Possessive Love

Possessive Love
Wanita Ceroboh



Setelah Aretha pergi, tampak ketiga sahabatnya yang masih berada di tempat semula bersama Samuel.


"Hmm ... sorry, kayaknya gue juga harus segera pergi deh, ada janji sama doi, hehe," ucap Tania menyeringai, menunjukkan sederetan giginya yang tampak begitu putih dan rapi.


"Gue juga, nih. Mamas sudah menunggu, tuh!" timpal Deasy yang tampak menunjuk ke arah Ferdy, kekasihnya.


Dari kejauhan, Ferdy tampak melambaikan tangan kepada Deasy, sontak wanita itu langsung membalasnya.


Diandra hanya mendengus kesal. Lagi-lagi ia ditinggalkan begitu saja oleh ketiga sahabatnya, dan itu terjadi sudah satu tahun lamanya, entah kenapa mereka tiba-tiba berubah. Dan anehnya, mereka selalu seperti itu, ketika hanya ada Samuel. Heran, pikirnya.


"Sorry ya, Ra ...," ucap Tania memelas.


Namun, Diandra tampak masa bodoh, lalu memfokuskan pandangan ke sembarang arah. Rupanya ia sudah kebal, dan banyak belajar ikhlas dan sabar menghadapi ketiga sahabatnya itu yang terkadang suka melupakannya.


Tania dan deasy tampak pergi dari hadapan Diandra dan Samuel. Mereka tampak berjalan berdampingan.


"Deas, gue nggak enak hati sama Diandra, lo sadar nggak sih, ekspresi dia kayak apa? Dia kayak yang—"


"Ah, sudahlah! Itu 'kan kita lakukan demi dia juga, gue pikir dia memang cocok dengan Samuel, hehe," sela Deasy memotong pembicaraan Tania. "Lo lihat saja, rencana kita pasti berhasil," imbuhnya seolah yakin.


"Lo yakin?" tanya Tania meyakinkan.


"Sure," jawab Deasy singkat.


Deasy tampak menghampiri Ferdy, sementara Tania segera bergegas menuju tempat parkir, karena Alan, kekasihnya, sudah menunggu di sana.


***


Diandra masih diam mematung menatap kedua sahabatnya yang semakin lama, semakin lenyap dari pandangannya. Seketika ia merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung, dibandingkan mereka. Setelah kedua orangtuanya tidak bisa hadir di acara paling bersejarah baginya, lagi-lagi ketiga sahabat yang ia miliki meninggalkannya sendiri. Kurang lengkap apa penderitaannya?


Setelah semua sahabatnya mendapatkan selamat dari keluarga dan pasangannya, lalu bagaimana dengannya? Tidak ada yang memberinya selamat sama sekali, selain sesama temannya. Bahkan, kedua orangtuanya masih belum ada yang menghubungi, sekadar untuk memberinya selamat.


"Lo kenapa dari tadi diam terus?" tanya Samuel yang seketika membuat Diandra tersentak. "Gue rasa ... itu bukan diri lo yang sebenarnya, yang bawel dan menyebalkan!" imbuhnya yang entah mengejek atau apa.


Diandra mendelik kesal ke arah Samuel. "Bukan urusan lo!" ketusnya.


Samuel mendengus kesal, mendapat tanggapan yang dirasa tidak menyenangkan.


"Ya sudahlah, gue duluan," ucap Samuel seraya melangkahkan kaki, beranjak dari hadapan Diandra.


"Lo beneran mau lanjut kuliah di New York?" tanya Diandra yang sontak menghentikan peegerakan kaki Samuel yang baru dua langkah itu.


"Iya," singkat Samuel tanpa menoleh. "Kecuali, ada seseorang yang memintaku untuk tetap tinggal disini," batinnya melanjutkan.


Diandra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Semoga sukses," dengan berat hati ia mengucapkan kalimat itu.


Dan bahkan, teman berantem gue juga bakal ninggalin gue. Apa lo sudah bosan berantem dengan gue, Sam?


Ya, Percaya atau tidak, Diandra memang sudah mulai nyaman dengan Samuel yang belakangan ini sering sekali terjebak dalam situasi bersamanya. Dan tentu itu terjadi karena ulah ketiga sahabatnya, terlebih Deasy dan Tania yang memang sangat antusias menjodohkan mereka berdua.


Namun, berkat mereka juga, hal-hal yang sebelumnya ia lalui bersama Samuel yang terkesan menyebalkan, menjengkelkan, dan terkadang membuatnya murka, tiba-tiba berubah menjadi hal yang mengesankan baginya. Bahkan, ketika mereka bertengkar untuk hal-hal yang tidak begitu penting, layaknya anak kecil.


