
Setelah berulang kali mencari ke tempat yang sama, David mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu, dengan leher yang nampak ditekuk. Deru nafasnya terdengar sedikit terengah-engah. Seketika ia menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Sepertinya ia cukup lelah. Tidak! Bahkan, mungkin lebih dari sekadar lelah.
Perasaannya bercanmpur aduk. Antara khawatir dan kecewa. Namun, ia pun tidak boleh egois. Ia sadar, jika berbicara perasaan, Arethalah yang telah lebih dulu merasa kecewa terhadapnya. Mau tidak mau ia harus menanggung resikonya, tetapi bukan berarti dengan cara melepas Aretha begitu saja.
Dalam waktu yang cukup lama, ia berpikir. Nampaknya pria itu tidak akan pernah menyerah begitu saja. Ia akan mencari Aretha sampai ketemu, walau harus ke ujung dunia sekali pun. Bila perlu ia akan mengerahkan Denis dan seluruh tim agensi bayarannya untuk mencari keberadaan gadis itu.
Aku berjanji, aku akan menebus semua kesalahanku kepadanya, setelah dia berhasil kutemukan. Sekalipun aku harus mengikuti semua keinginannya, aku rela, asalkan dia tetap bersamaku.
Pria itu bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Apapun yang ia inginkan harus segera ia dapatkan, bagaimanapun caranya.
David tampak menghubungi Anton kembali untuk mengetahui kabar Aretha. Namun, hasilnya masih sama, Aretha belum juga pulang ke rumahnya. Meski Anton sempat curiga dan menanyakan tentang Aretha, David tetap bisa mengatasinya dengan baik.
Bodoh sekali aku! Bahkan, untuk menjaga perasaannya pun aku tidak bisa, shit!
Pria itu mulai merutuki dirinya sendiri. Namun, sungguh itu tidak ada gunanya. Aretha telah pergi, percuma saja jika ia terlalu larut dalam penyesalannya, tanpa banyak bergerak untuk mencari Aretha.
Tanpa berpikir panjang, David segera menghubungi Denis untuk mencari keberadaan Aretha, sebelum gadis itu benar-benar pergi jauh darinya.
David segera meminta izin kepada dokter untuk bisa pulang pagi itu juga, dan beruntung ia memang sudah diperbolehkan pulang, setelah melakukan pemeriksaan ulang dengan hasil yang baik. Bahkan, sekali pun pihak rumah sakit belum mengizinkannya, ia tetap akan memaksa untuk segera keluar dari rumah sakit itu.
Tak menunggu lama, pria itu langsung mengurus administrasi rumah sakit. Dalam waktu lima belas menit, ia sudah menyelesaikannya, lalu segera keluar dari rumah sakit itu dengan langkah yang sangat tergesa-gesa. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika ia mendapati kedua orangtuanya tepat di depan rumah sakit itu. Pria itu segera menghampiri pasangan paruh baya itu.
"Pa, Ma, kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya David heran.
"Lho, Dave, bukannya kamu sakit?" tanya Maria yang tampak memasang ekspresi bingung.
"Mama tahu dari mana?" David tampak mengerutkan dahinya.
"Bukannya kamu yang tadi pagi kirim pesan ke papa dan bilang kalau kamu dirawat?" Papanya malah berbalik tanya.
David hanya termangu seolah tidak paham. Sebab, ia tidak merasa memberi tahu kedua orangtuanya itu bahwa dirinya tengah sakit. Lantas, siapa yang sebenarnya memberikan kabar tersebut?
Secepat kilat ia memeriksa smartphone-nya, dan benar saja bahwa ada pesan terkirim ke kontak papanya yang entah itu perbuatan siapa. David langsung menduga bahwa Aretha yang telah melakukan itu.
Ya, Tuhan ... rupanya dia niat sekali ingin meninggalkanku. Bahkan, dia menyempatkan mengabari papa terlebih dahulu, sebelum pergi.
David tampak mendongak, menatap sayu kedua orangtuanya. "Aku baik-baik saja," lirihnya yang tentu saja ia mengerti bahwa kedua orangtuanya tengah cemas dengannya.
"Lalu, kamu mau kemana sekarang? Mana Aretha?" tanya kris.
