Possessive Love

Possessive Love
Masa Lalu



Dua minggu sudah Aretha menjalankan tugasnya sebagai sekretaris David Wijaya. Meskipun terkadang ia merasa jenuh dengan tugas yang diberikan oleh atasannya, tetapi itulah salah satu pilihan agar ia bisa memenuhi tugasnya sebagai syarat kelulusan.


David memang kerap kali menunjukkan sikap dinginnya terhadap gadis itu. Namun, di balik sikapnya yang dingin, sebenarnya pria itu juga memiliki sifat yang baik. Terkadang, hal-hal kecil yang dilakukan pria itu adalah sebagai bentuk perhatian terhadapnya. Namun, Aretha tidak pernah menyadari akan hal itu. Ia menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa, tidak ada yang lebih.


David sendiri merasa aneh. Setelah beberapa tahun ia sulit sekali untuk bersimpatik kepada seorang wanita. Namun, entah kenapa kehadiran Aretha yang selalu menemani hari-harinya seolah merubah semuanya.


Padahal, semenjak hubungannya dengan gadis bernama Freya kandas, ia justru merasa tidak pernah ada lagi wanita yang membuat jantungnya berdebar.


Penghianatan yang diberikan oleh mantannya itu membuat David merasa ilfil dengan kaum wanita. Ia seolah menganggap bahwa semua wanita sama, tak ada bedanya dengan Freya yang tidak memiliki hati dan perasaan.


Malam itu, tepatnya pada hari kamis, 13 Juni 2011 Tanggal yang merupakan hari ulang tahun kekasih David yang bernama Freya. Meskipun suhu udara saat itu sangat dingin, tetapi tidak mengurungkan niat pria itu untuk pergi keluar demi sebuah kejutan yang akan ia persiapkan untuk kekasihnya.


Ia pergi ke Coppa Club, Salah satu kafe yang berada di kota London. Kafe yang sangat unik seperti model igloo atau kubah yang terbuat dari kaca yang bisa digunakan sebagai spot menikmati musim dingin.


Di sana, David mempersiapkan candle light dinner dengan berbagai macam kejutan lainnya. Ia telah mempersiapkan hadiah berupa cincin berlian dan juga sebuket bunga mawar untuk seseorang yang sangat ia cintai.


Namun, semuanya sia-sia, ketika Freya tidak datang malam itu. Bahkan, gadis itu tidak memberi kabar kepadanya, setelah sebelumnya Freya menyatakan bahwa ia akan datang. David sangat frustasi, merasa dirinya dipermainkan.


Berulang kali ia menelepon gadis itu. Namun, hasilnya nihil, tidak ada respon dari Freya. Dengan perasaan marah, pria itu kembali pulang ke apartemennya. Sesekali ia mengacak rambutnya seolah melampiaskan kemarahannya.


Namun, di perjalanan menuju apartemen, David dikejutkan dengan sebuah pesan whatsapp yang di kirim oleh sahabatnya. Pesan berupa foto Freya yang tengah makan malan dengan seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu bernama Gerald yang tak lain adalah teman sekelasnya di kampus.


"Sial! Jadi, ini alasan dia tidak datang!" umpat David seraya memukul stir mobilnya.


Tanpa menunggu aba-aba, David segera pergi ke Clos Maggiore, Covent Garden. Sebuah Restoran yang paling romantis di London, dimana Freya dan Gerald berada di sana.


"Damn it!"


David melakukan baku hantam terhadap Gerald, setelah ia di hadapkan dengan pria tersebut. Merasa geram melihat keromantisan kekasihnya dengan pria lain membuat David tidak tahan lagi untuk menghajar pria itu.


David menarik kerah baju Gerald, lalu menghantam pria itu dengan melayangkan satu kali tonjokan di wajahnya hingga Gerald tersungkur di lantai dan mengeluarkan darah segar pada sudut bibirnya.


Ulah David yang tiba-tiba membuat keributan, sontak mengalihan perhatian seluruh pengunjung tempat itu. Tak terkecuali Freya yang merasa sangat terkejut akan kemunculan David.


Bug!


Bug!


Bug!


Berulang kali David menghajar Gerald tanpa ampun, dengan segenap tenaga yang ia miliki saat itu.


"Please, don't make a fuss here!" teriak seorang pelayan yang mencoba menenangkan. Namun, David tak bergeming. Ia terus melakukan aksinya karena merasa belum puas.


"DAVE ... STOP!" teriak Freya, ketika David akan melayangkan satu kali pukulan lagi terhadap Gerald.


Seketika David mengurungkan niatnya. Tangan kanannya masih mengambang di udara. Sementara, satu tangannya lagi masih mencengkeram baju Gerald.


David menoleh ke belakang, dimana Freya tengah berdiri di sana. Ia menatap sinis gadis itu, lalu melepaskan tubuh gerald.


Dengan langkah yang sedikit sempoyongan karena lelah, David menghampiri Freya. Ia masih menatap sinis gadis itu seolah ingin menunjukkan kemarahannya. Freya menatap David. Ia tampak terlihat bergemetar ketakutan. Namun, itu tak sedikit pun membuat David merasa iba terhadapnya.


"We broke up!" ucap David dengan penuh penekanan, setelah ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.


"Dave," lirih Freya seolah menyesal. Namun, David tak bergeming. Ia membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu.


Seketika David menoleh dengan tatapan sinis ke arah Gerald yang kala itu masih terduduk di lantai. Gerald menundukkan kepalanya, entah karena merasa bersalah atau malu. Sementara pengunjung lain tampak termangu melihat peristiwa itu.


"DAVE!" panggil Freya. Lagi-lagi David tak bergeming. Ia terus melangkahkan kakinya, keluar dari tempat itu.


Tempat itu menjadi saksi bisu, dimana ia merasakan sakit hati yang sedalam-dalamnya untuk yang pertama kalinya. Semenjak kejadian itulah sikap David berubah menjadi dingin terhadap wanita.


Masa lalu kelam yang memberikan luka yang mendalam dan membekas begitu lama hingga membuatnya enggan untuk jatuh cinta.


Namun, kepulangannya ke Indonesia membuat David kembali merasakan getaran pada jantungnya, tatkala ia dipertemukan dengan gadis polos bernama Aretha.


"Besok kamu tidak perlu datang ke kantor!" ucap David seraya berdiri di depan meja kerja Aretha.


Aretha yang saat itu tengah sibuk dengan komputernya, sontak merasa terkejut. Seketika gadis itu menghentikan aktivitasnya, lalu mendongakkan kepala dan berdiri dari tempat duduk, setelah menyadari keberadaan David di sana. Ia menatap heran sang atasan yang tiba-tiba muncul dan berkata seperti itu.


"Lho, kenapa, Pak?" tanya Aretha sembari mengernyitkan dahi. Namun, David hanya diam, tak merespon.


"Bapak bukan sedang memecat saya, kan?" tanya Aretha heran.


David memasukkan tangannya ke dalam saku celana tanpa memalingkan pandangan dari gadis itu. "Tidak perlu membantah, lakukan apa yang saya perintahkan dan jangan banyak tanya!" tukas David.


"Tapi, Pak—"


"Ssstt ... di sini, saya atasannya!" sela David memotong pembicaraan.


Mendengar ucapan David, seketika Aretha menciut, tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti perintah pria itu, meskipun ia tidak tahu alasannya apa sehingga ia dilarang untuk datang ke kantor.


"Baik, Pa," lirih Aretha seraya menundukkan kepala.


"Bagus!" balas David yang entah memuji atau apa. Pria itu membalikkan badan dan kembali ke ruangannya. Sementara Aretha masih berdiri termangu di sana. Sembari memandangi punggung pria itu, ia terus memikirkan tentang perkataan David.


Namun, seketika lamunannya ambyar, ketika ia dikagetkan oleh suara Diandra yang kala itu ternyata telah berada di hadapannya.


"Re," lirih Diandra.


"Eh?" Aretha terkesiap. "Ra? Ada apa?" tanya Aretha sedikit gugup.


"Kenapa lo?" tanya Diandra heran.


"Gue? Gak apa-apa, kok," jawab Aretha.


"Dari tadi bengong aja!" gerutu Diandra. "Makan yuk!" ajaknya kemudian.


"Makan? Bukankah belum waktunya istirahat?" tanya Aretha heran.


Diandra mendengus. "Ya ampun, Re ... lo ngapain aja, sih, dari tadi?" tanya Diandra heran.


"Lho, kenapa? Ada yang salah?" tanya Aretha.


"Lihat jam, Re!" titah Diandra.


"Oh iya, ternyata sudah waktunya makan siang," ucap Aretha, setelah melihat arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Aretha pun menerima ajakan Diandra untuk makan siang di kantin. Namun, baru dua langkah kakinya bergerak. Tiba-tiba suara bariton menghentikannya.


"Tunggu!"


_____________


TO BE CONTINUED


Jangan lupa like dan comment ya dan follow ig aku @batik.tik03


Happy Reading!