Possessive Love

Possessive Love
Go to Paris



Aretha dan David telah menginjakkan kaki di sebuah hotel ternama di kota Paris, Prancis. Mereka langsung merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur yang terasa begitu empuk dan nyaman.


Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih enam belas jam, memang membuat keduanya cukup merasakan lelah, meski hanya duduk di dalam pesawat.


Pukul enam sore, Mereka langsung membersihkan diri mereka masing-masing, setelah kurang lebih dua jam istirahat, lalu merapikan barang-barang mereka.


Aretha tampak tengah berdiri di balkon hotel sembari bersedekap, menatap keindahan kota paris di ujung senja. Tampak begitu indah dengan kerlap kerlip lampu malam. Lebih indah lagi, ketika puncak menara Eiffel yang terlihat jelas dari penginapan mereka.


"Indahnya," puji Aretha.


Meski itu bukan pertama kali ia menginjakkan kaki di kota tersebut. Namun, tetap saja suasananya berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu, ketika ia berkunjung ke tempat itu bersama kedua orangtuanya.


Rasanya baru kemarin ia menginjakkan kaki di Paris bersama kedua orangtuanya, kali ini ia datang bersama suaminya. Sungguh perputaran waktu terasa begitu cepat.


Ia masih ingat sekali ketika sang papi mengejarnya di sekitar menara Eiffel. Aretha kecil yang nakal selalu membuat kedua orangtuanya khawatir, karena kabur dan berjalan-jalan sendiri, trntu saja membuat sang papi dan maminya merasa takut anaknya hilang di Negara orang.


Sesekali Aretha tersenyum mengingat kejadian itu. Namun, seketika lamunannya ambyar, ketika menyadari sebuah tangan yang melingkar bebas di perutnya. Aretha semakin melebarkan senyumnya, ia tahu tangan itu milik siapa.


Aretha sedikit memutar kepalanya ke belakang. "Sudah selesai mandinya, Mas?" tanyanya.


"Hmmm ...." David tampak menanggapi, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, sehingga membuat Aretha merasakan geli.


Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Aretha, sehingga membuat David yang mendengarnya tersadar, lalu mendongakkan wajahnya. Nampaknya cacing di dalam sana sudah berdemo minta di kasih makan.


"Suara apa itu?" tanya David.


"Aku lapar, Mas," jawab Aretha memberengut.


"Baiklah, ayo kita cari makan!" ajak David.


Kedua pasangan suami istri itu tampak berjalan keluar, lalu mencari tempat makan yang tidak jauh dari tempat itu dengan berjalan kaki.


Mereka tiba di salah satu restoran terbaik di Paris, La Famiglia di Rebellato. Aretha dan David segera mendapatkan tempat duduk kosong. Tampak sebuah waiter resto menghampiri mereka dengan membawakan satu keranjang bread steak beserta chilli olive oil yang bisa dinikmati bersama.


"Avez-vous fait votre choix?¹" tanya waiter berjenis kelamin laki-laki yang memiliki tubuh tinggi dan tegap.


"Puis-je voir le menu?²" tanya David.


Waiter itu tampak menyodorkan buku menu restoran tersebut kepada Aretha dan David. Mereka tampak melihat buku menu itu beberapa saat.


"Que recommandez-vous? ³" tanya David kepada waiter restoran, setelah membuka dan melihat menu yang tersedia di restoran tersebut.


"Ham?" jawab waiter itu yang lebih ke nada memberi saran.


David tampak memesan makanan yang direkomendasikan atau yang menjadi menu spesial di restoran itu. Ia juga memesan makanan lainnya sebagai makanan penutup.


"Mas, sejak kapan kamu bisa bahasa Prancis?" tanya Aretha heran, karena baru tahu kalau David bisa berbicara Prancis.


"Mm ...." David tampak berpikir sejenak. "Dua jam yang lalu," jawabnya tidak serius.


"Masa?" Aretha tampak tidak percaya. David hanya membalas dengan senyuman.


Mereka tampak mulai dengan kegiatan makan malam mereka, setelah sang waiter membawakan makanan yang telah mereka pesan.


"Sayang, setelah ini mau kemana?" tanya David.


"Eiffel, ya," jawab Aretha yang langsung mendapat persetujuan dari sang suami.


Setelah selesai dengan kegiatan makan malam, mereka tampak mengunjungi menara Eiffel, salah satu ikon utama kota tersebut. Tampak beberapa orang yang juga berjalan menuju tempat yang sama. Setelah tiba di kaki menara Eiffel tersebut, suasana tampak begitu riuh, dengan banyaknya pengunjung lain. Bahkan, antrian pengunjung menuju puncak atau tengah menara tampak mengular.


Menatap keindahan kota Paris pada malam hari, sungguh pemandangan yang sangat mengagumkan. Mereka benar-benar dapat menikmati kecantikan menara itu di malam hari, dengan cahaya kerlap-kerlip lampu yang berlangsung setiap jamnya.


