Possessive Love

Possessive Love
Kejutan Tak Terduga



David menatap wanita yang berada kurang lebih satu meter darinya. "Kamu?" ucapnya yang sontak membuat Aretha terhenti seketika.


Aretha tampak sedikit bingung dengan ekspresi suaminya yang saat itu terlihat membelalakkan mata seolah melihat sesuatu yang sangat mengejutkan, ketika ia hendak mendekatinya. Entah kenapa David bisa seterkejut itu. Ia rasa tidak ada yang aneh dengan dirinya.


"Mas ...," panggil Aretha memastikan. Ia tampak memasang ekspresi memelas. Tentu saat itu ia berada dalam kondisi harap-harap cemas.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya David sinis yang sontak membuat Aretha semakin berdebar tak karuan. Apa maksudnya ini? Pikirnya.


"Mas, aku ini istri kamu lho ...," lirih Aretha dengan nada yang sedih. Apa mungkin David tidak mengingat bahwa ia istrinya? Batinnya mulai bertanya-tanya.


"Dave." Seketika suara seorang wanita membuyarkan lamunan Aretha yang kala itu baru saja akan meneteskan air mata yang sedari tadi sudah ia tahan.


Secepat kilat Aretha memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Seketika ia pun terbelalak, ketika mendapati sosok wanita tidak asing tengah berdiri tepat di belakangnya.


"Kamu?" Aretha tampak tidak percaya, ketika melihat Freya yang tiba-tiba berada di ruangan itu. Entah sejak kapan ia berada di sana.


"Dave, sorry ... aku ke sini sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu hidup kalian. Aku hanya—"


"Saya yang membawanya ke sini, Pak," potong Denis yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu?" David tampak menatap Denis penuh selidik.


Bagaimana bisa pria yang selama ini menjadi kepercayaannya tiba-tiba mengenal Freya dan membawa wanita itu ke hadapannya? Pikirnya saat itu.


"Maksud kamu apa, Denis?" tanya David masih belum memahami apa maksud dan tujuan Denis membawa wanita itu ke tempat itu.


Sungguh kepala David masih terasa masih pusing saat itu. Ia tidak bisa berpikir terlalu berat. Apa maksudnya Denis membawa Freya disaat dirinya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja? Itu benar-benar sangat mengganggu pikirannya.


Denis masih berjalan menghampiri Freya. Ia tampak menerbitkan senyumnya, lalu merangkulkan sebelah tangannya di bahu wanita itu dengan posisi tubuh yang menghadap ke arah David.


"Kami dipertemukan secara tidak sengaja di Paris beberapa bulan lalu. Singkat cerita, kami mulai dekat dan saya sering sekali bercerita tentang atasan saya, orang yang selalu memberikan kepercayaan penuh kepada saya, tetapi ternyata dunia memang sempit. Freya mengenal sosok yang saya ceritakan kepadanya," jelas Denis yang masih belum bisa dicerna sepenuhnya oleh David, juga yang lainnya.


"Lantas, kenapa tadi kamu masuk ke sini hanya sendirian, ha?" kesal David yang memang sebelumnya sudah bertemu dengan Denis.


"Freya baru saja dari kamar mandi, Pak. Jadi terpaksa tadi saya menemui Bapak sendirian saja," jawab Denis yang seketika membuat David berdecak kesal.


Mereka terdiam beberapa saat. Baik David maupun Aretha, mereka masih belum ingin berkomentar akan hal yang menurut mereka belum jelas.


"Seminggu yang lalu, saya memberi tahu Freya tentang kondisi Bapak yang saya dengar dari mas Rendy. Tentu saya kaget, Freya juga kaget. Maka dari itu, kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan menjenguk Bapak hari ini. Jadi, tujuan Freya ke sini memang bukan untuk mengganggu Bapak ataupun istri Bapak, melainkan karena saya yang mengajaknya. Siapa sangka, ternyata kami menjenguk di waktu yang tepat, hari di mana Bapak sadar dari koma." Lebih lanjut Denis menjelaskan.


