelah mereka selesai dengan kegiatan tersebut, David dan Aretha langsung keluar dari rumahnya, lalu segera berangkat ke tempat yang menjadi tujuan mereka.


***


Hanya dalam waktu lima belas menit, Aretha dan David telah tiba di sebuah rumah sakit swasta tempat Diandra dirawat.


"Sayang, aku antar sampai sini tidak apa-apa?" tanya David, sebelum mereka turun dari mobil.


"Kamu tidak mau menjenguk Diandra dulu?" tanya Aretha.


"Mungkin nanti sekalian jemput kamu," jawab David.


"Ya sudah, baiklah." Aretha tampak menyetujui sang suami. Setelah itu, David turun dari mobilnnya, lalu membukakan pintu untuk Aretha.


"Aku masuk dulu ya, Mas." Aretha mencium tangan suaminya.


"Hati-hati, Sayang," balas David seraya mengecup kening sang istri.


Aretha segera bergegas masuk ke dalam, menuju sebuah ruang rawat inap yang sudah diberi tahukan oleh Tania melalui pesan whatsapp, sehingga ia tidak perlu lagi pusing mencari keberadaan Diandra.


Aretha telah berada di depan sebuah ruangan rawat inap yang dituju. Ia tampak berhenti sejenak, mengecek keadaan di dalam melalui kaca pada pintu ruangan tersebut. Tampak Diandra yang hanya terbaring lemah sendirian, sehingga membuat Aretha memutuskan untuk segera masuk ke dalam ruangan itu.


"Ra?" ucap Aretha yang seketika membuat Diandra mengerjap kaget, lalu menoleh ke arahnya.


"Re?" Diandra tampak sedikit membulatkan mata seolah kaget melihat Aretha yang tiba-tiba ada di ruangan itu. Dengan sigap ia mengangkat tubuhnya, membuatnya bersadar.


"Ra, lo baik-baik saja, kan?" tanya Aretha, setelah ia berada tepat di samping ranjang pasien tempat Diandra terbaring saat itu.


Aretha memasang ekspresi memelasnya. Terlebih lagi, ketika melihat wajah Diandra yang tampak pucat pasi. Sungguh membuatnya tidak tega sekali untuk melihatnya.


Diandra sedikit memaksakan senyumnya. Ia tahu betul bahwa Aretha adalah salah satu sahabat yang memiliki tingkat kepanikan yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan kedua sahabat yang lainnya. Ia berharap senyum yang ia berikan bisa sedikit membuat khawatir Aretha sedikit berkurang.


"Gue baik-baik saja, Re," jawab Diandra terdengar sangat santai. Ia memberi jeda beberapa saat, sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Lo sama siapa? Sendirian?" tanyanya kemudian.


Netra Diandra tampak teredar ke beberapa arah, seolah mencari sosok lain di ruangannya. Namun, nyatanya hanya Aretha yang berada di ruangan itu.


"Gue diantar mas David, tapi dia langsung ke kantor, mungkin sepulang dari kantor dia kemari," jawab Aretha memberi tahu.


Diandra hanya menanggapinya dengan senyuman dan anggukkan kepala pelan.


"Oh ya, Tania sudah pulang?" tanya Aretha yang sedari tadi tidak mendapati sosok sahabatnya di ruangan Diandra.


"Ya, baru saja, Re. Mungkin sekitar lima menit, sebelum lo datang," jawab Diandra.


"Dia sama Alan?"


"Ya, sama siapa lagi, Re."


Seketika Aretha mengalihkan fokusnya ke meja nakas. Tampak semangkuk bubur beserta minumannya yang sudah tersedia di sana.


"Lo belum sarapan?" Aretha melirik ke arah Diandra.


"Belum lapar." Diandra menggelengkan kepalanya. Namun, Aretha tidak peduli. Ia segera meraih mangkuk bubur itu, berniat menyuapi Diandra.


Diandra yang menyadari Aretha yang sudah menyendoki bubur itu langsung berniat menghentikannya. "Gue belum lapar, Re," ucapnya.


Namun, Aretha masih tidak ingin mendengarnya, karena apapun alasannya ia akan tetap memaksa Diandra agar mau makan.


"Nih, sarapan dulu!" Aretha tampak menyodorkan satu sendok bubur itu ke mulutnya.


Alih-alih menerima suapan dari Aretha, Diandra malah terdiam dan menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.


Aretha sangat menyadari itu. Ia bisa menangkap kesedihan yang tengah Diandra rasakan saat itu. Ya, tentu. Pasti Diandra sedih karena teringat kedua orangtuanya yang saat itu tidak berada di sisinya, disaat ia sedang sangat membutuhkannya.


"Ra, ayo makan!" titah Aretha yang sedikit membuat Diandra tersentak.