Mereka tampak meninggalkan kaki menara Eiffel, lalu menuju taman yang tidak jauh dari sana. Mereka duduk di sana, lalu berfoto ria, menunjukkan kemesraan di tengah keramaian lalu lalang pengunjung dari berbagai belahan dunia, dengan latar menara Eiffel.


"Mas, ke tempat lain, yuk!" ajak Aretha, setelah mereka selesai berfoto di tempat itu.


David hanya patuh dan mengikuti ajakan sang istri. Nampaknya rasa lelah mereka sudah tergantikan oleh keindahan kota tersebut. Keindahan kota itu benar-benar sudah mengalihkan mereka dari rasa lelahnya.


Mereka meninggalkan taman itu menuju Palais de Chaillat yang berada di seberang menara Eiffel. Mereka tampak menyeberangi jembatan Sungai Seine. Di tempat itu juga tampak begitu ramai pengunjung, yang tengah berlomba-lomba mengambil foto mereka yang berlatar menara Eiffel.


Setelah hampir semalaman berpetualang di Negeri orang, mereka tampak pulang kembali ke tempat penginapan, karena sudah sangat merasa lelah mengelilingin sekitaran menata Eiffel dengan hanya berjalan kaki.


Aretha tampak merebahkan tubuhnya di atas kasur. David menghampirinya, lalu duduk di sebelah sang istri.


"Kurasa kamu sudah tahu jawabannya," jawab Aretha lirih.


David tampak mengulum senyum, lalu meraih sebelah kaki sang istri, sontak membuat Aretha sedikit terlonjak.


"Mas, mau ngapain?" tanya Aretha kaget.


"Mau pijitin kamu, katanya tadi lelah," jawab David.


"Tidak usah, Mas." Aretha tampak menarik kakinya kembali, menjauh dari tangan David.


"Tidak apa-apa, biar aku pijitin," ujar David kembali meraih kaki kanan Aretha.


"Kamu juga pasti lelah," balas Aretha.


"Aku kuat," jawab David percaya diri, lagi-lagi mengulum senyumnya. "Bahkan, aku masih sanggup untuk menghabiskan waktu hingga pagi hari," imbuhnya yang diakhiri dengan kerlingan sebelah matanya, sontak membuat Aretha sedikit merasakan geli, mengerti maksud sang suami.


***


Keesokan paginya. Setelah semalaman mengahbiskan waktu yang indah berdua, mereka rupanya merasakan lelah yang tak terkira, sehingga mereka tampak masih terlelap dalam tidurnya, disaat matahari telah memancarkan sinarnya.


Aretha merubah posisi tidurnya, dari posisi miring, berhadapan dengan sang suami, menjadi terlentang. Kelopak matanya tampak bergerak, ketika mendapati sinar mentari yang masuk ke dalam kamarnya. Ia mengucek matanya, lalu membuka lebar. Rupanya hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


Aretha terlonjak, langsung bangkit dari tidurnya, sontak membuat tidur sang suami terganggu, lalu bangun.


"Ada apa sih, Sayang?" tanya David kaget.


"Lihat, sudah jam berapa?" Aretha tampak menunjuk jam yang bergantung di dinding ruangan itu. David mengikuti arah tangan Aretha.


"Ya ampun, Sayang baru juga jam delapan pagi," ucap David seraya merebahkan lagi tubuhnya, merasa masih sangat ngantuk.


"Apa? Baru kamu bilang?" Aretha tampak menarik tubuh sang suami kembali, hingga David kembali terduduk. "Kalau di rumah, aku sudah kena omel mami, Mas," imbunya.


"Ini Paris, Sayang. Bukan di rumah." gumam David dengan mata yang masih terpejam dalam posiai duduknya.


"Memangnya siapa yang bilang ini Inggris?" tanya Aretha kesal. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu bangun, terus temani aku cari makan, jalan-jalan, karena masih banyak tempat yang mau aku kunjungi," lanjutnya seraya menarik tangan David agar beranjak dari tempat tidurnya.


Sayang sekali, jika mereka liburan ke Paris dan hanya menghabiskan waktu di tempat penginapan, pikirnya.


David tampak patuh. Ia segera beranjak, lalu duduk di bibir ranjang sembari mengecek gawainya, dan meunggu Aretha keluar dari kamar mandi, setelah ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Setelah hampir dua jam, mereka selesai dengan kegiatan mereka dan langsung keluar untuk mencari sarapan dan mengunjungi tempat-tempat lain yang menjadi ikon kota tersebut.


Lima hari mereka habiskan di Paris dengan mengunjungi beberapa tempat berbeda setiap harinya, seperti Musee du Louvre dan beberapa tempat lainnya. Mereka juga tampak jalan-jalan dan berbelanja beberapa souvenir menarik di kota itu, sebelum akhirnya mereka pulang ke Indonesia.


Setelah masa liburan, sekaligus honeymoon mereka selesai, mereka langsung terbang kembali ke Negara asal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=




Anda mau makan apa?




Boleh saya lihat menunya?




Apa yang anda rekomdasikan?