"Saya masih belum paham ke mana arah pembicaraan kamu?" David masih berusaha mencermati perkataan Denis.


"Menikah?" David dan Aretha tampak terkejut mendengarnya.


Kenapa harus menikah dengan Freya, sih? Apa tidak ada wanita lain, selain dia? Kalau Denis menikah dengan Freya, itu artinya aku punya banyak kesempatan untuk bertemu dengannya. Ah, sial! Malas sekali kalau harus seperti itu.


"Iya, menikah. Ada yang salah?" Denis tampak menatap David dan Aretha dengan penuh tanya.


Sungguh itu membuat Aretha dan David sangat terkejut. Terlebih lagi David. Kenapa dunia penuh sekali dengan kejutan. Tiba-tiba ia mengalami kecelakaan, ketika istrinya hendak melahirkan, lalu ia koma selama tiga minggu.


Hari itu ia bersyukur karena telah sadar kembali dari komanya. Hari yang sangat ia tunggu untuk kembali saling melepas rindu dengan orang-orang terkasih, tetapi kenapa tiba-tiba ia dikejutkan oleh hal lain yang justru ada kaitannya dengan sang mantan. Sungguh itu sudah merusak momen yang seharusnya menjadi momen terindah dan mengharukan baginya dengan keluarga, terlebih lagi istrinya.


Semua yang ia alami akhir-akhir itu benar-benar menjadi kejutan yang paling tak terduga selama hidupnya.


"Ti-tidak ada kok, Mas. Kami hanya sedikit terkejut saja. Selamat ya untuk kalian berdua," jawab Aretha sedikit gugup.


"Aku minta maaf jika kehadiranku di sini sudah mengganggu ketenangan kalian, tetapi sungguh aku tidak punya maksud lain, selain apa yang baru saja disampaikan oleh Denis. Aku hanya turut prihatin dengan apa yang dialami olehmu, Dave, maka dari itu aku ingin melihat kondisi kamu yang sebenarnya. Dan aku bersyukur karena sekarang kamu sudah siuman," ucap Freya menjelaskan.


David tak menanggapi apapun. Bahkan, ia tidak ingin meminta maaf karena sudah bersikap tidak menyenangkan terhadap wanita itu. Entah kenapa ia selalu saja merasa ilfil, ketika bertemu dehgan Freya.


"Terima kasih, Mbak. Sudah repot-repot menjenguk suami saya," balas Aretha seraya menerbitkan senyumnya. "Maafkan juga atas sikap suami saya," imbuhnya merasa tidak enak hati.


David hanya dim memerhatikan dari belakang, menatap punggung sang istri yang kala itu tengah membelakanginya.


Bahkan, hanya karena mereka berdua, dia sampai melupakanku. Apakah dia tidak rindu? Padahal, sudah sangat lama kita tidak bertegur sapa saling merayu. Menyebalkan sekali istriku.


"Bapak tidak masalah, kan?" Pertanyaan Denis seketika membuat David tersentak, lalu


"Hh! Terserah kamu sajalah, mau menikah dengan siapapun itu hak kamu!" jawab David tidak peduli.


Denis hanya melebarkan senyumannya. Setelah itu mereka langsung berpamitan kepada David dan keluarganya.


Setelah Denis dan Freya baru saja keluar dari ruangan itu. Aretha tampak membalikkan tubuhnya kembali dengan perasaan sedikit ragu, karena kecemasan yang sebelumnya sempat menghantuinya. Ia takut bahwa David malah benar-benar tidak mengenalnya. Namun, bagaimana mungkin? Ketika David mengenal yang lain, masa iya ia tidak mengenal istrinya? Pikirnya saat itu.


"Mas ...," lirih Aretha. Namun, David masih diam sembari menatapnya.


"Mas masih ingat aku, kan?" tanya Aretha tampak bingung harus berbuat apa, sedangkan David masih diam.


Aretha sedikit memberengutkan wajahnya. Namun, seketika ia dibuat terkejut, ketika David menarik tangannya dan membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.