David terdiam beberapa saat, entah apa yang harus ia katakan kepada orangtuanya saat itu. Setelah melakukan kesalahan dengan membatalkan pernikahan itu, tiba-tiba ia melakukan kesalahan lagi dengan membuat Aretha menghilang. Baik Kris ataupun Maria, keduanya pasti akan marah besar jika sampai mengetahui hal itu.
"Dave, ditanya malah bengong!" seru Maria yang sontak membuat David tersadar dari lamunannya. Pria itu sedikit mengerjap kaget.
"Kamu baik-baik saja kan, Nak?" tanya Maria cemas.
Wanita paruh baya itu tampak memegang bahu David yang sontak membuat David sedikit terkesiap.
"I-iya, Ma, a-aku baik-baik saja, kok," jawab David gugup.
"Lalu, Arethanya mana?" Maria tampak celingukan seraya mencari sosok yang dimaksud. Namun, tidak ia temukan.
David menundukkan kepalanya. "Aretha ... Aretha pergi, Ma," lirihnya.
"Pergi? Pulang maksud kamu, Dave?" Kris tampak membulatkan matanya seolah ingin memastikan perkataan putranya itu.
David kembali mendongak. "Entahlah, Pa, aku juga tidak tahu. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tetapi dia tidak ada. Bahkan, aku sudah menelepon om Anton juga, tetapi Aretha masih belum ada di rumah, aku bingung, Pa," keluh David.
Kris tentu masih belum memahami maksud dari perkataan putra semata wayangnya itu. "Papa bingung, ini maksudnya Aretha pergi menghilang atau bagaimana?" tanyanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, sehingga dia bisa pergi seperti itu?" tanya Kris seraya menatap tajam.
Dengan sedikit ragu, David mulai bercerita kepada kedua orangtuanya.
"Ya ampun, Dave ... bagaimana bisa kamu punya pikiran sesempit itu? Papa akan malu sekali dengan keluarga Aretha kalau sampai mereka tahu hal ini," gerutu Kris.
"Maaf, Pa, aku memang salah," gumam David.
"Kamu itu kalau mau mengambil keputusan mbok ya dipikir dulu, Nak, jangan asal tentuin saja," timpal Maria.
"Jadi aku harus bagaiman, Pa, Ma?" tanyanya.
"Pakai nanya lagi, ya cari, Dave!" tegas Kris. "Lalu, kondisi Richard bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Dia sudah menjalani operasi semalam, Pa. Katanya kondisinya sudah mulai membaik, tetapi aku juga belum tahu pasti karena belum menengoknya," jelas David.
Aku lupa kalau belum melihat kondisi Richard secara langsung. Bagaimana ini, sementara aku juga harus segera mencari Aretha.
"Ya sudah, ayo kita lihat bareng-bareng!" ajak Kris.
"Tapi Aretha, Pa?"
"Sebentar saja," sela Kris, lalu berjalan memasuki rumah sakit.
David terpaksa mengekori kedua orangtuanya, meski ia tengah terburu-buru ingin segera mencari Aretha. Namun, tidak ada salahnya juga bila ia melihat kondisi Richard terlebih dahulu.
Seketika langkah David terhenti, tatkala ponselnya berbunyi. Pria itu merogoh ponselnya dari dalan saku celanannya. Ternyata yang menelepon adalah Rendy.
"Iya, Ren?" ucap David.
"Ini gue, Richard." Suara di seberang sana.
"Bro, ada apa? Bagaimana kondisi lo?" tanya David yang sedikit merasa senang bisa mendengar kembali suara sahabatnya itu.
"Lo tidak ada niatan buat jenguk gue, Dave? Padahal lo ada di rumah sakit yang sama," sindir Richard.
"Sorry, Bro, gue sibuk mencari Aretha sedari tadi," jawab David.
"Gue sudah tahu dari Rendy. Lalu bagaimana, lo sudah menemukannya?" tanya Richard.
"Belum," balas David.
"Lo bisa temui gue sekarang? Ada yang mau gue bicarakan."
"Wait! Gue sudah menuju kamar lo," jawab David seraya kembali melangkahkan kakinya, setelah memutus saluran telepon itu.
Tak lama David dan kedua orangtuanya telah berada di depan ruangan Richard. David membuka pintu ruangan itu. Namun, seketika ia terkejut. Langkahnya terhenti dengan tangan yang masih memegang handle pintu itu. Matanya membulat sempurna, menatap ke satu arah yang berada di ruangan tersebut.
_____________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING!
TBC