Tidak bisa dipungkiri, dalam waktu singkat, rasa nyaman itu telah berubah menjadi rasa yang lebih. Bahkan, menyenangkan. Diandra selalu merasa senang, ketika Samuel berada di dekatnya, sekali pun pria itu bersikap menyebalkan.


Namun, Diandra memilih untuk diam, tidak ingin mengungkapkan perasaannya, demi menghindari hubungan tidak baik yang mungkin akan terjadi setelahnya, karena ia tahu bahwa Samuel tidak akan pernah memiliki rasa yang sama terhadapnya.


Rasanya sakit sekali, ketika ia mendengar bahwa Samuel akan pergi ke New York. Itu artinya ia tidak akan lagi mendengar ejekan Samuel yang menyebalkan, atau bahkan sikap murkanya Samuel yang selalu mengisi hari-harinya.


"Thanks," jawab Samuel yang sontak membuat lamunan Diandra ambyar.


Bahkan, dia tidak memintaku untuk stay. Aku sadar, aku memang bukan siapa-siapa buatnya. Sepertinya aku salah, karena terlalu berharap kepadanya.


Samuel langsung pergi meninggalkan Diandra saat itu juga, tanpa berkata apapun lagi.


Sementara, Diandra masih dalam posisi yang sama. Seketika air matanya luruh membasahi pipi, tanpa ia sadari.


***


Di tempat lain, Richard baru saja keluar dari sebuah toko souvenir yang tak jauh dari tempat kerjanya. Ia tampak membawa sebuah kado dari toko itu, yang entah isinya apa.


Pasalnya, hari itu adalah hari ulang tahun sang adik yang ke 20, dan rupanya kado itu sengaja dipesan khusus untuk adik tercintanya.


Richard tampak berjalan menghampiri mobil yang terparkir di depan toko itu. Namun, tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang wanita, entah ia yang tidak sengaja menabraknya, atau malah sebaliknya, wanita itu yang memang tidak sengaja menabraknya.


Yang jelas, peristiwa itu membuat kado yang ia bawa terjatuh, beruntung tidak sampai berantakan. Ia segera meraih kado itu.


Sama halnya dengan Richard, tas wanita itu juga tampak terjatuh. Bahkan, semua yang ada dalam isinya ikut berantakan. Tanpa berkata apapun. Bahkan, menoleh siapa yang menabraknya, wanita itu langsung berjongkok, memunguti barang-barangnya.


"Maaf, Mbak, saya tidak sengaja," ucap Richard seraya ingin membantu wanita itu memunguti barang-barangnya. Namun, sayang sekali, wanita itu telah lebih dulu meraih semua barangnya.


"Tidak apa-apa, saya yang salah, tidak berhati-hati, maaf," jawab wanita itu masih fokus merapikan barang-barangnya.


Wanita itu mendongak, menatap wajah Richard yang sudah berada di hadapannya. Wanita itu tampak terkejut melihat Richard. Seketika perputaran bumi seakan berhenti, dunia pun ikut berhenti. Bahkan, ia sendiri tampak mematung, seolah terhipnotis dengan wajah tampan pria yang berada di hadapannya.


Dia?


Richard yang menyadari wanita itu yang mematung beberapa saat, tampak menautkan kedua alisnya merasa heran. Menurutnya ekspresi wanita itu terlihat sedikit aneh.


"Hello, Mbak!" ucap Richard seraya melambaikan tangannya berulang kali di depan wajah wanita itu.


Wanita itu terlihat sedikit mengerjap, karena merasa terkejut. "Maaf," ucapnya langsung berdiri, lalu pergi dari hadapan Richard.


Wanita itu tampak mengayuh sepedanya, lalu pergi dari tempat itu.


Richard menatap nanar wanita itu dari kejauhan, tetapi hanya sejenak. Richard berniat untuk segera menemui sang adik dan memberikan kejutan kepadanya. Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia merasa menginjak sesuatu.


Richard menunduk, menatap benda yang berada di bawah sepatunya. Ia tampak mengangkat sebelah alisnya menatap benda itu yang ternyata sebuah KTP.


"Dasar wanita ceroboh! Itu pasti miliknya," ucapnya, lalu meraih KTP itu dan memasukkannya ke dalam saku jasnya, tanpa menoleh KTP itu sedikit pun. Setelah itu, ia langsung pergi dari tempat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


HAPPY READING!


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT