Possessive Love

Possessive Love
Istirahat



Setelah Ratih membukakan pintu rumah, tampak Rangga yang hadir di tengah-tengah mereka. Baik Aretha dan keluarganya tampak menyapa pria itu.


"Kak Rangga apa kabar? Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Aretha, setelah pria itu duduk di sofa yang berada di depannya.


Ya, setelah kecelakaan itu, Rangga memang tidak mengalami cidera yang lebih parah daripada sang atasan. Namun tetap saja, cidera patah tulang yang ia alami di kakinya, membuat pria itu harus menjalani pengobatan dan serangkaian terapi medis yang dapat memulihkan kembali kondisinya seperti semula.


"Alhamdulillah keadaanku sudah jauh lebih baik, Re. Lihat saja, aku sudah bisa berjalan dengan normal kembali," jawab Rangga seraya menyeringai senang.


"Syukurlah, kami senang sekali mendengarnya. Mohon maaf, kami belum sempat menjengukmu kembali," timpal Kris yang tampak senang melihat kondisi bawahannya sudah kembali membaik dan sehat seperti sedia kala.


Meskipun Kris dan keluarga tidak bisa mendampingi pria itu dalam proses pengobatan. Namun, tidak serta merta membuat Kria melalaikan tanggung jawabnya. Ia tetap bertanggung jawab untuk seluruh pengobatan asisten dari putra semata wayangnya itu. Sementara, dirinya dan keluarga juga fokus dengan kondisi David.


"Terima kasih, Pak. Berkat Bapak dan keluarga, saya bisa kembali pulih seperti semula," jawab Rangga, lalu mengalihkan perhatian ke arah David yang kala itu masih terduduk di sofa sembari memangku putranya. "Bagaimana dengan kondisi Bapak sekarang? Saya senang sekali mendengar kabar baik bahwa Bapak telah sadar dari koma," imbuhnya kemudian.


Selama menjalani perawatan jalan, Rangga memang tak pernah absen untuk melihat langsung kondisi atasannya, meskipun masih dalam keadaan koma. Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena ia tidak bisa menghentikan aksi David sebelum kecelakaan itu terjadi. Sungguh melihat kondisi David sebelumnya, membuat pria itu sangatlah menyesal.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja. Semoga kamu pun begitu," jawab David, setelah baru saja ia memberikan putranya kepada sang istri. Nampak baby Arkana yang saat itu telah beralih ke pangkuan mamanya.


"Syukurlah. Saya sangat senang. Hanya saja, saya sedikit terlambat mendapatkan informasi. Tadi pagi, saya ke rumah sakit, berniat untuk menjenguk Bapak, setelah mendapat kabar bahwa Bapak telah siuman. Tetapi, ternyata Bapak sudah lebih dulu pulang. Jadi, saya langsung memutuskan untuk kemari. Mohon maaf jika telah mengganggu istirahat Bapak." Rangga merasa tidak enak hati. Namun, ia juga perlu menemui atasannya itu sekadar untuk menyampaikan permohonan maafnya.


"Maaf juga atas peristiwa kecelakaan itu. Andai saja waktu itu saya bisa menghentikan Bapak, mungkin—"


"Sudahlah, itu bukan salah kamu. Kecelakaan itu terjadi karena kebodohan saya sendiri," jawab David tidak ingin mengindahkan perkataan asistennya, karena memang itu sama sekali bukan kesalahan Rangga atau siapapun, melainkan kesalahan dirinya sendiri.


"Harusnya saya bisa menghentikan Bapak waktu itu, tetapi ...." Rangga menggantungkan ucapannya.


"Sudahlah, Rangga. Yang terpenting sekarang, saya sudah sehat kembali, pun denganmu," ujar David.


"Dave benar. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu. Semua yang terjadi semata-mata karena memang sudah takdir Tuhan," timpal Kris.


"Iya, Bapak benar." Rangga mengindahkan perkataan Kris sembari menganggukkan kepalanya. "Oh iya, selamat atas kelahiran bayi kembarnya. Kalau boleh tahu siapa namanya?" tanyanya kemudian.


"Kebetulan sekali, kami baru saja memberi nama mereka. Namanya Arkana dan Aruna," jawab Aretha.


"Wah ... nama yang indah," puji Rangga.


"Terima kasih," jawab Aretha.


"Yah, baby Arkana tertidur, aku ke kamar sebentar ya, Mas," ucap Aretha berpamitan. "Kak Rangga aku tinggal sebentar, ya," imbuhnya seraya menatap Rangga


"Silakan, Re," jawab Rangga.


Aretha segera membawa Arkana ke kamar. Tak lama disusul oleh Maria yang juga membawa Aruna ke kamar yang sama. Sebab, kedua bayi itu tampak sudah tertidur pulas di masing-masing pangkuan mereka.


Sebagaimana Aretha dan Maria, Carmila pun ikut beranjak dari tempat itu. Namun, bukan untuk mengikuti kedua cucunya ke kamar, melainkan ia beranjak ke dapur untuk membantu Ratih yang tengah sibuk memasak menu makan untuk makan siang bersama.


Perbincangan mereka pun berlanjut. Ketiga pria itu lebih banyak membahas masalah pekerjaan, meski tetap menyelipkan beberapa bahasan lain di dalamnya.


"Mas, lebih baik kamu istirahat dulu. Sepulang dari rumah sakit, kamu belum istirahat sama sekali," titah Aretha setelah baru saja selesai makan siang bersama keluarganya.


"Iya, Dave. Dengarkan apa kata istrimu, jaga baik-baik kesehatanmu," timpal Maria.


David menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan istirahat sebentar," ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Ayo, kuantar ke kamar," ucap Aretha yang sontak mendapat seringaian senang dari suaminya.


"Terima kasih, Sayang," balas David


Aretha segera merangkul lengan sang suami. Ia menuntun suaminya masuk kamar.


"Mas, kamu istirahat ya, aku tinggal dulu," ucap Aretha seraya menyelimuti sebagian tubuh suaminya, setelah pria itu berhasil berbaring di atas ranjang yang selama hampir satu bulan tidak ia tempati.


Namun, baru saja Aretha akan beranjak dari tempat itu, tiba-tiba David menahannya.


"Sayang," panggil David.


Aretha segera menoleh ke arah suaminya. "Kenapa, Mas? Kamu butuh sesuatu?" tanya Aretha.


"Tidak," jawab David menggeleng. "Aku hanya butuh kamu," imbuhnya yang sontak membuat Aretha mencebikkan bibirnya.


"Kamu jangan aneh-aneh deh, Mas. Masih ada Mama, Papa sama Mami juga," protes Aretha.


"Aku tidak aneh-aneh, Sayang," balas David.


"Ya sudah, kamu istirahat! Tidur dan jangan banyak pikiran! Jangan membuat taringku keluar hanya karena kamu yang tidak mau mendengarkan perkataanku dengan tidak menjaga kesehatanmu. Kamu sayang 'kan sama aku? Kamu sayang 'kan sama anak-anak kita?" cerocos Aretha mengingatkan. "Kalau kamu sayang, lakukan apa yang aku minta saat ini," imbuhnya memohon.


"Aku pasti jaga kesehatanku untuk kalian, jangan khawatir. Jangankan kesehatan, hati saja selalu kujaga untukmu, Sayangku," jelas David.


Aretha hanya menatap suaminya heran. "Mas, kurasa benar-benar ada yang aneh sama kamu," ucapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Maksud kamu?" David sedikit membulatkan matanya.


"Kamu jadi suka menggombal," celetuk Aretha yang memang merasa ada perubahan dari sikap David, setelah pria itu sadar dari koma.


"Ck! Hal yang wajar, Sayang. Itu naluri. Namanya orang sudah lama tidak bercengkerama, ya jelas akan merasakan hal seperti itu. Merasa kangen dan selalu ingin di dekatmu memang itu yang sedang kurasakan sekarang," jelas David.


"Alasan kamu saja! Sudah, aku mau keluar dulu, kelamaan di sini kapan kamu istirahatnya," balas Aretha segera ingin beranjak dari tempat itu.


"Sayang ...." Lagi-lagi David memanggil istrinya, sehingga membuat Aretha kembali terhenti, lalu menoleh.


Aretha menghela napas panjang, lalu bertanya, "Apa lagi, Mas?"


"Kamu tidak akan membiarkan baby Aruna menikah dengan Richard, kan?" tanya David tiba-tiba. "Aku tidak akan sudi merelakan putri kita untuknya," imbuhnya yang terdengar konyol sontak membuat Aretha seketika terbahak.